
Keluarga Kasih sedang sarapan bersama, sesekali Kasih menatap ibunya, Tama, lalu Cinta. Kasih binggung mengatakannya, pantaskah keluarga mereka menjadi besan. Ravi putra pewaris bisnis terkenal Prasetya, sedangkan Kasih hanya seorang supir taksi.
"Apa yang Ravi katakan Kasih? kamu bersedia melakukan amanah bapak." Tama menatap adiknya yang terlihat ragu.
"Kasih takut kak!"
"Ravi memang seorang playboy, terlahir dari keluarga terpandang, ibu bapaknya mempunyai kekuasaan. Tapi soal kebaikan, Ravi tidak ada duanya."
"Iya, Ravi sangat baik jika datang baiknya. Tapi jika jahilnya kumat, kamu harus siap nyali." Cinta tertawa lucu.
"Ibu juga setuju Bu?" Kasih menatap ibunya yang terlihat santai.
"semua keputusan ada pada kamu Kasih, ibu lihat Ravi baik, keluarganya juga sangat baik, ini masa depan kamu jadi pilihan yang terbaik untuk kebahagiaan kamu."
Kasih juga binggung dengan perasaannya, dia tidak tahu bisa tidak menjadi istri dari seorang playboy. Pasti banyak sekali calon pelakorr. Ravi tampan, kaya, juga mudah bergaul jadi bukan hal yang sulit dia bisa dekat dengan banyak orang.
Ibu langsung pergi ke toko bersama Cinta, hanya tersisa Tama dan Kasih yang masih dalam dilema. Tama bukannya tidak khawatir dengan masa depan Kasih jika menjadi istri Ravi, walaupun Tama tahu Ravi orang baik, mereka saling kenal sejak kecil tapi tetap saja sifat playboy dan gonta-ganti pacar yang Ravi lakukan bisa menyakiti adiknya.
"Kasih! jika kamu masih ragu cari tahu yang ingin kamu ketahui, jika hati kamu berat menerimanya jangan diterima." Tama mengacak rambut Kasih penuh kelembutan.
"Kak setuju Kasih menikah dengan Ravi?"
"tidak, kakak ingin Ravi berjuang terlebih dahulu untuk mendapatkan cinta kamu, bukan dengan perjodohan. Dia harus meninggalkan banyak wanita demi satu wanita."
"tapi amanah bapak kak."
"masa depan kamu jauh lebih penting dek, jika menikah yang berakhir menyakiti lalu untuk apa? Kaka menyayangi kamu, tidak rela kamu tersakiti. Sejak Ravi usia 10tahun kami sudah saling kenal karena kakak sangat mengenal dia, makanya kakak tidak rela adik kaka terluka ditangan sahabatku."
Kepala Kasih mengaguk mengerti, Kasih akan membuat Ravi memperjuangkannya. Amanah bapak memang penting, tapi masa depan juga penting. Seorang lelaki yang sudah menikah tidak akan terlihat rusak setelah mereka menduda tapi wanita langsung mendapatkan gelar janda.
***
Suasana di kantor sedang banyak pekerjaan, Ravi baru saja menyelesaikan meeting. Cinta juga keteteran membantu Ravi, karena dokter gadungan sedang bertugas menyelamatkan banyak nyawa.
__ADS_1
"Cinta, jika kamu pusing minta ke bagian khusus untuk mencari karyawan yang ditempatkan di bagian kamu."
"Pak Erik sudah dipecat?"
"Mana bisa aku memecat dia, Erik mirip jelangkung datang dan pergi begitu saja."
"bapak tidak marah, Erik memiliki dua pekerjaan."
"Dokter sebuah kewajiban, sedangkan di sini hanya sekedar hobi. Selama tidak menganggu biarkan saja." Ravi tersenyum tapi masih fokus dengan berkasnya.
Cinta melihat Ravi yang sudah banyak berubah, tidak terlihat lagi Ravi yang kekanak-kanakan. Dia sangat dewasa dan penuh perhitungan.
Suara pintu diketuk, Ravi langsung mempersilahkan. Mata Cinta melotot melihat seorang wanita datang dengan baju berbelahan, rok yang sudah di atas paha berjalan dengan bergoyang. Cinta merasakan geli dan pengen muntah.
"Selamat siang pak Ravi, ini berkas yang bapak butuhkan."
"letakan," Ravi bicara tanpa menoleh atau menggakat kepalanya. Melihat respon Ravi rasanya Cinta ingin tertawa.
Lama sekretaris Ravi berdiri, Cinta yang ingin bicara soal penting juga menjadi binggung. Ravi menggakat kepalanya, melihat kearah sekretarisnya memintanya untuk segera keluar. Kening Ravi berkerut melihat cara jalan yang sengaja berlenggok.
"seksi ya pak."
"emhhh," Ravi mengambil berkas yang Cinta berikan.
"enak ya pak setiap hari melihat yang segar." Cinta terus menyindir Ravi.
"Cinta cinta, tidak ada lelaki yang rela mengumbar tubuh wanitanya. Aku memang playboy tapi berkelas, bukan yang umbar dada dan bokong sesak."
"lelaki selalu bicara seperti itu, tidak ingin wanitanya dipandangi pria lain. Tapi dianya jelalatan mencari yang cantik dan seksi."
"Kamu benar, tapi jika wanitanya bisa mengendalikan lelaki tidak mungkin dia terpesona dengan yang di luar, wanita cantik tidak pernah habis."
"Kalau kamu! selama ini selalu gonta-ganti pacar." Cinta masih penasaran.
__ADS_1
"Iya, tapi mereka hanya sekilas dipikiran aku tidak membuat nyaman. Terakhir kamu tapi sayang Tama meminta aku mengakhirinya." Ravi tersenyum, menatap Cinta yang tidak puas dengan jawaban Ravi, jadi selama ini Kasih tidak ada dipikirannya.
"baiklah pak saya permisi."
"Aku tidak tahu rasa jatuh cinta, selama ini yang aku tahu hanya rasa tertarik. Tapi sekarang ada seseorang yang selalu hadir tapi tidak pernah memujiku seperti wanita lainnya, dia mempunyai pesona yang selalu membuat aku terbayang-bayang."
"Astaga, ayo Ravi fokus kerja berhenti memikirkan Kasih." Batin Ravi dalam hati, Cinta hanya tersenyum ingin melangkah keluar.
***
Pulang bekerja Ravi menggunakan mobilnya, saat di lampu merah Ravi melihat Kasih juga sedang bekerja mengantarkan penumpang. Mobil Kasih melaju, Ravi langsung mengikutinya dari belakang. Kasih tiba di perumahan dan membantu menurunkan banyak barang yang cukup berat, tapi saat ingin pergi penumpang kekurangan uang untuk membayar taksi. Dengan senyum Kasih membagi dua uang dari penumpangnya, agar masih memiliki pegangan.
Dari kejauhan Ravi melihat semuanya, tidak tega dia melihat Kasih harus menggakat barang yang sangat berat. Mobil Ravi kembali melaju mengikuti setiap langkah mobil Kasih. Selama di dalam mobil Ravi hanya memakan roti mengganjal perutnya yang lapar, hari juga sudah malam, tapi belum ada tanda Kasih ingin pulang.
Ravi kesal, Tama tidak mencari Kasih yang harus bekerja sampai jam 10 malam. Hujan deras turun Kasih memutuskan untuk pulang, tangan Kasih menyentuh air hujan lalu membasahi tubuhnya dengan derasnya air hujan di tengah malam. Kasih menadahkan tangannya ke atas, mensyukuri semua kenikmatan yang dia dapatkan. Terdengar suara teriakan seseorang membuat Kasih menoleh.
Ravi mendekat, menutup tubuh Kasih dengan jaket menariknya untuk berlindung. Kasih binggung bisa bertemu Ravi di tempat yang jauh dari perumahan mereka. Tangan Ravi melingkar ditubuh Kasih, dia memeluk dari belakang sambil dagunya diletakan di pundak Kasih.
"Kenapa mandi hujan, nanti sakit bisa demam? mengapa mencari penyakit dan menyakiti diri sendiri." Pelukan Ravi kencang, Kasih kesulitan melepaskan pelukan dari tangan kekar Ravi.
"Aku sangat menyukai hujan, setiap tetesnya menenangkan. Sekalipun aku menangis tidak ada yang tahu,"
"Tapi aku tidak suka, jika ingin menangis mandi saya di dalam kamar mandi setidaknya kamu tidak sakit."
"ini tubuhku, kenapa kamu yang mengatur?"
"Sebentar lagi tubuh ini akan menjadi milikku, aku tidak akan pernah rela membaginya dengan hujan."
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA.
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***