SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 AKHIRNYA PULANG


__ADS_3

Tatapan mata Wira melihat Rasih yang sedang menyusu kepada Kasih, wajah bule Wira semakin besar semakin terlihat, sangat mirip Daddy-nya.


Wira yang tidak bisa diam mendadak tidak banyak gerak, duduk tenang di ranjang Kasih. Senyuman Kasih terlihat mengelus wajah tampan Wira.


"Wira, kamu lagi normal tidak lompat-lompat." Ravi mendekati Wira yang duduk manis.


Jari telunjuk Wira berada di bibirnya, Ravi melihat Rasih yang sedang tidur, tapi sambil menyusu.


"Jadi kamu diam karena Asih sedang tidur." Ravi mengangguk kepalanya mengerti.


"Iya Uncle, adik kecil lagi bobok cantik. Nanti setelah bobo baru main kuda-kudaan bersama Wira." Senyum Wira terlihat, ingin sekali menyentuh Rasih.


Ravi mengelus dada, gila anaknya masih bayi ingin main kuda-kudaan, Windy hanya tersenyum melihat Ravi menatap tajam.


"Sini sayang, duduk lebih dekat lagi." Kasih meminta Wira mendekat, duduk melihat Rasih yang selesai menyusu.


Kasih menyentuh tangan Wira, meletakkannya di wajah Rasih, menyentuh tangan Asih. Wira melihat tangannya, menyentuh pipinya, mengulangi lagi menyentuh Asih.


"Lembut sekali Aunty, berbeda dengan Wira."


"Iya sayang, adik kecil belum boleh jalan, belum boleh main. Bisa main setelah sebesar Wira, tubuhnya masih lemah, jika dipaksa adiknya bisa sakit."Kasih berbicara selembut mungkin.


"Lama sekali Wira harus menunggu, adik cepat besar ya. Nanti Wira pindah lagi ke LN." Wira tertunduk lemas.


"Sabar kak Wira, nikmati setiap pertumbuhan kak Wira."


"Baiklah Wira akan sabar menunggu, sebaiknya Wira pulang saja. Adik kecil belum boleh main, Wira main sama Sakha saja." Wira langsung lompat dari ranjang, menjatuhkan pas bunga di dekat meja Kasih.


Raka langsung bergerak kaget, langsung ingin menangis karena terkejut. Viana menenangkan Raka, sedangkan Rasih sudah menangis kuat. Wira hanya bisa terdiam melihat Rasih.


"Wira, lihat tingkah kamu. Di mana ada Wira, di sana ada kekacauan." Windy menatap tajam.


"Adik kecil maafkan kakak, jangan menangis, kak Wira tidak sengaja." Wira memasang wajah sedih.


"Dasar Wira nakal." Windy melotot kesal.


"Wira tidak nakal Mommy, salah sendiri vas bunga di situ, seharunya di atas meja sana. Kaki Wira tidak sengaja, salahkan Uncle Ravi tidak menurunkan Wira. Adik kecil menangis salahnya Uncle." Wira langsung melangkah pergi mencari kakeknya.

__ADS_1


Kasih langsung tertawa, melihat wajah Ravi yang cemberut melihat Wira. Tangan Kasih mengelus tangan Ravi yang memegang vas bunga.


Ravi ingin sekali menelan Wira hidup-hidup, bisanya dia yang disalahkan. Jika Wira meminta diturunkan tidak mungkin Ravi menolak, salah Wira sendiri mendadak turun.


"Sabar Aak, Wira anak yang lucu."


"Lucu sayang, kak Windy saja bisa naik darah, hanya Daddy-nya yang sanggup mengikuti keinginan Wira."


"Ravi, berarti kak Windy mendapatkan lelaki hebat yang sanggup, sabar menghadapi kak Windy dan anaknya. Kamu seharusnya belajar banyak, sekarang kamu juga seorang Ayah."


"Siap Bu bos." Ravi tertawa bersama Windy.


***


Sudah satu bulan di rumah sakit, akhirnya Kasih dan kedua anaknya diizinkan pulang. Kepulangan Raka Rasih disambut bahagia oleh seluruh Dokter yang terlibat dalam kelahiran mereka.


"Sampai bertemu lagi ganteng, sehat-sehat sayang." Dokter Obgyn menangis haru.


"Sehat-sehat anak cantik."


Kasih mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, bersyukur atas perjuangan seluruh Dokter yang terlibat.


Mommy menggendong Raka, sedangkan Kasih menggendong Rasih. Masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah sakit, Ravi tersenyum melihat kedua anaknya akhirnya pulang.


