SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MIMPI BURUK


__ADS_3

Hal yang berubah dari Kasih setelah menikah, harus menjalankan sholat lima waktu, apalagi jika ada Ravi yang selalu menegurnya. Di mata Kasih anak orang kaya seperti Ravi punya kehidupan bebas dan bersenang-senang tapi Kasih tidak menemukannya sama sekali.


Rutinitas tidur setiap malam yang selalu membuat jantung Kasih berdegup, pelukan Ravi yang tidak pernah ingin lepas, bahkan tidak memberikan jarak sama sekali.


"Ravi, bisa di kendurkan pelukannya?"


"Kalau begitu kamu yang peluk aku."


Pelukan Ravi lepas, Kasih yang berbalik memeluknya. Ravi hanya tersenyum kepala Kasih berada di dadanya, perlahan keduanya mulai tertidur.


Suara mengigau rintihan terdengar, Ravi membuka matanya Kasih sudah mandi keringat, bibirnya terus mengoceh memanggil adiknya. Ravi menepuk pelan pipi Kasih agar bangun.


"Rin bangun, jangan tinggalkan kakak dek, maafkan kakak yang tidak bisa melindungi kamu."


"Karin, Karin, bangun, dengarkan kakak Rin." Air mata Kasih menetes, tangisan terdengar sesegukan.


Ravi menghela nafas, karena Kasih kembar dia bisa merasakan penderitaan saudara kembarnya. Melihat Bella dan Billa yang kembar identik hampir tidak bisa di bedakan, saat Bella sakit, Billa juga langsung drop, begitu juga sebaliknya.


"Kasih bangun, buka mata kamu." Ravi mengangkat tubuh Kasih untuk duduk, terus memaksa Kasih untuk bangun.


"Ravi, Karin di mana?" Kasih memeluk sambil menangis.


"Tenanglah, Karin pasti baik-baik saja."


"Aku mimpi buruk, ini firasat jelek Ravi, setiap aku bermimpi dia salah satu kami akan terluka, aku harus menemukan Karin."


"Kita sholat malam dulu, kamu tenangkan diri, kita minta petunjuk kepada Allah." Ravi langsung bangun dari ranjang, masuk kamar mandi untuk berwudhu.


Kasih mengikuti Ravi, keduanya sholat dengan tenang meminta petunjuk, kemudahan, kesabaran, dan di bukakan hati. Kasih masih menangis, perasaan benar-benar tidak enak, dia sangat yakin pasti terjadi sesuatu.


Selesai sholat Ravi tidak tidur lagi, langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Kasih masih berdiam diri, seandainya dirinya menjadi Karin, pasti sudah lama dia bergerak, tapi sekarang sulit apalagi dengan statusnya sebagai seorang istri.


Ravi membuka tabletnya, melihat layar besar di dalam markasnya yang sedang melacak cinta, beberapa tim sudah bergerak untuk melihat keadaan tempat yang Cinta kunjungi.

__ADS_1


Beberapa kali Ravi menghubungi Wildan, dan tidak lama ada jawaban, terdengar suara Wildan yang baru bangun tidur.


[Wil, kak Ravi ikut saran kamu, kita tidak punya banyak waktu lagi, secepatnya temukan Karin.]


Wildan tidak menjawab langsung mematikan ponselnya, keluar dari rumah menuju markas tanpa sepengetahuan orang tuanya.


***


Karin yang berhasil melepaskan ikatan, melangkah perlahan untuk melihat sekitar, tangannya sangat sakit, wajahnya yang lebam, kakinya yang mendapatkan pukulan balok membuat Karin kesulitan berjalan.


Keadaan sepi karena sudah larut malam, Karin melewati penjaga yang sedang terlelap, Karin berlari di dalam hutan, semak, tanpa penerangan. Hanya air mata yang menemani langkahnya, kaki Karin kehabisan tenaga, sampai akhirnya terduduk.


Karin berjalan merangkak tanpa tujuan tertentu, jika sampai matahari terbit, para penjaga akan menyadari jika Karin menghilang, pasti dengan mudah bisa menemukannya.


Suara hening mencengkram membuat badan panas dingin, Karin memejamkan matanya berdoa di dalam hati memohon perlindungan, memohon ampunan atas segala kebohongannya.


Dengan tenaga terakhir, matahari juga mulai terlihat Karin berusaha berdiri dan melangkah tapi langsung terpeleset dan tergelincir ke dalam jurang tapi tangan seseorang menangkapnya. Pengawal yang berjaga tersenyum melihat Karin, tangisan Karin pecah, memaksa minta di lepaskan, dia lebih pilih mati dari pada menjadi tahanan untuk mengancam saudaranya.


