SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEMARAHAN WILDAN


__ADS_3

Kasih langsung berlari kencang, masuk ke dalam pelukan calon suaminya. Tangisan Kasih tidak berhenti, dia juga bahkan memukuli Ravi, padahal tubuh Ravi sudah lemas karena belum makan.


"Sayang, jangan dipukul, nanti aku jatuh pingsan." Ravi meringis melihat Kasih yang sesegukan tidak bisa menahan kesedihannya.


"Dasar pembohong, kamu bilang akan keluar, Kasih lelah menunggu, dasar tukang bohong!" Kasih menangis sambil teriak.


"Iya maaf, tapi percayalah cinta aku kepada kamu lebih besar dari cinta kamu kepadaku Kasih. Bahkan hati aku tidak tenang, takut kamu terluka."


"Kasih tidak mau mendengar gombalan lagi." Kasih menutup kedua telinganya.


Air mata langsung Kasih hapus, Vira berlari memeluk kakaknya, Winda juga memeluk erat diikuti oleh Bella dan Billa, Ravi pelindung mereka, penjaga terbaik. Kepergian Ravi beberapa hari cukup membuat Vira geng bersedih. Kasih menatap Ravi yang sangat menyayangi adik-adiknya, Kasih kini merasakan sakitnya jatuh cinta karena takut kehilangan.


Kasih menyentuh dadanya, Ravi nyaris membuatnya gila, dalam hati Kasih hanya bisa berdoa agar cinta tulusnya untuk Ravi dibalas ketulusan juga oleh Ravi.


"Kakak, bikin khawatir saja." Vira memeluk Ravi takut untuk berpisah.


"Bagaimana keadaan Mommy, Bunda dan Mami?"


"Mommy nangis terus, Bunda juga sempat pingsan, sedangkan Mami sampai menampar Wildan karena dia merahasiakan keberadaan Kaka." Winda menangis masuk ke dalam pelukan Ravi.


"Sudah cukup menangisinya, kak Ravi baik-baik saja."


Ravi melihat ke arah Gemal yang menatap langit, langsung memeluk pinggang Kasih memintanya menasehati Gemal agar memilih jalan yang benar.


"Kasih, terima kasih karena sudah membalas cintaku, aku sangat mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu, tapi Gemal juga butuh dukungan, bantu aku untuk mendukung dia, jangan biarkan dia berada di jalan yang salah."


"Maksudnya kamu, aku harus menikah dengan Gemal?" Kasih langsung mundur, Gemal menatap tajam Ravi dan Kasih.


"Kasih," Ravi tersenyum menggenggam tangan Kasih, tapi dengan marah Kasih menepis kuat tangan Ravi, berlari meninggalkan semuanya.


"Ravi kamu gila!" Gemal menatap tajam.


"Kasih salah paham, aku tidak akan membiarkan dirinya menjadi milik orang lain." Ravi berjalan mengejar Kasih.


Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Ravi menahan Kasih menatapnya. Kasih juga menatap Ravi dengan tatapan marah.


"Kenapa jadi salah paham, aku tidak mengatakan harus menikah, karena kamu akan menikah dengan aku."


"Terus apa maksud kamu?"


"Sayang, aku hanya minta bantuan kamu untuk menasehati Gemal, karena satu-satunya orang yang dia percaya hanya kamu, bukan kamu harus menikah dengan dia."


"Tadi kamu tidak bicara seperti itu? makanya kalau ngomong jangan membuat salah paham."

__ADS_1


Ravi langsung menarik Kasih dalam pelukannya, sekeras-kerasnya wanita jika berurusan dengan cinta pasti cengeng, suka ngambek.


Winda berjalan di samping Gemal, dia menjelaskan soal saham perusahaan keluarga Gemal sekarang sudah hancur. Gemal kebinggungan karena dia tidak pernah merusak citra perusahaan.


Dengan tersenyum dan tidak bisa menahan air matanya, Gemal menangis dan memeluk Winda karena ternyata Wildan membantunya untuk menyelamatkan perusahaan dengan mengambil seluruh saham.


"Kurang ajar beraninya kamu memeluk aku, jika Wildan sampai tahu, kepala dan kaki kami bisa berpindah."


"Jadi ini yang namanya Winda, kamu cantik dan mengemaskan, tidak heran sampai menghancurkan satu pesantren."


"Kamu tahu dari mana?"


"Masih ingat Putra pemilik pesantren yang kamu buat berantakan?"


"Ya si Yusuf Amin!" Winda langsung tertawa jika mengingat pemuda yang menjadi guru pesantrennya.


