
Di kampus Winda bertatap muka dengan Yusuf, senyum tenang terlihat. Dari balik kaca Vira dan Billa melihat Winda, keduanya bolos kuliah demi bisa melihat dua insan yang berbeda berperang.
Winda menatap tajam dua sahabatnya yang memberikan semangat, Winda menarik nafas lalu menghembuskan. Masuk ke dalam Lab menatap Yusuf yang sedang berbicara dengan mahasiswa lain yang mencari perhatian.
Tim Winda juga tidak fokus, berharap mendapatkan perhatian lebih dari Dosen yang terkenal baiknya. Winda diam saja menyelesaikan penelitian yang dia buat, Yusuf memperhatikan Winda yang tidak menegur ataupun terusik dengan orang lain.
Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan penelitian selama 5 jam, para Dosen hanya melihat sesekali. Tim Winda bingung melihat hasil yang hampir selesai. Winda bekerja sendirian tanpa memperdulikan siapapun.
"Winda, apa yang bisa kita bantu?"
"Cukup tutup mulut kalian, sangat menggangu." Winda menatap sinis, melanjutkan pekerjaannya.
Karena marah Tim Winda langsung pergi, meninggalkannya seorang diri. Dosen kebinggungan melihat mahasiswa keluar.
"Kenapa kalian keluar?"
"Percumah kita berada di dalam, Winda bekerja sendiri tidak membutuhkan bantuan."
Yusuf meminta kembali masuk, langsung memanggil Winda, menegurnya untuk bekerja sama. Winda tidak menjawab, langsung mengabaikan Yusuf, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Winda, kamu tidak mendengar ucapan saya."
"Selesai, kalian bisa membersihkannya ruangan ini." Winda melangkah pergi, terlihat wajah kaget dari yang lainnya melihat Wildan bisa menyelesaikan dalam satu jam setengah.
Cepat Winda berlari untuk makan, di sana sudah ada Vira dan Billa yang menunggu.
"Bagaimana Yusuf semakin tampan?"
"Vir kamu suka Yusuf, akhirnya move on juga dari Wildan."
"Gila, Wildan menjadi lelaki satu-satunya yang Vira cintai."
Vira terus tertawa mendengarkan cerita Winda, suara panggilan dari Belle menghentikan percakapan tiga wanita yang tidak pernah ada habisnya bahan pembicaraan.
"Putri tidur akhirnya bangun." Vira langsung menjawab panggilan.
Vira teriak kaget, Bella mengatakan Ravi, Wildan Tian dan Erik datang. Vira langsung cepat membereskan tasnya, membatalkan jadwal kuliahnya demi bertemu Wildan, Billa juga langsung memutuskan untuk pulang.
Winda menatap sinis melihat kedua sahabatnya memutuskan untuk meninggalkannya, Winda akhirnya hanya duduk seorang diri.
__ADS_1
Beberapa kegaduhan terjadi, suara alarm kebakaran berbunyi, seluruh mahasiswa berlari keluar. Winda menahan seseorang bertanya lokasi kebakaran.
Saat Winda tahu Lab kebakaran, Winda langsung berlari. Hasil penelitian berada di dalam, seluruh Tim sudah berlari menyelamatkan diri. Winda langsung melangkah masuk, melihat area kebakaran.
Yusuf melihat Winda berlari ke dalam Lab, bisa saja terjadi ledakan. Yusuf berlari mencari Winda yang mengambil beberapa berkas penting soal penelitian.
"Winda, cepat keluar." Yusuf teriak kuat.
Suara ledakan terdengar, Winda terjatuh karena ditarik oleh Yusuf. Cepat Yusuf menggakat tubuh Winda, melewati pintu darurat, karena api sudah melahap pintu masuk.
Keduanya berada di belakang kampus, Yusuf menurunkan Winda yang sibuk merapikan berkas yang lebih penting dari nyawanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Banyak hal penting, beberapa orang menyumbang ide, mereka menunggu peluang untuk bisa berkarya. Aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan mimpi mereka."
"Apa itu penting? nyawa kamu jauh lebih penting. Peluang dunia tidak pernah ada habisnya, jika sudah rezeki, tidak akan tertukar"
"Tidak perlu ceramah, Winda tahu. Sekarang Winda baik-baik saja, kamu tidak perlu ikut campur." Winda langsung berdiri, tapi kakinya sakit hampir jatuh, jika Yusuf tidak menahannya.
Sepatu Winda dibuka, terlihat memar di pergelangan kaki. Winda menatap kakinya yang ditekan pelan oleh Yusuf.
