
Malam semakin larut, Lin tidak bisa tidur setelah mendengar seluruh cerita soal keluarganya, juga alasan penderitaan yang menimpanya.
Langkah kaki Lin menyelusuri Mansion yang sangat luas, berada di lantai tertinggi dan memiliki banyak kamar.
Setiap kamar memiliki nama masing-masing, Lin berjalan melihat pintu kamar yang berderet seperti hotel, tapi berada dalam satu rumah.
Sehebat dan sekaya itu keluarga Bramasta dan Prasetya, hebatnya mereka hidup dengan sederhana, rukun, akur dan damai.
Banyak masalah juga masa lalu yang kelam dirasakan keluarga, luar biasanya sebesar apapun badai tetap dilalui sampai menemukan kebahagiaan bersama.
Lin tidak tahu wajah ayahnya, lelaki yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Sosok pria yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang putri.
Ayah, kakaknya meninggal dalam kecelakaan, ibunya meninggal melahirkan karena pendarahan dan tidak pernah sadarkan diri selama mengandung sampai akhirnya menutup mata.
Wanita yang dia anggap ibu, ternyata kakak perempuannya. Wanita yang membesarkannya, hilang ingatan bahkan menderita sampai akhir.
Sosok yang Lin pikir ayahnya, ternyata orang yang membunuh keluarganya. Lelaki yang diperintahkan untuk menyingkirkan ayah, kakak menjadikannya seorang yatim piatu.
Wanita yang ada di kursi roda, Lin pikir istri Ayahnya ternyata Tante kandung yang ingin membunuhnya. Bahkan putrinya Feby berselingkuh dengan suaminya sendirian.
Lin memegang kepalanya sungguh tidak paham dengan dunia yang sekarang, harta dan kekuasaan membuatnya menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara tanpa siapapun.
"Dunia kalian kejam." Lin meneteskan air matanya.
"Bukan dunia yang kejam, kita yang harus belajar kuat." Stev berdiri di samping Lin, melangkah mendahuluinya melihat pintu kamar Wira, Raka, Elang.
"Lin harus bagaimana? Lin tidak tahu harus berbuat apa?" Kedua tangan Lin mengepal kuat menahan sesak dadanya.
Steven berbalik badan, melihat tubuh Lin yang keras menahan air mata agar tidak keluar.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Tidak tahu." Kepala Lin menggeleng tidak tahu soal hidupnya.
__ADS_1
"Kamu ingin balas dendam, atau memulai hidup baru?"
"Tidak ... Lin tidak ingin balas dendam. Sungguh Lin tidak ingin ada yang mati lagi, membunuh mereka tidak akan mengembalikan ibu, ayah dan kakak-kakak Lin." Bibir Lin bergetar, memegang dadanya yang terasa sakit sekali.
Steven diam, menatap mata Lin yang sangat berat menerima kenyataan. Dia masih terlalu muda, juga tidak memiliki sandaran untuk bertahan.
"Bagaimana Lin hidup? memulai yang baru, tapi dari mana. Lin tidak tahu."
"Siapa nama kamu?"
"Aku ... nama Lin ... Sherlin, itu nama Lin. Ayah sama ibu tidak tahu siapa nama Lin? mereka belum memberikan nama, tapi sudah pergi. Bagaimana ini?" Tangisan Lin langsung pecah di tengah malam.
Steven melangkah maju langsung memeluk sambil menangis, dadanya juga terasa sesak mendengar ucapan Lin.
Windy keluar dari kamar mendengar Lin menangis sesenggukan, bahkan melihat suaminya juga menangis.
Steven menangis di depan Windy saat melahirkan putra mereka beberapa tahun yang lalu, seberat-beratnya masalah suaminya tidak mudah menangis.
"Daddy akan memberikan jalan hidup kamu, aku akan memberikan kamu nama juga keluarga yang lengkap. Hiduplah menjadi Sherlin putri dari Steven dan Windy, kamu bagian dari keluarga Alvaro, Putri pertama kami. Daddy tidak bisa memberikan kamu kakak, sebagai gantinya kamu memiliki banyak adik." Steven mengusap punggung Lin yang berhenti menangis.
Kedua tangan Stev menghapus air mata Lin, besok Lin harus berjanji tidak menangis lagi, berpikir lebih jernih dan menerima apapun yang terjadi.
