SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERGI UNTUK SELAMANYA


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Ravi langsung berlari, meninggalkan Tama yang keheranan. Ravi kebinggungan ke mana tujuan mereka, Tama menjitak kepala Ravi untuk mengikutinya.


"Kamu kenapa Ravi? seperti orang yang kebinggungan istri mau melahirkan."


Saat melihat Kasih di ruang tunggu, Ravi langsung berlari dan menarik Kasih dalam pelukannya. Rasanya nyawa Ravi sudah diujung tanduk, Kasih hanya diam menangis dalam pelukan Ravi.


Tama mendekati dan melepaskan pelukan Ravi, langsung memeluk adiknya. Mata Tama melotot, Ravi tidak peduli yang penting dia bisa melihat Kasih dalam keadaan baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan bapak Bu?" Tama memeluk Kasih dan ibunya.


"Bapak kritis Tama, ibu takut."


"Jadi yang sakit bapak bukan Kasih?" Ravi melihat ke dalam ruangan.


"Kebanyakan halu kamu Ravi!"


"Penyakit bapak kambuh lagi Bu, Erik benar soal kangker bapak."


"Apa? kangker!" Tama dan Kasih sama kagetnya.


"Jadi kalian tidak tahu! bapak sakit kangker stadium 4." Ravi menatap Kasih yang tubuhnya langsung lemas, Ravi menahan Kasih dan membantunya duduk.


Tidak lama Erik dan Cinta datang, tangisan Cinta pecah saat tahu bapaknya sakit. Erik masuk menemui dokter yang dia tugaskan untuk mengontrol bapak.


"Sulit dokter Erik, melihat catatan saja kita sudah bisa menyimpulkan."


"Berapa persen harapan kita?"


"Anda seorang dokter, seharusnya sudah tahu dan bisa melihat sendiri."


Erik menghela nafas, keluar melihat keluarga Cinta. Tama menatapnya dengan seksama berharap kabar baik.


"Kita tunggu bapak sadar, kita baru bisa memastikan kemungkinan akan melakukan operasi kembali."


"Kamu seorang dokter? tapi selalu menjadi buntut Ravi." Cinta menatap Erik.


"Tidak ada yang tahu aku seorang dokter, termasuk orang tuaku. Hanya Ravi, Tama, Tian."


"Masih bisa menyembunyikannya, pasti kakak ipar kamu marah besar. Aku pikir kamu mundur Rik."

__ADS_1


"Dia tidak akan mundur, karena Erik masih belum terima kehilangan keponakannya karena dokter yang tidak bertanggung jawab." Ravi membela Erik yang bekerja sebagai asisten hanya sampingan menghindari pertanyaan keluarganya.


"Jangan membohongi orangtua, kedua orangtua kamu pasti bangga mempunyai seorang putra yang cerdas dan seorang Dokter."


"Iya Bu,"


Saat bapak sadar, seluruh keluarga masuk. Cinta dan kasih menangis sesenggukan, Kasih yang paling merasa bersalah karena tidak mengetahui perihal penyakit bapaknya. Bapak perlahan menghapus air mata Kasih.


"Bapak bahagia melihat kalian semua berkumpul, ada satu amanah yang harus bapak katakan."


"nanti saja pak, fokus dulu untuk kesembuhan bapak, kami semua ada di sini menemani bapak." Tama sesekali menepis air matanya.


"Tama waktu bapak tidak lama lagi, jaga adik kamu dan ibu ya nak, jadilah pelindung untuk mereka."


"Bapak!" Kasih menangis histeris, Tama merangkul Kasih dan mencoba menenangkannya.


Ibu hanya terdiam, melihat ketiga anaknya yang menangisi bapaknya. Ravi juga diam berdiri ikut merasakan kesedihan, Erik mendekati layar dan menatap bapak dengan sedih.


"Nak Ravi," Ravi yang mendapatkan panggilan, akhirnya mendekat.


"Pak, Ravi di sini kita bertemu lagi. Terimakasih untuk semuanya, bapak juga dulu pernah menolong Ravi dan Mommy." Ravi masih sangat mengigat saat dirinya berada di dalam taksi bersama mommy pulang dari LN, di sana supir taksinya bapak, dan seorang anak kecil yang manja.


"Karena keluarga Ahmad juga baik, kita bisa jadi keluarga pak." Ravi menggenggam tangan bapak yang nafasnya terasa sesak.


"Masih ingat gadis kecil yang bersama bapak di dalam mobil."


