SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 BERTEMU KELUARGA


__ADS_3

Suara tangisan Tian terdengar, mendengar juga melihat kesedihan Erik yang ditinggal Billa. Tian juga merasa bersalah dengan hancurnya hubungan keduanya.


Binar terbangun menatap Tian yang terus menangis, Tama juga ada di sisi Tian coba menenangkan.


"Tian, kamu pulang saja, aku juga bisa pulang sekarang. Jangan pedulikan Binar, keluarga kalian sedang ada masalah karena Binar." Binar langsung duduk, berusaha untuk bangun turun dari ranjang.


Tama langsung mendekati Binar, membantunya untuk bangun. Binar menyingkirkan tangan Tama, memintanya jangan kasian, Binar tidak akan melakukan kesalahan dua kali.


Binar berjalan pelan, duduk di dekat Tian. Mata Binar melihat kesedihan Tian yang sangat dalam. Tian tersenyum menyentuh tangan Binar yang masih menggunakan infus.


Tian menceritakan dirinya saat bayi, Ayah Bisma mengangkatnya, karena belum menikah Ayahnya meletakkan Tian di panti, Bisma berjanji akan mengambilnya kembali, tahun berganti Tian terus menunggu, Ayahnya jarang datang berkunjung.


Hidup tanpa keluarga, saudara, juga penuh penghinaan. Tian menerima semua hinaan, dia memang pantas menjadi ejekan, Tian dibantu oleh seorang gadis, dia Windy Bramasta, sosok kakak yang selalu membawakan makanan, menemuinya di panti.


Sampai akhirnya sosok Bunda hadir, malaikat tidak bersayap yang hatinya luar biasanya cantik dan baik. Ayah juga datang membawa Tian kembali bersama Bunda.


Pertama kalinya Tian memiliki sosok kakak, Ayah dan Bunda, luar biasanya Allah memberikan kakek dan nenek yang juga sangat menyayanginya. Bertemu dengan para wanita luar biasa, Ayah yang hebat.


Tian juga memiliki sahabat, juga adik seperti Ravi, akhirnya bertemu dengan Erik. Saat semuanya berkumpul Tian sangat bahagia, dia memiliki keluarga, dia disayangi, dicintai banyak orang.


Saat kedua adik kembarnya lahir, Tian berpikir cinta akan berkurang, tapi kenyataannya cinta Ayah Bunda utuh, semakin besar, posisi Tian ada di depan Bella dan Billa, Tian selalu diutamakan, luar biasanya kedua adiknya tidak pernah iri, juga selalu manja.


"Bagaimana aku bisa menyakiti keluarga ini Binar?" Tian menutup matanya.


"Maafkan Binar." Binar langsung berlutut di kaki Tian, melipatkan kedua tangannya, menangis, menatap Tian.


"Aku gagal menjaga kedua adik ku, kak Tian merindukan mereka Binar." Tian mengangkat tubuh Binar untuk duduk di dekatnya.


"Kak Tian sayang kamu, sama seperti Bella Billa, kak Tian ingin melindungi kalian, menjaga selalu. Binar ada satu rahasia yang harus kamu tahu tentang kita, tapi kamu harus berjanji tidak berpikir buruk, menjadi anak baik, selalu mendengarkan kak Tian."

__ADS_1


Binar mengagukan kepalanya, menghapus air mata Tian, tapi tidak bisa menghentikan air matanya.


Tian mengeluarkan sebuah kertas, Binar menatap saja karena sudah tahu inti isinya. Tian menyerahkan kepada Binar, meminta Binar membukanya.


"Kak Tian yakin Binar adik kandung kak Tian?" Binar mengusap air matanya.


"Kamu tahu dari mana Binar? kak Tian baru saja ingin mengatakannya." Tian kaget, langsung menatap Tama.


Binar tersenyum, dia mendengar pembicaraan Bunda dan Tian. Juga langsung memastikan kepada Dokter yang membantu operasi, mereka mengatakan Tian mendonorkan darah, Binar juga meminta dipastikan kecocokan mereka berdua, tapi ternyata semuanya benar jika dia dan Tian satu Ayah.


"Binar, kak Tian akan menjaga kamu, kita lupakan luka lama, kamu tidak sendirian lagi, ada kak Tian disisi Binar." Tian memeluk Binar, pelukan Binar juga erat.


"Maafkan Binar kak, izinkan Binar meminta maaf kepada seluruh orang yang tersakiti. Binar akan menjelaskan semuanya kepada Billa, memohon maaf kepadanya."


