SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 BALAS DENDAM


__ADS_3

Viana mendengar pembicaraan Ravi langsung membuka pintu, menatap tajam. Ravi berusaha untuk bangun, Rama melarangnya.


"Berapa banyak orang kita yang berkhianat?" Rama duduk melihat Ravi.


"Banyak Daddy, di rumah Ravi ada lima, di sini ada dua, rumah Bunda satu, duanya di rumah Mami. Di rumah Mami mencari Wildan, berusaha untuk membobol keamanan server Wildan, tapi Mami sangat ketat, bahkan tidak ada yang diizinkan menyentuh sedikitpun barang, Uncle Bima, Wildan, kak Win, juga Winda. Mereka tidak mendapatkan apapun."


"Reva masih sangat peka, kenapa aku tidak bisa berpikir seperti Reva." Mommy mengaruk kepalanya.


"Siapa orang yang mengkhianati kita, berkerja dengan kita bertahun-tahun, tapi beraninya berkhianat."


"Semuanya ini sudah direncanakan lima tahun yang lalu, mereka sedang menunggu waktu yang tepat. Semua yang berkhianat sudah Ravi singkirkan, mereka akan membusuk di penjara."


"Kenapa Aak membiarkan Kasih memukul Zara?"


"Karena kita sedang diawasi kamera pengawas." Ravi tersenyum mengelus kepala Kasih.


"Kenapa kita tidak bisa melacak milik mereka, Fly sudah melakukannya, tapi tidak terdeteksi."


"Sayang, orang jahat sangat hebat, persiapan mereka matang, berbeda dengan kita yang melakukan pertahanan secara mendadak."


Ravi juga menceritakan penyerangan Butterfly yang hampir membunuh Ziva yang juga bekerja sama dengan Zava, Fly tidak mengetahui jika keduanya kembar. Ziva marah karena istananya hancur, bisnisnya juga hancur, dia ingin membunuh Fly. Keduanya bertarung hebat, tapi Fly jauh lebih berpengalaman, bukan hal yang sulit baginya untuk mengalahkan Ziva.


Dalam waktu kurang dari 3 jam, Ziva sudah ditangkap polisi, dia pengedar obat-obatan terlarang. Gudangnya penyimpanan milik Ziva juga sudah Fly serahkan kepada polisi, semuanya bersih lanjut dibereskan oleh Cinta.


Semuanya merasa sudah selesai, tidak ada yang mengetahui jika yang sudah tertangkap bukan pelaku utama, Ziva hanyalah tangan kanan Zava.


Tian sudah curiga sejak awal, melihat foto pertama Zava saat masuk ke rumah sakit dengan Zava yang dia temukan tenyata berbeda. Selama 2 tahun Ziva yang menjadi Dokter sedangkan Zava masih di luar Negeri, keduanya bertukar posisi saat tahun ketiga.

__ADS_1


Ravi melihat foto yang Tian berikan, terlihat beberapa lembar foto wanita yang sama dengan gaya yang berbeda. Zava lebih terlihat tomboi sedangkan Ziva sangat feminim, selalu menggunakan baju seksi.


Zara juga tidak mengetahui jika saudara angkatnya ternyata kembar. Keduanya sama-sama kejam, juga tujuan sama ingin balas dendam untuk ibu mereka yang bunuh diri, karena kalah dari seorang desainer muda Reva Pratiwi, sehingga Ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain, mengabaikan keduanya.


Viana Arsen juga Rama Prasetya menghancurkan bisnis keluarganya, Ayahnya memilih untuk bunuh diri. Zava Ziva dilarikan ke luar negeri sedangkan Zara dikembalikan ke panti asuhan.


Dua gadis kecil yang baru berusia 15 tahun, sudah yatim piatu. Zava menghidupkan kembali bisnis Ayahnya, Ziva juga menghidupkan bisnis Ibunya, keduanya bersumpah akan menghancurkan keluarga Viana, Rama dan Reva.


Dendam Ziva semakin besar saat Tian menolak kerja sama, bahkan mengalahkan bisnisnya sehingga Zava dan Ziva harus menanggung kerugian hingga triliunan. Kehidupan yang kejam, membuat keduanya semakin gelap mata, tujuan akhir mereka, mati untuk balas dendam.


Melihat Ziva sudah tertangkap, Zava mengerakkan bawahannya untuk membunuh Kasih. Sasaran mereka melenceng karena Ravi sudah memperketat penjagaan Kasih.


