SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MARAH


__ADS_3

Perkebunan yang berada di sekitar Mansion memanjakan mata, banyak penduduk ikut panen dan bisa membawa pulang sebanyak yang mereka inginkan.


Erik memberikan izin untuk warga sekitar Mansion mengambil buah-buahan, dengan syarat tidak merusak pohon. Pengurus kebun juga puluhan, sehingga yang menginginkan buah hasil panen langsung boleh mengambil.


Kasih menatap banyaknya buah-buahan membuatnya khilaf, mengumpulkan banyak jenis buah-buahan sampai rebutan dengan warga.


"Rav, mendingan kamu bawa istri kamu pulang. Lihat matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis." Erik menahan tawa melihat Kasih yang berebut dengan anak-anak.


Ravi langsung menarik tangan Kasih memintanya untuk duduk, tatapan mata Ravi yang tajam membuat Kasih menundukkan kepalanya.


Beberapa anak kecil menangis ulah Kasih, Ravi memberikan buah yang Kasih kumpulkan untuk dibawa pulang.


Vira datang membawakan Kasih mangga, rambutan, banyak jenis buah, tapi Kasih tidak melirik sedikit pun.


"Kasih, buah banyak jangan rebutan, kasihan mereka masih kecil, sedangkan kamu sudah tua." Ravi membersihkan tangan Kasih yang kotor.


"Ini mangga muda, biasanya ibu hamil menyukainya." Erik memberikan beberapa mangga berukuran besar, Kasih masih diam.


Canda tawa terdengar, suara ribut Vira dan Winda terdengar, kelucuan Billa menghibur banyak orang. Berbeda dengan Kasih yang tidak mengeluarkan suara, hanya diam saja tanpa ekspresi.


"Kasih, kenapa kamu diam saja?" Tian duduk di samping Kasih, melirik Ravi yang kehabisan cara meminta Kasih berbicara.


"Kamu kenapa Kasih? lihat banyaknya buah yang ingin kamu bawa. Sebentar lagi kita pulang, mobil tidak muat membawa banyak buah, daripada mubazir lebih baik diberikan kepada orang lain." Ravi berbicara pelan.


Kasih masih diam, tidak berbicara juga tidak merespon. Ravi habis kesabaran, melihat Kasih sangat keras kepala.


"Kasih! kamu bisu ya? kamu sedang hamil, gerak sini gerak sana tidak bisa diam, kandungan kamu masih lemah. Di nasehati marah, ngambek, diam semakin aku turuti kemauan kamu, semakin kamu banyak tingkah." Suara Ravi tinggi, menendang buah-buahan Kasih.


"Ravi jaga ucapan kamu, ibu hamil sensitif."


"Dia bukan sensitif lagi Rik, sudah kelewatan." Ravi melangkah pergi.


Billa mendekati Kasih membantu membawa buah yang Kasih inginkan. Winda juga membantu untuk membawa pulang.


"Kak Kasih jangan sedih, kita bawa semuanya masuk ke dalam mobil Billa saja. Nanti Billa bantu membuat jus, atau es krim." Billa menghapus air mata Kasih yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Kasih tidak suka buah, berikan saja kepada orang lain Bil. Kak Kasih ingin pulang."


Kasih melangkah pergi meninggalkan kebun, Ravi hanya melihat dari kejauhan mengikuti langkah kaki Kasih sampai tiba di Mansion.


"Sayang, di mana buahnya? katanya ingin membawa pulang juga." Viana heran tidak melihat Kasih membawa satupun.


"Maaf ya Mom, mungkin Ravi yang membawanya. Kasih mandi dulu Mom." Kasih langsung menuju kamar.


Ravi masuk kamar melihat Kasih yang sudah menggunakan baju santai, mereka akan segera kembali untuk persiapan lamaran Billa. Ravi langsung masuk kamar mandi, mengabaikan Kasih yang masih menyisir rambutnya.


Melihat Ravi mengabaikannya Kasih langsung keluar, melihat di depan rumah sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam mobil. Kasih mengelus perutnya, menelan ludahnya melihat buah jambu di atas pohon.


"Kamu menginginkan jambu di atas, tunggu sebentar kak Tian memanjat khusus untuk baby kecil." Tian langsung memanjat, mengambil jambu yang belum masak, memberikannya ke Kasih yang langsung memakannya.


"Enak tidak?" Tian tahu Kasih sedang marah, terlihat dari tatapan matanya.


