
Suara tamparan keras terdengar, diiringi oleh suara tangisan. Air mata Lin menetes memegang pipinya yang baru saja mendapatkan perlakuan kasar dari Ayahnya.
"Kenapa kamu tidak menjalankan perintah Sherlin?" tendangan kuat menghantam tubuh kecil Erlin yang terpental menghantam dinding.
Darah langsung keluar dari kepala Lin yang menghantam beton, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Ini kesempatan terakhir kamu, singkirkan bayi yang ada dalam kandungan Vira. Jika kali ini kamu gagal, maka nyawa kamu yang akan melayang." Senyuman sinis terlihat dari wanita cantik yang melangkah pergi.
"Ayah, mereka orang baik. Kenapa Ayah ingin menyakiti keluarga Kak Vira?" air mata Lin terus menetes, tangannya gemetaran.
"Ikuti saja Lin, kamu tidak punya hak membantah. Menjadi orang susah, hanyalah kesialan, jika memiliki banyak uang apapun bisa kita lakukan. Jika kamu tidak ingin mati seperti ibu kamu, sebaiknya singkirkan bayi yang ada dalam kandungan Vira." Tatapan pria paru baya terlihat iba melihat putrinya yang menjadi korban kekerasan anak tirinya, tapi dirinya tidak punya pilihan.
"Ayah, Lin tidak butuh harta. Kita pergi dari sini ayah, tinggalkan semuanya. Harta tidak bisa kita bawa mati Ayah." Lin merangkak memeluk kaki Ayahnya untuk memohon agar meninggalkan kejahatan.
"Tidak Lin, Ayah tidak ingin hidup susah. Wildan memiliki segalanya, jika Feby bisa menikahi Wildan kita akan kaya raya. Menyingkirkan Vira bukan hal mudah, tapi kehilangan anak untuk kedua kalinya akan membuat Vira gila, sedangkan Wildan membutuhkan sandaran. Feby akan masuk dalam hidup Wildan disaat dirinya terpuruk."
Erlin langsung menangis memanggil nama ibunya, dirinya tidak tahu harus melakukan apa? Vira dan keluarganya terlalu baik, sehingga Lin tidak bisa menyakitinya.
"Ibu, Lin ingin ikut ibu saja."
"Jika kamu tidak menurut, maka Ayah kamu akan kami singkirkan." Feby tertawa, menyiramkan air ke wajah Lin.
Sebuah bungkus obat dilemparkan, Feby meminta Lin untuk memberikan obat bubuk tersebut ke dalam minuman Vira.
Lin tidak harus tinggal bersama keluarga Vira lagi, hidupnya akan Feby jamin tidak akan kesulitan jika berhasil menyingkirkan bayi dalam kandungan Vira.
"Jika kamu gagal, ayah kamu mati."
"Kak, kenapa menginginkan lelaki yang sudah beristri? Kak Wildan sangat mencintai kak Vira, dia tidak akan pernah tertarik dengan wanita manapun, baginya Vira wanita satu-satunya." Tangisan Lin semakin kuat, membayangkan kesedihan keluarga Prasetya jika sampai terjadi sesuatu kepada Vira dan kandungannya.
"Kita lihat saja, aku orang kepercayaan Wildan, wanita satu-satunya yang memiliki jarak dekat untuk menemuinya, bukannya itu menjadi kesempatan. Jalankan saja tugas kamu." Feby melangkah pergi untuk ke kantor, karena ada meeting bersama Wildan.
Suara high heels terdengar, senyuman Feby terlihat menatap Wildan yang baru saja tiba bersama Karan.
"Feby, bagaimana persiapan meeting?"
__ADS_1
"Sudah beres pak, saya pastikan semuanya aman."
"Feb, kamu semakin cantik." Karan tertawa melihat sektretaris Wildan yang selalu mengontrol perusahaan.
Senyuman Feby terlihat, mengikuti langkah Wildan dan Karan, bahagia hatinya bisa berdiri di samping Wildan tanpa ada tatapan tajam seperti wanita lainnya.
"Kenapa kali ini kita meeting di luar?"
"Maaf pak jika tidak menyukainya, tapi saya berpikir kita harus meeting di tempat yang santai, juga suasana yang bersahabat agar kolega merasakan ketenangan." Feby memberikan berkas yang Wildan harus bicarakan saat meeting.
