
Suara tepuk tangan terdengar, Bima tersenyum melihat seluruh anak-anak tidak ada yang menghormatinya, dan tidak menghormati tamu mereka.
"Semuanya ayo kita duduk." Reva melewati suaminya langsung duduk di posisi biasanya.
"Minggir." Viana mengusir salah satu pria berbadan besar tinggi.
Bella menendang tongkat Delton langsung mengambil posisi duduk di tempat biasanya.
Vira dan Winda juga duduk mengusir dua pria yang mendampingi Delton, karena mereka duduk di tempat mereka.
"Apa aku juga harus memberikan tempat duduk?"
"Tentu, sejak kami sudah memiliki tempat masing-masing dan tidak boleh digunakan oleh orang lain." Billa menatap tajam, langsung duduk berkeliling.
Delton tertawa, mengambil kursi lainnya ikutan, duduk, empat putranya berdiri di belakangnya. Denta juga berdiri di samping kakaknya.
"Kursi siapa yang aku duduki?" suara Delton tertawa kecil terdengar.
"Kursi Erik, dia sebentar lagi pasti masuk." Senyuman Ravi terlihat.
"Siapa lagi dia?"
Pintu terbuka, Erik masuk menatap tajam para wanita yang tersenyum manis. Delton melihat Erik yang terlihat kesal.
"Ammar, apa dia anak haram itu?" tawa Delton terdengar, tapi langsung mendapatkan pukulan di kepalanya.
"Anak haram, dia anakku sialan." Septi melempar kepala Delton dengan high heels.
Erik langsung memeluk Mamanya yang langsung teriak-teriak marah, tidak ada yang boleh menjelekkan putranya.
Viana dan Reva sudah cekikikan tertawa, Vira dan Winda tidak bisa menahan diri langsung tertawa. Tidak heran melihat Mama Septi yang selalu memukul dengan high heels.
"Tarik ucapan kamu?" Septi menatap tajam Delton.
"Iya maaf, aku tidak menyangka anak yang dilahirkan oleh wanita malam bisa tumbuh bersama ayahnya." Delton menutup mulutnya.
Keempat putranya melindungi Ayah mereka, mendapatkan pukulan menggunakan tongkat Delton.
"Dia anakku, putraku. Aku tidak perduli dia lahir darimana, aku yang membesarkan dia. Erik makan dan minum aku yang menyuapinya, bahkan tidak aku izinkan seekor semut menggigitnya. Siapa anda yang berani mengatakannya? Putraku kebanggaan kami, aku tidak takut sama mafia tua seperti kamu, jika menyentuh anakku, tidak ada ampun." Septi menatap tajam, duduk di samping suaminya.
Delton meminta maaf dan menarik ucapannya, dia tahu Erik beruntung memiliki ibu yang luar biasa mencintainya.
"Sebenarnya kamu bidadari surga atau malaikat pencabut nyawa?"
"Pa, bunuh lelaki tua itu. Malam ini kita makan dia." Septi menunjuk Delton yang meminta maaf lagi.
__ADS_1
"Bella pencinta daging halal bukan haram." Bel tersenyum melihat Delton.
"Kenapa kalian meninggalkan aku menjaga anak-anak?" Septi memukul punggung Reva.
"Ya maaf Sep, kamu memangnya tertarik dengan mafia." Reva mengusap punggungnya.
"Mbak Septi tidak sekalian saja membawa pisau daging ke sini?" Jum melihat binggung, karena biasanya Septi sangat lembut, tapi kali ini menyeramkan.
"Haruskah." Septi menatap Delton dan putra-putrinya yang terkejut.
Bima meminta semuanya tenang, dia tidak ingin melakukan pertemuan jika akhirnya harus saling pukul.
Suka tidak suka Delton, Lin akan tetap bersama keluarga mereka. Niat baik untuk mengakhiri hubungan kesalahan pahaman, agar Delton tidak membuat masalah dengan mengusik ketenangan Lin.
"Tuan Delton, kita sudah tua dan aku ingin anak cucuku juga tenang tanpa ada rasa saling membenci. Kami menyayangi Lin, dan akan melakukan yang terbaik agar Lin bahagia. Kami tidak akan menyembunyikan jika Lin cucu kandung anda, tapi kami akan membesarkan dia tanpa campur tangan anda, sekarang, besok dan selamanya." Bima bicara tegas tanpa ada yang menyelanya.
Delton tahu jika Lin tidak bisa dia sentuh, kedatangan Delton dan anak-anak bukan untuk mengambil Lin tetapi memastikan jika dia akan mendapatkan kebebasan seperti yang Ayahnya inginkan.
