SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 ACARA


__ADS_3

Mobil Tian masuk ke area Mansion, Erik melihat sisa dari hiasan Pernikahannya. Erik meminta Tian untuk berhenti, dia ingin turun melihat karangan bunga yang sudah proses harus dihentikan.


Erik keluar mobil meminta Tian jalan, dia bisa berjalan kaki menuju Mansion. Erik melihat foto pernikahan bersama Billa, langsung melepaskannya.


Kolaborasi warna putih dan dan biru, sepanjang jalan sudah penuh hiasan, bahkan pelaminan juga sudah berdiri, besok semuanya akan di bongkar sebelum Erik dan Billa duduk di pelaminan.


"Uncle," Wira berlari dari kejauhan, menunju ke arah tempat Erik.


Wira mengandeng tangan Erik menunjukkan beberapa tempat, dia menjelaskan tempat pelaminan, area makan, dekorasi.


"Uncle nanti duduk di sini bersama Aunty, sebelah sana kedua orang tua, di sini juga bisa berfoto menyambut para tamu, nanti tamu masuk dari sana, keluar dari situ, duduk di kursi yang sudah disediakan, makan nasi, bakso, sate, dan banyak lagi ada di sana, minuman sebelah kanan, buah di samping makanan cake." Wira menarik nafas lelah menjelaskan.


Erik duduk di pelaminan, masih mendengarkan ocehan Wildan soal pesta, menunjukkan juga area musik band terkenal yang akan mengisi acara.


"Uncle sudah mengerti belum, jika sudah acaranya kapan Uncle?" Wira baru menyadari jika dia belum mengetahui hari yang baik untuk acara.


"Hari ini Wira." Erik tertunduk menatap ke bawah.


"Nanti malam, ya Uncle." Wira duduk di lantai melihat wajah Erik.


"Acara sudah selesai sayang."


"Astaghfirullah Al azim, Mommy, Wira belum pakai baju bagus, belum foto, belum makan. Ini salah Mommy datang terlambat." Wira langsung berlari, mencari Mommynya untuk marah, karena dia terlambat untuk berpesta.


Erik menarik nafas mengatur nafasnya, melangkah meninggalkan pelaminan untuk masuk ke dalam rumah, acara syukuran twins dilakukan di taman belakang, seluruh orang sibuk, juga sangat ramai.


Erik menemui kedua orang tuanya, menyapa banyak orang. Ibu Erik sudah pergi meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam pernikahan, Ibunya pergi bersama suaminya, Erik membatalkan tuntutan, dengan syarat pergi jauh dari kehidupannya.


Melihat orang penuh membuat Erik sesak, langsung melangkah ke lantai atas, melihat Wira yang menangis guling-guling mengamuk karena tidak pesta.


Erik masuk ke dalam kamarnya, kaget melihat kamar sudah dihias sangat indah, Erik membersihkan bunga mawar yang berada di atas ranjang, langsung tidur memejamkan matanya, sesekali membuka mata melihat foto mereka berdua.


Karena terlalu lelah menangis, lelah berpikir, lelah dengan semuanya, Erik tertidur dengan nyaman.


Ravi membuka pintu kamar, Ammar, Bima, Bisma, Rama juga masuk melihat kamar yang sangat indah. Melihat Erik yang tidur mengorok.

__ADS_1


Ammar mengambil selimut menyelimuti Erik, mencium keningnya. Ravi melihat bunga mawar yang Erik kumpulan membuangnya di tempat sampah.


"Maafkan Papa Erik, belum bisa membuat kamu bahagia, kebaikan kamu di balas keburukan, tapi kamu tutup mata dan telinga mengatakan kepada kami semua jika kamu baik, padahal hati kamu sedang hancur dari segala arah. Besok kamu berusia 25 tahun, tidak terasa kamu sudah besar sekali nak." Ammar mengusap matanya.


"Erik kuat Uncle, dia bisa bertahan sampai akhir." Ravi menepuk pundak Ammar.


Bima langsung meminta semuanya keluar, rencana perayaan ulang tahun Erik akan menjadi hari bahagia dia.


Wira membuka pintu, Bima ingin menggendong cucunya, tapi Wira memilih tidur bersama Erik.


"Semua orang nakal, ya, Uncle. Kita berdua tidak berpesta, pantas saja Uncle sedih, Wira juga sedih, sebaiknya Wira tidur." Wira memeluk Erik dari belakang.