Beberapa orang juga menyerang Cinta, syukurnya Tian datang tepat waktu, sehingga bisa menolong Cinta. Tian juga meminta bantuan kepada Cinta untuk meminta Timnya melacak keberadaannya. Tian menelan sesuatu agar sekalipun tangan, kakinya dipotong orang masih bisa melacaknya, karena pelacak tertanam di dalam perutnya.


Cinta meneteskan air matanya melihat Tian menelan pelacak kecil, langsung melangkah maju bukan melarikan diri. Cinta langsung menghubungi Erik menceritakan yang terjadi. Karin dan Butterfly juga mendapatkan kabar, langsung menyebar untuk menangkap pelaku yang membuat mereka binggung.


Ravi berhasil menyingkirkan seluruh pengkhianatan, tetapi berhasil tertangkap. Tian dan Zara juga sudah ditahan, Ravi tidak perduli dengan dirinya, setidaknya dia berhasil menyelamatkan anak istri juga keluarganya.


"Bagaimana keadaan Zara Aak?"


Ravi lanjut menceritakan, Zara meninggal menyelamatkan Tian yang hampir ditembak. Zava membunuh Zara tepat di mata Ravi dan Tian, darah yang mengalir membuat kepala Ravi pusing. Zava meminta bawahannya mencambuk Ravi dan Tian sampai keduanya mati, Ravi tidak merasakan cambukan, dia lebih fokus ke darah, mencoba mengendalikan dirinya.


Zava membenci ekspresi Ravi yang tidak takut dengan cambukan di tubuhnya, langsung mengambil pisau menusuk dada Ravi yang hanya tersenyum. Tian meminta Ravi fokus, memikirkan keadaan twins, jika Ravi terluka, Kasih dan twins jauh lebih terluka.


"Kamu harus mati Ravi seperti Daddy yang mati, karena orangtua kamu."


"Zara, bukan orangtuaku yang membunuhnya, dia mati karena kebodohannya memilih jalan yang salah. Sama seperti kamu yang membunuh adik angkat kamu, memasukkan adik kandung kamu dalam penjara, hanya tersisa kamu yang mungkin akan memilih jalan yang sama seperti Ayah kamu. Jangan bilang kesalahan aku kamu mati, padahal kamu yang memulai menghancurkan hidup kamu." Ravi tersenyum sinis.

__ADS_1


Zava langsung mengambil senjatanya mengarahkan tepat di kepala Ravi, darah sudah mengalir dari tubuh Ravi, Tian berusaha untuk melepaskan diri menolong Ravi.


Tembakan lepas, Ravi berhasil menghindar, tapi peluru menggores kepalanya. Darah segar keluar, Tian berhasil melepaskan diri langsung mengambil cambuk, mencambuk kuat tangan Zava, kulitnya mengelupas, senjatanya juga terlepas, Ravi langsung menendang senjata untuk menjauh.


Pengawal Zava memukuli Tian membabi-buta, Ravi bangkit dengan sisa tenaganya, melihat Zava melarikan diri, senjata Zava sudah ditangan Ravi langsung tembakan terdengar. Zava tersungkur karena kedua kakinya sudah tertembak.


Bangunan dikepung, pengawal Tian datang langsung menyerang. Ravi mendekati Tian yang sudah babak belur, keduanya tersenyum berusaha untuk bangun. Saling merangkul untuk keluar.


Ravi sampai di villa langsung menceburkan diri ke kolam, Tian juga menceburkan dirinya. Keduanya berendam merasakan badannya yang remuk.


"Kak Ravi harus pulang, Kasih pasti sedang menunggu."


"Kita ke rumah sakit dulu Rav."


"Obat aku ada di rumah kak, aku ingin memeluk mereka, luka ini sebagai hukuman sudah membuat Kasih dan Mommy menangis." Ravi langsung mengganti bajunya, pulang bersama Tian.


Sesampainya di rumah Ravi langsung berjalan pergi masuk, Tian melihat ke arah rumahnya sambil menangis.


"Bunda, tubuh Tian sakit semua. Maafkan Tian Bunda, bahkan Tian tidak punya hak menginjakkan kaki kembali ke rumah. Kangen Bunda, saat Tian sakit Bunda tidak tidur menepuk bahu Tian agar cepat sembuh. Sekarang Tian sakit Bunda, membutuhkan pelukan Bunda." Tian menangis sesenggukan.


Suara tangisan Jum menyandarkan Ravi dengan keadaan Tian saat malam, Ravi mencari ponselnya menghubungi Tian, tapi handphonenya mati.


"Kak Tian di mana?"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA


***


__ADS_2