
Bisma masih berdiri diluar rumah, hatinya masih sakit dan sedih belum bisa melihat Ravi, Bima datang mendekatinya sambil tersenyum tapi Bisma membuang wajahnya kearah lain.
Bima langsung memeluk Bisma dan mengelus kepala adiknya..
"Maafkan kakak yang tidak bisa jaga kamu, adikku yang sangat manja, kita sudah jadi pria dewasa dan bertanggung jawab."
"Ngomong apa Lo, gak jelas."
"Bisma! kakak tidak bisa memutar waktu, jikapun bisa kakak tetap memilih Rama karena sudah janji kakak, seorang laki-laki harus pegang janji itu yang ibu kita ajarkan."
"Ya gue tahu, Rama lebih penting dari segalanya."
"Terimakasih karena kamu baik-baik saja dan menjaga Viana juga anaknya, kamu laki-laki baik dek."
"Aku sangat menyayangi Ravi, gue yang pertama mendengar tangisannya, gue juga teman pertama dia bertengkar, aku melihat pertumbuhan Ravi dari kecil. Viana sudah banyak menderita dari hidup susah bahkan sekarang dia sukses, semua kami lalui. Aku sayang Vi seperti seorang ibu, dan aku sayang Ravi seperti kamu kak Bima." Air mata Bisma mengalir keluar.
Bima langsung memeluknya, adik yang dulunya manja menjadi keras karena hancurnya keluarga mereka, tapi sekarang Bima melihat Bisma yang dulu sangat cengeng, ternyata sekarang masih cengeng.
***
"Ravi, ayo sayang salam mommy."
Ravi langsung melepaskan kaki Rama dan melangkah ke pelukan Viana, air mata Viana kembali keluar.
"Ravi tega ke mommy, seharusnya kalau mau pergi jujur ke uncle, nanti Ravi diculik, bagaimana kalau Ravi terluka, mommy bisa hancur Ravi."
"Mommy lagi menyumpahi Ravi ya," pipi Ravi sudah mengembung dengan cemberut.
"Dasar anak tidak pengertian, mommy lagi nasehatin Ravi, kamu tidak bisa ya ikut suasana sedih. Bisannya buat mommy darah tinggi." Mata Viana melotot.
"Mommy jangan marah-marah nanti cepat tua,"
"Astaghfirullah Al azim Ravi, rasanya ingin mommy masukin lagi Ravi ke rahim." Mendengar ucapan Viana Ravi langsung tertawa ngakak, entah apa yang lucu dia tertawa bahagia.
Viana melihat kearah Rama, Rama tersenyum melihat tatapan Viana yang coba menghindar.
"Rama beri aku waktu berdua dengan Ravi, aku tidak akan membawa dia lari, kamu bisa menemui dia kapanpun kamu mau, setelah aku siap baru kita bicara."
"Iya Vi, kamu bisa beristirahat ke kamar kita,"
"Tidak! aku ingin menginap di hotel saja, aku belum siap tidur disini."
"Baiklah, aku yang akan menyiapkan hotel, juga penjagaan untuk kamu."
__ADS_1
"Penjaga untuk apa?"
"Yang jaga kamu Ammar, sejak kamu pergi dia bekerja disini. Dan sekarang sudah waktunya dia bekerja menjaga kalian, karena aku yang akan melindungi kamu, bukan kamu yang melindungi aku."
"Terserah kamu, Oma Viana pamit dulu besok kesini lagi bertemu Oma Flo mommy dan daddy."
"Iya sayang, kalian menginap saja di hotel Vira."
"Vira!"
"Iya, Rama membangun hotel Vira untuk kamu, jadi kamu harus melihatnya."
Viana tersenyum tapi tidak berani menatap Rama, dia bahagia karena Rama masih terus mengingatnya.
"Vira artinya Viana Rama ya Oma," tanya Ravi.
"Iya sayang, seperti kamu Ravi artinya Rama Viana."
Viana melangkah pergi menuju hotel dikawal oleh Ammar atas perintah Rama.
Bisma melihat Ravi langsung mengambilnya dari Viana dan memeluknya erat, Viana tersenyum melihat kearah Bisma yang sangat menyayangi Ravi.