Bisma mengaruk kepalanya, kamar pengantin dinikmati oleh Erik dan Wira. Rama juga tersenyum mengusap kepala Wira mengatakan selamat tidur.


Semuanya keluar mengatur rencana, tidak memiliki banyak waktu lagi, saat matahari terbit semuanya sudah siap.


Wira tenang bersama Erik, tidak mengacau lagi, jika tidak bisa kacau semua rencana, karena mulut Wira tidak pernah bisa berhenti mengoceh.


Sampai tengah malam seluruh orang sibuk, mobil penuh tersusun, seluruh asisten dari setiap rumah datang, Kasih bahkan meninggalkan anaknya untuk mengurus gaun, bersama seluruh keluarga inti, sampai subuh semuanya kelar.


"Selamat ulang tahun Erik, kami harap kamu bahagia." Ravi memeluk Tian, dan Windy yang juga memeluk Ravi.


"Terima kasih Uncle Ammar, Uncle Bima, Uncle Rama, seluruh orang yang terlibat, terutama Mommy, Mama, Mami dan Bunda, juga seluruh orang yang terlibat dalam persiapan singkat ini." Tian, Ravi, Windy menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih.


"Kami juga bahagia." Viana, Reva, Jum, Septi berpelukan.


Bima meminta semuanya beristirahat, besok harus bangun pagi untuk makeup. Acara akan double jadi harus istirahat total.


***


Pagi-pagi Erik bangun bersama Wira, menatap rumah yang sangat mewah. Kue ulang tahun sudah menjulang tinggi, seluruh keluarga kumpul mengucapkan selamat ulang tahun, Wira langsung bahagia karena akhirnya bisa pesta.


"Terima kasih semuanya, hallo twin." Erik menggendong Raka mencium pipinya.


Tiup lilin dilakukan, potong nasi tumpeng, tawa seluruh keluarga terlihat. Erik juga tersenyum melihat seluruh orang berkumpul, walaupun tanpa Billa, Bella, Vira, Winda dan Wildan.

__ADS_1


"Sudah selesai acaranya, sebaiknya kamu ganti baju Rik." Ravi mendorong Erik untuk ke kamar khusus, meminta Kasih mengambil Raka.


"Belum selesai Uncle, Wira belum makan kue." Bibir Wira monyong.


"Nanti kamu bisa makan sepuasnya Wira, acara masih panjang sampai malam." Ravi menarik lengan Erik.


Erik masuk ke dalam kamar kosong, letak baju pengantin. Ravi meminta Erik untuk menggunakan jas, tapi langsung menolaknya, karena jas yang harus digunakan untuk acara ijab kabul.


"Pakai Rik!" Ravi teriak kuat, Tian membantu Erik membuka baju Erik.


"oke, sabar. Baju yang mana?" Erik mengambil baju dari tangan Ravi.


Langsung mengenakan baju dengan rapi, Tian membantu mendadani Erik yang wajahnya kurang bersemangat.


"Kak Tian kenapa menggunakan make up, kalian jangan bercanda."


"Sebaiknya kamu diam Erik."


Erik akhirnya pasrah, malas berdebat mengikuti apapun yang Ravi Tian lakukan.


***


Di dalam mobil masih terjadi perdebatan, Wildan dan Yusuf mengerutkan kening melihat empat wanita berdebat.


"Ini lebih cerah Bella," Vira melotot.


"Terlalu merah Vira."


"Sebaiknya kalian berdua diam, urusan make up biar Winda." Winda memperbaiki makeup seadanya di dalam mobil.


"Kamu cantik sekali Billa, make up yang sempurna." Vira tersenyum melihat Billa yang sudah menggunakan kebaya putih,


Winda mengambil hijab, memperbaiki rambut Billa, memasangkan hijab putih, senyum Billa terlihat melihat wajahnya yang sudah di make up, sudah menggunakan hijab, Winda juga sangat pintar soal make up, juga pintar merangkai hijab, juga memberikan sedikit bunga melati.


"Subhanallah cantiknya, Winda memang terbaik. Kamu sempurna Billa, cantiknya adikku." Bella bertepuk tangan kagum dengan karya Winda.

__ADS_1


"Cieee yang siap menikah, para orang tua memang terbaik, selalu mengerti keinginan anaknya." Vira tersenyum menatap Bella, Winda, dan Billa.


***


__ADS_2