SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SALAHKAN BILA AKU MENCINTAI MU


__ADS_3

Suara banyak orang mulai berhamburan, teriakan Vira dan Winda mengalahkan bunyi seribu orang sedang menonton bola. Semuanya lompat berpelukan.


"Selamat ya, selamat, selamat." Vira berkeliling menyalami semuanya.


Kasih dan Ravi masih tertawa di atas mobil, kemudian mereka turun, Ravi memeluk Erik mengucapkan terima kasih sudah datang mensupport, langsung memeluk Tian, lanjut lagi minta restu Tama. Ravi berhenti saat melihat Cinta.


"Selamat ya Vi,"


"Makasih kak Ci." Ravi tersenyum, bersalaman dengan Cinta.


Kasih sudah menghilang dalam pelukan Vira, Winda, Bella dan Billa. Semuanya berpelukan bahagia.


Wildan masih duduk santai di dalam mobilnya, dia tidak mengerti apa untungnya dia di paksakan untuk datang. Wildan tidak tertarik dengan Cinta, baginya cinta membuat hidupnya ribet.


"Vira juga punya lagu untuk seseorang," Vira menatap Wildan yang berada di dalam mobil, masih dalam kegelapan.


"Kak Erik bantuin Vira, setelah ini janji bantuin kakak?"


"Ogah, aku tidak membutuhkan bantuan kamu Vira,"


"Pokoknya kak Erik harus bantu Vira."


"Ya sudah bantu apa?"


Vira langsung mengambil gitar di tangan Ravi, memberikan untuk Erik meminta memainkan petikan gitar untuk mengiringi suaranya.


"Vira suara kamu tidak sebagus Ravi, jangan bikin malu." Erik melotot meminta Vira berhenti, semua orang berkumpul untuk melihat penampilan Vira.


Karena Vira tetap nyolot ingin bernyanyi, Erik hanya mengikuti saja, dia memetik senar gitar. Vira mengetes suaranya.


...Aku coba mengerti semua,...


...Memahami segala keraguan mu,...


...Aku yang selalu ada untuk dirimuu,...


...Saat apapun kau bisa mengandalkan ku,...


...Salah kah bila aku mencintai mu......


Erik mengerutkan keningnya, suara Vira yang fals langsung berhenti, dia berbisik kepada Erik jika dirinya lupa lirik. Erik hanya bisa geleng-geleng kepala.


...Erik:...


...Salah kah bila aku mencintai mu......


...Salah kah aku sayang padamu......


...Izinkan hati ini memeluk dirimu......


...Menemani di setiap langkah hari mu......


...Erik Vira:...


...Aku tau kau juga cinta pada ku......


...Meski kau tak mau mengungkapkan hal itu......


...Semoga waktu akan berpihak pada ku......

__ADS_1


...Hingga saatnya......


...Hingga saatnya... kau akan jadi... milikku....


Semua orang bertepuk tangan, suara Erik tidak diragukan, dia dan Ravi biasanya bermain musik saat kuliah di luar negeri.


"Bagus tidak suara Vira?"


"Jelek!"


"Tapi Vira keturunan Daddy Rama,"


"Winda juga keturunan Mami Reva, tapi Winda tidak bisa bernyanyi."


"Wildan bisa tidak?"


"Wildan apapun bisa, makan pakai kaki juga dia jago." Winda tertawa, dia lupa jika Wildan juga berada di sana.


Ravi merangkul Kasih mengajaknya masuk ke dalam untuk makan malam, handphone Ravi berbunyi, Wildan pamit untuk pergi, Ravi hanya bisa menghela nafas, Wildan paling tidak suka dengan perkumpulan. Semau orang ikut masuk untuk makan malam bersama, sebenarnya rumah kosong ini milik Tian, tempat perkumpulan Tian bersama teman-temannya.


Vira berlari mengetuk kaca mobil Wildan, perlahan Wildan membukanya tanpa melihat wajah Vira.


"Wildan ayo masuk?"


"Aku punya pekerjaan, kalian saja."


Tanpa rasa takut Vira membuka pintu mobil, mengambil kunci mobil. Wildan langsung keluar ingin merampas.


"Kamu kekanakan!?"


"Memang, ayo masuk."


"Salah ya Vira cinta Wildan?"


"Salah karena aku tidak mencintai kamu."


"Wildan benci Vira?"


"Vira, kamu hubungan keluarga kita, aku tidak pernah benci kamu, tapi aku tidak tertarik jatuh cinta, kita sudah memiliki hubungan baik, jangan di rusak dengan cinta, aku tidak ingin menyakiti keluarga Prasetya, jadi mengertilah, berhenti mengejar cintaku."


"Baiklah, Vira akan berhenti." Air mata Vira menetes, ini yang Wildan tidak suka dari Vira, dia selalu memaksa untuk memiliki apapun yang dia inginkan.


