
Ibu Kasih datang berkunjung menemui Kasih, Viana menyambut dengan baik. Ravi juga mencium tangan mertuanya, Karin dan Tama juga ikut duduk.
Semuanya awalnya tertawa, berbicara banyak hal. Tama menatap Kasih yang berdiri di balik pintu, air mata Kasih menetes Vira memeluk Kasih dari belakang untuk menguatkannya.
"Ibu, Tama boleh mengatakan sesuatu?"
"Apa? kamu ingin menikah." Ibu tersenyum, sambil memeluk Karin.
"Bapak pernah bercerita kepada ibu soal Kasih kembar, ibu masih ingat."
"Iya, bapak kamu hanya bercanda Tama."
"Bagaimana jika semuanya nyata Bu?" Tama menatap serius, Karin sudah memalingkan wajahnya menahan air mata.
"Di mana dia?" Ibu langsung meneteskan air mata.
Tama langsung berlutut, menghapus air mata ibunya. Karin juga menangis memeluk ibunya, sebenarnya ibu Tama coba mempercayai ucapan suaminya tapi tidak pernah mendapatkan bukti soal Kasih kembar, dalam hati ibu juga berharap jika memang ada, ingin sekali melihat wajah kembaran Kasih tapi sampai detik ini dia tidak pernah melihatnya.
"Kembaran Kasih ada di sekitar kita, tapi mereka hidup dalam satu nama."
"Maafkan Karin ibu, selama 10 tahun Karin hidup di dalam nama Kasih. Merasakan Kasih sayang ibu, Kasih yang asli hanya datang saat rindu."
"Kenapa seperti itu?" ibu langsung menangis sesenggukan.
"Karena sebuah alasan Bu, Kasih bertahan demi kita, demi ketenangan kita."
"Kasih saat kecil tidak suka tersenyum, dia selalu mencoret dinding, menyukai makanan laut, tapi beberapa tahun ini Kasih memang berbeda dalam banyak hal salah satunya makanan dia alergi makanan favoritnya."
"Karena dia Karin bukan Kasih."
"Jadi Karin Kasih mana mereka?"
Ibu terdiam melihat seorang wanita berjalan bersama Vira, mata ibu tidak pernah terlepas dari wajah Kasih. Ibu juga melihat ke arah Karin yang sudah menangis.
"Kalian memang kembar, kalian bukan hanya membohongi ibu tapi keluarga Ravi, kalian mempermainkan penikahan." Ibu berdiri menatap Kasih dan Karin.
Ibu berjalan mendekati Kasih yang hanya berdiri, ibu menyentuh lengan Kasih sambil air matanya menetes.
__ADS_1
"Apa yang kamu lindungi? apa yang dimiliki keluarga kita? apa yang ingin mereka ambil dari kita? bahkan untuk makan kita harus bekerja keras, apa yang orang inginkan dari keluarga miskin seperti kita? apa yang kamu lindungi?"
"Hati Bu, Kasih melindungi hati yang tulus dari keluarga kita, ketulusan hati bapak dan ibu menciptakan petaka, tapi Kasih tidak ingin kalian terluka, kita memang miskin harta Bu, tapi cinta dan sayang bapak ibu menjadi harta yang paling berharga."
"Sudah puluhan tahun, kami hanya menunggu kematian setidaknya kami ingin kalian hidup bahagia, tidak bertahan hidup dengan kebohongan."
Kasih langsung berlutut, Tama juga berlutut diikuti oleh Karin. Semuanya diam mendengarkan kemarahan ibu, tangisan, teriakan histeris terdengar. Viana dan Vira juga ikut menangis.
Viana tahu kecewanya ibu Kasih kehilangan waktu bersama putrinya, Rama dan Ravi juga keluar tapi hanya melihat dari kejauhan, Rama melarang Ravi untuk ikut bicara, biarkan seorang ibu meluapkan amarahnya.
"Di mana Cinta?"
Keheningan kembali terasa saat nama Cinta disebut, Tama hanya menghela nafas menyentuh tangan ibunya.
"Apa Cinta masih jahat?" Kasih dan Karin menatap ibu.
Ibu juga langsung duduk di lantai, menatap Kasih yang kaget mendengar ucapan ibu jika Cinta jahat.
"Cinta menyakiti ibu?" Kasih menyentuh wajah ibunya.
"Maafkan kami Bu, tidak bisa membawa Cinta kembali bersama keluarga kita. Dia memilih untuk menyakiti keluarga yang membesarkan, yang memberikan cinta yang tulus." Tama memeluk ibunya, Tama tahu betapa ibu mencintai dan sangat menyayangi Cinta.
"Keinginan ibu hanya ingin di saat terakhir nafas ibu Cinta juga hadir ke pemakaman ibu, kalian boleh membenci Cinta tapi ibu yang merawat juga membesarkannya." Ibu meneteskan air matanya, Tama menatap Ravi yang menghela nafasnya.
"Maafkan Kasih ya Bu, kita berdoa saja semoga Cinta akan kembali dalam keluarga ibu." Kasih memeluk ibunya.
Karin juga memeluk, Kasih langsung berdiri melangkah ke luar. Ravi juga melangkah mengejar Kasih, pelukan dari belakang Kasih rasakan.
"Ayo kita pulang ke rumah, Kasih ingin beristirahat."
Ravi menggagukan kepalanya, berjalan kaki bersama Ravi bergandengan tangan. Kasih tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan tapi yang pasti Kasih berharap yang terbaik.
"Apa yang harus aku lakukan terhadap Cinta?"
"Lakukan seperti yang sudah kamu rencanakan, aku berharap Cinta akan membuka matanya."
Ravi menghela nafasnya, Kasih tidak bisa ditebak, pikirannya terlalu jauh.
__ADS_1
***
Di markas Wildan terdiam mendengar ucapan Ravi, jika ibu Kasih tetap berharap Cinta kembali. Karan yang berniat menghabisi Cinta diam menjadi patung.
"Bagaimana dengan rencana kita?"
"Tetap lanjut, kita hancurkan semuanya malam ini."
Karan tersenyum melihat Wildan yang tidak punya rasa takut, umurnya sangat muda, pemikiran luas dan sangat memegang teguh ucapannya.
Ravi langsung masuk ke dalam ruangan Wildan, melihat layar besar. Beberapa saham yang Tian beli mulai meningkat, Ravi menatap Wildan yang asik tidur. Tama juga datang memperlihatkan kehebohan dalam bisnis karena banyaknya saham yang jatuh.
Tian mengambil alih 80% saham perusahaan AG, kekacauan sedang terjadi di kediaman Angga. Kemarahannya menghancurkan banyak barang, bisnis Angga menjadi incaran polisi dalam dan luar negeri. Wildan sudah mengaduk perusahaannya seperti adonan kue, Angga harus datang menemui langsung Tian dan meminta negosiasi, jika tidak dia akan menjadi gembel.
"Berapa kekayaan Bastian Bramasta, dia sangat hebat merampas banyak saham, padahal bisnisnya menggunakan hukum." Karan menatap Ravi.
"Tian yang memegang kendali kami semua."
"Kalian Tim yang hebat, sehebatnya Wildan dia tidak melangkah tanpa ada izin, Tian bergerak cepat dalam hitungan jam, Erik yang terlihat pria biasa juga punya pengaruh besar."
"Masih ada Tama yang menutupi identitas kami."
Karan kagum melihat kekompakan Ravi dan timnya, bahkan bawahan Ravi semuanya terlatih, jenius dsn memiliki banyak bakat.
"Karan, hati istriku sedang gelisah dia ingin melihat Cinta tersiksa, tapi tidak bisa melihat ibunya tersiksa."
"Ibu Kasih terlalu baik, memelihara lintah yang menghisap darah, tapi melupakan Kasih yang berusaha membuat Keluarganya bahagia. Maaf Tama jika kamu tersinggung dengan ucapan yang aku lontarkan."
"Aku tahu, tapi kita tidak bisa merasakan hati seorang ibu." Tama memijit pelipisnya.
"Akan ada salah satu yang terluka, bisa saja Kasih ataupun Cinta. Siapapun orangnya ibu kamu pasti akan hancur kak Tama." Wildan membuka matanya.
"Aku akan melindungi Kasih, aku tidak perduli sama sekali soal Cinta."
"Kamu tidak bisa menghentikan kak Ravi, karena keputusan ada kepada Kasih. Percuma kamu melindungi dia, jika dia ingin berkorban." Wildan tersenyum, memperbesar layar di hadapannya.
***
__ADS_1