SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 19


__ADS_3

Kepergian Sanas membuat suasana yang awalnya tegang langsung pecah tawa seluruh orang melihat Erwin yang masih duduk lemas.


Sungguh dirinya di permainan oleh anak-anak kecil yang kelicikannya mengalahkan orang dewasa, tidak tahu kapan Asih bisa punya nomor Sanas.


Bukan hanya Erwin yang masih terkejut, Steven yang rasanya ingin jantungan. Dia menyetujui lamaran putrinya, hanya karena kejahilan anak-anak.


Suara tawa Lin dan anak-anak terdengar, lompat-lompat kesenangan melihat rencana mereka berhasil.


Seluruh mata melihat ke atas, Bintang menghidupkan petasan di langit. Menunjukkan warna-warni yang sangat indah.


Windy tersenyum melihat suaminya yang hanya bisa geleng-geleng, ada beberapa hal yang tidak bisa dia hentikan. Selama semuanya bahagia, maka Stev juga akan bahagia.


"Kak Win, katanya ingin melamar Lin? mana cincinnya?"


"Nanti, lutut aku masih lemas." Erwin langsung berdiri menatap Asih yang memberikan jempolnya.


Senyuman Raka juga terlihat, menyemangati Erwin. Tugas mereka sudah selesai dan sisanya harus berjuang sendiri.


Wira langsung melangkah pergi, Asih juga langsung berlari mengikuti Wira. Raka dan yang lainnya juga melangkah pergi.


Arwin menarik Twins V untuk pergi, Arum dan anak-anak yang lainnya juga melangkah keluar untuk membiarkan orang tua yang berbicara.


Senyuman Erwin terlihat, menyerahkan bunga kepada Mamanya. Mungkin dirinya masih terus menjadi anak kecil di mata wanita pertama yang dia cintai, sampai kapanpun seorang putra akan menjadi si kecil bagi ibunya.


"Ma, Win tidak ingin dewasa dan ingin selalu tidur di pangkuan Mama. Waktu sudah berganti, izinkan Erwin dewasa." Jari jemari Erwin menyentuh tangan Mamanya.


Tatapan Erwin juga melihat Reva, menyerahkan bunga yang dia rangkai bersama para bocah jahil.


Sejak kecil Reva menjadi ibu kedua untuk Erwin, saat Septi fokus ke Erik, Reva mengambil alih untuk menghibur si kecil yang selalu iri kepada kakaknya.


"Mami, sebenarnya aku tidak pernah iri, tapi aku hanya suka mencari perhatian. Sekarang aku sudah dewasa dan meminta doa restu Mami." Tangan Erwin mengusap air mata Reva yang ingin menetes, melarangnya untuk menangis.


Tidak pernah ketinggalan Erwin memeluk Jum, wanita lemah lembut dan penuh cinta. Kasih sayang paling adil yang tidak pernah membedakan siapapun.

__ADS_1


Pelukan Erwin juga mendarat kepada Viana yang selalu menyelamatkan dari serangan Vira, Bella dan Winda.


"Mommy, terima kasih selalu membela Win."


"Iya sayang, Mommy akan menjadi orang pertama yang akan selalu mendukung kamu." Viana menyentuh hidung Erwin, putra pengawal pribadi, sahabatnya juga orang yang setia kepadanya.


Vira meneteskan air matanya, setelah menjadi seorang ibu Vira selalu melow dan perasaan menjadi lemah.


"Kak Vira, kak Bel, kak Winda. Erwin sayang kalian, menjadi yang paling kecil di antara kalian aku ingin dilindungi, tapi kalian terus menjajah aku sampai setiap hari menangis. Erwin bahagia melihat kalian bahagia."


"Kamu juga harus bahagia bodoh, sudah saatnya kamu serius dan dewasa." Winda meneteskan air matanya memeluk erat Erwin.


"Kita tidak menjajah, hanya saja ingin mendewasakan kamu agar menjadi anak yang bisa membanggakan." Vira menarik telinga Erwin yang tertawa.


"Saat kamu di sakiti, kita langsung mematahkan tangan orang yang membuat kamu terluka, kurang sayang apa lagi kita?" Bella tersenyum memeluk Vira, Winda dan Erwin.


