SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 AIR SURUT


__ADS_3

Sudah tiga hari Winda tinggal di rumah utama, Reva tidak ingin melihat Winda pulang jika belum menyadari kesalahannya.


Mobil Bima memasuki rumah utama, Winda langsung berlari masuk ke dalam pelukan Papinya.


"Winda ingin pulang, tidak ingin tinggal sendirian." Winda langsung melangkah masuk ke dalam mobil.


Vira dan Bella langsung memeluk Winda yang datang menjemput Winda dari hukumannya, ketiganya berpelukan sambil menangis karena tidak bisa bertemu.


Bima tersenyum melihat ketiganya yang saling menyayangi, selalu saling menyemangati.


Bima melajukan mobilnya ke arah lain, bukan ke tempat kediaman mereka. Vira dan Bella saling pandang, Winda langsung duduk di samping Papinya.


"Maafkan Winda Papi, janji tidak akan melakukannya lagi." Winda mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V.


Bima hanya menganggukkan kepalanya, sangat mempercayai ucapan Winda.


"Papi kita ingin pergi ke mana?" Winda menatap tajam ke depan.


"Ikut saja, ada sesuatu yang ingin Papi bicarakan kepada kalian bertiga." Bima tersenyum menatap putrinya.


Vira dan Bella saling pandang, mereka memang jarang sekali berbicara dengan Bima karena sangat pendiam, lebih akrab dengan Bisma yang selalu mendukung dalam hal menyesatkan.


Winda menatap lautan yang jauh dari pandangan karena air sedang surut, Vira juga tersenyum menatap cahaya matahari.


Bima menghentikan mobilnya, meminta ketiganya keluar mengikutinya berjalan di pesisir pantai.


Winda langsung memeluk lengan Bima, meletakan kepalanya di pundak Papinya.


Vira mengandeng tangan Winda, lalu menggenggam tangan Bella. Melangkah bersama menikmati pantai yang sangat indah.


"Vira kamu takut tidak dengan air laut yang surut?" Bima menghentikan langkahnya.


"Tidak Papi, Vira sangat menyukainya." Vira tersenyum berhenti melangkah menatap ke arah lautan.


Bima berdiri di samping Vira, gadis kesayangan Rama Prasetya. Kehadiran Vira menjadi penambah kebahagiaan di dalam keluarga Prasetya.


"Air yang tenang bukan berarti tidak berbahaya, apa yang kamu lihat indah dan menyenangkan belum tentu sebuah kebahagiaan. Air surut pertanda ada tsunami." Bima tersenyum duduk di pasir pantai.


Vira juga langsung duduk, dia juga tahu jika air surut pertanda tsunami. Surutnya air laut sebuah fenomena alam saat adanya gravitasi bulan.


"Emh, Vira rasa jika sebuah kehidupan masalah terbagi menjadi dua, satu memang karena kita yang menyebabkan masalah, sedangkan kedua masalah memang harus ada di hidup kita." Vira tersenyum.


"Masalah ada yang berdampak baik, juga berdampak buruk. Tergantung cara kamu menghadapi masalah. Vira kamu sama seperti pantai, surutnya air sesuatu hal yang sangat indah, tapi ada orang yang datang mengagumi kamu sebagai fenomena gravitasi, ada juga yang mengatakan kamu sangat bahaya sehingga harus dijauhi." Bima tetap menatap ke depan.

__ADS_1


Vira, Bella dan Winda juga menatap ke depan diam menatap air laut yang jauh.


"Kalian berani berlari ke sana?" Bima menujuk ke arah pantai.


"Tidak." Vira, Bella dan Winda menjawab bersamaan.


"Kenapa?" Bima tertawa.


Vira mengerutkan keningnya, dia menyadari Bima sedang menyindir dirinya yang ada dua pilihan, antara memilih kehidupan Mommy yang pernah salah atau kehidupan Papinya yang jauh dari kekerasan.


"Vira tidak pernah menyakiti siapapun Pi? Vira tahu kehidupan Mommy dan Daddy, tapi Vira punya kehidupan sendiri. Jangan menyamakan." Vira cemberut.


"Jangan menjadi Mommy kamu yang hidup keras, jangan menjadi Daddy kamu yang hidup kesepian. Papi minta maaf Vira karena sudah menjodohkan kamu dengan Wildan, kamu memiliki hak untuk menolaknya."


Vira tersenyum memeluk lengan Bima yang selalu memperhatikan dirinya dari jauh, tangan Bima mengusap kepala Vira yang pernah menangis ke kantornya karena cintanya ditolak Wildan.


Vira pernah memaksa Bima untuk menjodohkannya, meskipun Bima menolak, tapi akhirnya mengabulkan keinginan Vira.


"Bagaimana jika Vira menolak Pi?"


