
Ravi sudah pergi mengantar Kasih tidur, Bella Winda, Vira juga pergi setelah ngambek karena Reva. Tian pergi menyusul tiga wanita yang sedang ngambek ke luar rumah.
"Bis, rasanya canggung sekali kita akan menjadi besan."
"Emhhh, dulu kita musuh. Kamu melindungi Viana, aku menghancurkan Viana Bima dan Rama." Bisma tersenyum.
"Bagi Rama, bersatunya kalian berdua memperkuat persaudaraan kita. Hanya aku dan kak Bima yang belum terikat." Rama yang sedari tadi diam, akhirnya bicara.
"Uncle punya Vira dan Wildan." Erik tersenyum.
"Doakan saja Rik, semoga mereka berjodoh."
"Jadi kapan kami bisa melamar Putri Bramasta?" Mama menatap Bisma dan Bima.
"Bagaimana Billa?"
"Emmhhh, kalau lamaran Billa ikut saja Ayah."
"Erik, kapan?" Bisma menatap Erik.
"Sekarang juga Erik siap, tapi sepertinya Billa ada yang ingin dibicarakan. Kak Erik tidak ingin ada rahasia lagi."
"Boleh pernikahan diundur beberapa bulan, Billa ingin menyelesaikan tugas terakhir Billa." Billa memperlihatkan foto seorang anak kecil.
"Kapan Billa memutuskan kembali ke sana?"
"Secepatnya kak."
"Tiga hari lagi kak Erik akan melamar, Billa bisa pergi dan kembali setelah 6 bulan." Erik mengembalikan ponsel Billa.
"Lama sekali kak." Billa langsung manyun.
"Billa harus fokus meneliti anak ini, dia memiliki penyakit langkah, pasti semua Dokter sudah menyerah, tidak ada harapan untuk selamat, tapi sebagai seorang Dokter Billa harus memberikan harapan, bukan hanya untuk keluarganya, tapi Billa juga harus berjuang menemukan jalan terbaik."
"Kak Erik bisa tahu hanya dengan melihat foto, Billa sedang berusaha bersama Tim."
"Berjuanglah, jika butuh bantuan hubungan kak Erik. Kamu juga harus segera mendapatkan surat resmi untuk bertugas, baru kembali ke sini, setelahnya kita menikah."
"Kak Erik tahu dari mana jika status Billa masih dirahasiakan."
"Karena aku senior kamu, Dokter yang hadir menggunakan status jenius pasti kak Erik tahu."
"Ohhhh, berarti tahu juga Dokter muda Ariela. Dia Dokter hebat, yang menghilang."
"Dia pembuat obat-obat terlarang, satu tahun yang lalu dia membunuh hampir 45 orang keracunan. Sudah divonis hukuman mati."
"Septi, sebaiknya aku membantu kamu untuk persiapan lamaran, kita tidak mengerti yang dua Dokter ini bicarakan." Reva langsung melangkah pergi, Septi hanya tersenyum melihat Reva.
Erik tersenyum, panggilan dari Tian mengalihkan pandangan Erik.
Acara lamaran akan di adakan di kediaman Bisma, undangan hanya khusus keluarga inti saja. Pernikahan akan diadakan sebelum Kasih melahirkan. Langsung berdekatan dengan acara 7 bulanan Kasih.
***
__ADS_1
Ravi sudah selesai sholat ashar bersama Kasih, kebiasaan Kasih yang selalu meminta es krim membuat Ravi harus tegas membatasi es krim yang Kasih inginkan. Menggantinya dengan buah-buahan.
"Sayang, ayo kita ke perkebunan buah. Vira di sana bersama yang lainnya."
"Ayo, di sana Asih ingin makan es krim mangga, jambu, rambutan, harus banyak." Kasih mengkhayal banyaknya es krim.
"Di sana banyak jengkol sayang." Ravi menahan tawanya, mencium perut Kasih.
"Es krim jengkol, Kasih menginginkan es krim jengkol Aak."
"Oke sayang, jangankan jengkol. Ubi, timun, tomat bisa kamu buat es krim."
Kasih langsung mempersiapkan baju untuk pergi ke kebun, Ravi hanya menatap tubuh Kasih yang semakin berisi.
"Sudah siap Aak."
"Sayang sini peluk Aak, kamu hamil semakin cantik. Anak kita seperti perempuan, kamu cerewet, manja, kekanakan, mengemaskan." Ravi mengusap perut, mencium kening Kasih.
"Aak bosan, tidak suka Kasih yang sekarang. Maafkan Kasih Aak, Kasih akan berubah."
"Kasih ingin berubah menjadi apa?"
"Ironman Aak." Kasih langsung tertawa, Ravi tertawa lebih besar lagi.
