SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 RENCANA JALAN-JALAN


__ADS_3

Suara Vira mengomel terdengar, pagi-pagi sudah marah-marah kepada apapun yang dia lihat bahkan dengan bunga hias juga marah.


"Kak Vira baik-baik saja?" wajah Lin terlihat khawatir melihat Vira yang marah-marah.


Lin duduk di samping Vira sambil menggendong Virdan, melihat perubahan sikap Vira cukup aneh bagi Lin.


Vira yang biasanya lemah lembut, anggun dan selalu tersenyum sekarang berubah, wajahnya terlihat kesal, mudah emosi.


"Aku kesal Lin berada di rumah terus, butuh refreshing untuk menyegarkan isi kepala." Vira membuang cemilannya.


"Memangnya Kak Vira menginginkan apa?"


"Jalan-jalan, makan di luar, menonton film."


"Kak, Lin tidak bisa membiarkan kak Vira melakukannya. Seluruh keluarga sangat mengkhawatirkan keadaan kak Vira, apalagi perut kak Vira semakin membesar, dokter juga menyarankan untuk tetap di rumah." Lin memohon agar Vira bersabar, kandungannya yang sudah memasuki bulan ke lima.


Winda muncul bersama Arum dan Arwin yang menggunakan sepeda dorong, melihat wajah Vira yang terlihat stres.


"Kenapa?"


Lin mejelaskan keinginan Vira yang tidak bisa dikabulkan, keluar rumah sangat tidak disarankan untuk Vira yang hamil besar.


"Tunggu sampai Mommy pulang, hanya hitungan hari setelah beberapa bulan di luar negeri. Minta saran orang tua dulu." Winda duduk merangkul Vira, mengusap kepalanya.


"Aku bosan Win, ini membuat aku stres."


"Ais, kenapa harus stres? baiklah kita panggil Bella, Billa dan kak Kasih terlebih dahulu." Suara Winda sangat besar, meminta semuanya kumpul, tanpa disadari jika Arum sudah merangkak di rerumputan.


Suara Bella terus teriak sangat kuat mengejar putrinya Bulan yang berlari lebih dulu, membuat Lin juga berlari karena takut dengan Bulan.


Tinggal bersama Vira, Erlin tidak berani mendekati Bulan, Elang dan Raka yang sangat dingin.


Bulan langsung memeluk Arum yang sudah mencabut bunga, tatapan tajam adiknya membuat Bulan memilih duduk diam memperhatikan.


"Ada apa Win? aku rasanya hampir gila mengurus Bulan." Bella langsung tiduran menggunakan kaki Winda sebagai bantal.


Bella dan Kasih juga muncul, melihat semuanya kumpul.


Winda menjelaskan keinginan Vira untuk bersenang-senang di luar, Winda tidak berani mengambil keputusan sendiri.


"Bagaimana hasil periksa bulan ini Bil?"


"Bagus, sejauh ini aman. Dokter hanya meminta Vira menjaga berat badannya."


"Ayo kita bersenang-senang."

__ADS_1


"Bella ikut saja, tapi jangan lupa jika sekarang kita memiliki buntut, tidak bebas seperti dulu. Meninggalkan anak-anak juga tidak mungkin."


"Bella benar, bagaimana nasib Winda punya anak kembar?"


"Kamu pikir anak aku tidak kembar, Kak Kasih dan Billa enak karena anak-anak sudah mengerti." Bella menatap putrinya yang bermain bersama Arum.


"Kak Kasih akan bantu menjaga Arwin, dia tidak nakal. Virdan bersama Lin, sedangkan Bintang diawasi Billa sedangkan yang lain sudah mengerti. Ada Wira, Raka yang sudah paham." Kasih membagi tugas, satu orang satu anak.


Semuanya menyetujui saran Kasih, masalah mereka hanya satu meminta izin yang sudah pasti tidak diizinkan.


"Kita pamitan bagaimana?" Vira tidak berani mengatakan kepada Wildan.


"Bella juga tidak berani, kak Tian tidak bisa di ajak kerja sama."


"Billa bukannya tidak ingin izin, tapi ceramah kak Erik panjang sekali."


"Bagaimana dengan kamu Winda?"


"Jangan tanya Winda, dia menggunakan mobil saja belum diizinkan." Vira menatap sedih langit.


"Kak Kasih?" Winda, Vira, Bella dan Billa memohon.


"Tidak, jika Ravi tahu rencana kita pasti batal, mulutnya dia bocor."


Semuanya akhirnya terdiam, Lin hanya mengerutkan keningnya melihat lima wanita kebingungan.


Semuanya diam melihat Erlin, binggung Lin ingin pamit dengan siapa.


"Siapa nama kak Wildan di handphone kak Vira?"


"Ayang Wil." Vira menghubungi Wildan berbasa-basi, lalu menyerahkan ponselnya kepada Lin.


