SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 IMAM TERBAIKKU


__ADS_3

Canda dan tawa masih terdengar, kebiasaan yang belum berubah walaupun Ravi sudah menikah.


"Aak, ini sudah jam 02 dini hari Ak, kalian tidak niat tidur, masih saja tertawa mirip kuntilanak." Kasih teriak dari lantai atas, mendengar teriak Kasih langsung hening.


Wildan sudah tidur lebih dulu, tidak menyimak yang dibicarakan yang lainnya. Wildan paling kecil diantara yang lain, cerita mereka juga tidak pernah nyambung dengan Wildan.


Kasih masuk lagi langsung membanting pintu kamarnya, Ravi menelan kopinya lanjut lagi cerita seru.


"Tega banget, tidak ada niat dia untuk naik, awas kamu Ravi." Kasih kesal menunggu, akhirnya memutuskan tidur, mengunci pintu.


Rencana Ravi ingin liburan, sekalian bulan madu, melihat bisnis di LN. Tian mengatur jadwal yang padat, mencari celah agar bisa liburan cukup lama. Tama juga melihat jadwal tugas. Jika Erik tidak perlu ditanya, Dokter paling santai, dia sudah biasa mengambil cuti panjang, setelahnya baru kerja lembur.


Ravi memaksa Wildan bangun, memintanya untuk bergabung pertama kalinya. Wildan menolak karena dia ingin pergi ke Roma, Ravi kesal melihat Wildan yang memaksa selalu ingin pergi ke Roma.


"Apa alasan kamu selalu ingin pergi ke Roma?"


"Ada sesuatu yang ingin aku selidiki."


"Masih soal wanita yang bisa menembus keamanan kamu, dia orang yang bisa mengalahkan seorang Wildan." Karan tersenyum melihat Wildan menatap sinis.


"Kamu penasaran dengan seorang wanita?"


"Bukan soal wanitanya, intinya aku penasaran saja."


"Kak Ravi tidak ingin menerima alasan, kamu harus ikut, jika tidak rahasia kamu akan kak Ravi bocorkan kepada Mami."


"Sekarang sudah main ancam."


Ravi tersenyum melihat Wildan kesal, Tian menyerahkan jadwalnya, menggabungkan dengan yang lainnya.


"Seperti aku tidak perlu ikut Vi, aku ada misi penting."


"Kita sudah lima tahun tidak pergi bersama, setidaknya sekarang personil kita banyak."


"Ravi aku berbeda dengan kalian yang pembisnis, aku memiliki tugas negara."


"Kak Tama lupa, Erik buktinya bisa selalu menghilang, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan, selama kita bersama."


"Kenapa aku mencium bau-bau busuk? Tama sama aku beda, rumah sakit milik BBJ group, sedangkan kepolisian tidak mungkin milik masyarakat." Erik melihat Tian dan Ravi tersenyum.

__ADS_1


"Jangan bilang kalian ingin aku meminta Papa yang membantu, gila kalian mana aku berani."


"Masalah kamu itu Erik, jika kamu tidak bisa besok wajib masuk kerja." Tian menekan ucapannya.


"Jahat nya kalian."


Pembicaraan soal liburan hampir subuh belum juga kelar, Kasih bangun ingin sholat subuh menatap masih saja kumpul berbicara pelan.


"Sebaiknya kak Tian pulang, pembicaraan kita selesai." Tian langsung melangkah pergi, melihat Kasih di lantai atas sedang melipat tangan di dadanya, menatap marah.


Erik tersenyum langsung berlari mengejar Tian, Wildan masih tidur, Karan juga sudah tidur hanya tersisa Ravi dan Tama.


"Vi, kak Tama juga pulang, assalamualaikum." Tama tersenyum melihat Kasih.


Ravi membiarkan Wildan bersama Karan tidur di sofa, keduanya lelah karena lembur kerja. Ravi langsung berbalik badan, tapi langsung terduduk kaget melihat wajah Kasih.


"Sayang, kamu mirip kuntilanak." Ravi langsung berjalan mendekati Kasih.


"kamu tahu tidak ini jam berapa?" Kasih melotot, Ravi melihat jam tangannya.


"Setengah empat sayang, memangnya ada apa?"


Ravi tersenyum mendekati wajah Kasih yang marah, mata keduanya bertemu, Ravi sangat menyukai wajah Kasih saat marah, tidak pernah membuat Ravi kesal, tapi membuatnya terpesona, belum lagi saat senyum Kasih terlihat, terlalu manis di mata Ravi.


