
Beberapa anak-anak berlari melewati taman, kasih langsung berdiri yang diikuti Ravi. Tatapan mata Kasih tajam, Ravi langsung menggakat tangannya sambil tersenyum, tapi tetap membuntuti Kasih.
"Kasih, apa kita tidak bisa berteman." Ravi mengejar dan berjalan mundur di dekan Kasih.
"Kamu ingin menggoda!"
"Tidak! kamu perempuan satu-satunya yang akan menjadi sahabat aku." Ravi tersenyum manis, dia sangat penasaran dengan sosok wanita gila.
"Perempuan dan lelaki tidak pernah bisa menjadi sahabat." Kasih menarik tangan Ravi agar berjalan di belakangnya.
"Kenapa? kamu takut jatuh cinta." Ravi menabrak Kasih yang mendadak berhenti.
"Maaf aku tidak tertarik jatuh cinta, dengan lelaki playboy seperti kamu." Kasih melanjutkan jalannya.
"Tapi setidaknya, kita bisa menjadi teman antara kakak ipar dan adik ipar." Ravi berhenti sebelum menabrak Kasih yang berhenti mendadak.
"Kamu dan kak Cinta akan menikah?!" Kasih terkejut sambil menatap Ravi yang cengengesan.
"Kalau kamu mau membantu mungkin lebih cepat lebih baik."
Ravi tertawa sambil merangkul pundak Kasih, tangan Ravi dipegang dan langsung dipelintir ke belakang membuatnya langsung teriak kesakitan.
Kasih berlari meninggalkan Ravi yang masih meringis, Ravi benar-benar tidak mengerti dengan Kasih yang kasar, seharusnya wanita lemah lembut dan penuh kasih sayang tapi berbeda dengan Kasih yang lebih mirip Hulk.
***
Ravi tiba di kantornya, dirinya melihat Cinta dan Erik yang baru pulang dari luar kota. Erik tersenyum mengelus pipi Cinta pelan, membuat Ravi binggung dengan tatapan keduanya yang mirip orang jatuh cinta.
Melihat Ravi yang datang mendekat, membuat Erik sahabatnya sekaligus asisten pribadinya tersenyum. Cinta dan Erik menyapa dan mengikuti langkah kaki Ravi masuk ke dalam ruangannya. Mereka membahas soal pekerjaan yang dilakukan Erik saat di luar kota, mata Ravi fokus ke jari manis Cinta.
"Cinta! sejak kapan jari manis kamu melingkar cincin." Ravi tidak menyimak ucapan Erik, dia lebih penasaran soal cincin Cinta.
"Kenapa Pak?" Cinta menggakat tangannya dan melihat cincinnya.
__ADS_1
Ravi menggelengkan kepalanya, dia kembali fokus ke pekerjaan. Setelah Erik dan Cinta keluar, Ravi langsung menyelesaikan berkas-berkas penting yang harus dia kirim ke kantor pusat ayahnya.
Karena lelah menunduk, Ravi melihat ke luar jendela dan melihat Kasih. Wajahnya terkejutnya melihat pertengkaran Kasih dan Cinta, Ravi berdiri mendekati perdebatan keduanya, Ravi bisa mendengar dan melihat dari dalam, tapi yang di luar tidak bisa melihatnya.
"Kasih, kamu bisa kuliah! Kakak tidak mau kamu bekerja menjadi tukang bersih-bersih." Cinta bicara dengan nada tinggi.
"Kamu lupa, siapa penyebab aku kehilangan kesempatan beasiswa luar negeri! Kamu Cinta!" Kasih tidak kalah sengitnya menantang Cinta.
"Ibu bilang kamu yang membatalkannya, karena ingin bekerja."
"Aku gagal karena teman-teman kamu yang iri melihat kamu berhasil, akhirnya menyekap aku, selama tiga hari aku dikurung. Dan sejak hari itu aku belajar beladiri dan menjadi kuat untuk melindungi diriku sendiri."
"Dan sejak hari itu, kamu marah ke Kaka Kasih." Air mata Cinta langsung mengalir.
"Tidak! Kasih marah ke diri sendiri karena sangat lemah."
Cinta memeluk Kasih, adik yang sangat dia sayangi. Cinta tidak pernah tahu, jika Kasih terluka karena dirinya yang dulu selalu unggul dalam banyak hal.