Tatapan Erwin langsung tajam, gara-gara pembelaan mereka, Erwin dijauhi banyak orang, takut jika dipukuli oleh Bella.


Billa tersenyum, mengulurkan tangannya kepada Erwin. Cepat Erwin menyambutnya, sahabat terbaiknya, kakak yang paling baik, Billa juga kakak ipar yang sangat luar biasa bagi Erwin.


Windy langsung menyambut Erwin, meskipun tidak banyak tahu soal Erwin. Windy tahu Erwin dan Steven memiliki sikap yang sama.


"Kak Windy, mungkin ini terlalu cepat. Setulus hati Erwin meminta izin dan restu untuk menghalalkan Lin."


Kepala Windy mengangguk, Windy tahu jika keduanya saling mencintai. Dan sebagai seorang ibu Lin mengizinkan, tapi keputusan Windy akan sama dengan Steven. Tidak lelaki yang paling mencintai seorang putri kecuali Ayahnya.


Kepala Erwin tertunduk, menatap Steven yang masih diam saja.


"Win, kamu masih muda. Emosi kamu masih tinggi dan begitupun dengan Lin yang pikirnya masih jauh. Kamu yakin bisa menahan emosi? bisa mengatur waktu? kamu yakin sudah merasa puas dengan kehidupan muda kamu yang bebas? yakinkan hati kamu Win."


Nada pelan Erwin terdengar, dia sudah memikirkannya bekali-kali bukan hanya satu dua hari, seminggu satu bulan, bahkan Erwin sudah memikirkannya selama tiga tahun untuk meminta izin menikah.


"Kak Stev, apa yang belum aku lewati? kak Stev tahu semuanya yang Win lakukan, sepenuh hati dan ketulusan aku siap untuk semuanya." Suara tegas Erwin terdengar, membuat semua orang menatapnya.

__ADS_1


Steven menatap Bima yang hanya mengangguk pelan, tidak ada lelaki terbaik bagi Lin jika bukan Erwin.


"Win, bisa kamu tahan emosi saat wanita kamu mulai emosi, dalam satu minggu akan ada tiga hari mereka membuat masalah. Meskipun tahu dia salah, maka bisa tidak kamu yang mengalah. Kakek berikan restu jika kamu yakin bisa melakukannya?"


Dengan penuh percaya diri Erwin menganggukkan kepalanya, dia tidak boleh marah dan membentak, tapi bisa bicara baik-baik juga memberikan contoh yang benar.


"Win, bukan tiga hari tapi lima hari." Bisma menunjukkan enam jarinya.


Ravi, Tian, Wildan, Tama, Erik, dan Ar menunjukkan tujuh jari. Tidak ada ketenangan sama sekali setiap harinya ada keributan.


"Keributan pagi hari karena Aak yang mulai, awas saja." Kasih menatap tajam langsung melangkah pergi.


"Tidak dapat jatah selama satu minggu." Vira melangkah pergi diikuti oleh yang lainnya langsung mengejar istri yang sedang ngambek.


"Kak, aku sudah dewasa lebih cepat dari harapan Kak Erik. Terima kasih sudah menjadi panutan terbaik Erwin. Aku sayang sama Kak Erik." Pelukan Erwin kepada kakak satu-satunya.


Erik mengusap kepala adiknya, menepuk punggungnya dan mengucapkan selamat karena sudah mendapatkan izin untuk menikah.


Tangan Erwin mengulurkan untuk memasangkan cincin kepada Lin, keduanya tersenyum melihat para orang tua yang melangkah pergi meninggalkan tempat makan mereka.


"Kak, bagaimana jika tadi ditolak?"


"Mereka tidak akan berani menolak, jika sampai batal para bocah pasti mengamuk." Erwin tersenyum memeluk Lin dari belakang melihat kembang api kembali di hidupkan.


Steven menatap Wira yang melihat dari jendela, menepuk pundak putranya, tersenyum melihat Lin yang terlihat bahagia.


"Kamu sudah menjadi adik terbaik Wira."


"Terima kasih Daddy juga sudah menjadi Daddy terbaik."


"Dua lelaki terbaiknya Windy, dia akan tetap menjadi putri kita, dan kakak kamu untuk selamanya. Bukan menambah keluarga itu baik." Windy memeluk suaminya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


KALIAN baca juga ISTRI MUDA PAK POLISI


__ADS_2