
Di dalam kamar pengantin, senyuman Vira terlihat dia merangkai bunga mawar merah membentuk love di atas ranjang.
Suara Vira tertawa terdengar membentuk handuk menjadi burung, tapi tidak pernah bisa langsung menggulung dan membuangnya.
Dia tidak memiliki bakat sama sekali hal yang berbau kreasi, Winda yang kesal tidak ingin lagi membantu.
Bella melihat keluar kamar, dari kejauhan Bella bisa melihat sebuah mobil mewah. Winda juga merasakan curiga melihatnya.
"Ada yang punya teropong? Winda ingin melihat sesuatu." Winda mengerutkan keningnya, Vira membentuk tangannya menjadi bulat langsung memasangkan di mata Winda.
"Sialan aku serius." Winda melotot, meminta Vira melihat Bella.
"Pernikahan ini tidak akan semulus yang kita harapkan." Bella langsung melangkah keluar, berlari menuruni tangga.
Bastian langsung menjalankan mobilnya keluar dari area hotel tanpa sepengetahuan siapapun, Bella langsung mengikuti mobil Tian yang membuatnya terpancing emosi.
Dari kejauhan, Vira kaget melihat Dewa bersama seorang wanita cantik yang bertemu dengan Tian.
Bella langsung keluar mobil berteriak, menatap tajam Dewa langsung melayangkan pukulan.
Tian langsung memeluk Bella dari belakang, memintanya untuk berhenti menyalahkan Dewa. Kedatangan Dewa hanya niat baik untuk meminta maaf.
Dewa datang karena ingin mengucapkan selamat kepada Bella dan Tian atas pernikahan mereka, juga meminta maaf soal kejadian yang dilakukan oleh adik angkatnya.
Dia putri rekan kerja Tian, menyukai Tian sejak lama. Memaksa Ayahnya agar menikahkan dia dengan Tian dengan cara apapun, tapi bukan hal yang mudah untuk menjebak seorang Tian.
"Saat menerima undangan pernikahan, Hana mengalami depresi. Lalu merencanakan pembunuhan untuk kalian berdua." Dewa menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Aku tidak percaya, kamu seorang penjahat. Apa yang pernah kamu lakukan sudah mencerminkan siapa kamu Dewa, jadi jangan pernah bersikap seperti malaikat. Kamu menyesali kematian Randu? salahkan diri kamu, berpura-pura baik ternyata udang dibalik bakwan, manusia brengsek kelas kakap." Bella menantang Dewa yang menundukkan kepalanya.
"Bella jika orang meminta maaf tugas kita hanya memaafkan, kita fokus ke diri kita jangan sibuk mengoreksi buruk dan baiknya seseorang." Tian meminta Bella kembali ke hotel.
"Tidak bisa kak, perempuan ini harus di penjara, dia hampir saja melukai Winda dan Vira." Bella mendorong Hana.
Dewa menyerahkan surat pernyataan jika Hana depresi, Bella tidak percaya sama sekali langsung menyobek kertas yang hanya bisa menjadi sampah.
"Sekalipun kalian membawa dokter ke sini, akyi tidak akan percaya. Aku tidak akan melepaskan kalian berdua." Bella mencengkram rahang Hana, melihat Bella yang kasar Hana langsung membalas memukul Bella.
__ADS_1
Pertengkaran akhirnya terjadi, Bella memukuli Hana, tidak peduli Tian menghentikannya. Dewa melindungi Hana yang sudah berdarah, menatap mata Bella wanita yang sangat dia cintai.
"Bella, tolong jangan seperti ini. Aku tidak berniat sedikitpun menghentikan penikahan kamu, niat aku baik hanya ingin bertemu Tian, karena jika bertemu kamu pasti emosian." Dewa melipatkan kedua tangannya meminta maaf.
Kebencian Bella sangat terlihat langsung menampar Dewa, Tian langsung menarik Bella untuk masuk ke dalam mobil.
Air mata Dewa menetes, rasa cintanya sangat besar kepada Bella. Melihatnya bersama pria lain sungguh menghacurkan hatinya, melihat tatapan kebencian dari Bella meremukkan jantungnya.
Hana langsung teriak memanggil Tian, langsung mengejar mobil Tian tidak ingin ditinggalkan.
"Bella, aku cinta sama kamu. Meskipun aku tidak bisa memiliki kamu, setidaknya jangan membenci aku. Sebenarnya ada alasan yang tidak bisa terungkap kenapa aku memilih menjadi orang jahat, tapi cinta aku tulus Bel." Dewa berlutut menangis sesenggukan.