Ravi menciumi seluruh wajah Kasih, tawa Kasih terdengar oleh Viana yang membuka pintu kamar Ravi. Rama mengelus punggung Vi yang masih belum bisa melepaskan putranya, Vi sangat khawatir saat mengetahui Kasih berbohong, berpikir Ravi tidak akan bahagia, tapi melihat tawa keduanya Viana lega sekali.
"Aak tidak boleh seperti itu, Kasih ngambek ya."
"Langsung ngambek saja, jangan pakai pengumuman."
"Assalamualaikum, Ravi Kasih." Rama mengetuk pintu kamar.
"Waalaikum salam Daddy Mommy, silahkan masuk."
Viana dan Rama langsung masuk, Vi mencium kening Kasih mengelus kepalanya. Rama duduk tersenyum melihat Kasih yang lucu seperti Ravi kecil.
"Bagaimana keadaan kamu dan kandungan kamu Kasih, karena banyaknya masalah kita mengabaikan kamu."
"Kasih mengerti Daddy, tapi Kasih bersyukur Allah memberikan kami kepercayaan untuk segera memiliki anak, Kasih akan menjadi Ibu."
"Alhamdulillah ya nak, Mommy juga sangat bahagia. Kamu makan yang banyak, jaga kesehatan, Ravi juga jaga Kasih, dan calon jagoan Mommy."
"Pasti Mommy, Ravi sangat menunggu kehadiran si kecil."
"Mommy, dulu saat hamil Aak mengidam apa?" Kasih memasang wajah mengemaskan.
"Daddy. Mommy mengidam Daddy ingin bertemu Daddy, rindu Daddy, sampai hampir melahirkan Mommy tidak bisa memenuhi keinginan Ravi." Viana mengelus perut Kasih yang mulai terlihat.
"Asih sayang Halmeoni, jangan sedih nanti Asih akan bermain dengan Halmeoni." Kasih meneteskan air matanya, menyentuh tangan Vi yang berada di perutnya."
"Mommy tidak sedih sayang, biarkan semuanya menjadi cerita cinta Mommy Daddy."
"Kasih saat ada masalah rumah tangga, jangan pernah pergi dari rumah. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Jangan pergi untuk menyelesaikannya." Rama mengelus kepala Kasih.
__ADS_1
"Hubby sedang menyindir Mommy." Viana langsung cemberut.
"Bukan menyindir sayang, hanya sebagai pelajaran untuk penerus kita. Cukup Daddy dan Mommy merasakan perpisahan, merasakan kehilangan." Rama mengusap wajah Viana.
"Maafkan Mommy Daddy, maafkan Mommy Ravi." Viana memeluk Rama.
"Mom, semua bukan salah Mommy dan Daddy, semuanya sudah berlalu, biarkan menjadi kenangan kita." Ravi memeluk Viana dan Rama.
"Kenapa Kasih tidak dipeluk, tidak ada yang sayang Kasih?" Kasih langsung menangis, Ravi tertawa, suara tangisan Vira juga terdengar.
"Vira juga tidak dianggap."
"Sini sayang." Viana meminta Vira dan Kasih berpelukan.
"Ravi, jaga keluarga kecil kamu nak, jaga adik dan Mommy kamu, Daddy bahagia melihat kalian."
"Ravi akan menjaga keluarga kita Daddy, Ravi akan selalu berada di sisi Daddy untuk menjaga keutuhan keluarga kita, sebentar lagi kita akan menyambut anggota baru, bayi mungil di dalam keluarga Prasetya."
"Terima kasih sayang, kamu anak kebanggaan Daddy. Kamu anugerah terindah."
"Vira juga Daddy."
"Iya Vira hadiah terindah, harta yang sangat berharga."
"Kasih Daddy."
"Kasih, menantu terbaik keluarga kita." Rama tersenyum melihat keluarganya.
"Kakek, Asih sayang kakek." Kasih tersenyum manis.
"Siapa Asih?" Ravi menatap Kasih penasaran.
"Rasih, Ravi kasih."
"Sayang, dia baru 8 minggu, kamu sudah membuat nama." Viana langsung tertawa.
"Tidak tahu Mommy, Kasih selalu bermimpi anak perempuan bernama Rasih, mungkin anak Kasih perempuan?"
"Daddy dulu juga selalu bermimpi, seorang anak laki-laki memanggil Vira, sebelum Viana dan Ravi datang, nama Vira sudah lahir."
"Daddy Viana baru tahu."
"Iya sayang, karena selalu bermimpi Vira dan anak laki-laki, Daddy membangun hotel Vira, untuk mengingatkan Daddy tentang Mommy."
"Daddy Mommy romantis Aak. Kasih juga ingin hotel Rasih."
Ravi menghela nafas, mengaruk kepalanya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***