SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SANTAI LAGI


__ADS_3

Mata Vira terbuka, tidak melihat keberadaan Winda lagi, melihat sekeliling kamar juga tidak ada langsung berjalan ke dapur melihat kucing pencuri.


"Apa yang kamu lakukan Winda?"


"Mencuci baju, pastinya makan."


Vira yang lapar juga langsung mengambil makanan Winda, salad buah buatan Winda enak.


Keduanya rebutan menghabiskan salad buah, suara sendok beradu terdengar. Suara tawa keduanya terdengar.


"Win, ayo kita belanja." Vira menunjukkan Snack terbaru.


Winda langsung setuju, keduanya pergi ke mall untuk mencari Snack yang Vira inginkan.


Di parkiran tatapan Vira tajam, melihat Fly keluar dari mobil melangkah masuk ke dalam mall.


"Ada apa Fly di sini?" Winda menatap serius, ada pandangan yang tidak Winda sukai.


"Dia dan Randu sudah menikah, pernikahan mereka juga tertutup." Vira menatap Winda yang mengerutkan keningnya.


Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah keluar mobil, berjalan ke dalam mall untuk melihat apa yang di lakukan oleh Fly.


Vira juga menceritakan kejadian beberapa bukan yang lalu, saat Wildan di kantor beberapa kali Fly menghampirinya.


Meskipun Wildan terus mengabaikan Fly belum menyerah, Vira yakin hubungan dengan Randu belum membaik.


Winda melihat punggung Fly yang sedang membeli bahan makanan, kehidupan Fly terlihat normal.


"Apa dia sedang memasak untuk Wildan?" Winda menatap Vira yang menatap sinis.


"Cari mati dia." Kening Vira berkerut bekali-kali lipat.


"Gerakan kamu lambat Vir, seharusnya sejak awal kamu sudah tegas. Jangan karena kak Wil mencintai kamu, jadi bisa bersantai. Wanita yang memiliki ambisi untuk memiliki sesuatu memiliki 1001 cara untuk mendapatkannya." Winda melangkah pergi ke tempat makan, Vira mengikutinya.


"Aku belum menemukan buktinya."


"Kenapa harus menunggu bukti? kamu ingin menunggu sampai dia hamil anak suami kamu?" Suara Winda naik, Vira langsung memukul meja makan.


"Kenapa kamu tega bicara seperti itu Win?"


"Ada yang salah? ingat ya Vir, sekalipun suami kamu bisa jaga diri, pergaulan dia bebas, rekan bisnis dia banyak, satu mendukung seribu yang ingin menjatuhkan, bukan tidak mungkin jika kak Wil bisa terjatuh."


Vira terdiam, ucapan Winda ada benarnya. Vira memang tidak pernah membahas masalah Fly kepada Wildan. Mereka terlalu fokus hanya untuk kebahagian, tidak terlalu memperhatikan masalah.

__ADS_1


"Bertindaklah sebelum terlambat, untuk orang serakah mereka tidak butuh cinta, segala cara akan dilakukan sampai keinginan mereka terwujud." Winda memberikan minuman kepada Vira, agar pikirannya lebih jernih.


"Win, kamu membuat takut."


"Aku tidak menakuti, hanya meminta kamu antisipasi sebelum terjadi, konflik dalam rumah tangga pasti ada, tapi jika ada jangan yang berat-berat sampai menghacurkan hati, lalu ke tubuh, ke tulang. Penyakit hati bisa menimbulkan banyak penyakit." Minuman Winda habis, sambil mengomel mulutnya tetap bisa makan.


"Dari mana kamu tahu semua ini?"


"Pengalaman, mertua sendiri yang membawa pelakor, akhirnya dia juga yang mengajari aku menjaga rumah tangga." Senyuman Winda terlihat, dia merasa lucu dengan dirinya yang banyak bicara.


"Vira tidak rela."


"Tenang saja ada Winda, jika kamu ingin Winda siap membantu menyingkirkan Fly. Kita bisa menyingkirkan dia dari muka bumi ini, tanpa ada yang tahu jika dia pernah ada di dunia ini." Suara tawa Winda dan Vira terdengar, mereka langsung berjabatan tangan.


Nyawa bar-bar Vira kembali, inilah alasan dirinya tidak bisa berpisah. Tidak ada satu orangpun yang siap jatuh bersamanya seperti Winda.


"Ayo makan."