"Dia guru, pelatih, pendukung Wildan, jika Wildan sampai tahu, jika adiknya menghancurkan gurunya, bayangkan saja sendiri kemarahan Wildan." Gemal tertawa melihat wajah Winda yang berubah pucat.


***


Kepulangan Ravi membuat tangisan Viana tumpah, dia memeluk erat putranya sambil terus menangis, penampilan Ravi yang berantakan membuat Viana semakin bersedih, tapi Ravi masih santai memakan buah apelnya.


"Mommy Ravi lapar, mau sampai kapan Mommy memeluk Ravi?" Ravi nyegir, tapi Viana sudah memukul kepalanya.


Ravi harus berjalan memeluk Bunda yang juga menangis dalam pelukan Uncle Bisma.


"Mami di mana?" Ravi mencari Reva, karena Ravi yakin Mami lebih sedih lagi karena memukul Wildan.


"Mami, I'm coming!" dugaan Ravi benar, Mami sedang menangis di rumahnya, Ravi langsung memeluk Reva yang menagis sesegukan karena tidak bisa menghubungi Wildan.


"Jangan menangis, nanti Ravi juga sedih, Wildan tidak marah dia memang sengaja mencari masalah dengan Mami." Ravi mengandeng Reva untuk ke rumahnya.


Di depan rumah Ravi sudah di sambut oleh Tian, Erik dan Tama. Mereka langsung memeluk Ravi.


"Jangan ada yang bertanya? Ravi mau mandi terus makan." Ravi langsung berlari masuk untuk mandi.


"Kasih, mandiin aku dong?" Viana langsung melotot, Ravi sudah tertawa naik ke lantai atas.


"Kasih kamu harus banyak sabar menghadapi Ravi, setiap hari kamu akan menjadi korban kejahilan dia."


"Iya Mommy," Kasih lega karena semuanya kembali seperti semula.


Semuanya makan bersama, tapi Reva masih memikirkan soal Wildan yang belum juga ada kabarnya. Ravi sesekali melirik Mami yang hanya mengaduk makanannya.

__ADS_1


"Mami mau mendengarkan suara Wildan?"


"Iya," Reva meneteskan air matanya, cepat menghapusnya kembali.


Ravi mengambil ponsel yang hanya dirinya dan Wildan yang memiliki akses, lama Ravi melakukan panggilan dan akhirnya mendapatkan jawaban.


[Di mana Wil?]


[Masih hidup kamu, dasar pencuri!"] Ravi langsung tertawa, Wildan masih marah soal gelang.


Panggilan langsung mati, Ravi menjelaskan jika Wildan sedang marah sampai tidak ingin menolongnya karena mencuri gelang Wildan, terus tidak ingin menuruti keinginan soal Gemal, satu hal yang membuat Wildan sangat marah, karena Ravi pergi tanpa pemberitahuan, tanpa menghubungi tim, tanpa memberikan tanda. Wildan sangat sensitif dengan seseorang yang tidak bisa bekerja dalam tim.


"Wildan bisa ngambek juga?" Bisma menatap Ravi yang langsung tertawa ngakak bersama Erik dan Tian.


"Ada yang lucu, tapi Winda tidak tahu."


"Wildan dari kecil suka ngambek ayah, tapi kalian saja yang tidak tahu."


"Ngambek karena apa?"


"Coba kalian semua ingat, setiap ulang tahun, kue mereka warna apa?"


"Pink!" jawab semua orang, kecuali Kasih yang hanya diam.


"Wildan laki-laki, kue warna pink, tidak ada yang bertanya tentang warna dirinya, setiap tahun Wildan membenci hari ulang tahunnya."


Semuanya langsung tertawa, setiap tema ulang tahun memang tidak menggigat Wildan, karena ada empat perempuan super heboh dengan tema masing-masing, Wildan yang pendiam hanya mendapatkan sisa.


Dia tidak bisa kompline saat tema harus Barbie, Doraemon, hello Kitty, bahkan harus menggunakan baju membuat Wildan jijik dengan pakaiannya.


"Iya ya, Mami tidak pernah memikirkannya, karena Wildan tidak pernah mengatakan apapun." Reva sedikit merasakan kecewa karena tidak memahami putranya.


"Minta Wildan pulang Ravi?"


"Iya Mommy, Ravi rasa Wildan masih ada pekerjaan. Biarkan manusia jenius itu bekerja, nanti saat pulang dia akan marah."


"Memangnya Wildan berani memarahi kak Ravi?" Vira menatap serius.


"Dia tidak ada tempat takutnya, tanya Erik dia bahkan pernah mengamuk memecahkan komputer karena Kaka mengacau perkejaan penting." Ravi tertawa mengingat kemarahan Wildan karena kejahilannya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2