"Daddy! Ravi ke hotel dulu, I love you Daddy."
emuachh... cium jarak jauh dari Ravi membuat Viana dan Rama tersenyum melihat putra mereka yang sangat lucu.
Sampai di hotel Viana kagum dengan hotel Vira, ini luar biasa indah.
Vi berbicara sebentar dengan Ammar yang bertugas menjaganya dan Ravi setelah itu Viana masuk menyegarkan diri juga memandikan Ravi lalu langsung beristirahat.
Tengah malam Viana terbangun, disentuhnya kening Ravi yang panas sekali, Ravi juga mengigil. wajahnya yang putih berubah merah Viana langsung bangkit mengambil air Kompress, meletakkan di kening Ravi, mengelap tubuh Ravi yang mandi keringat.
1jam tidak ada perubahan, wajah Viana panik dia langsung menghubungi kamar Ammar meminta nomor telepon Rama
Dengan cepat Viana menghubungi Rama yang kebetulan belum tidur, asik menikmati foto Ravi yang mengemaskan.
"Rama! Ravi..."
"Ravi kenapa Vi,"
Rama langsung bangkit mengambil kunci mobil keluar kamar nya.
"Kamu tenang ya Vi, aku kesana sekarang."
__ADS_1
Dijalan yang sepi Rama bebas mengebut dengan kecepatan tinggi, tidak lama Rama sampai hotel dan langsung berlari menuju kamar Viana.
Suara bel membuat Viana langsung berdiri membuka pintu, Rama memberi salam yang langsung di jawab Viana.
Rama melihat Ravi yang terbaring dengan handuk di keningnya, Viana sudah menagis Ravi belum pernah demam separah ini.
Rama menganti air Kompress dengan yang baru, sambil mengelus wajah Ravi yang masih panas, Viana duduk disamping Ravi dengan berlinang air mata.
Ditempelkan penurunan demam, Rama juga meminumkan obat, mata Rama fokus ke Viana ingin rasanya dia memeluk Vi, menenangkan Vi.
"Panasnya Ravi sudah turun Vi, kamu istirahat lah, kamu lelah baru berpergian jauh."
"Mommy daddy, temenin Ravi tiup lilin, satu kali saja. Ya mom ya dad," Ravi mengigau membuat Viana menyesal pernah memisahkan Ravi.
"Ravi sayang, bukan hanya satu kali, mulai tahun ini Daddy dan mommy akan menemani Ravi tiup lilin, maafkan Daddy ya sayang."
Viana tanpa sadar sudah tertidur di ranjang, dicarinya Rama tapi tidak terlihat.
Rama keluar dari kamar mandi dan menyiapkan tempat sholat subuh, Ravi juga ternyata sudah bangun dan keluar dari toilet sudah berwudhu.
"Morning mommy, morning kiss nya mom," Ravi mencium Viana membuat Rama tersenyum.
"Daddy tidak morning Kiss mommy," pertanyaan Ravi membuat wajah Viana memerah.
"Nanti saja sayang, kalau mommy dan daddy sudah menikah."
"Jadi Daddy sama mommy belum menikah, mengapa bisa ada Ravi."
Viana menundukkan kepalanya menahan malu, sedangkan Rama harus mencari alasan dari pertanyaan putranya.
"Kalian sholat saja, Vi lagi bulanan."
Rama dan Ravi hanya mengaguk dan melaksanakan sholat subuh berjamaah, Viana kagum melihat dua pria tampan sedang beribadah. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa Viana ungkapkan.
Selesai sholat Rama mengajari Ravi mengaji, membaca surat pendek, Viana dari atas kasur hanya tersenyum melihat Ravi yang bahagia bisa berbicara dengan Rama, terlihat sangat akur. Selain wajah mereka yang mirip, sifat lembut Rama juga turun ke Ravi. Tanpa sepengetahuan Viana Ravi selalu menyiapkan uang jajannya dan membeli makanan untuk orang yang kurang beruntung. Sama seperti Daddy nya yang sudah bersedekah.
"Aku bersyukur dia lebih mirip kamu Rama, dia tidak memiliki sifat arogan nya aku, terimakasih hubby memberikan berlian yang tak ternilai harganya." batin Vi.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA...
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE..
__ADS_1
jangan bilang gantung lagi udah tripel ini, bentar lagi author yang gantung 🤣🤣🤣🤣