SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SEBUAH KEBAHAGIAAN (END)


__ADS_3

Pintu hotel terbuka, Virdan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Vira juga masuk bersama Vio dan Vani.


"Mami, Virdan lagi mandi tidak boleh masuk." Tatapan mata tajam.


Vira melotot langsung keluar lagi, membiarkan kedua bocah yang masih kotor lanjut bermain sambil memegang botol susu.


Virdan keluar kamar mandi, mengganti bajunya sambil menatap kedua adik kembarnya yang saling pukul.


Satu persatu Vira membawa dua bocah nakal untuk mandi, Wildan juga membantu Vira yang mengoceh melihat dua anaknya yang kelewat nakal.


Wajah Virdan terlihat stres, dia tidak menyukai keributan. Suara Mami dan kedua adiknya sangat berisik.


"Aw, Vio." Wajah Virdan ditampar adiknya yang baru selesai menggunakan baju.


"Sabar Dan, adik kamu masih kecil-kecil." Vira tersenyum mengusap kepala putranya.


"Papi, Virdan ingin pulang saja. Minta Abi menjemput Dan." Nada pelan yang terdengar tidak nyaman, Virdan tidak bisa mendengar suara ribut.


"Dan, kita hanya menghabiskan waktu dua hari di sini, tidak akan lama." Senyuman Wildan terlihat, meminta Vio dan Vani mengecilkan suara.


Vira menarik Wildan untuk mandi bersama, membiarkan tiga bocah membuat kekacauan. Wildan sedikit tidak yakin jika keadaan aman.


Mata Virdan mengawasi kedua adiknya yang asik bermain, Vani menangis dipukul menggunakan botol susu, setelah Vani diam giliran Vio yang menangis karena digigit.


"Dek, kalian berdua jangan sering bertengkar. Kak Dan binggung melihat kalian, Mami sama Papi lama sekali." Bibir Virdan sudah monyong melihat adik kembarnya saling tarik rambut.


Kepala Virdan menggeleng, melihat Vio dan Vani seperti melihat neneknya Va dan Vi yang selalu bertengkar hingga tua.


"Papi, Mami cepat keluar. Vio dan Vani bertengkar lagi." Virdan menggedor pintu kamar mandi.


Suara tawa dari dalam kamar mandi terdengar, mereka kasihan melihat Virdan yang menjadi korban kenakalan kedua adiknya.


Karena lelah bertengkar, Vio memejamkan matanya, tidur dalam pelukan kakaknya. Vani juga langsung memeluk Virdan merasakan matanya mengantuk.


Wildan membuka pintu kamar mandi, tersenyum melihat ketiganya sudah tidur dan tidak bertengkar lagi.


"Mereka sudah tidur Ayang, haruskah kita lanjut lagi?" Vira memeluk suaminya dari belakang.


"Kita istirahat saja, kasihan mereka tidur di bawah." Wildan mencium kening Vira lembut.


Satu-persatu Wildan pindahkan ke atas tempat tidur, tersenyum melihat ketiga anaknya yang menambah kebahagiaan.


Vira meminta Wildan mengeringkan rambutnya, sesekali keduanya bercanda soal masa lalu.


"Kecilkan suara kamu sayang, nanti menganggu tidur tiga kesayangan kita." Wildan mengusap wajah Vira yang tidur di lengannya.

__ADS_1


"Ayang, kenapa memutuskan untuk liburan sendiri tanpa keluarga?"


"Bukan tidak ingin, hanya sesekali saja. Besok juga Winda menyusul, Arum menangis mencari Virdan."


Vira tersenyum, hubungan Virdan dan Arum sama seperti Vira dan Winda. Mereka berdua tidak bisa berjauhan, satu hari rasanya seribu tahun.


Sedekat itulah keduanya sejak kecil hingga dewasa, bahkan setelah menikah. Hari yang paling berat bagi Vira, saat Winda menikah dan mengikuti suaminya.


"Vir, kenapa kamu sangat dekat dengan Winda? dia sangat menyebalkan sejak kecil."


Senyuman Vira terlihat, langsung duduk menatap wajah suaminya. Winda satu-satunya yang paling pengertian, meskipun dia yang paling kecil, tapi dia bisa paham meskipun tanpa diucapkan.


"Ayang ingin tahu tidak jika Winda orang pertama yang percaya jika Vira jatuh cinta, dan dia juga yang memastikan untuk membantu Vira, meskipun kita berdua tahu itu sulit. Winda tidak akan pernah meninggalkan Vira, tidak sekalipun." Vira meneteskan air matanya, langsung memeluk suaminya erat.