"Pilihan yang bagus, berarti kamu sudah melupakan dia." Bima tersenyum menatap Vira.


"Bagaimana jika Vira menerima?" senyuman Vira terlihat.


"Papi, Bella pikir jika Vira menikah tidak mungkin bisa seperti Mommy yang bisa bertarung, juga tidak bisa seperti Daddy yang dulu kesepian, tapi seperti Papi yang penuh keributan." Bella tertawa bersama Winda.


Vira dan Bima hanya tersenyum, ucapan Bella tidak salah. Kehadiran Reva membuat hidup Bima penuh keributan.


Bima menarik telinga Bella sangat pelan, bibir Bella cemberut langsung tertawa lagi.


"Sudah minta maaf sama Bunda?" Bima mengusap kepala Bella.


"Sudah Pi, Bunda memasukkan banyak baju ke dalam kardus, Bella pikir ingin pergi dari rumah, tapi ternyata ingin menyumbang ke panti." Bella tertawa kecil.


Bima menatap burung yang terbang berkelompok, Bella langsung berdiri melempar burung dengan kacang ditangannya.


Senyuman Bima terlihat, Bella yang sekarang memang sudah dewasa. Bella hanya berbagi dengan Vira, Winda, Billa menolak hadirnya orang baru di antara mereka.


Satu orang yang tidak ingin Bella bagi kakaknya, lelaki yang selalu membuat marah jika ada yang mendekatinya.


"Bella jika kalian tidak berjodoh apa yang kamu lakukan?" Bima menatap Bella yang kembali duduk.


"Tuhan kenapa kami dipertemukan, dipersatukan dengan perasaan ingin bersama , tapi kenapa engkau pisahkan. Tuhan akan menjawab, jodoh belum tentu datang, tapi kematian pasti datang. Persiapkan amal sebelum kematian." Bella tersenyum menatap Bima.

__ADS_1


"Bella lebih suka dipisahkan oleh jarak dan waktu, daripada kematian. Sebaik apapun rencana kita, rencana Allah yang terbaik." Bella mengusap air matanya, langsung memeluk Bima menyembunyikan wajahnya.


"Alhamdulillah Bella sudah besar sekarang, jangan pergi lagi kamu memiliki Papi yang selalu mensupport kamu." Bima menghapus air mata Bella.


Bima mengucapkan selamat untuk acara lamaran Bella, meminta Bella lebih dewasa lagi dan menjadi istri yang baik dan calon ibu yang bertanggung jawab.


Winda duduk diam, memikirkan nasibnya. Tatapan Papinya membuat Winda tersenyum menggaruk kepalanya.


"Kenapa Winda dijodohkan dengan Amin?" Winda mengerutkan keningnya.


"Siapa amin?" Bima menatap Vira.


"Yusuf Pi," balas Vira.


"Kenapa kamu menolak? apa kurangnya Yusuf? dia pemuda yang taat, pekerja keras, mandiri, sopan santun, sangat dermawan. Papi menyukainya." Bima meminta Winda duduk mendekat.


"Kalau begitu Papi saja yang menikah dengan Amin." Winda memonyongkan bibirnya.


Vira dan Bella tertawa kuat, Bima hanya tersenyum melihat putri bungsunya mengomel.


"Jika Winda menolak, Papi tidak akan memaksa." Bima menatap ke depan.


"Papi tidak marah, bagaimana dengan Mami?" Winda menghentakkan kakinya.


Bima berdiri, meminta Winda menggenggam pasir lalu berlari bolak-balik.


Winda melakukan yang Papinya minta, berlari mengejar burung, Vira dan Bella juga berlari mengikuti Winda ingin menangkap burung.


"Sudah Pi." Winda tertawa.


"Mana pasirnya?" Bima melihat tangan Winda.


"Astaga Winda lupa, terlalu asik berlari." Winda menepuk jidatnya.


Bima menakup wajah putrinya, menjelaskan kepada Winda jika tidak ada orang tua yang bisa melepaskan anaknya, tapi ada waktunya semuanya harus berpisah.


Sebagai seorang Ayah hanya ingin melindungi putrinya, memilihkan pasangan terbaik untuk kebahagiannya.


"Papi tidak bisa selamanya menggenggam Winda, sehingga Papi membutuhkan orang lain untuk membantu Papi menggenggam kamu." Bima memeluk Winda.


Vira memeluk Winda, diikuti oleh Bella. Bima ingin ketiga gadis yang sejak kecil memang nakal mulai mengubah kebiasaannya untuk melangkah ke depan.


Bima tersenyum menatap satu putrinya juga datang memeluk, Billa tersenyum memeluk Bima yang mengabulkan keinginannya untuk menemani Vira, Bella dan Winda membuka mata, hati dan pikirannya agar lebih dewasa.

__ADS_1


***


__ADS_2