
Kasih tersenyum melihat bukti yang Butterfly berikan, tidak heran Ravi bisa dijebak, lawan Ravi tidak imbang. Seorang Ravi lebih mirip Rama, selalu menggunakan hati. Seharusnya menjadi musuh Viana Arsen, atau Wildan Bramasta.
"Bagaimana Queen? suami kamu harus aku singkirkan, atau perempuan ini yang aku lenyapkan."
"Kamu ingin membunuh Daddy anak-anak?" Kasih menatap tajam.
"Kamu sudah bisa pergi sementara Fly, aku akan mengurus sisanya. Aku ingin melihat penyesalan Ravi."
"Queen, hati-hati dia wanita gila, dengan mudah dia bisa membunuh kamu. Pikirkan soal anak kamu, memutuskan untuk maju sama saja mencari bencana."
"Dia wanita gila, lalu siapa Queen? Aku lebih gila lagi, jika aku tidak bisa memiliki Ravi, bukan berarti dia bisa. Queen tidak akan pernah jatuh seorang diri, pergilah indentitas kamu akan segera terlacak."
"Satu lagi Queen, seorang wanita muda keturunan Prasetya, namanya sedang naik, dia bisa mengantikan kamu menjadi Queen, berhati-hatilah dengannya, sampai detik ini aku tidak bisa mengetahui siapa dia." Butterfly langsung melangkah pergi meninggalkan Kasih yang sedang berpikir.
Kasih memikirkan Mommy, tidak mungkin Mommy turun kembali. Kasih langsung menepis pikirannya untuk pulang ke rumahnya mengambil pakaiannya, pindah ke rumah Mommy.
Ravi masih berdiri di kamar Kasih menunggunya kembali, sebelum keluar setidaknya Ravi ingin memeluk istri dan anaknya.
Kasih masuk ke rumah melihat Tian yang terlihat sedih, menghapus air matanya sambil memegang koper.
Kasih berjalan santai masuk ke kamarnya sambil bernyanyi kecil, melihat Ravi melihat foto hasil USG twins.
"Kenapa belum pergi?" Kasih melipat tangannya melihat Ravi, tubuh Ravi berbalik, menghapus air matanya, melihat perut buncit Kasih.
Ravi berjalan langsung berlutut, memeluk erat perut, menciumnya sambil menangis. Kasih merasakan geli, langsung mendorong Ravi.
"Kasih, aku janji akan kembali. Satu minggu, aku yakin tidak melakukannya dengan wanita itu. Bagaimanapun caranya aku akan menemukan buktinya."
"Terlambat Ravi, aku tidak ingin berhubungan dengan lelaki yang tidur dengan wanita lain."
"Kasih, malam itu aku memang tidak sadar, tapi saat sadar ...."
"Saat sadar ada wanita lain di sisi kamu, tanpa menggunakan sehelai benang. Tunggu sebentar lagi, aku akan memberikan surat akhir dari hubungan kita."
"Maafkan aku."
__ADS_1
"Silahkan keluar!"
Ravi membuka pintu, melangkah keluar meninggalkan rumahnya. Tian juga melangkah pergi meninggalkan rumah Bunda yang sangat dia cintai.
"Maafkan aku Rav."
"Aku juga minta maaf kak."
Erik sudah berdiri di depan gerbang, mendekati keduanya langsung memeluk. Berjanji akan menjaga keluarga, terutama Kasih.
Ravi melihat ke arah pintu, biasanya saat pulang berkerja Kasih pasti datang menyambutnya, mencium Ravi, memeluk erat.
"Aku tidak sanggup berpisah dari anak dan istriku, kak Tian bantu Ravi satu kali ini saja, nikahi dia kak. Ravi tidak ingin tanggung jawab, lebih baik berdosa tidak bertanggung jawab, daripada kehilangan anak istri." Ravi langsung berlari ke dalam rumahnya.
Kening Tian berkerut, teriak menolak permintaan Ravi. Sekarang juga Tian kehilangan Bundanya, tidak mungkin sanggup menikahi tanpa restu, belum lagi melihat kemarahan Bella.
"Aku juga menolak Rav, Erik bantuin." Tian memelas.
"Maaf kak Tian, lihat jari Erik, sudah diikat."
***
"Sayang, tolong Aak." Ravi memeluk erat tubuh Kasih yang hanya menggunakan handuk, Kasih memukuli tangan Ravi yang memeluk erat.
"Lepas! kamu jangan membuat aku marah Ravi." Kasih teriak kuat.