"Terima kasih sudah mencintai adikku, melebihi mencintai aku."


Wildan memeluk Vira erat, tertawa bersama sambil memainkan ponsel. Bahkan keduanya bisa menonton film bersama.


Bisikan Wildan terdengar mengatakan jika dia mengantuk, Vira tersenyum mengusap pelan kepala suaminya agar segera tidur.


"Good night Wildan, mimpi indah suamiku."


"Mimpi terindah aku bisa memiliki kamu Vira."


Terlalu banyak perbedaan, baik cara berpikir juga cara bersikap. Tidak pernah keduanya banyangkan akan ada diposisi yang sekarang.


Memiliki keluarga bahagia, dulunya melangkah masing-masing tanpa saling melihat, sedangkan sekarang sudah bisa berjalan beriringan, juga diikuti oleh tiga malaikat kecil.


Perjalanan keduanya masih panjang, meskipun memiliki banyak perbedaan bukan alasan untuk berpisah.


"Ayang, katakan cinta."


"Aku mengantuk Vira."


"Katakan, Vira ingin mendengarnya." Tatapan mata Vira melihat suaminya.


Wildan tersenyum, langsung duduk menatap istrinya. Wildan tidak perlu mengatakan cinta, tapi langsung memberikan bukti.


Kepala Vira diputar untuk melihat ke arah anak mereka, ketiga buah hati bukti besarnya cinta Wildan.


"Kamu tahu jika rasa cinta aku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, besarnya mengalahkan lautan, tingginya mengalahkan gunung sampai aku terlihat sangat serakah mencintai makhluk ciptaan secara berlebihan." Bibir Wildan menyentuh bibir istrinya yang terasa hangat, dan sudah menjadi candu baginya.


Vira melepaskan ciuman mereka, meminta Wildan membuka bajunya. Vira meminta bukti Wildan meminta jatah lebih dulu.


"Sayang, satu hal yang paling aku takuti saat kita berdua?"

__ADS_1


"Apa? ada orang ketiga. Kita halal." Vira mengerutkan keningnya.


"Aku takut kamu hamil lagi. Bukan tidak bersyukur, tapi jujur aku trauma Vira." Wildan tertawa melihat ekspresi wajah Vira yang terkejut.


"Lalu bagaimana nasib Vira yang kekurangan belaian?" Vira juga tertawa, merasa konyol dengan anggota keluarga yang takut istri hamil.


"Sayang, kak Tian saja menghentikan Bella hamil lagi, apalagi aku. Kita jangan terlalu berlebihan, nanti kebobolan lagi." Wildan mengerutkan keningnya, tidak ingin membahasnya lagi.


Vira mencium suaminya, langsung duduk di atas Wildan, tidak yakin suaminya tidak tergoda.


Suara tangisan Vio terdengar, wajahnya sakit ditampar Vani yang bergerak sambil tidur.


Virda langsung bangun, Vira langsung turun berpura-pura tidur. Wildan menutup mulutnya menahan tawa.


Vio selalu menjadi pengganggu dalam hubungan mereka, Virdan bangun mengusap kepala adiknya.


Demi keamanan Virdan tidur di tengah kedua adiknya, menatap mami Papinya juga sudah tidur di ranjang sebelah.


Baru saja mata Virdan ingin terpejam, kedua kaki adiknya sudah memeluk erat. Dengan ekspresi binggung akhirnya Virdan tetap tidur.


Sudah hampir subuh, Wildan mengusap kening Vira yang memejamkan matanya kelelahan


"Ayo mandi dulu sayang?"


Vira menarik suaminya untuk tidur langsung, memutuskan mandi saat ingin sholat saja.


"Gunakan baju kamu Vir." Wildan menatap ranjang sebelahnya yang terdengar suara dengkuran ketiga anaknya.


"Ayang, Vira sudah telat haid satu minggu."


"Vira!" Wildan berteriak membuat Vira tertawa cekikikan.


Anak-anak langsung bergerak semua, Wildan langsung panik sedangkan Vira hanya tertawa lucu melihat suaminya yang cemberut.


"Vira hanya bercanda, ayo tidur."


Wildan langsung tersenyum memeluk istrinya yang sangat jahil.


***


TAMAT KISAH CINTA VIRA WILDAN.


NANTI AKU KASIH EKSTRA PART UNTUK ANAK-ANAKNYA YANG NAKAL.


NOVEL INI KEMUNGKINAN TAMAT AKHIR BULAN.

__ADS_1


__ADS_2