SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENANGIS TERHARU


__ADS_3

Sudah jam makan malam, Bunda Jum belum juga keluar kamar. Bella sudah meneteskan air matanya.


Bisma juga tidak berhasil berbicara dengan Jum, meminta Reva dan Viana menemuinya. Bisma tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya wanita yang mengerti perasaan wanita.


Viana langsung mengucapkan salam bersama Reva, diikuti oleh dua manusia kepo Vira dan Winda yang langsung mendekati Bella.


Billa duduk memeluk Bel, memberikannya waktu kepada Bundanya untuk menenangkan pikirannya.


"Bella lebih suka Bunda marah, daripada mendiamkan Bella."


"Sudahlah Bel jangan menangis, kamu koreksi diri sendiri siapa yang menyebabkan keadaan seperti ini." Reva berbicara tegas.


"Mami, namanya juga masih muda. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan." Winda memeluk Bella.


"Usia bukan menjadi penentu kedewasaan seseorang, menjadi kekanakan boleh, tapi tahu batasan." Viana menatap tajam.


"Maafkan Bella, jika Bunda tidak merestui Bella akan menurut Mami, Mommy." Bella menutup wajahnya menangis sesenggukan.


Tian mendekati Bella, memintanya berhenti menangis.


"Maafkan kak Tian, kamu jangan menangis. Kak Tian akan bicara dengan Bunda." Tian mengusap air mata Bella.


"Bagaimana jika Jum tidak merestui kalian Tian?" Viana melipat tangannya di dada.


Bastian terdiam, menatap Vi dan Va yang menatapnya tajam. Tian untuk pertama kalinya tetap ingin menikahi Bella.


"Kamu akan menentang keputusan Jum?"


"Tidak Mom, sampai kapanpun Tian akan menunggu restu Bunda. Jika memang Bella memiliki jodoh lain Tian ikhlas, tapi Tian akan terus tetap menunggu Bella selamanya." Wajah Tian tertunduk menyembunyikan rasa sesak di dadanya.


Viana langsung melangkah pergi, Reva juga melangkah pergi merasakan sedih mendengar ucapan Tian.


"Kak Vi menunggu cinta tidak mudah."


Viana menatap Reva, berdiri di depan pintu kamar Jum.


Pintu kamar diketuk, Reva mendorong pintu pelan langsung masuk melihat Jum sedang membongkar isi lemarinya.


Viana menatap binggung, Jum mengeluarkan seluruh pakaiannya, memasukkan ke dalam kardus.

__ADS_1


Reva hanya diam membantu Jum melipat baju, Viana duduk di pinggir ranjang melihat foto keluarga yang terpasang di dinding.


Hampir tiga puluh menit, tiga wanita yang biasanya heboh hanya diam saja. Jum menatap Reva yang sibuk menyusun kardus, sedangkan Viana tiduran di ranjang.


"Ada yang ingin kalian berdua bicara?" Jum tersenyum duduk di pinggir ranjang.


"Tidak ada, kami hanya menunggu kamu yang berbicara." Vi tersenyum mengunyah buah apel.


"Jum baik-baik saja kak Vi." Jumi menarik nafas panjang.


"Kak Jum, biasanya diantara kita seseorang yang selalu menasehati itu kamu, sekarang kami tidak tahu cara memulai bicara dari mana, karena kak Jum tahu masalahnya, tapi memilih diam. Apa kita sebaiknya pergi?" Reva langsung berbaring di samping Viana.


Jum menatap foto keluarganya, meneteskan air matanya langsung menangis sesenggukan, menyentuh dadanya.


Viana dan Reva juga meneteskan air matanya, sangat mengerti perasaan sedih Jum. kelembutan, kepolosan Jum selalu menjadi hiburan untuk mereka, jarang sekali melihat Jum menangis sesenggukan.


"Mereka ingin menikah kak Vi." Jum menatap Viana yang menghapus air matanya.


"Itu kabar bahagia Jum, sudah lama kamu menunggu hari di mana putra putri kamu bersatu, tapi kenapa kamu bersedih?" Viana langsung mendekat memeluk Jum erat.


"Jum tidak tahu harus bagaimana kak Vi?" Jum menggenggam tangannya.


"Aku gagal melindungi kedua anakku, seharusnya dulu aku berjuang lebih keras untuk menyatukan mereka, seharusnya ...." Air mata Jum membasahi pipinya.


Viana dan Reva langsung menangis memeluk erat, mengusap punggung Jum yang terus menangis membayangkan putranya harus tersakiti karena perpisahan.