"Hubungi kakak kamu, minta dia menjemput."
"Winda berbicaralah dengan sopan kepada orang yang lebih tua."
"Iya kakek."
Winda berjalan pincang, menghubungi Wildan tapi tidak mendapatkan jawaban. Winda sudah mengambil ancang-ancang untuk membuang handphonenya, Yusuf menahan tangan Winda sambil geleng-geleng.
***
Di rumah, Bella baru saja menghubungi yang lainnya untuk pulang. Perlahan Bella turun mencium bau makanan masakan Tian. Terbiasa saat jauh dari Bunda, Tian memasak sendiri.
"Bel, ayo makan." Tian menyiapkan makan untuk Bella, sedangkan yang lainnya sudah tertawa kuat di ruang tv, sambil menikmati makanan yang Tian masak.
"Kenapa kamu datang ke sini? Bella tidak ingin melihat wajah kamu." Bella menatap tajam, ucapannya tidak ingin melihat, tapi langsung mandi dan berdandan.
Tian melangkah pergi, Bella duduk sendiri menatap makanan di depannya. Air matanya menetes, biasanya Tian akan bicara lembut, tapi sekarang mengabaikannya.
__ADS_1
Pelukan dari belakang, membuat Bella kaget. Wajah Tian sangat dekat, senyumannya juga terlihat menenangkan.
"Jika kamu ingin menjadi istri kak Tian, berhentilah egois, keras kepala, cinta harus saling percaya Bel, cinta juga butuh perjuangan, bukan hanya ungkapan aku cinta kamu."
Bella terdiam merasakan pelukan kakaknya yang terasa beda, Tian tidak lagi memeluk sebagai seorang adik, tapi sebagai seorang wanita.
"Kak Tian ingin menikah, lalu Bella harus bagaimana?"
"Hubungi kak Tian, tanyakan kebenarannya. Kenapa Bella memblokir nomor Kak Tian, menyakiti hati sendiri."
"Bella kecewa."
"Ravi hanya bercanda Bel, wanita kemarin sekertaris baru kak Tian. Kamu marah dan tidak menerima penjelasan, sudah dipastikan rumah tangga kita tidak akan bertahan lama." Tian menjauhi Bella, duduk di depannya.
"Maaf, Bella salah."
"Kita jadikan Bunda dan Ayah contoh pernikahan beda usia, juga beda sikap dan sifat. Bunda yang mudah ngambek, Ayah yang pemarah, tapi keduanya bisa mengimbangi. Ayah kabur dari rumah, tapi berada di kamar lain, Bunda yang ngambek langsung khawatir bukan karena takut suaminya diambil orang. Bunda selalu bertanya, Ayah sudah makan belum, Ayah tidak rindu Bunda, maafkan Bunda."
Bella meneteskan air matanya, mengigat Bunda dan Ayahnya masih harmonis selama ini. Tidak ada yang berubah dari pertama menikah sampai anak dewasa.
"Maafkan Bella, janji tidak akan marah tanpa mendengarkan alasannya." Bella memberikan jari Kelingking, Tian langsung menyambutnya.
"Cie yang baikan, sepertinya ada bau-bau calon pengantin." Ravi meletakaan piring, mengacak rambut Bella.
"Pengantin."
Bella langsung berlari mengejar Ravi yang sudah pergi, Tian tersenyum ternyata Bella belum sadar, jika dari tadi Tian tidak menganggapnya adik dengan satu orangtua.
"Kak Ravi apa maksudnya tadi?" Bella berdiri di depan Ravi.
"Emhhh, Tian belum mengatakannya. Tian dikeluarkan dari daftar keluarga Bramasta, sebagai putra dari Uncle Bisma dan Bunda." Ravi duduk memeluk Kasih.
"Berarti, Bella dan kak Tian bisa menikah."
"Tergantung, kemarin ada pacar Tian yang datang dalam keadaan hamil." Kasih mencubit Ravi, meruntuhkan kebahagiaan Bella.
"Terserah, Bella percaya kak Tian tidak mungkin menyentuh wanita lain." Bella menjulurkan lidahnya, kesal melihat Ravi.
"Tidak percaya, kita bayangkan saja saat bayinya lahir, wajahnya mirip kak Tian. Seperti kak Ravi dulu." Ravi tertawa melihat Bella yang hampir menangis, memukuli Ravi.
__ADS_1
"Katanya ingin menikah, tapi masih suka ngambek."
***