
Kediaman Mansion sangat ramai seluruh keluarga hadir, dari tua, muda, kecil dan besar hadir semua. Reva yang menyiapkan seluruh pakaian couple baju dibagi menjadi tiga warna.
Keluarga besar Erik perempuan menggunakan baju kebaya biru navy, laki-laki hitam navy. Sedangkan keluarga besar Billa menggunakan baju berwarna maron, kebaya dan jas marun. Sedangkan warna ketiga keluarga terdekat baju berwarna kebaya gold dan jas hitam.
Seluruh orang antri untuk mengambil baju masing-masing, bahkan anak-anak juga menggunakan baju yang sama.
"Jum pengantin belum bangun? sudah waktunya untuk make up." Viana menatap Jum.
"Sebentar lagi kak Vi, Reva juga masih sibuk mengukur baju."
"Va, terima kasih untuk bantuannya, kamu bahkan meminta seluruh tim fashion kamu turun tangan." Septi memeluk Reva dari samping.
"Tidak masalah karena yang menikah putra dan putriku. Kalian pasti juga pusing dengan masalah mereka hanya ini yang bisa aku lakukan meringankan beban kalian."
"Berapa biayanya Va?" Septi tersenyum menggoda Reva.
"Pertama, aku biarpun sudah memiliki cucu bisa memecahkan bola mata kamu Septi, beraninya kamu menghitung harga, kedua suamiku terlalu kaya untuk dibayar." Reva Septi tertawa ngakak.
Kasih melihat keramaian meminta tolong Binar membantunya untuk menggendong Raka, kedua anaknya tidak betah di kamar ingin melihat keluar.
Binar dan Kasih membawa twins R untuk melihat keramaian di luar, angin sejuk menerpa membuat Asih tertawa bahagia, Raka tidur merasakan nyamannya angin sepoi-sepoi.
Kepala Kasih geleng-geleng melihat Wira yang sudah menggunakan jas, tapi masih sibuk bermain dengan banyaknya anak-anak lain.
"Apa nanti Raka akan nakal seperti Wira?" Kasih tersenyum.
"Jika dilihat sekarang, Asih yang nakal, Raka sangat tenang juga dingin sekali." Binar tertawa melihat Wira yang jatuh, bajunya sudah kotor.
"Sebentar lagi kak Win datang, Wira bisa dia masukan ke dalam perut lagi." Kasih tertawa bersama Binar yang lucu melihat tingkah Wira yang menemukan banyak teman.
"Kasih, bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu?"
"Luar biasa bahagianya, juga ada rasa takut gagal menjadi Ibu yang baik. Alhamdulillah Ravi suami yang sangat pengertian, aku pernah menangis tengah malam karena Raka menangis, sedangkan Ravi baru tertidur, tidak lama Asih juga menangis. Jujur stres Binar, tapi Ravi marah karena tidak membangunkan dia untuk menjaga anak bersama, bahkan aku yang tidur, Ravi berjaga."
"Kalian beruntung twins, memiliki keluarga Ibu yang luar biasa, memiliki Ayah juga yang sangat mencintai kalian."
"Binar, kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti Binar." Kasih tersenyum melihat Binar yang juga tersenyum.
"Amin, semoga saja Allah memberikan aku kesempatan menjadi seorang ibu."
Kasih tersenyum, mengingat wajah Binar mirip dengan Lala yang sangat cantik. Wanita yang selalu kakaknya kagumi sejak kecil. Lala dulu selalu bermain bersama cinta, mereka berdua dijaga oleh Tama.
"Binar, nama kecil kamu dulu benar tidak Lala?" Kasih duduk bersama Binar.
"Benar, kamu tahu dari mana Kasih?"
__ADS_1
"Kamu ingat dengan Adit dan Mora?"
"Teman masa kecil, Kak Adit dan Mora. Mora hanya nama panggil yang lucu aslinya nama dia Cinta."
"Kak Adit, dia kakak aku Tama, nama aslinya Aditama." Kasih menatap mata Binar.
Suara teriak membuyarkan tatapan mata Kasih dan Binar, Cinta datang bersama Tama. Binar memperhatikan wajah Cinta yang tersenyum gemes melihat Raka langsung menggendongnya.
"Mora, kamu Cinta Amora?" Binar tersenyum melihat Cinta.
"Aku pikir kamu lupa jika mengenal aku Lala." Cinta menatap Lala sambil tersenyum.
