
Mata Vira terbuka, perasaan sangat tidak nyaman. Selalu memikirkan putrinya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, pintu terbuka. Vira langsung berpura-pura tidur, Virdan sedang rewel berada dalam pelukan Papinya.
Wildan menghela nafas berkali-kali, Vira membuka matanya melihat suaminya mengusap air mata.
"Ayang, apa yang terjadi sama Vivi? berikan Virdan." Vira langsung menyambut putranya.
Air mata mengalir di pipi putranya, terlihat sekali perasaan sedih. Wildan mengusap air mata putranya.
Bayi kecil yang seharusnya belum memiliki air mata, tapi beberapa kali terlihat. Hati Wildan hancur sekali melihatnya.
"Virdan, anak Mami berhenti sedihnya sayang. Adik Vivi sakit, kamu sedih melihat adik kamu. Anak baik, berhenti menangis nak." Kecupan Vira menyentuh mata putranya, ekspresi sedih langsung hilang.
"Berikan Virdan kepada Winda, Kita temani Vivi. Jangan bertahan sendiri, luka Ayang juga menjadi luka Vira." Vira mengusap air mata suaminya, langsung mengambil Virdan untuk diserahkan kepada Winda.
Vira menunggu Wildan mengantarkan putranya, karena Vira tahu saat ini Winda pasti sedang gelisah memikirkan kakaknya.
"Vivi sayang bertahanlah, Mami masih ingin bersama Vivi."
Langka Wildan memasuki kamar adiknya, Winda memang tidak bisa tidur. Hatinya terus merasakan gelisah menunggu kabar Kakaknya.
"Kak Wil."
"Kenapa belum tidur?"
"Perasaan Winda tidak enak, apa ada kabar kurang baik kak?" Winda melihat Virdan yang masih belum tidur.
"Kak Wil titip Virdan, keadaan Vivi buruk. Kak Wil dan Vira akan menemani dia." Wildan menyerahkan putranya, Winda langsung menyambut memeluk keponakannya.
"Kita do'akan adik kamu dari sini, Virdan merasakan sakitnya Vivi. Sini Umi yang obati yang nak ya." Winda meniup pelan dada Virdan, hal yang selalu Papinya lakukan saat perasaan Winda tidak enak.
Ekspresi Virdan terlihat sangat sedih, meskipun tidak ada air mata yang keluar. Winda memeluknya lembut.
Ar juga menatap Wildan yang meneteskan air matanya, melihat putranya memejamkan mata dalam pelukan Winda.
__ADS_1
"Wil, semangat kita bantu doa."
"Terima kasih kak, Wildan titip Virdan."
Winda meneteskan air matanya, melihat punggung kakaknya yang masih tetap berjalan tegak.
Wildan berlari untuk menemui Vira yang sudah menunggunya, keduanya berjalan bersama untuk melihat keadaan Vivi.
Di depan kamar rawat, seluruh keluarga masih berkumpul. Dokter juga masih berjaga.
"Mommy, Mami, Bunda kenapa ada sini? istirahat saja. Jika ada yang sakit lebih buruk lagi, ini sudah malam. Ayo semuanya bubar." Vira tersenyum menatap keluarganya yang juga mengkhawatirkan putrinya.
Semuanya langsung melangkah pergi, hanya ada Ravi, Erik, Billa yang tetap berjaga.
Vira melihat putrinya yang sedang terbaring, banyak sekali alat yang terpasang ditubuhnya. Wildan merangkul Vira yang terlihat lebih kuat dari dirinya.
"Putri kita kesakitan Ayang, dia masih kecil." Vira mengusap air matanya.
Tatapan Wildan langsung ke bawah, bibir Vira langsung bergetar mengusap punggung suaminya berusaha kuat.
"Ayo kita masuk." Vira berjalan sambil berpegangan di dinding, ingin sekali rasanya Vira menangis teriak sampai menghacurkan satu bangunan mendengar jika putrinya tidak bisa bertahan lama.
Suara tangisan Billa pecah, dan tubuhnya langsung terduduk lemas. Erik juga meneteskan air matanya menahan tubuh istrinya.
Windy dan Steven yang baru datang juga langsung lemas, Windy sudah menangis jika satu keponakannya tidak bisa selamat.