[Assalamualaikum kak Wil, Lin ingin izin jalan-jalan boleh?]


[Terserah, aku tidak perduli.] Panggilan mati.


"Kita sudah mendapatkan izin dari Wildan." Lin langsung tersenyum, Vira langsung tertawa melihat tingkah bodoh Lin.


Winda memberikan handphonenya setelah bicara dengan suaminya. Lin mengatakan hal yang sama, sedangkan yang lain sudah menahan tawa. Ar hanya mengeluarkan suara Emhhh yang berarti cuek saja.


Bella memberikan ponselnya, respon Tian juga cuek saja tidak bertanya apapun. Hanya menjawab silahkan, tidak tahu memberikan izin kepada Lin atau mengusir karyawannya yang terdengar berisik.


"Sudah mendapatkan izin dari tiga orang, tapi untuk dua ini pasti ada pertanyaan." Lin menarik nafas, menyapa Erik sebentar.


[Assalamualaikum kak Erik?]

__ADS_1


[Waalaikum salam Lin, ada apa?]


[Lin ingin izin untuk pergi jalan-jalan boleh?] Jantung Lin dan yang lainnya deg-degan.


Dari balik telepon terdengar jika Erik sedang ada operasi, Billa tersenyum lebar.


[Lin, jika kamu ingin jalan-jalan hati-hati. Kak Erik masih ada pekerjaan, panggilan harus ditutup.]


Semuanya teriak-teriak kesenangan, hanya sisa satu makhluk dengan segudang pertanyaan.


[Kamu ingin jalan-jalan ke mana? sudah izin Vira belum? pergi dengan siapa? punya uang jajan tidak?] Ravi memberikan banyak pertanyaan, Lin sudah lemas.


Kasih langsung cemberut, ingin mengigit ponselnya yang penuh pertanyaan dari suaminya.


[Lin ingin ke mall, makan, belanja, main mobil-mobilan, menonton, main bowling, bilyard, juga bersenang-senang. Lin belum pernah mencoba semuanya, izin dari kak Ravi penentu masa depan Lin.]


Kasih menutup mulutnya, Ravi langsung memberikan izin. Membiarkan Lin pergi untuk bersenang-senang.


Suara teriak dan sorakan, bahkan Kasih mendapatkan pesan dari suaminya untuk memberikan Lin uang jajan dengan jumlah yang lumayan besar, agar Lin bisa merasakan indahnya dunia, tanpa harus mengingat pahitnya masa lalu.


"Aak, I love you." Kasih mengirim pesan suara, rasa cinta Kasih semakin besar untuk suaminya.


"Cie cie romantis nya." Lin tersenyum melihat semua orang tertawa.


"Bel, sebentar lagi ulang tahun Twins B. Apa akan dirayakan?"


"Tidak Vir, mereka masih kecil belum mengerti. Jadwal juga berdekatan, dua hari lagi Bunda dan rombongan pulang, dan besoknya ulang tahun Twins B ke satu." Bella dan Tian sepakat jika konsentrasi keluarga sepenuh milik Vira, jika ada pesta Vira bisa kecapean.


"Dua bulan lagi Asih dan Aka ulang tahun yang ke Lima, bagaimana dengan pesta mereka?"


"Kita makan malam bersama keluarga saja, lalu bersedekah karena bulan depannya lagi ada yang ulang tahun juga." Kasih menepuk pelan kepala Vira.


"Keluarga ini ramai sekali, banyak yang ulang tahun." Lin tersenyum melihat dirinya yang tidak pernah ulang tahun.


"Kamu kapan ulang tahun?" Winda menatap Lin yang malu-malu menyebutkan tanggal lahirnya yang berusia ke tujuh belas tahun.


"Wow, kamu berulang tahun bersama dengan Arum, Arwin, Virdan dan Vivi. Ulang tahun kalian kita harus ziarah ke makam Vivi."


"Vivi, apa dia kembaran Virdan?" Lin meneteskan air matanya, meminta maaf dengan pertanyaannya.


"Kita bisa adakan makan malam bersama keluarga, karena tidak memungkinkan untuk Vira yang perut besar." Kasih menepuk pelan tangan Lin.


"Tidak terasa, saat itu kita sudah mengetahui nama baby yang memasuki bulan ke ketujuh hampir delapan. Jujur memikirkan tiga bulan ke depan deg-degan, terutama Wildan yang setiap malam sholat malam untuk meminta keselamatan bagi aku dan twins." Vira memeluk Winda yang mengusap perutnya.


"Anak Ummi kuat, sangat kuat. Kita menanti kehadiran kalian untuk menambah kebahagiaan keluarga ini. Kalian harus menyapa Ummi jangan seperti Vivi yang tidak bertemu terlebih dahulu." Winda langsung menangis, Vira mengusap punggung Winda meminta maaf atas nama putri kecilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2