Jum juga tidak bisa melindungi putrinya untuk tetap berada dalam pelukannya, Jum harus melepaskan Bella pergi jauh tanpa keluarga untuk mengobati sakit hatinya.


Sebagai seorang ibu dari dua anak yang sangat mencintai mereka, Jum gagal menyatukan keduanya sampai akhirnya perpisahan terjadi.


Setiap hari Jum selalu berdoa agar kedua anaknya cepat pulang, juga sembuh dari rasa sakit mereka.


"Kak Jum sebenarnya bahagia atau bersedih, Reva tidak mengerti. Astaga kenapa Reva jelek sekali kalau menangis? ini ada kerutan atau flek hitam?" Reva menatap wajahnya dikaca.


Viana dan Jum tertawa, langsung memeluk Reva yang menangis sambil berkaca, Reva tersenyum melihat kerutan di wajah Jum.


"Kak Jum ternyata sudah tua?"


"Cucu aku sudah empat Va?" Jum menghapus air matanya, lalu menangis lagi.

__ADS_1


Suara tangisan Jum terdengar kencang, meluapkan rasa sedih, juga kecewanya, melepaskan beban dalam hatinya.


Viana mengusap hijab Jum, memeluknya sambil tersenyum. Viana yakin Jum wanita yang paling adil dalam mengambil keputusan.


"Jum kamu ibu yang sangat luar biasa, bisa mencintai Tian dari lubuk hati paling dalam, menaklukkan hati Bisma yang keras, membesarkan dua putri yang sangat hebat, juga menerima Binar dengan tangan terbuka. Tidak ada orang yang hatinya setulus hati kamu, kesedihan kamu membuat keempat anak kamu meneteskan air mata." Viana menghapus air mata Jum.


"Mereka juga tidak ada yang bisa duduk tenang, Bisma mondar-mandir khawatir, dia sangat takut wanita yang dicintainya sakit hati sehingga tidak berani menegur kamu, Tian bahkan rela melihat Bella bersama orang lain dan tetap menunggu seumur hidupnya demi mendapatkan restu kamu, Billa juga yang sedang menyusui stres melihat kedua kakaknya, Ayah Bundanya sedang bersedih. Binar juga sedang hamil mengalami stres karena melihat keluarga bahagianya ada selisih paham." Reva memeluk Jum meminta untuk berbicara dengan anak dan suaminya.


Jum menghapus air matanya, tersenyum mendengar ucapan Reva dan Viana jika dirinya harus selalu bahagia agar suami, anak cucunya juga bahagia.


"Maafkan Jum yang egois, tidak sanggup menangis di depan anak-anak tetapi tidak sadar sedang membuat mereka khawatir." Jum tersenyum memeluk Reva dan Vi.


"Alhamdulillah, aku sangat mencemaskan kamu Jum, takut kamu gila." Viana tertawa, Jum juga tertawa.


"Terima kasih kak Vi, terima kasih Reva karena kalian sudah menjadi sahabat, teman, keluarga yang sejak Jum muda sampai tua selalu menemani Jum."


"Kita bertiga hanya bisa terpisahkan oleh maut, saling mengingatkan, menguatkan, menasehati, menjaga, mensupport, menjadi orang pertama yang ada di sisi kamu dalam suka dan duka." Viana memeluk Reva dan Jum.


"Jum sayang kak Viana sebagai kakak, sayang Reva sebagai adik." Jum tersenyum bersama Vi dan Va.


"Reva merasa kita seperti Vira, Winda dan Bella, Billa yang saat kecil dimarah menangis berpelukan. Tidak terasa Billa sudah menjadi ibu, sebentar lagi Bella juga naik pelaminan, masih menunggu Vira dan Winda." Reva tersenyum bahagia.


"Duluan Vira atau Winda?" Jum menatap Viana dan Reva.


"Vira." Reva dan Vi menjawab bersamaan.


"Memangnya Winda belum siap menikah?"


"Bukan seperti itu Jum, Vira menikahnya sama Wildan jadinya Vira dulu, kita akan memiliki cucu sama-sama kak Vi." Reva dan Viana berpelukan.


Jum tersenyum melihat Viana dan Reva tertawa bahagia, Jum juga bahagia akhirnya akan melihat putra putrinya menikah.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazara


maafkan jika banyak typo, karena memang belum revisi. Update hari ini revisi besok.

__ADS_1


***


__ADS_2