Ravi sudah terduduk, air matanya sudah menetes tidak tertahankan lagi. Semuanya banjir air mata tidak bisa membayangkan diposisi Wildan dan Vira yang masih masuk ke dalam ruang rawat Vivi.
Vira menyentuh tangan mungil putrinya yang penuh infus, Wildan hanya berdiri di belakang Vira memejamkan matanya. Air mata sudah tidak tahu berapa banyak yang keluar.
"Vivi Sayang, sakit ya nak. Bagian mana yang sakit? katakan kepada Mami. Maafkan Mami yang tidak bisa menjaga Vivi, hanya bisa satu kali menyusui Vivi." Tangan Vira menutup matanya, menenangkan hatinya yang ingin mengamuk melihat keadaan putrinya.
"Terima kasih sudah bertahan, sudah menemui Papi, menemui Mami, keluarga besar kita, tapi Vivi belum bertemu dengan Syila, Arwin, Umi sama Abi sayang. Kenapa Vivi ingin pergi?" Tangisan histeris Vira terdengar, Wildan langsung memeluk istrinya yang menangis meraung-raung menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Vira, bukan salah kamu sayang." Wildan juga menangis sesenggukan.
Ravi yang mendengar suara adiknya menyentuh dadanya merasakan sakitnya kehilangan, sama seperti dulu dirinya kehilangan Daddy-nya beberapa tahun.
"Vivi kesakitan Wil."
"Iya sayang, dia sudah berusaha bertahan sekuat mungkin, kita juga sudah bantu berdoa sebisa mungkin, dokter juga sudah berusaha sebaik mungkin. Allah berkata lain sayang." Wildan menangis sambil menguatkan pelukannya.
"Vivi sekarang sudah tidak sakit lagi, tidak harus merasakan perawatan yang melukai tubuhnya. Iyakan Ayang?" Vira berdiri mendekati wajah putri kecilnya.
"Vivi, Mami sayang kamu. Sayang nanti kita bertemu lagi ya putri kesayangan Mami, tunggu Mami di surga ya nak." Vira menyentuh wajah putrinya.
Erik melihat tangisan Vira dan Wildan pecah, saat diumumkan jam kematian anak mereka. Alat bantu juga di lepaskan, Wildan dan Vira masih menggenggam tangan putri mereka.
Erik meminta dokter lain keluar membiarkan Vira dan Wildan menangis sepuasnya.
"Anakku, kenapa kamu pergi sayang?" Wildan mencium kening putrinya.
"Mami ikhlas Vivi, ikhlas melepaskan kamu agar tidak merasakan sakit lagi. Jika kali ini kami gagal menjaga kamu, maka datang lagi nak, Mami menunggu kamu kembali menjadi putri Mami. Ikhlas aku ya Allah kau ambil kembali putri yang kau titipkan di rahim selama tujuh bulan, belum puas kami menatap indah matanya, belum kami melihat senyuman, hanya satu kali diizinkan untuk menyusuinya. Ikhlas aku dia kembali ke pangkuan yang maha esa." Vira memukul dadanya yang terasa sesak.
Billa dan Windy langsung memeluk erat Vira, mereka menangis bersamaan. Wildan masih memeluk putrinya, Ravi dan Erik juga menahan Wildan untuk ikhlas.
Vira terduduk menyentuh tangan putrinya, menghentikan air matanya. Wildan juga sudah lemas hanya bisa mengusap wajah putrinya.
Ravi yang belum bisa menghentikan tangisannya, Erik juga sama masih duduk di lantai belum bisa terima.
"Maafkan Papi sayang, tunggu Mami Papi di surga ya sayang. Kamu doakan kita semua, insyaallah Papi ikhlas sayang. Putri Papi sudah sehat, kita akan selalu mengingat kamu." Wildan mengusap air matanya, menggenggam tangan Vira.
"Ayo sayang kita harus kuat, ada Virdan yang harus kita jaga. Allah lebih sayang sama Vivi, kita ikhlaskan kepergian putri cantik kita, kuatkan hati untuk mengantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhir." Wildan mengusap wajah Vira yang matanya bengkak.
"Iya, Vira ikhlas, Vivi tidak sakit lagi, dia sudah sembuh sekarang." Vira menutup matanya, menghentikan air matanya.
***
__ADS_1