"Daddy Ravi ingin melakukan syukuran untuk Raka Rasih, menyumbangkan harta Ravi, sebagai ungkapan rasa syukur akan kelahiran mereka." Ravi mengusap matanya sambil menyetir mobil.


"Daddy setuju, kita akan melakukannya di Mansion Erik. Persiapan pernikahan juga di sana, Erik belum tahu karena sepertinya banyak pekerjaan."


"Terima kasih Daddy, Ravi tidak bisa membantu Erik, tapi Daddy mengantikan Ravi." Ravi tidak kuat menahan rasa bahagianya memiliki dua orang tua yang sangat luar biasa hebatnya.


"Daddy melakukan bukan untuk kamu, tapi untuk putra Daddy lainnya. Erik sudah menjadi putra Mommy, pernikahannya akan menjadi hari bahagia kita semua." Viana tersenyum melihat Rama.


"Terima kasih Mommy, Erik memang putra kalian, selain sibuk di rumah sakit, dia juga sibuk mengurus perusahaan mengantikan Ravi."


"Daddy sudah meminta Erik menunda pekerjaan, tapi dia menolak karena banyak karyawan yang sedang menunggu perintah." Rama tersenyum jika mengigat Erik.


Kasih tersenyum melihat Mommy, Daddy terlihat sangat menyayangi Erik.

__ADS_1


"Mom, sejak kapan Erik dan keluarga ini dekat dengan keluarga Erik?" Kasih menatap Mommy.


"Ayahnya Erik orang kepercayaan Mommy sejak muda, Erik datang karena dibuang Ibunya, tepat saat pernikahan Ammar dan Septi sahabatnya Daddy. Dia anak baik, penyayang, selalu berkorban, menerima setiap luka, selalu mengatakan, Erik baik-baik saja. Jika mengingat tentang Erik, selalu banjir air mata." Mommy menepis air matanya.


"Kasih juga bisa merasakan Erik orang yang sangat baik."


"Iya sayang, Mommy, Mami Reva, juga Bunda Jum sangat menyayangi dia, seakan lahir dari rahim kami, sama seperti Tian yang sangat Mommy sayangi, hati Tian luar biasa baiknya, mirip seperti Uncle Bima."


"Kalau Wildan Mommy?"


"Dia berbeda sayang, Wildan dari kecil sudah mendapatkan cinta yang penuh. Dia pria yang dingin, Mommy tidak memahami karakter Wildan, tapi yang pasti Wil lelaki baik."


"Wildan tidak pernah menunjukkan siapa dirinya, bahkan tidak banyak orang yang tahu, jika dia putra utama Bima Bramasta. Wildan tidak pernah menggunakan baju bermerek, mobil mewah, menunjukkan hartanya, dia ada di dekat setiap keluarga, tapi tidak terlihat kehadirannya."


"Ravi setuju dengan Daddy, Wildan sulit Ravi kalahkan. Dia terlalu pintar." Ravi tersenyum mengingat Wildan yang masuk dalam penjara berbulan-bulan, tapi bukan menjadi tahanan, dia mengambil alih segalanya. Menghapus jejak Vira dan Bella dengan bersih, bahkan menghilang jejaknya.


"Wildan, Wildan. Aku pikir kamu sekarat, tapi ternyata kamu kuras seluruh harta orang, memberikannya kepada orang kurang mampu." Batin Ravi menggelengkan kepalanya.


Mobil sampai di rumah, sudah terlihat ramai yang menyambut kedatangan Raka dan Rasih.


Balon berwarna biru dan pink diterbangkan, penyambutan sederhana tapi terasa istimewa, karena dilakukan oleh keluarga.


"Selamat datang twins." Reva langsung mengambil Rasih, membawanya masuk, Jum membawa Raka.


Meletakkan keduanya di dalam boks bayi yang sudah dihias, banyak baju yang sudah dipersiapkan. Segala kebutuhan sudah penuh dipersiapakan.


"Keuntungan memiliki keluarga kaya, tidak perlu keluar uang untuk membeli perlengkapan bayi lagi." Ravi tersenyum, melihat kedua anaknya yang sudah membuka mata, melihat keramaian.


"Terima kasih sudah membawa kebahagiaan kesekian kalinya Rav." Bima menepuk bahu Ravi.


"Papi, boleh peluk sebentar saja." Ravi langsung memeluk Bima menggantikan rasa terima kasih Ravi untuk Wildan yang selalu membantunya menjaga seluruh keluarga, bahkan lupa untuk membahagiakan dirinya sendiri.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2