"Ketenangan, tidak sekalian saja kita meeting di atas gunung, terus dorong koleganya dari atas pasti hidupnya tenang." Karan tertawa, langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam Wildan dan Feby yang tidak bisa bercanda.
Feby menjadi pusat perhatian bukan hanya cantik, tapi memiliki kepintaran yang luar biasa. Memiliki kemampuan berbahasa luar dengan fasih, juga dengan mudahnya menjelaskan hasil meeting sampai menemukan kesepakatan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.
Kemampuan Feby tidak pernah diragukan, dia sekretaris terbaik yang menjadi incaran banyak perusahaan.
"Selamat ya pak Wildan, sekretaris anda sangat hebat."
"Katakan langsung kepada orangnya pak." Wildan berjabat tangan sambil tersenyum.
"Pak Wildan, hari ini saya berulang tahun bapak tidak ingin mengucapkan sesuatu, jika tidak mungkin bapak meluangkan sedikit waktu untuk makan malam bersama keluarga saya." Kepala Feby tertunduk, jantungnya berdegup kencang melihat senyuman Wildan, meskipun senyuman itu bukan untuknya.
"Tidak bisa, nanti Karan yang akan mengirimkan kado ulang tahun." Wildan meminta Karan segera membayar makanan mereka dan kembali ke kantor.
Tatapan Feby tajam, kening Karan berkerut melihat sikap Feby yang mulai mendekati Wildan, meskipun Wildan tetap cuek dan tidak perduli.
"Wil, hari ini Feby meminta perhatian kamu. Jangan ditangap." Karan merangkul Wildan, langsung masuk ke mobil.
***
Di kediaman Prasetya sedang heboh, Vira dan kawan-kawan sedang histeris melihat timbangan.
Vira berat badannya bekali-kali lipat, Bella dan Winda juga belum bisa menurunkan berat badan, karena efek menyusui.
Hanya Kasih dan Billa yang sudah tenang, tubuh mereka sudah mirip gitar spanyol.
__ADS_1
"Berhentilah Winda, tubuh kamu masih normal. Terlihat berisi lebih cantik." Windy membuang timbangan, pusing melihat Winda dan Bella stres karena berat badan.
"Winda harus langsing kembali, nanti ada wanita seksi mendekati Ar. Nanti body kita dibandingkan?"
"Ar lebih suka body kamu yang montok."
Semua orang tertawa, Ar pria yang sangat cuek soal penampilan. Tidak mempermasalahkan Winda seperti apapun.
Vira menerima pesan dari Lin untuk meminta bertemu di cafe yang dekat dari kediaman Vira, senyuman Vira terlihat langsung menyetujuinya.
Kasih langsung menghubungi Lin jika mereka akan ikut, Bella, Billa, Winda dan Windy juga ikut untuk bersantai di sore hari bersama anak-anak, karena lokasi tidak jauh.
Lin mencatat semua pesanan dengan tatapan sedih, tidak sanggup melihat kebahagiaan keluarga akan sirna, karena ulah dirinya.
Selama satu jam Lin menunggu sambil memperhatikan bubuk yang ada di hadapannya, minuman dan makanan yang dipesan sudah tiba, Lin melihat beberapa mobil sudah terparkir langsung memasukkan serbuk ke dalam minuman kesukaan Vira.
"Maafkan Lin kak Vira." Air mata Lin menetes, langsung cepat menghapusnya.
Suara keributan mulai terdengar, Asih langsung duduk meminta minuman dan makanan pesananya.
"Kado siapa itu kak Lin?"
"Oh ini kado untuk kalian, sebagai kenang-kenangan." Lin membagikan kado murah yang dia beli dengan uang terakhir dari Ravi untuk adik-adiknya.
"Wira, ini punya kamu. Semoga kamu suka." Lin menundukkan kepalanya, mengusap wajah agar air matanya tidak terlihat.
"Ini seperti kado perpisahan untuk selamanya." Embun membuka kadonya yang berisikan permen lollipop.
Vira langsung duduk, mengambil minumannya. Winda, Bella Billa juga duduk langsung minum.
"Wajah kamu kenapa seperti bekas pukulan? Windy melihat kepala Lin yang terluka."
"Hanya terbentur saja, Lin kurang berhati-hati." Senyuman Lin terlihat menatap Vira yang mengadukan minumannya, terlihat canda dan tawa dari Vira, Winda dan Bella yang saling mengejek.
***
__ADS_1