"Kamu tidak bisa tidur ya, sepertinya kamu sudah candu berada dalam pelukan aku." Ravi menyentuh hidung Kasih dengan hidungnya.


"Aku tidak sedang bercanda Ravi."


Kasih langsung teriak, tubuhnya berada dalam gendongan Ravi. Kasih memukuli dada Ravi, pintu kamar terbuka, Ravi menutup dengan kakinya, meletakkan tubuh Kasih di atas ranjang.


"Allahuakbar ...." suara azan subuh berkumandang.


"Yahh, tidak jadi. Ayo sholat dulu sayang baru kita berantem lagi."


Kasih menahan tawa melihat tingkah Ravi, ucapan, tingkah, mencerminkan dirinya pemuda nakal, tapi satu hal yang hanya keluarga besarnya yang tahu, dia sangat taat beribadah.


Kasih mempersiapkan perlengkapan untuk sholat, setelah Ravi keluar, giliran Kasih untuk mengambil air wudhu.


Ravi mengimani sholat, Kasih merasakan kedamaian mendengarkan suara merdu Ravi, membaca setiap ayat. Kasih meneteskan air matanya, merasakan bahagia bisa beribadah dengan lelaki baik, imamnya.

__ADS_1


Kasih lebih kagum lagi, selesai sholat Ravi membaca doa terutama untuk meminta dipanjangkan umur kedua orangtuanya, Uncle Aunty, keluarga besarnya, meminta keharmonisan, minta keluarga dijauhkan dari marabahaya.


Setelah berdoa untuk orang lain barulah Ravi berdoa untuk dirinya, meminta ampunan, memohon rezeki yang halal, menjadi suami yang baik, diberikan keturunan yang Sholeh dan Sholeha, meminta kesehatan bagi dirinya juga Kasih.


Kasih mengaminkan seluruh doa Ravi, tanpa Kasih sadari, jari telunjuk Ravi menghapus air matanya.


"Jika Aak punya salah maaf ya, ingatkan Aak jika mulai lupa kewajiban."


"Ak, hidup menjadi orang kaya tidak membuat Aak merasa hebat. Berfoya-foya seperti kebanyakan orang lain."


"Kasih, Daddy selalu mengajari aku dan Vira untuk menjadi orang biasa, tidak ada yang membedakan kami dengan orang lain. Daddy panutan terbaik dalam agama yang aku jalani. Mommy selalu berkata, kamu tidak perlu menjadi Daddy, lelaki paling baik, tapi ambilah betapa taat Daddy dalam kebaikan. Tunjukkan betapa bajingan kamu, tapi saat waktunya kembali, memohon ampunan dan doakan setiap orang baik yang kamu temukan."


"Orang hanya melihat keburukan kamu dari kejauhan, tapi hanya kamu yang tahu tentang diri kamu."


"Jangan mencari tahu tentang aku, tidak akan ada yang aku tutupi. Sebaliknya kamu tetap jadi diri kamu kita perbaiki diri bersama. Kamu bisa menganggap aku teman di luar, kakak di dalam keluarga, tapi ingat aku suami saat di rumah."


"Ak boleh bertanya tidak?"


"Silahkan sayang, kamu menggagap aku seperti mamah Dedeh."


"Kenapa kalian tidak percaya jika Nabila hamil anak kak Tian."


"Sayang, jika ada yang menghamili wanita mustahil kak Tian. Aku belum pernah melihatnya menatap wanita, bahkan kamu saja dia abaikan. Bertemu dengan klien dia tidak menerima minum, dan makan. Sebagai seorang pembisnis, juga banyak perempuan yang menginginkannya, Tian sangat berhati-hati untuk dijebak. Mustahil seorang Bastian bisa terjebak oleh wanita."


"Hmmm, kalau Erik dia terlihat mesum sama seperti Aak."


"Sayang, kisah Erik silahkan kamu tanya Mami. Sekalipun Erik mulutnya tidak normal, dia tidak pernah menyentuh wanita. Dia mempunyai trauma, dalam keluarganya."


"Berarti kemungkinan besar Ravi Prasetya." Kasih memincing matanya.


"Pastinya bisa, tapi wanitanya kamu. Nanti aku bisa membuat kamu gendut." Ravi menyentuh perut Kasih, langsung memeluknya sambil menciumi perut Kasih, berkali-kali Kasih memukul karena merasakan geli.


"kamu mirip Hulk sayang, selalu memukuli aku. Kenapa perempuan yang melakukan KDRT, aku bisa laporkan kamu."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2