Hana menggoyang tubuh Dewa, memintanya mengejar mobil Tian. Kepala Dewa menggeleng meminta Hana melupakan Tian yang akan segera menikah.
Mobil Tian akhirnya melaju pergi, melewati mobil yang Bella gunakan. Di dalam mobil ada Vira dan Winda yang masih bengong tidak mengatakan apapun.
Tidak bisa dipercaya mereka melihat Dewa kembali, lelaki yang ingin mereka miliki, tapi kenyataannya harus menikah dengan pilihan orang tua.
"Dewa masih tampan, Winda melihat ketulusan dari matanya. Jika sudah jatuh cinta memang sulit untuk dilupakan, meksipun harus berpura-pura bohong." Senyuman Winda terlihat langsung pindah tempat duduk menjalankan mobil kembali.
Winda juga terdiam, dia juga merasakan keraguan yang sama. Pernikahan yang mereka jalani sesuatu yang salah.
"Winda, apa yang harus Vira lakukan?" Vira memeluk lengan Winda.
"Kamu masih mencintai kak Wil, tapi cinta sudah tidak terlihat lagi. Jalani saja Vir, kamu lihat saja perjuangan kak Wildan untuk menaklukkan hati kamu." Winda menepuk tangan Vira.
"Cinta, Vira tidak merasakannya lagi." Vira memejamkan matanya merasakan perasaan yang dulu.
"Tidak ada Winda, sekarang Wildan tidak ada lagi di dalam hatiku." Vira memukul dadanya.
"Benarkah, Winda akan membuktikannya." Senyuman Winda terlihat.
***
sesampainya di hotel Bella dan Tian berdebat, emosi Bella sulit diredakan, Vira langsung menutup mulut Bella meminta berhenti bicara.
Tian hanya bisa menghela napasnya, dia tidak menyangka rencananya ingin bicara empat mata dengan Dewa gagal total.
__ADS_1
Semuanya sudah aman, baju pengantin juga sudah siap. Bahkan baju pertunangan Vira dan Wildan juga sudah siap, baju Yusuf dan Winda sudah bersanding dengan baju pengantin.
Keluarga besar sedang berkumpul, membicarakan soal keamanan pernikahan. Pengantin juga setuju apapun yang diusulkan.
Setiap orang memberikan ide masing-masing, berbeda dengan Winda yang fokus menatap Wildan.
Vira masih tertawa sambil mengunyah makanan, Wildan juga mengambil minuman langsung meneguknya.
Wildan langsung membanting meminum membuat semua orang kaget, bau minuman yang asing dan juga rasa yang membuat mual langsung Wildan muntahkan.
Winda menutup mulutnya, Vira langsung berdiri melangkah mendekati Wildan yang terus muntah melihat jus yang dia minum.
"Wil are you okay?" Mami terlihat panik.
Wildan meminta semuanya tenang, Vira hanya berdiri ragu mendekati Wildan yang masih muntah langsung melangkah pergi.
"Bersihkan dulu mulut kamu dengan tisu." Vira memberikan tisu.
"Maafkan Winda Kam Wil, sebenarnya jus yang kak Wil minum resep pelangsing yang Winda buat untuk menguruskan badan, minuman sehat terbuat dari lemon, bawang putih tunggal, cuka apel, jahe merah, lalu dihancurkan menggunakan blender, diperas lalu aduk-aduk dan dimasak." Winda tersenyum lucu.
"Lalu kenapa Wildan bisa muntah Winda?" Reva kebingungan melihat tingkah putrinya.
"Begini Mami, setiap memasak ada takaran, tapi karena bahan banyak yang tersisa Winda habiskan semua, jadinya tidak sesuai resep. Winda meminumnya dua kali, lalu ...." Winda tertawa menjadi pusat perhatian.
"Lalu keduanya Winda?" Windy tersenyum melihat adiknya.
"Lalu, kedua-duanya muntah." Winda nyengir tersenyum saja.
"Apa maksudnya produk gagal?" Bima menatap istrinya yang sudah tertawa.
"Winda, kenapa aku menjadi bahan percobaan kamu?" Wildan menatap tajam.
"Tidak ada alasan, ternyata semua yang meminumnya muntah." Winda menatap Vira yang panik, berhasil membuktikan jika Vira lebih care kepada Wildan dibandingkan yang lainnya.
Karan menepuk pundak Yusuf agar berhati-hati, mungkin saja nanti Winda meracuni makanan.
***
__ADS_1