"Kasih, kamu berhenti bekerja ya. Mulai sekarang kuliah, kakak akan membiayai kuliah kamu." Cinta mengusap kepala adiknya.
"Maaf Kasih, kakak ingin kamu segera mengundurkan diri." Cinta melangkah pergi meninggalkan Kasih yang sesekali mengusap air matanya.
"Malu ya punya adik yang kerjanya tukang bersih-bersih, tapi Kasih mencari uang dengan cara halal."
Ravi tersenyum melihat Kasih yang berusaha menguatkan dirinya sendiri, Ravi juga kecewa dengan Cinta yang seharusnya mendukung Kasih dengan apapun pekerjaan Kasih selama dia nyaman.
***
Suara ketukan terdengar, Ravi hanya mempersilahkan. Kasih masuk dengan membawa minuman yang sengaja Ravi minta dan khusus diantar oleh Kasih.
"Siang Pak, ini minumannya." Kasih berdiri dihadapan Ravi, dia tidak pernah tahu jika bosnya ternyata Ravi. Dia juga binggung ingin meletakan minuman di depan Ravi atau di meja kursi sofa.
Kepala Ravi perlahan terangkat, matanya menatap mata Kasih yang coba menghindar. Ravi bersandar di kursinya sambil terus menatap Kasih yang salah tingkah.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bekerja di sini?" Ravi mengambil minuman di nampan Kasih.
"Hari ini pak!" Kasih ingin pamit keluar tapi ditahan Ravi.
"Tidak sopan, saya bos kamu." Ravi ingin tertawa karena bisa membuat bibir Kasih manyun.
"Maaf pak!" Kasih risih sekali memanggil bapak, jika dia tahu Ravi pemilik perusahaan tempat dia melamar, pasti kasih langsung menolak.
Ravi berdiri mengambil nampan Kasih, dan meletakan di atas meja. Ravi berdiri di depan Kasih yang sudah terpojok diantara Meja dan tubuh Ravi.
"Mau apa kamu, jangan salahkan aku jika kamu mendapatkan tendangan." Kasih mengancam Ravi yang sudah meletakan tangannya di meja sambil mengurung tubuh Kasih.
"Mau menjadi sahabatku, atau menjadi kekasihku." Ravi menahan tawa melihat mata Kasih yang kaget, jiwa jahil Ravi muncul. Melihat Kasih yang kesal menjadi kesenangan sendiri bagi Ravi.
"Tidak keduanya! bapak Ravi yang terhormat." Kasih mendekati wajah Ravi, menahan dadanya.
"Kenapa?" Ravi juga mendekati wajah Kasih yang mulai merona.
"Ravi aku benar-benar, akan menendang burung kamu jika kamu semakin mendekat." Kasih semakin geram karena wajah mereka hampir tidak ada jarak.
"Jika kamu sampai melakukannya, aku akan mencium kamu." Ravi tersenyum menantang Kasih.
Ravi benar-benar puas melihat Kasih yang terpojok, tapi bukan Kasih namanya jika dia tidak bisa membalikkan keadaan.
"Saya mengundurkan diri pak Ravi! Kasih tidak sama seperti wanita lain yang bisa bapak goda dengan senyum seperti penyihir." Kasih ingin memegang tangan Ravi tapi terlambat Ravi lebih dulu menahan tangannya, dan menjempit kaki Kasih.
Ravi sudah terbiasa mengatasi makhluk seperti Hulk, karena di rumahnya ada dua manusia kuat. Ravi bisa membaca pikiran Kasih yang ingin memutar tangannya dan mengunci tubuhnya ke meja.
"Lupakan keinginan aku untuk menjadi sahabat dan kekasih, tapi kamu tidak akan pernah melupakan adegan kita." Ravi menempel bibirnya ke Kasih, sebenarnya Ravi tidak sembarang mencium wanita, tapi bibir Kasih dilihat dari dekat sangat menggoda.
Kasih ingin memberontak tapi sia-sia, tangannya sudah ditahan kuat, kakinya ditahan kaki Ravi, dan tekuk lehernya juga sudah ditahan. Ravi mencium dalam.
"Rraaaaavvvi!" teriakan nyaring membuat Ravi menghentikan aksinya yang baru saja lidahnya ingin masuk ke mulut Kasih, yang sudah payah dia pancing agar terbuka.
__ADS_1
Ravi menoleh dan tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kasih sudah menundukkan kepalanya menahan malu.
***