"Kamu harus berjanji dulu Binar, tidak akan melarikan diri dari kak Tian."


"Binar berjanji, tidak akan pergi dan menjadi beban kak Tian." Binar tersenyum, ingin segera keluar ke rumah sakit.


Saat Tian sedang mengurus kepulangan, Tama menyiapkan mobil, Binar duduk melihat orang lalu lalang di rumah sakit, melihat sepasang suami istri mengendong anak.


Senyum bahagia terlihat, Binar menyentuh perutnya, mengelusnya. Seandainya Dokter sialan itu tidak mengeluarkan anaknya mungkin sekarang Binar juga menjadi seorang Ibu.


Seorang pria mendekati Binar, mengeluarkan pisau kecil, Binar kaget langsung teriak kuat. Suara tubuh terbanting terdengar.


Seorang wanita cantik bertarung dengan pria menggunakan topi, langsung melumpuhkannya. Membuatnya tergeletak di lantai, sedangkan pisau ada dilehernya.


"Jadilah pembunuh yang profesional, jika tidak kamu akan membusuk dipenjara." Karin menendang kuat kepalanya sampai pingsan.


Binar berdiri kaget melihat Karin, senyum Karin terlihat memberikan salam. Karin mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Perkenalkan aku Karin, adiknya kak Tama. Selama misi belum selesai berhati-hatilah, pernikahan Billa Erik batal demi melindungi kamu, jadi tolong jangan menjadi beban." Karin tersenyum menatap mata Binar yang memang sangat cantik.


Karin menatap tajam sepertinya dia sangat mengenal Binar, wanita yang pernah hadir di masa kecilnya. Karin langsung meminta Binar berfoto bersama, mengirimkan kepada kedua kakak perempuan Kasih dan Cinta mungkin mengenali Binar.


Karin melihat balasan dari Cinta memanggil Lala, gadis kecil yang dulunya selalu diikuti oleh kakaknya Tama. Wanita yang selama ini Tama cari sampai tidak pernah jatuh cinta, tidak tertarik dengan wanita manapun.


Tama menepuk pundak Karin yang langsung menoleh, menatap tajam Tama sambil tersenyum. Karin tahu kesedihan Tama melihat wanita yang dia cintai tidak mengenalinya juga dalam keadaan memprihatinkan.


Melihat tatapan Karin Tama tahu artinya, meminta Binar berjalan bersamanya untuk ke mobil. Karin menghela nafasnya. Melihat lelaki yang baru saja menyerang Binar disingkirkan.


"Tidak heran kak Tama tergila-gila mencari kamu sampai menjadi polisi, wajah kamu sangat cantik, Karin kalah cantik sepertinya." Karin cemberut.


"Bagi aku kamu paling cantik." Karan tersenyum merangkul Karin meminta tersenyum.


Tian mendengar kabar Binar di serang, Kasih meminta Karin ke kediamannya karena seluruh keluarga sedang kumpul.


Ada hal penting juga yang ingin dibahas bersama Tian, Karin langsung menyampaikannya kepada Tian yang setuju untuk pergi ke rumah Daddy Rama.


Sampai di kediaman Prasetya, Karin melangkah membantu Binar yang ragu untuk masuk, tapi mendengar suara bayi menangis, Binar langsung melangkah cepat masuk, Karin sampai heran.


Binar melangkah mengabaikan banyak orang mendekati Kasih yang sedang menenangkan Rasih, Binar tersenyum juga menangis menyentuh tangan Rasih yang sangat mungil, Ravi datang mendekat menawari Binar untuk mengendong Raka.


Binar binggung cara menggendong, Jum langsung mendekat, mengajari Binar sampai Raka ada dalam pelukannya. Binar memeluk Raka, menciumnya pelan.


"Seharusnya Binar juga menjadi Ibu, mempunyai seorang putra. Maafkan Bunda ya sayang, padahal Bunda sudah berjanji akan melahirkan kamu, kita pergi jauh, membuat keluarga bahagia, walaupun kita hanya berdua." Binar menangis mencium Raka.


Kepala Binar tertunduk meminta maaf kepada seluruh orang, terutama kepada Septi dan Ammar. Tian juga menundukkan kepalanya meminta maaf mewakili adiknya.


Septi tersenyum memeluk Binar, memaafkan setulus hatinya.

__ADS_1


Ravi merangkul Tian, mengatakan semua bukan salah siapapun, demi menang harus ada yang menangis. Semuanya pasti baik.


***


__ADS_2