Lin memberanikan diri untuk menatap wajah Delton, tapi langsung cepat berpaling melihat wajah Daddy-nya.
"Kenapa wajah kakek ada rusak sebelah?" Lin tidak ingin melihat.
"Oh ini, disiram dengan air keras juga tekena pukulan besi panas." Delton tertawa, dia menyukai wajahnya yang codet.
Bella dan Winda juga memperhatikan Delton, mereka sepemikiran dengan Lin jika wajah Delton buruk rupa.
"Mafia biasanya keren, tampan, tubuh bagus, kenapa kamu mirip badut? gendut, pendek, jelek, hitam, dekil, wajah rusak sebelah, kepala botak. Bella tidak menemukan sisi bagus dan cocok menjadi mafia." Wajah Bella kesal melihat Delton, tidak sesuai harapannya.
"Kamu berharap dia kakek ganteng Bel, awas jika Tian tahu bisa marah dia." Erik tersenyum memeluk Mamanya dari belakang.
"Dulu saya tampan?" Delton tertawa lucu.
"Bohong, tampan itu seperti Papi. Dia lelaki paling tampan." Winda memeluk Papinya.
"Ada berapa anak kamu Bima?" Delton bicara sangat pelan, dan tidak ada lagi suara tawa menyeramkan.
Senyuman Bima terlihat, menunjukkan Windy sebagai putri pertamanya, Steven menantunya dari Windy, dan memperkenalkan putranya Wildan dan istrinya Vira, juga putri bungsunya Winda juga suaminya Ar.
"Kamu hebat sejak dulu, dan anak-anak kamu juga terlihat bukan orang-orang sembarang. Di mana istri kamu? apa dia sudah meninggal?"
"Brengsek ini kakek tua, kamu ingin mati di sini ya?" Reva langsung berdiri, membanting kursi langsung ingin memukul Delton.
Wildan langsung menarik Maminya, memintanya untuk tenang. Viana dan Jum sudah tertawa puas melihat Reva marah-marah.
"Reva, ayo duduk."
__ADS_1
"Ay dia menyumpah Reva mati, makanya jika memperkenalkan itu dari istri bukan langsung anak." Reva memukul meja kesal.
"Dia bertanya anak Reva."
"Ini semua gara-gara kakek tua, tidak hidup lama kamu ada di sini." Reva menatap tajam.
"Maaf saya tidak tahu, kenapa Bima istri kamu emosian?"
Tatapan Delton melihat Viana, tertawanya sangat puas melihat Reva disumpah mati dan tidak dianggap ada.
"Viana, kamu sudah menikah?"
"Belum, dia gadis tua." Reva tertawa menendang kursi Vi yang juga masih tertawa.
Bima memperkenalkan seluruh keluarga, Viana sudah menikah dengan Rama, dan memiliki seorang putra dan putri juga sudah menikah semua.
Delton terkejut, anak didik Bima menikahi Tante-tante, juga memiliki putra yang tampan sangat mirip Rama, juga istri yang cantik.
Putrinya juga menikah dengan putra Bima yang akhirnya menjadikan mereka keluarga.
"Hebat, kalian berdua tidak berjodoh, tapi akhirnya anak-anak yang berjodoh." Delton tersenyum.
Kepala Bima mengangguk, memperkenalkan istrinya Bisma, dan juga putra-putrinya juga menantunya.
Keluarga Ammar juga dikenalkan, membuat Delton juga kaget karena Bisma dan Ammar menjadi besan.
"Putri Bisma menikah dengan putra Ammar? sekarang kalian semua keluarga." Kepala Delton mengangguk kagum.
Delton senang melihat Viana, Bima, Bisma dan Ammar menemukan kebahagiaan. Dia tenang meninggalkan cucunya kepada keluarga harmonis, meskipun semuanya menyeramkan.
"Erik, terima kasih karena kamu tumbuh menjadi anak baik. Saat kamu berusia satu tahu saya tahu jika kamu anak yang jenius juga memiliki kepintaran sama seperti Ammar, Papa kamu dulu diasingkan karena dia terlalu pintar. Hanya Ammar yang bisa menjaga kamu."
"Bukan Ammar yang menjaga dia, tapi aku. Ammar pulang saja jarang, dia sibuk bekerja sampai lupa anak dan istri, sudah tuanya saja baru berhenti." Septi menatap tajam Delton.
"Kenapa Istri kalian semuanya galak?"
"Jum tidak, aku tidak pernah marah." Jum menatap tidak suka.
"Karena suami kamu playboy gila." Delton menutup mulutnya saat Jum memukul meja.
"Matilah kamu Delton, tidak tahu jika Jum marah lebih baik diam." Bisma tersenyum menatap Bella dan Billa hanya diam.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1