Vira dan Winda melahap banyak makanan, mereka tidak perduli dengan orang yang memperhatikan.


"Astaga kenyang sekali, enak tidur." Vira mengusap perutnya sambil tersenyum.


Winda juga tersenyum, sudah lama tidak makan puas, karena jika di depan Ar harus jaga image tidak mungkin makan rakus.


"Win sekarang kamu lebih berisi." Vira melihat tangan Winda.


"Iya, soalnya tidak sempat diet. Berpindah-pindah negara membuat aku harus makan terus untuk menjaga kesehatan."


"Emhh ... saat kamu berpelukan bersama Ayang Wil, aku tidak mengenali sama sekali." Vira tertawa, mengakui Winda lebih cantik, saat tubuhnya berisi.


"Kak Wil sekarang lucu, sudah bisa tertawa lepas. Mencium juga memeluk, bahkan meneteskan air mata." Winda menatap Vira, kakaknya banyak berubah semenjak bucin.


"Iya, karena dia sangat merindukan kamu. Winda aku baru tahu, saat tidur Wildan bisa menangis, lalu terbangun memegang dadanya memanggil Winda. Ikatan batin kalian berdua kuat sekali." Vira mengigat jelas saat Wildan memilih shalat malam, menghubungi Ar mempertanyakan keadaan Winda.


Senyuman Winda terlihat, kakaknya memang unik. Dia tidak pernah mengatakan sayang, tapi perhatiannya sungguh luar biasa.


"Karena kak Wil baik, bungkus makanan." Winda tertawa memesankan makanan untuk kakaknya.


Vira sudah tertawa lepas melihat Winda yang konyol, padahal alasan saja untuk Wildan, tapi dia yang makan.


"Pesan ini juga Win untuk Bella, bumil satu itu mulutnya tidak bisa diam makan terus."


"Oh iya, tidak terasa Bella sebentar lagi menjadi ibu."

__ADS_1


"Hadiah apa untuk twins? jenis kelaminnya Ju tidak tahu.


"Jangan pusing Vira, walaupun dia laki-laki menggunakan baju pink juga belum malu."


"Benar juga, kita harus membeli apa?"


"Mobil, kemarin ada mobil keluar baru."


"Untuk apa kamu? suami kamu pemiliknya." Vira tertawa melihat Winda yang lupa, jika suaminya pemiliknya, berarti dia kehilangan uang secara cuma-cuma.


Selesai makan kedua melihat Fly kembali, langsung bergerak mengikuti. Ternyata Fly pergi untuk membeli tes pack.


"Wah, seriusan Fly hamil. Semburan Randu hebat juga."


"Win aku takut, nanti dia ada sesuatu dengan Wildan." Vira langsung cemberut.


"Santai, jika dia berniat menjebak bukan pergi ke sini, tapi dokter kandungan untuk meminta surat keterangan."


Vira tersenyum ada benarnya, jika hanya tes pack terlalu ribet harus mengecek berkali-kali, juga lebih rawan ketahuan.


"Kita biarkan saja dia pergi." Winda juga membeli tes pack yang sama.


"Untuk apa Win?" Vira mengambil puluhan tes pack bahkan memborong semuanya.


"Simpan saja, mungkin akan ada manfaatnya suatu hati nanti." Winda tersenyum melihat Vira yang menahan tawa.


Mereka membeli semuanya, langsung pulang untuk melihat persiapan acara tujuh bulanan Bella.


Sepanjang perjalanan mereka bertengkar, Winda kesal melihat Vira yang membuat masalah hanya karena parkiran.


"Win, kamu sekarang kerja?"


"Pengganguran." Winda tertawa, dirinya bangga sekali.


Vira juga tertawa, di antara mereka berempat hanya Billa yang ada gunanya, sedangkan Vira, Bella dan Winda hanyalah beban suami.


Meksipun memiliki perusahaan, Vira hanya sesekali ke kantor sama saja dengan Bella hanya mengontrol dari kejauhan. Apalagi Winda yang tidak gunanya.


"Astaghfirullah Al azim laki gue." Winda tertawa melihat poster suaminya yang memang terkenal membuka banyak cabang, dan membutuhkan banyak karyawan.


"Kenapa laki Vira juga digantung di atas?" Vira tertawa bersama Winda, merasa lucu dengan foto besar suami mereka.


***

__ADS_1


Belum revisi.


__ADS_2