
Wildan sudah pindah ke kamar rawat, Billa memukuli Erik yang keterlaluan. Seluruh keluarga mengkhawatirkan Wildan, tetapi dia asik tidur di ruangan operasi.
Semua orang memarahi Erik yang tega kepada mereka semua, jantung juga lemas menunggu selama delapan jam.
"Erik kamu kenapa harus berulah." Reva mencubit perut Erik kesal.
"Maafkan Erik Mami, operasi selesai dua jam, karena Erik sudah hampir tiga hari tidak tidur, belum lagi ingin memantau Wildan yang banyak kehilangan darah. Erik meminta tim untuk berjaga, takutnya luka pendarahan di kepala." Erik langsung duduk, memeluk Billa ingin lanjut tidur.
"Kenapa kamu tidak mengabari kita?" Viana menatap sinis.
"Maaf Mom, Erik pikir tidur sepuluh menit. Tidak menyangka jika berjam-jam."
"Tim kamu tidak berniat membangunkan?" Jum memukul menantunya.
"Mereka tidak mungkin berani Mom, jangankan membangun dia, meminta izin keluar untuk ke toilet juga tidak berani. Satu-satunya dokter yang berani membantah Erik hanya Billa." Helaan nafas Billa terdengar.
Vira masih meneteskan air matanya, melihat kepala Wildan terbalut. Kaki dan tangannya mengalami keretakan, tubuhnya juga terbalut karena mengambil retak di beberapa tulang.
"Berapa lama Wildan akan sadar?" Vira tidak bisa menahan air matanya.
Billa mengusap punggung Vira, menjamin jika Wildan baik-baik saja, bahkan sangat baik. Dia hanya butuh pemulihan yang lama, karena banyaknya kerekatan di bagian tubuhnya.
Syukurnya kepala Wildan aman, sehingga tidak terjadi hal fatal.
"Biarkan Wildan beristirahat terlebih dahulu, dia masih dalam pengaruh obat. Jika pengaruh habis Wildan pasti sadar. Jangan menangis lagi Vir, sekarang kita semua bisa bernafas lega." Billa tersenyum meminta keluarga beristirahat.
Kemungkinan Wildan akan sadar keesokan harinya, jadi cukup Erik, Vira, Mami dan Papi yang berjaga.
Semuanya setuju untuk pulang, langsung pamitan. Besok mereka akan datang bersama anak-anak.
Mami juga langsung menghubungi Winda yang menangis, mendengar kabar kakaknya kecelakaan. Vira tertawa melihat wajah Winda yang acak-acakan membersihkan rambut yang berserakan.
[Jangan sedih Vir, haruskah aku pulang untuk mematahkan tulang belulang Fly.]
[Jangan, kamu selesai masalah kamu. Maafkan Vira yang seharian tidak berkabar. Apa yang sedang kamu lakukan? sepertinya kamu mulai akur dengan nenek sihir?] Vira tersenyum melihat Winda yang tertawa kuat, melihat Mami Ar membersihkan rambut.
__ADS_1
[Winda tidak akan pernah akur dengan nenek sihir, beberapa menit yang lalu aku membotaki kepala pelakor.] Winda menunjukkan rambut.
[Apa dia menyakiti anak kamu?]
[Apa dia keluarga kamu Win? itu Kaka kamu kepalanya bolong.] Ummi tertawa melihat Vira dan Wildan.
[Diamlah, jika kepala kak Wil bolong. Kepala kamu aku putar menjadi ke belakang.] Winda dan Vira berbicara hal yang sama, membuat Ummi melangkah pergi.
Reva langsung tertawa, Winda dan Vira jika sudah bersama lebih baik dijauhi. Mereka bisa menjadi ular berkepala dua.
Panggilan mati, Mami meminta Vira beristirahat, memejamkan mata sesaat agar besok lebih segar. Wildan juga tidak khawatir jika melihat keluarga baik-baik saja.
Mami dan Papi juga beristirahat, Erik kembali ke ruangannya untuk lanjut tidur.
***
Pagi-pagi sekali Windy sudah datang berkunjung bersama Wira, suara besar Wira membuat Vira menutup telinganya.
Ditambah lagi kedatangan Ravi, Kasih juga twins Rasih dan Raka. Suara Rasih yang mengalahkan burung berkicau di pagi hari.