"Tentu Ravi ingat, Ravi berjanji akan menikahi dia tapi dia langsung menonjok mata Ravi."


"Bisa kamu tepati janji nak."


"Iya pak, Ravi akan menikahi Kasih seperti janji Ravi saat kami kecil. Bapak juga harus sembuh agar bisa melihat kami menikah."


"Terimakasih nak, Kasih sudah banyak menangis berikan dia kebahagiaan. Tama jaga ibu dan adikmu."


Tama ikut menggenggam tangan bapak, air matanya terjatuh. Dengan berat hati, Erik melepaskan alat bantu. Kasih sudah jatuh pingsan, diikuti oleh Cinta. Hanya ibu yang masih terlihat kuat. Mendekati suaminya dan mencium kening bapak, Ravi ikut meneteskan air mata. Perasaan ini sama saat dia kehilangan Kakeknya, saat keluarga Arsen terluka.


Ravi menuntut bapak mengigat yang maha kuasa, membantu mengucapkan kata terakhir ditelinga nya sampai bapak menghembuskan nafas terakhirnya.


"Bapaaaaaakkkk!" Tama memeluk bapaknya memintanya untuk bangun, Erik merangkul pundak Tama agar kuat demi keluarganya.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim, ya Allah betapa singkatnya waktu kami bersama bapak. Belum sempat Tama mengabdi dan engkau lebih menyayanginya."


Ravi mendekati ibu yang terduduk, membantunya berdiri duduk di sofa. Cinta dan Kasih masih belum sadar. Erik membantu Tama memindahkan bapak ke dalam kamar jenazah.


Tian langsung berlari, mendekati Ravi yang berdiri di depan kamar rawat. Ravi baru selesai menghubungi kedua orangtuanya, langsung masuk kembali melihat Cinta yang sudah sadar dan mengamuk mencari bapaknya.


"Cinta! kuatkan diri kamu, biarkan bapak kamu melepaskan rasa sakitnya nak."


"Bu Cinta belum bisa membanggakan bapak, tapi bapak sudah pergi meninggalkan Cinta."


Ravi mendekati Cinta, mengelus rambutnya memberikan kekuatan. Tian juga menguatkan Cinta dan ibu agar ikhlas dengan ujian yang sedang mereka hadapi.


Mata Ravi menatap Kasih yang sudah sadar, air matanya menetas dan tubuhnya masih terbaring lemas tidak berdaya. Ini bagaikan mimpi bagi Kasih, baru saja dia merasakan keluarga utuh, dan sekarang sudah kehilangan.


Tangan Ravi menghapus air matanya, mata Kasih dan Ravi bertemu.


"Sabar ya, Allah sayang sama bapak. Kamu wanita kuat, Kasih bisa melewati ujian ini." Ravi mengelus wajah Kasih yang air matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Kasih anak yang tidak berguna, mengapa Kasih tidak mengetahui penyakit bapak."


"Kamu wanita hebat, bertahan untuk keluarga walaupun tanpa Cinta dan Tama."


Kasih melangkah mendekati Cinta dan ibu yang berpelukan, cepat ibu memeluk Kasih menenangkan kedua putrinya. Ravi dan Tian sudah keluar melihat Tama dan Erik yang sedang mengurus kepulangan jenazah.


Rama dan Viana datang mengucapkan belasungkawa, saat melihat Kasih, Vi langsung memeluknya. Kasih menangis dalam pelukan Vi, tangan Vi mengelus rambut Kasih menguatkannya.


"Sabar ya sayang, Kasih kuat." Viana mencium kening Kasih.


"Terimakasih Mommy, jika bapak ada kesalahan mohon dimaafkan, agar kuburan bapak dilapangkan."


"Iya sayang, kalian juga harus mengikhlaskan. Kita doakan yang terbaik untuk bapak ya nak.


Viana juga menatap Cinta dan memeluknya, Vi bisa mengerti kesedihan Kasih dan Cinta. Tapi setiap makhluk yang hidup pasti akan meninggalkan dunia ini. Tidak pernah ada yang tau kapan kematian menghampiri, tidak memandang usia, harta, tua ataupun muda.


Keluarga mendekati kamar jenazah, Kasih berada dalam pelukan Mommy Vi sedangkan Cinta dalam pelukan ibunya.


"Ya Allah Kasih ikhlas, berikan surgamu untuk bapak." Vi menghapus air mata Kasih, dan memeluknya seperti putrinya sendiri.


***----

__ADS_1


__ADS_2