Ravi berlutut, memeluk perut besar Kasih. Tangisan Ravi terdengar sesegukan, menyentuh kaki Kasih.
"Tolong Aak sayang, Aak sudah tidak tahu lagi berbuat apa, aku tidak ingin kehilangan kamu dan anak kita."
Kasih langsung tertawa, melepaskan pelukan Ravi, membuka lemari baju, mencari bajunya yang hampir semuanya tidak muat.
"Ambilkan baju daster aku di kamar atas." Kasih langsung menatap Ravi, cepat Ravi pergi ke lantai atas mencari baju Kasih.
Kasih melihat dirinya di kaca, langsung memukul kaca kuat, sampai terlihat retakan. Ravi kaget melihat kaca retak, tangan Kasih merah, wajah yang awalnya penuh tawa memperlihatkan kemarahan.
__ADS_1
Ravi hanya berdiri diam, Kasih merampas baju dari tangan Ravi. Kepala Ravi menunduk takut, Kasih langsung memakai baju, duduk di pinggir ranjang.
"Maaf Kasih."
"Ravi kamu menganggap aku istri tidak? kamu sembunyikan masalah ini sampai berbulan-bulan, gila kamu!" Kasih menatap tajam, Ravi langsung duduk di lantai, dekat dengan kaki Kasih.
"Seharusnya, saat malam kejadian kamu langsung cerita. Kita bisa mencari solusi bersama, ini urusan rumah tangga bukan bisnis, kamu punya istri, anak, tapi coba menyelesaikan sendiri, hasilnya apa?"
"Aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku."
"Ravi, berapa lama kita menikah? dari awal kita berdua, dua orang yang jauh berbeda tapi kita berusaha untuk bertahan, di saat aku kritis berbulan-bulan, pengobatan berbulan-bulan kita tetap bertahan, berapa banyak kita bertengkar juga coba bertahan. Kenapa saat kamu melakukan kesalahan takut, sudah sejauh ini, sekarang kamu sudah siap kehilangan kami."
"Kasih, Aak tidak siap kehilangan kalian."
"Setiap hari kamu pergi pagi, lupa sarapan, meninggalkan rumah, hanya untuk menemui wanita itu. Kamu melupakan aku, mementingkan orang luar, kamu siap kehilangan aku, tapi tidak siap kehilangan mereka."
"Dia mengancam bunuh diri."
"Biarkan saja, nyawa dia yang melayang. Jika kamu cerita, aku bisa menyingkirkannya, tapi aku diam saja karena kamu merasa hebat, merasa benar, terlalu perduli. Kamu harus percaya, saat kamu menginginkan sesuatu, bersiaplah untuk kehilangan. Kamu perjuangan dia, pasti kehilangan aku." Tatapan mata Kasih tajam, Ravi memeluk erat kaki Kasih.
"Berikan Aak kesempatan, Aak janji akan memperbaiki diri, segala sesuatu akan Aak ceritakan, apapun akan Aak diskusikan." Air mata Ravi menetes, menyentuh tangan Kasih meniupnya.
Kasih diam melihat Ravi yang sangat stres, Kasih juga melihat tubuh Ravi sangat kurus, bahkan wajahnya tidak terurus, perusahaan juga jarang Ravi kunjungi.
Tatapan mata Kasih tajam, mencengkram kuat ranjang, kesabaran sudah selesai. Saat giliran istri sah yang bertindak, Kasih tidak bermain pukul lagi melihat kondisi perutnya, tapi tidak ada yang berubah dari Kasih dia tetap wanita kejam, masa lalu yang kelam, mengajari Kasih bermain santai, menunggu target utama, bukan hanya tangan kanan.
"Tunggu pembalasan aku, kamu akan melihat kejamnya aku bisa melebihi Viana." Batin Kasih, sudah saatnya menarik kembali suaminya, sudah cukup menghukum Ravi yang tidak jujur.
Ravi mengobati tangan Kasih, menciumnya penuh penyesalan.
"Maafkan Daddy ya sayang, sungguh Daddy ingin melihat kalian, tapi Daddy kehilangan kesempatan hanya untuk mengurus orang lain." Ravi mengelus perut Kasih mencium anak kembarnya, membuat Kasih teriak merasakan tendangan.
"Twins juga marah sampai menendang, sakit nak, Daddy kalian tidak merasakannya, Mommy yang dipukul." Kasih mengelus perutnya.
***
__ADS_1