"Kenapa kalian harus datang pagi sekali? merusak suasana hati Vira." Tatapan mata Vira tajam menutup mulut Rasih.
Vira langsung menggulung kepala Rasih dengan kain putih, membuat teriakan Rasih semakin besar.
"Wildan bukan sembuh, tapi semakin stres karena ulah keluarga sendiri." Erik sudah rapi menggunakan baju kerja, kepalanya menggeleng melihat Rasih dan Vira saling pukul.
"Asih kamu ingin Uncle suntik." Erik mengeluarkan jarum suntik, menyuntikan ke infus Wildan.
"Uncle." Asih menebak Erik menggunakan senjata Wira yang mirip mafia membawa banyak senjata mainan.
Erik langsung jatuh pingsan, tangisan Em langsung terdengar, berlari memeluk Papanya yang jatuh pingsan.
Tatapan matanya tajam melihat Asih yang melarikan diri secara perlahan, mata Em sangat tajam jika sudah melotot.
Erik tertawa, langsung menggendong putrinya tinggi, mencium gemes. Langsung memeluk El yang duduk diam tidak banyak bicara.
__ADS_1
Vira memijit pelipisnya, mendengar keributan. Kedatangan Ning dan Tiar juga disambut hangat. Melihat sahabatnya datang, Asih langsung bersemangat main.
Wira menjadi pengacau utama yang membuat satu ruangan rusuh, Billa masuk langsung memukul pintu.
"Kenapa ruangan ini ribut sekali? di sebelah ada pasien VIP yang ingin melahirkan. Bayinya tidak bisa keluar, karena ibunya tidak konsentrasi mendengar suara kalian. Pintu sudah ditutup, tapi suara masih bisa keluar." Bella menatap kesal, dia juga stres melihat pasien dalam keadaan drop.
Semuanya langsung hening, bermain pelan. Suara Asih memukul Wira terdengar, kedua saling melotot, menembak dengan suara pelan.
"Kira-kira Aunty sebelah sudah lahiran belum? Ning tidak bisa mendengar jika berbisik." Bening memukul Wira yang bicaranya tidak jelas.
Suara tawa langsung pecah, beginilah keluarga jika sudah kumpul. Jika tidak sanggup mendengar keributan jangan mencoba mendekat.
Wildan tersenyum, dia sudah terbangun sejak Vira sholat subuh, tapi masih berat membuka matanya.
Mendengar keributan membuat Wildan bahagia, karena dia masih memiliki kesempatan untuk mendengar suara keluarganya.
Keributan yang sejak kecil menjadi makanan sehari-hari Wildan, dia pikir hidupnya tidak mungkin selamat.
Mata Wildan terbuka, melihat Vira yang biasanya banyak bicara sekarang banyak diam. Menggenggam tangannya dengan lembut.
Vira berharap Wildan segera bangun, setidaknya Vira ingin melihat mata indah suaminya, juga suara dingin yang selalu menegurnya.
Air mata perlahan menetes, tidak memperdulikan suara keluarga yang sedang membicarakan keadaan Wildan.
Semuanya mendadak hening mendengar suara Vira menangis, dia lebih suka Wildan yang selalu marah, menegurnya sekalipun mengabaikannya.
"Sudah Vira katakan jangan pergi, tapi kenapa kamu tidak percaya? Vira sudah punya firasat buruk." Tangisan Vira terdengar menyayat hati.
"Wildan baik-baik saja Vir, kita hanya perlu menunggu dia bangun." Erik memberikan putrinya kepada mertuanya.
"Vira tahu, tapi di mata Vira Wildan anak yang kuat, meskipun dia sakit tetap berjalan dengan kepala tegak. Dia tidak menyukai tidur seperti ini." Vira mengusap air matanya, menyatukan jari-jemarinya.
Mata Vira langsung menatap Wildan yang tersenyum melihatnya, tangan Vira digenggam erat.
Air mata Vira semakin jatuh, melihat Wildan bangun mencium tangannya lembut.
__ADS_1
"Aku mencintai kamu Vira, mungkin kata-kata ini terlambat. Saat aku memejamkan mata, hanya kamu yang bisa aku ingat menyalahkan setiap kesempatan yang selalu gagal untuk aku mengatakan, jika aku menikahi wanita yang aku cintai, bukan atas dasar perjodohan keluarga. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji untuk menjemput." Senyuman Wildan terlihat, meletakan tangan Vira di pipinya.
***