"Pergilah kuliah, kejar mimpi dan cita-cita kamu, nikmati masa muda, teruslah bertualang, aku menunggu kamu di gerbang pertemuan 5 orang jenius di New York."


Vira menggelengkan kepalanya, hal mustahil dirinya bisa ada di sana, Vira tidak menyukai pelajaran, dia juga hanya ingin kuliah biasa hanya untuk mengambil gelar, Vira sudah memiliki bisnis sendiri, tidak pernah Vira bayangkan akan berurusan dengan pelajaran.


"Bagaimana jika Vira berhasil?"


"Aku akan mempertimbangkan hubungan kita."


"Mempertimbangkan, Vira ingin saat Vira berhasil tembus di sana kamu harus menikahi Vira." Senyum licik Vira terlihat.


Wildan mengerutkan keningnya, menggagukan kepalanya. Langsung pergi meninggalkan Vira yang garuk-garuk kepala.


Ravi memperhatikan Vira dan Wildan dari lantai atas, Wildan benar Vira selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan, sehingga hidup dengan manja. Ravi berharap Vira mendapatkan pelajaran dari penolakan Wildan, karena tugas Ravi menjaga keutuhan keluarga, salah satunya hubungan baik dengan keluarga Bramasta.


Winda juga memperhatikan Vira, dia tahu Vira cerdas tapi otaknya tidak sampai untuk ke sana.


"Apa yang kamu pikirkan Win?" Bella melihat Winda yang menatap Vira.

__ADS_1


"Kak Wildan akan menerima cinta Vira, jika dia bisa masuk dalam lima besar manusia jenius new York."


"Mudah, Vira bisa, kamu juga bisa, aku juga bisa, Billa apalagi."


"Yakin Bel?"


"Tapi dalam mimpi."


"Sialan,"


Vira langsung memeluk kedua sahabatnya, mereka masuk menemui Kasih yang duduk malu-malu. Kasih menatap Vira yang nampak kebinggungan.


"Ada apa Vir?" Kasih menyentuh tangan Vira, Winda juga menatap Vira.


Kasih tersenyum, satu orang yang bisa menghancurkan mut Vira hanyalah manusia es, Kasih yakin manusia jenius seperti Wildan sudah membuat perjanjian. Ravi menyentuh rambut Kasih, menatap adiknya.


"Kasih, kamu mau makan apa?"


"Vira mau es krim."


Ravi nyengir langsung berjalan ke kulkas mengambil es krim.


"Sayang kamu pengen makan apa?"


"Kau juga mau es krim." Winda ikut murung, Ravi berjalan kembali mengambil dua es krim, pasti sebentar lagi Bella juga minta, Ravi mengambil satu lagi untuk Billa, tapi teringat juga Cinta. Jadinya Ravi membawa 4 es krim.


"Ini punya Winda, ini Bella, ini Billa, dan ini Cinta." Ravi menyusun es krim.


"Punya Kasih mana?" Kasih menatap Ravi sinis, yang lainnya juga melihat Ravi.


"Hayo kak Ravi, punya Cinta ingat tapi punya calon istri lupa." Bella langsung mengambil es krimnya langsung berlari, Winda dan Vira juga pergi.


"Sayang bukan lupa, tidak baik makan es krim."


"OHH, kamu mau bilang aku penyakitan." Kasih langsung melangkah keluar rumah.


Ravi mengaruk kepalanya, dia tidak bermaksud melupakan Kasih tapi ingin makan berduaan di tempat yang sudah dia sediakan, tapi endingnya Kasih ngambek.


Cepat Ravi mengejar Kasih, terus meminta maaf.


"Aku mau pulang,"


"Nanti sayang, aku masih punya kejutan untuk kamu."


"Nanti saja, mut Kasih sedang rusak."


Kasih terus berjalan, Ravi berlari sampai tiba di hadapan Kasih dan memeluknya.


"Kamu tidak akan pernah aku lupakan, kamu memang wanita ke dua yang aku cintai tapi ketulusan aku tidak kalah besar dari yang pertama."


"Apa Ravi, aku wanita kedua?"


"Iya, kamu wanita yang aku cintai selain Mommy, dia wanita pertama yang membuat aku jatuh cinta saat pertama mengenali wajahnya, wanita yang selalu menemani aku sejak kecil, sampai aku menemukan cinta ke dua. Kamu calon ibu untuk anak-anakku."


Kasih terdiam, kata-kata Ravi bisa membuat salah paham, tapi akhirnya sungguh membuat Kasih kagum. Sehebat apapun dirinya tidak akan pernah bisa mengambil posisi Mommy Viana di hati Ravi.


"Ya sudah, Kasih bersedia menjadi yang ke dua, tapi awas ya jika ada yang lain."


"Aku janji sayang, kamu pemilik hatiku."

__ADS_1


***


__ADS_2