
Tatapan mata Ravi terarah ke atas langit, binggung ingin memberikan kado apa untuk adik semata wayangnya.
Vira akan segera menikah, ulang tahunnya kali ini menjadi hari terakhir dia menjadi seorang gadis, karena setelah siangnya dia akan dipersunting oleh lelaki pilihan keluarga.
"Apa yang sedang Aak pikirkan?" Kasih memeluk Ravi dari belakang.
"Binggung ingin memberikan kado apa? Vira sudah memiliki segalanya, dia hanya membutuhkan pendamping hidup, saat hari ulangtahunnya bertepatan dengan hari dia akan dipersunting. Aak senang, juga sedih." Ravi menarik tangan Kasih, membalik posisi mereka.
Ravi memeluk erat istrinya, wanita yang sangat dia cintai.
"Besok akan ada acara syukuran, berdoa bersama anak yatim, menyantuni kaum wanita yang sudah menjanda, anak-anak yatim, para lansia, juga orang yang berkebutuhan khusus." Kasih mengusap kepala suaminya.
Setelah matahari terbit, seluruh keluarga akan sibuk. Menyelesaikan seluruh prosesi yang sudah dibicarakan. Menunggu detik-detik kedua pasangan melepaskan masa lajang mereka.
"Aak jangan sedih, Vira dekat dengan kita. Wildan juga lelaki yang tepat."
"Iya sayang, kira-kira kita harus memberikan kado apa untuk ulang tahun mereka?" Ravi menatap istrinya yang membisikan sesuatu.
Senyuman Ravi terlihat menyetujui ucapan Kasih, langsung melangkah pergi menuju kamar mereka melihat Vira yang masih tertawa lepas.
"Vira tidak pernah terlihat ada beban?" Kasih tersenyum mengikuti langkah suaminya.
Sudah larut malam Vira masih berlari bersama Winda, entah apa yang keduanya pikirkan mengelilingi hotel yang sangat luas.
Besok akan menjadi hari terakhir kebebasan mereka, setelahnya bukan hanya kebebasan yang hilang, tapi status sebagai gadis juga hilang langsung berubah menjadi emak-emak.
Wildan duduk bersama Ar hanya menatap keduanya, Vira sampai langsung duduk di kursi mengambil jaketnya menjadi bantal.
Ar membuka jaketnya menutupi tubuh Vira yang sedang beristirahat. Winda masih lanjut berlari, Wildan langsung mengejar Winda adik kecilnya yang tetap keras kepala.
"Winda, meskipun kamu sudah menikah kak Wil akan selalu ada untuk kamu." Wildan berlari mengikuti langkah kaki Winda yang hanya memberikan senyumannya.
"Kak, jangan sakiti Vira. Di dalam lubuk hatinya masih ada kak Wil." Winda mempercepat laju larinya.
"Jangan memikirkan rumah tangga kak Wil, kamu saja yang terus belajar untuk memperbaiki diri. Kak Ar lelaki baik Win, dia satu-satunya yang kak Wil percaya bisa menjaga kamu." Wildan menghentikan langkahnya, melihat Winda yang sudah berhenti berlari.
__ADS_1
"Kak Wil salah, dia lelaki pengecut. Menemukan keberadaan uminya saja tidak bisa, mencari tahu soal kebenaran dirinya saja tidak bisa, lalu apa gunanya dia hidup?" Winda menatap sinis, mengusap keringat di dahinya.
"Kamu salah besar Win, dia tahu di mana uminya. Bahkan Ar yang memberikan kemewahan untuk uminya, tanpa ada yang tahu. Ar tidak bisa menemui uminya, jika mereka bertemu uminya memilih mati, karena sudah mempermalukan harga diri Ar. Dia membenci kelahiran Ar, tapi lebih benci hancurnya masa depan Ar." Wildan tersenyum mengusap kepala Winda.
"Apa maksudnya kak Wil? selama ini dia hanya berpura-pura bodoh."
"Dia hanya ingin mencari tahu alasan rasa benci kamu, jangan pernah kamu temui uminya demi kebaikan kalian berdua. Satu lagi, kak Ar tidak bodoh soal siapa dirinya. Beberapa tahun yang lalu Ar mencurigai keluarga Prasetya, tapi dia melangkah mundur karena tidak ingin merusak keharmonisan keluarga Prasetya, dia aib. Anak yang terlahir tidak diinginkan, jadi langsung menutup diri untuk tidak mencari tahu lebih dalam lagi."