"Daddy akan melindungi kamu, menjaga dan membesarkan kamu."
"Lin ... berterima kasih sama Om bule, Lin janji tidak akan menangis lagi, tapi jangan membuat Wira merasa Lin mengambil posisinya. Lin sayang Wira, tidak ingin menjadi benalu dalam keluarga siapapun." Lin tersenyum meskipun masih di meneteskan air matanya.
"Wira pasti bahagia mendengarnya, dia selalu ingin memiliki saudara yang memiliki nama seperti dirinya. Setiap kembali ke luar negeri dia membawa adik sepupunya, mengenalkan ke seluruh orang baru jika dia memiliki saudara." Windy tersenyum mengusap kepala Lin, menghapus air matanya meminta Lin beristirahat, karena besok dia tidak boleh menangis lagi sekalipun bertemu dengan para pelaku pembunuh keluarganya.
Lin memeluk Windy sangat erat, memejamkan matanya membayangkan jika ibunya datang memberikan pelukan terakhir.
Steven juga memeluk kedua, memastikan Lin akan berada dalam lindungannya.
"Ayah, ibu aku sudah tujuh belas tahun. Nanti Lin akan berkunjung ke makam kalian, dan mengenalkan diri, agar kalian tenang meninggalkan Lin." Pelukan Lin lepas, langsung melangkah setelah mengucapkan selamat malam.
__ADS_1
Windy memeluk suaminya, bahagia karena Stev ingin mengangkat putri. Windy akhirnya memilki teman untuk belanja, makan, perawatan dan bersenang-senang.
Pintu kamar semuanya terbuka, Rama dan Viana mengusap air mata, karena mereka semua mendengar, tapi tidak keluar.
Bima dan Reva juga tersenyum, Stev satu-satunya orang yang keluar kamar hanya untuk menenangkan Lin.
"Stev, hari ini Bunda melihat kamu sangat dewasa. Lin bukan anak kecil yang bisa diberikan permen lalu diam, bukan juga wanita dewasa yang bisa menerima luka, dia hanya gadis remaja yang memiliki banyak emosi. Bunda tidak punya kata-kata untuk menghiburnya. Terima kasih, karena kamu ingin menjadi sosok ayah untuknya." Jum tersenyum sambil mengusap air matanya memeluk suaminya.
"Ravi yang selalu becanda dengan Lin tidak memiliki kata-kata untuk menghibur, hanya bisa mendengar dia menangis melewati setiap kamar." Tangan Ravi memberikan jempol.
Tian, Wildan Ar juga tersenyum, pilihan yang Stev berikan mengerikan soal balas dendam.
"Bagaimana jika Lin memutuskan balas dendam? kak Stev bisa apa?" Bella menggelengkan kepalanya.
"Akan aku balasan, jika itu bisa mengobati lukanya. Bunda Jum benar dia memiliki emosi yang besar, anak seusianya bisa melakukan dendam dan merusak hidupnya. Steven benar-benar bersyukur Lin masih berpikir jika balas dendam tidak mengembalikan keluarganya." Stev tersenyum meminta seluruh keluarga kembali tidur, Stev yakin Lin akan baik-baik saja.
Ketakutan mereka Lin akan bunuh diri, atau mungkin membunuh orang kini terjawab. Lin anak baik sama seperti Clara yang baik hati.
"Ada apa malam ini? kenapa mansion menjadi menyeramkan? aku lelah, tapi mendengar suara kuntilanak menangis." Erik menguap melihat pintu kamar semuanya terbuka.
Ravi langsung menendang Erik masuk ke dalam kamarnya kembali, semua orang tidak bisa tidur mengkhawatirkan Lin, sedangkan dia memikirkan kuntilanak.
Windy tersenyum, meminta Billa membiarkan suaminya tidur karena berhari-hari begadang untuk mengawasi pasien.
"Steven, mami percaya kamu bisa jadi Daddy yang baik untuk Lin." Reva menepuk pundak Stev melangkah masuk ke kamar.
"Mommy juga percaya, Bisma yang brengsek saja bisa meskipun dulu aku ragu." Viana langsung cepat menutup pintu.
"Kenapa aku?" Bisma menatap tajam, Jum mengusap wajah suaminya yang cemberut.
***
Done dua bab.
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara
like coment Dan tambah favorit.