Tubuh Karin di bawa ke atas, tapi dia terus memberontak minta mati saja, belakang leher Karin hampir di pukul jika dia tidak berhenti mengamuk.


"Kenapa kalian jahat sekali, tidak ada rasa kasihan."


Tubuh Karin di gendong, air matanya tidak berhenti menangis. Gedung penyekapan terlihat, Karin mencengkram kuat lengan menimbulkan rasa sakit, sehingga langkah pengawal terhenti.


"Bunuh saja aku, sudah cukup aku menjadi beban kak Kasih."


"Seharusnya dia yang mengantikan kamu, dia yang seharusnya menderita, karena dia yang bermasalah dengan Cinta tapi kamu korbannya."


"Kak Kasih sudah banyak berkorban, membagi cinta keluarga, memberikan aku kesempatan untuk merasakan pendidikan, meninggalkan lelaki yang dia sukai, menggantikan aku untuk mendapatkan pukulan, cambukan, bahkan dia memberikan kepalanya di depan senjata. Kasih selalu bilang baik, tapi dia bohong, Kasih mendapatkan pukulan, tamparan dan melihat banyak kekerasan. Dia pahlawan Karin, kakak terbaik Karin."


"Aiiiss, sial." Tubuh Karin di turunkan, pengawal memintanya pergi menggunakan mobil, memberikan alamat untuk keluar dari daerah ini.


"Kita keluar bersama,"

__ADS_1


"Kamu saja, aku memberikan waktu 5 menit, tapi jika kamu tertangkap jangan salahkan aku."


Karin melangkah dengan kakinya yang pincang, langsung melangkah mencari mobil, tanpa banyak berpikir Karin menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, air matanya masih menetes, Karin berharap pria yang menolongnya akan mendapatkan hidayah dan hidup bahagia.


Karin melihat ponsel di dalam mobil, ternyata ponselnya yang mati. Karin menghidupkan kembali, melihat banyak panggilan mencari nomor Kasih dan langsung menghubunginya.


Lama tidak ada jawaban, Karin memutuskan menghubungi Vira, langsung mendapatkan jawaban, Vira sangat kaget dan langsung ingin bertemu, mereka akan bertemu di Apartemen pribadi Vira.


"Ada apa Vir?" Winda ikut berjalan sambil masih mengunyah rotinya.


"Kak Kasih yang asli menghubungi aku."


"Kalian ingin ke mana? kita baru saja tiba." Bella heran, karena Vira mendadak serius.


Semuanya masuk ke dalam mobil Vira, tidak ada yang bicara, Vira jika sedang serius pasti sangat terlihat dingin, mobil tiba dan langsung menemui mobil yang terparkir, karena apartemen sengaja di kosongkan tempat Vira geng bersantai. Tidak ada orang yang boleh masuk kecuali bagian kebersihan.


Vira langsung ke luar mengetuk pintu mobil, Karin juga keluar dan jatuh pingsan. Winda kaget melihat penampilan Karin langsung meminta bantuan satpam membawanya dan minta di rahasiakan.


Di dalam kamar, Billa yang mengobati karena dia ahli dalam medis, yang lainnya hanya menonton dan terdiam. Bella terus mengawasi lokasi karena takut ada yang melacak, bahkan mobil Karin juga sudah di singkirkan.


"Vira apa yang harus kita lakukan?" Winda menatap Vira dan Bella.


"Siapa yang melakukan ini pada kak Kasih?" Vira memijit pelipisnya.


"Dia bukan Kasih tapi Karin, yang melakukan ini juga bukan kak Kasih tapi orang lain. Sebaiknya kita menghubungi kak Kasih yang asli, dia juga sedang mencari Karin." Billa menatap yang lainnya.


Suara deringan ponsel terdengar, semuanya saling tatap karena bukan ponsel mereka.


"Astaghfirullah Al azim." Bella langsung mengambil ponsel Karin, pasti lokasi mereka sudah terlacak.


Bella langsung mengangkat, dan terdengar tawa seorang wanita. Bella menghidupkan speaker.


[Kalian berempat beraninya ikut campur, bukan hanya Kasih, Karin yang mati tapi salah satu dari kalian.]

__ADS_1


[Datanglah kami menunggu.] Vira menjawab tanpa rasa takut.


***


__ADS_2