"Kak Wil juga tahu jika Winda yang menghacurkan masa depan dia? dia bercita-cita menjadi pilot, tapi mengundurkan diri sampai akhirnya menjadi seorang dosen." Winda mengusap wajahnya langsung berlari.
"Bukan salah kamu Winda, dia memang memilih untuk menjadi dosen demi bisa melihat kamu." Wildan tersenyum langsung berlari lebih kencang dari Winda.
"Kejar kak Wil."
***
Vira langsung duduk, menatap Ar yang memainkan tabletnya. Senyuman Vira terlihat meletakan kepalanya dipundak Ar.
"Boleh Vira bersandar di sini? tidak menyangka ternyata kak Amin Om Vira, pantas saja sangat pintar, tampan kita memang keluarga yang memiliki bibit unggul." Vira tertawa, Ar juga tertawa.
"Dulu saat kita ke pesantren melihat Om Ar, suara yang sangat merdu membacakan ayat suci Alquran membuat hati Vira tenang. Sayangnya kita berempat tidak mengerti, hanya tahu satu kata Amin." Vira tertawa kuat, sangat lucu mengigat masa dulu saat mereka semua masih lajang.
"Terus apa lagi?"
"Winda langsung memberikan julukan ustadz Amin, jadinya kita ikuti-ikutan. Maaf ya Om, dulu kita menghacurkan mimpi om. Vira merasa tidak enak hati." Tangan Vira menggaruk kepalanya.
"Tidak Vir, kalian sudah melakukan hal baik mengungkap kebenaran. Umi memang bersalah, aku juga memang bersalah karena menutupi perselingkuhan umi, tidak pantas menjadi contoh yang baik untuk anak-anak pesantren." Armand tersenyum merasakan lega hatinya bisa mengobrol dengan Vira, keponakannya.
"Kak Ar." Vira langsung tertawa.
"Kamu terkadang memanggil Amin, Om Ar, kak Ar. Sebenarnya kamu ingin memanggil apa?" Ar tersenyum mengusap kepala Vira.
"Kak Ar saja, terlalu muda dipanggil Om. Nanti Mommy marah, intinya Vira bahagia Kak Ar ternyata bagian keluarga kami." Vira memeluk lengan Ar sambil tersenyum manis.
Ar menasehati Vira agar menjadi istri yang baik, Wildan lelaki yang sangat bertanggung jawab. Dia imam yang pantas untuk membimbing Vira ke jalan yang diridhai Allah.
__ADS_1
"Kak Ar doakan, Vira menjadi istri yang baik, ibu yang penyayang, juga bisa saling melengkapi."
"Amin, Vira minta kado pertama?"
Ar tersenyum berjanji akan memberikan kado untuk wanita satu-satunya keturunan Prasetya.
"Vira ingin kado apa?"
"Sesuatu yang beda dari punya Winda, Bella, Billa dan Wildan."
"Oke." Ar tersenyum melihat Vira joget-joget kesenangan akan mendapatkan hadiah ulang tahun.
Senyuman Ar terlihat sangat bahagia, merasakan memiliki keluarga yang lengkap, ada canda dan tawa, juga ada yang menasehatinya.
"Kak Ar, tolong jaga sahabat Vira. Dia sebenarnya baik, penyayang, tapi terkadang emosian. Kak Ar harus sabar." Vira memohon sampai Ar menganggukkan kepalanya.
Winda langsung berhenti, dia berhasil mengalahkan Wildan yang juga ngos-ngosan.
"Kak Wil harus memberikan Winda hadiah."
"Kamu sudah memilikinya Win." Wildan tersenyum melihat adiknya.
"Mana?"
Wildan dan Vira menunjukkan hadiah Winda yang sedang duduk sambil tersenyum, Winda menggelengkan kepalanya menolak jika hadiahnya senyuman Ar.
"Tidak mau, kak Wil harus gendong Winda." Winda langsung naik ke punggung Wildan, melangkah bersama untuk masuk ke dalam hotel.
Vira tertawa, menggandeng tangan Ar sambil bercerita yang tidak jelas, tapi membuat semuanya tertawa.
Di mana ada Winda dan Vira, di sana ada pertengkaran.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA