SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERJUANGAN SEORANG IBU


__ADS_3

Sudah larut malam Erik belum juga pulang, Billa mondar-mandir menunggu, hujan deras membuat perasaan Billa semakin khawatir. Ponsel Erik juga tidak aktif, menghubungi rumah sakit tapi dokter Erik sudah pulang.


"Astaghfirullah Al azim, kamu di mana kak? Papa kalian di mana nak?" Billa meneteskan air matanya.


"Assalamualaikum sayang." Erik basah masuk dari pintu samping.


Billa langsung menangis sesenggukan, memeluk Erik erat, tangan Erik gemetaran dingin.


"Sayang lepas dulu, nanti kamu basah. Maafkan kak Erik pulang telat." Erik mencium kening Billa, langsung masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Billa merasakan perutnya keram, langsung sakit melangkah keluar kamar, mengetuk pintu kamar Bunda, Billa menenangkan dirinya, melihat air ketuban sudah pecah, berkali-kali Billa mengucapkan istighfar.


"Bunda Ayah, Billa ingin melahirkan." Billa menggedor kuat pintu, Jum langsung membuka pintu, rambutnya berantakan, Bisma juga muncul rambut acak-acakan, hanya menggunakan bokser.


"Ada apa nak?" Jum mengusap wajah Billa yang sudah berkeringat.


"Billa ingin melahirkan Bunda."


"Ohhh, astaghfirullah Al azim melahirkan." Bisma langsung teriak kuat, memanggil pengawal.


Erik keluar kamar masih menggunakan handuk, kaget melihat Bisma berlari keluar masih menggunakan bokser kuning.


"Ayah ada apa?" Erik juga berlari mengejar Bisma.


Jum, Billa, Binar melongo, Bening hanya tertawa melihat kakeknya berlari. Tawa Jum langsung kuat bersama Binar, Billa juga tertawa lepas, lupa dengan rasa sakitnya.


"Bening, kamu jalan sendiri sayang. Nenek sama Bunda bantu aunty Billa, adik kecil ingin lahir." Binar mengusap wajah Bening.


"Yeee Ning punya adik kecil." Bening langsung turun ke lantai satu perlahan.


Di luar semua orang panik, Bisma masih belum berubah mirip orang gila, melihat Ayah panik Erik juga tidak bisa berpikir.


"Ayah, ada apa?" Erik masih kebingungan.


"Kamu Rik, istri ingin melahirkan kamu masih sempat meminta jatah." Bisma memukul lengan Erik.


"Jatah apa Ayah, Erik baru saja pulang."


Jum meminta Binar membawa tas yang sudah disiapkan, Billa berjalan ke arah pintu, Jum menarik telinga Erik dan Bisma yang berdebat tidak penting.

__ADS_1


"Billa ingin melahirkan, kalian berdua masih punya waktu untuk bertengkar, berdebat, mengobrol, diskusi." Jum memukul keduanya.


"Sayang tahan dulu, ayo kita ke rumah sekarang, kak Erik menghubungi dokter dulu." Erik gemetaran juga binggung.


"Langsung saja Rik, aku sudah menghubungi dokter yang akan membantu Billa melahirkan." Binar memasukan tas.


Bisma dan Erik saling pandang, ragu siapa yang ingin membawa mobil. Billa meringis merasakan sakit yang datang, Erik semakin panik langsung masuk mobil, meminta semuanya masuk.


"Erik kamu sama Ayah keluar, kalian berdua jangan membuat malu. Satunya menggunakan bokser Minion, satunya menggunakan handuk, jika handuk lepas, kebayang siapa yang teriak, semua dokter lari melihat burung kamu terbang."


"Nek, Bulung telbang tolong Ning tangkap." Bening langsung masuk mobil bersama Billa.


Erik langsung berlari keluar mobil, masuk ke dalam untuk mencari baju dan celana, Bisma juga berlari mencari bajunya.


Binar yang membawa mobil, meninggalkan dua lelaki yang membuat lama. Jum meminta pengawal yang membawa mobil untuk Erik dan Bisma, karena keduanya sedang panik.


"Billa tahan ya sayang, kamu kuat. Bismilah, banyak istighfar. Beginilah perjuangan seorang ibu." Jum mengusap perut Billa.


"Enti, cemagat." Bening mencium perut besar Billa.


Senyum Billa terlihat, sakit memang tidak bisa Billa ungkapan dengan kata-kata, tapi Billa bersyukur karena diberikan kepercayaan untuk merasakan sakit, sulitnya mengandung.


"Bening sayang tidak sama adik kecil?"


"Ayang enti, Ning ayang ayang."


"Kak artinya apa?"


"Bening sayang dua kali, karena anak kamu kembar dia sayang dan sayang." Binar tersenyum melihat putrinya yang sangat menggemaskan.


"Ning doakan enti sama Dede Em dan El."


Bening menadahkan tangannya, mengikuti ajaran neneknya mendoakan kedua orangtuanya, kakek neneknya, keluarga, diberikan kesehatan untuk dirinya, berdoa segera bertemu twins E, bermain bersama, juga selalu diberikan kesehatan.


Billa tertawa, doa yang selalu Bunda ajarkan kepada Tian, Bella dan Billa. Sekarang turun kepada Bening.


Mobil sampai, Jum kagum dengan cara Binar menggunakan mobil, sama seperti Reva yang suka balapan.


Billa kesulitan berjalan, tapi tetap bertahan, Billa bisa merasakan anaknya ingin segera keluar. Rasanya nyawa Billa ingin putus merasakan sakitnya.

__ADS_1


Keringat bercucuran membasahi wajah Billa, dia langsung dilarikan ke ruangan khusus. Tempat yang memang sudah Erik persiapkan.


Suara pintu di didongkrak terdengar, Billa mengumpat Erik, dia lelah meggendan baru saja ingin keluar, karena kaget masuk lagi.


Wajah Erik pucat, menggenggam tangan Billa, teriakan Billa membuat Erik menangis.


"Sayang, genggam tangan kakak, kamu kuat, berjuang terus sayang." Erik mengusap matanya berkali-kali.


Suara teriak terdengar, bukan hanya teriakan Billa, tapi suara Erik lebih besar lagi. Billa tidak menangis, tapi Erik tidak berhenti menangis, melihat keadaan Billa.


Di luar Jum terus berdoa bersama Binar, Bisma mondar-mandir tegang. Mendengar teriakan Erik membuat Bisma pucat, terbayang lagi saat Jum melahirkan, Bisma trauma tidak ingin Jum hamil lagi.


Jum kesal melihat Bisma seperti setrika, duduk, berdiri lagi, duduk lagi, berjalan balik lagi.


"Aduh, pala Ning using, kek lan terus." Bening memegang kepalanya, Binar mengangkat Bening.


Jum memukul lengan Bisma, memarahinya meminta duduk jangan banyak gerak, Bisma akhirnya duduk diam, Jum juga duduk, menatap kaki Bisma yang bergetar.


Di dalam ruangan Billa kehabisan tenaga, matanya sudah terpejam, Erik mengusap matanya mengecek keadaan Billa, meminta semua dokter bersiap jika keadaan memburuk, fokus kepada keselamatan Billa.


Erik melupakan dirinya sosok suami, Erik berubah menjadi dokter menyadari Billa yang sudah jatuh pingsan. Semua dokter berhenti, bayi akan dikeluarkan secara operasi.


Erik meminta dokter berdiri diposisi masing-masing. Erik memasang alat bantu nafas, memberikan Billa nafas buatan terlebih dahulu, memaksa Billa untuk bangun.


"Dok, bayi harus segera dikeluarkan, jika tidak bayi bisa meninggal, air ketuban kering."


"Diam! ibu bayi jauh lebih penting." Erik teriak kuat, antara cemas dan marah.


Air mata Erik menetes, mencium kening Billa, membacakan doa ditelinga Billa.


"Bangun sayang, bangun Bil. Ingat anak kita, kamu harus bangun agar bisa operasi." Erik meneteskan air matanya.


Seluruh dokter berusaha menyadarkan Billa, persiapan operasi sudah dilakukan. Erik menarik nafas panjang, tidak ada yang mengeluarkan suara, masih berjuang semua.


Genggaman tangan Erik semakin kuat, mereka tidak punya banyak waktu, bayi harus dikeluarkan, mempertaruhkan nyawa Billa, Erik tidak rela mengorbankan Billa, tapi jika bayi tidak dikeluarkan belum tentu juga bisa meyelamatkan Billa.


"Ya Allah lindungilah anak dan istriku. Hamba mohon ya Allah, tolong jangan renggut kebahagiaan kami." Erik mencium tangan Billa.


"MAAF KESALAHAN TULISAN, BELUM SEMPAT REVISI.

__ADS_1


__ADS_2