"Apa kabar Cinta? lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Adit? dia sudah menikah?" Binar menyentuh tangan Cinta.
"Belum, dia belum move on dari Cinta pertama, lebih parah lagi kak Tama mengangkat anak." Cinta menghela nafasnya.
"Seriusan kak Ci, di mana kak Tama?" Kasih melihat Tama mendekat membawa bayi dalam gendongannya.
Tama melihat Binar yang terdiam, menatap mata Tama yang langsung melangkah masuk, setelah menyapa Raka dan Rasih.
"Kak Tama, anak siapa?" Kasih melihat bayi perempuan yang sangat cantik, berlesung pipi.
"Anak kak Tama, ini ingin menitipkan kepada Ibu."
"Boleh Binar yang menjaganya? Binar janji tidak akan meninggalkannya." Binar memasang tangannya.
Bening terbangun, menatap Binar langsung tersenyum, Kasih juga tersenyum bahagia melihat Binar tersenyum lepas.
Di dalam Tama menemui Ravi, ada Tian dan Wildan juga. Tama menanyakan keberadaan Erik, tapi semua menunjukkan ke arah kamar.
"Mereka ngapain jam segini di dalam kamar?"
"Tidur Kak Tama, Ravi juga ingin sekali tidur memeluk Kasih, tapi takut Mommy datang membawa sapu."
"Anak sudah dua, masih saja tidak bisa diam."
"Tama, makanya menikah agar tahu enaknya memiliki istri, apapun yang dilakukan halal."
Tian dan Wildan melangkah pergi, Tama langsung meninggalkan Ravi yang mengejar langsung merangkul Tama.
Di dalam kamar Erik terbangun, melihat kepala Billa berada di dadanya. Tangan Billa juga memeluk tubuhnya, Erik menatap wajah Billa sambil tersenyum.
Kebahagiaan yang tidak ada duanya, melihat istri tidur nyenyak disebelah, saat membuka mata ada bidadari surga.
"Sayang, bangun kita belum sholat." Erik mengelus wajah Billa pelan, mencium keningnya.
__ADS_1
Billa langsung bangun, duduk di samping Erik yang langsung memeluknya dari samping, Billa yang nyawanya belum terkumpul menatap Erik.
"Kenapa kita tidur bersama kak, nanti Billa hamil, Ayah pasti marah besar. Nikahi Billa dulu."
"Baik Nyonya." Erik langsung tertawa, melepaskan Billa, turun dari ranjang, melangkah mendekati pintu yang sudah diketuk.
Pintu terbuka Jum menatap Erik langsung masuk, menatap Billa yang memejamkan matanya sambil duduk. Viana Reva Septi juga masuk.
"Billa bangun." Jum menepuk wajah Billa pelan.
"Bunda, maafkan Billa Bun, demi Allah Billa sama kak Erik tidak melakukan apapun, Billa masih menggunakan baju, Billa berpikir tadi hanya mimpi, ternyata nyata tidur berdua." Billa langsung berdiri menunjukkan bajunya yang utuh.
"Billa Bramasta, berarti penikahan beberapa jam yang lalu hanya mimpi." Jum menatap tajam.
Reva Viana sudah tertawa, Erik ada di kamar mandi sedang mengambil air wudhu. Keluar melihat Billa yang menatapnya tajam.
"Cepat wudhu dulu Bil, sebentar lagi waktu zhuhur habis."
"Astaghfirullah Al azim,"
Billa menepuk jidatnya, langsung berlari ke kamar mandi untuk wudhu, Jum tersenyum melihat putrinya yang masih saja menghayal Erik.
"Bunda, Erik sholat dulu."
"Iya, langsung turun ke bawah."
"Selesai sholat ashar turun Bunda, jadi sekalian Billa langsung make up."
"Iya, jangan lanjut memeluk Erik, tahan sampai acara selesai." Reva menggoda Erik yang tersenyum.
"Tenang saja Va, malam pertama mereka tidak akan berhasil." Viana langsung melangkah keluar.
"Jangan lama kak Vi, nanti Septi lama dapat cucu."
"Kamu juga tenang saja Sep, keturunan kita cepat punya anak, setelah bayi keluar, suami pasti mengatakan, sudah satu kali ini saja." Reva tertawa kuat.
"Karena mereka tidak sanggup puasa lama." Viana tertawa kuat bersama dengan yang lain.
Erik menggeleng kepalanya, merusak pikirannya yang ingin beribadah.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***