Kasih hanya mengagukan kepalanya, memakan jambu yang rasanya sangat masam. Tian duduk di samping Kasih melihat Bella yang sedang marah kepada adiknya.


"Jangan marah dengan Ravi, ucapannya memang keterlaluan. Jangan karena kamu sedang marah, membuat stres, menganggu kehamilan kamu. Kalian berdua akan menyesal jika hal buruk terjadi."


"Kasih akan menjaganya, ada atau tidaknya Ravi. Kasih akan melahirkannya ke dunia."


Seluruh mobil siap berangkat, Erik pamitan dengan Ibu dan pamannya. Viana Rama yang lainnya juga pamitan.


Ravi membawa mobil bersama Mommy Vi, Daddy Rama, Kasih juga Vira. Sedangkan Tian membawa mobilnya bersama Mami Papi, Bunda dan Ayah Bisma.


Erik membawa mobil bersama Mama Papa nya juga Billa dan Bella dan Winda. Keributan terjadi di mobil Erik ulah Bella yang bertengkar dengan Winda, Billa menjadi korbannya sampai Septi harus menghentikan.


Berbeda dengan mobil Ravi yang hening, Vira melihat Kasih yang melihat keluar jendela. Sesekali Ravi melihat ke arah Kasih yang tidak berbicara.


"Kasih kamu lapar tidak? di sana banyak cemilan. Aak yang turun membelikan."


"Kasih tidak lapar."


Viana bisa merasakan hawa dingin dari Kasih, suasana hati Kasih sedang campur aduk, seperti Viana dulu yang sangat gelisah saat ingin pergi. Vi mengelus kepala Kasih meminta untuk tidur.

__ADS_1


Perjalanan yang melelahkan, sampai di perumahan juga tengah malam. Ravi langsung mengantar kedua orang tuanya untuk pulang, setelah langsung pulang ke rumahnya.


Kasih terbangun langsung turun, mengambil tasnya tidak ingin merepotkan Ravi langsung menuju kamar.


"Sayang, makan buah dulu. Aak membawa banyak buah-buahan."


"Kasih capek, ingin istirahat."


Ravi menghela nafasnya, memukul kepalanya yang tidak bisa menjaga mulutnya. Cepat Ravi naik ke lantai atas, menemui Kasih untuk meminta maaf. Kasih sudah terlelap, tidur dengan nyaman.


"Maaf, ucapan Aak kasar. Kamu pasti sangat tersinggung, maafkan Daddy sayang, tidak mengerti kalian ya. Maafkan Aak Kasih." Ravi mencium perut Kasih, mencium keningnya.


Melihat Kasih tidur belum mengganti bajunya, Ravi langsung mengambil baju tidur Kasih, membuka bajunya mengganti dengan baju tidur.


Mengambil air bersih, mengelap tangan kaki Kasih yang terkena debu. Ravi merasa sangat bersalah melihat Kasih yang terus diam.


Setelah membersihkan badan, Ravi memeluk Kasih untuk tidur. Dirinya juga sangat lelah menyetir sepanjang perjalanan.


***


Ravi terbangun mendengar azan subuh, meraba tubuh di sebelahnya. Kasih sudah bangun, Ravi tersenyum langsung melihat ke kamar mandi, tapi Kasih tidak terlihat.


Berkali-kali Ravi memanggil tidak ada jawaban, Ravi berlari ke luar kamar. Terus berteriak mencari Kasih sampai ke dapur, kepanikan Ravi semakin menjadi, belum lagi kepala Ravi mendadak pusing, balik lagi ke kamar untuk mengambil ponsel.


Sampai di kamar, Ravi berlari ke kamar mandi langsung muntah. Seluruh isi perut Ravi keluar, duduk lemas kehabisan tenaga. Baru saja ingin keluar, Ravi langsung muntah lagi.


Hampir sepuluh menit, baru Ravi bisa keluar. Tubuhnya kehabisan tenaga langsung berbaring di ranjang, mengambil ponselnya untuk menghubungi Kasih.


"Kasih angkat sayang, kamu di mana?" Ravi semakin khawatir, mencoba menghubungi Mommynya, Ravi bahkan tidak bisa bangun karena lemas.


***


Banyak yang menunggu kisah Vira Wildan, awas kalau author update kalian tidak membaca. 🔪😂


Sabar ya, lagi mempercepat tamat Novel MENJADI IBU PENGGANTI.

__ADS_1


Kisah Boy dan Windy juga telat update, pembaca mereka juga menunggu. Maaf lambat up 🙏🙏🙏


***


__ADS_2