SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KELUAR DALAM


__ADS_3

Kening Viana berkerut melihat Virdan yang hanya diam saja melihat dirinya yang berusaha untuk membuatnya tersenyum, segala cara sudah Viana lakukan, tapi tidak bisa melihat senyuman Virdan.


"Tahu rasanya Kak Vi menjadi Reva? dulu saat Wildan masih kecil selalu menangis, karena aku pikir putraku tidak normal." Reva tertawa menatap Viana yang menggaruk kepalanya.


"Kak Virdan, Arum datang." Vira memeluk Arum langsung duduk di samping Mommy Vi yang sedang memangku putranya.


Winda juga muncul membawa Arwin, menyerahkannya kepada Reva yang langsung mencium cucu lelakinya yang tidak ingin disentuh sembarang orang.


"Vira, kamu masih berencana untuk hamil atau stop satu anak?"


"Belum tahu Mam, Wildan tidak mempermasalahkan jika hanya satu anak, tapi Vira masih ingin punya putri. Meskipun harus menunggu Virdan besar dulu, takutnya tidak bisa menjaga dia."


"Baguslah Vir, Mommy setuju jika kamu tidak terburu-buru soalnya kamu lahiran Caesar. Berbeda dengan Bella yang lahir normal, dia dua bayi keluar dengan mudahnya." Viana mengusap kepala putrinya.


"Bagaimana dengan Winda?"


"Dua saja mommy, cukup. Winda setiap hari harus menangis, terutama Arwin yang kuat menyusu sedangkan ASI Winda tidak banyak, bahkan Arum harus meminum ASI-nya Vira, karena kekurangan." Kepala Winda menggeleng tidak ingin stres karena melihat putranya menangis kekurangan ASI.


"Kak Ar sekarang semakin sibuk, pulangnya bukan sayang lagi, tapi Arum Arwin Abi pulang." Tawa Vira terdengar mengejek Winda yang haus belaian.


"Iya, sudah hampir enam bulan Winda tidak mendapatkan belaian, sebenarnya Ar normal tidak?" tatapan Winda tajam, melihat Vira, Mami dan mommy tertawa menatap dirinya yang terang-terangan.


"Wajar saja Win, masih pemulihan. Vira setiap malam oke, karena Virdan sangat tenang tidak menganggu sama sekali." senyuman Vira terlihat menceritakan hubungan bersama Wildan yang kembali merasakan pacaran meskipun sudah memiliki anak.


"Pakai pengaman tidak Vir?" wajah Winda mendadak khawatir.


"Benar Vir, menggunakan pengaman tidak? kalian jangan gila ya, ini bayi baru masuk enam bulan, kamu lahiran Caesar tidak boleh hamil dalam kurun waktu cukup lama." Viana memukul punggung Vira, bisa dia terlihat sangat santai.


"Hati-hati Vira, keluarga kita keturunan kembar, bisa dibayangkan tidak jika kamu hamil kembar, jahitan saja belum kering." Reva juga khawatir.


"Keadaan Vira sudah baik, kemarin dokter mengatakan sudah pulih. Tenang saja, tidak mungkin hamil." Jantung Vira berdegup, cemas juga jika sampai kebobolan.


"Kamu sudah bulanan belum?"


"Aissh ... sudah tiga bulan tidak haid." Wajah Vira langsung panik, takut jika dugaan mereka benar.


Viana yang kesal menjambak rambut Vira kesal, menatap Wildan yang baru pulang kerja langsung mengambil putranya.


"Wildan, kenapa kamu berhubungan keluarnya di dalam?" Reva melotot memukul putranya.


Tatapan Wildan aneh melihat Maminya, langsung melangkah pergi ke kamarnya. Pertanyaan Reva cukup membuat Wildan risih, banyak pertanyaan yang lebih layak didengarkan.

__ADS_1


"Wildan, kamu mendengar Mami tidak?"


"Alhamdulillah dengar Mami, masalah pertanyaan Mami tidak pantas."


"Ada apa Va? kamu teriak-teriak mirip monyet." Rama tersenyum melihat Arum yang minta digendong kakeknya.


"Wildan berhubungan keluarnya di dalam?"


Viana melotot melihat Reva yang bisa bicara hal seperti itu kepada suaminya, sungguh memalukan.


"Hubungan apa? apanya yang keluar?" Rama menatap binggung, melihat istrinya untuk mendapatkan penjelasan.


Winda dan Vira sudah cekikikan tertawa, sungguh dua sahabat yang konyol. Reva dam Rama membicarakan hal yang tidak nyambung.


"Rama, kenapa kamu bodoh sekali?"


"Kenapa aku bodoh? memangnya apa yang ingin dikeluarkan? memangnya ingin dikeluarkan di mana?" kamu aneh Reva." Kening Rama berkerut mendengar kemarahan sahabat wanitanya yang mengomeli dirinya, sedangkan Wildan sudah melarikan diri.


"Hubby, gara-gara keluar di dalam kita bisa terkena masalah." Viana tersenyum melihat suaminya.


"Kenapa harus keluar di luar? ada apa dengan keluar?" Rama semakin binggung.


"Kak Vi, ini lelaki tua setiap hari makan apa? sepertinya hidupnya mirip manusia hutan, sudah polos, bego lagi." Reva melempar Rama dengan bantal sofa.


"Kalian semua di sini?" Bima langsung mengambil cucunya Arwin.


"Sayang, ayo kita pulang." Ar merangkul Winda.


"Sebentar lagi, kita menunggu Vira disidang." Winda memeluk Vira yang sudah guling-guling di lantai karena tertawa.


"Ada apa Reva?"


"Tidak tahu Kak Bim, dari tadi Reva membahas keluar di dalam." Rama mengangkat kedua bahunya.


"Ay, lebih enak keluar di dalam apa di luar?"


"Apa?" Bima menatap serius.


Viana langsung tertawa, respon Bima lebih bodoh dari Rama. Wajahnya lebih binggung lagi melihat ulah Reva.


"Keluar dalam luar apa sayang? jika ingin keluar ya di luar, jika ingin ke dalam masuk saja. Salahnya di mana?"

__ADS_1


Viana mengusap punggung Reva, dia meragukan kecerdasan Bima. Otak Bima semakin tua, semakin lambat dan polos.


"Ar, Mommy tanya kamu. Enak keluar di dalam apa di luar?"


Vira dan Winda langsung menatap Ar yang duduk di samping istrinya, Winda menutup mulutnya melihat ekspresi suaminya yang menatapnya.


"Ar, jawab?"


"Keluar apanya? Ar pilih di dalam karena ada anak istri dan keluarga, jika di luar hanya urusan pekerjaan." Senyuman Ar terlihat, Vira wajahnya sudah merah, Winda menutup wajahnya menggunakan jas kerja suaminya, karena tertawa lucu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun menantu kamu Reva, kenapa dengan keluarga ini sangat aneh? kamu ingin di dalam Ar, memasukan anak istri kamu ke dalam." Viana bertepuk tangan, hanya bisa mengusap dada melihat para lelaki.


Di lantai atas Wildan sudah tertawa lepas bersama putranya yang juga tertawa, keluarganya memang aneh.


"Sayang, kamu harus bisa menjaga keluarga ini." Wildan turun bersama Virdan yang tersenyum melihat Papinya tertawa.


"Assalamualaikum, kak Bima ini kunci mobil." Bisma muncul bersama cucunya Arum.


"Bisma, kamu pilih keluar di dalam apa di luar?" Viana mengeluarkan suaranya dengan teriak, agar semua orang mendengar.


"Apa yang sedang kalian bahas? aku tidak perduli soal keluarnya di mana?" Bisma memberikan kunci mobil langsung melangkah ingin pergi.


"Kakek, apa yang keluar di dalam dan di luar?".Arum juga penasaran.


"Urusan orang dewasa sayang, nanti saat kamu sudah dewasa baru tahu?"


"Arum ingin tahu sekarang kakek, jika menunggu besar terlalu lama."


"Tanyakan kepada kedua orang tua kamu." Bisma menatap tajam Viana yang hanya tersenyum santai.


Arum langsung berlari keluar untuk menemui orang tuannya.


"Apa yang keluar-masuk Bisma?" Bima menatap tajam, dia masih belum mengerti.


"Kalian bodoh atau apa kak? bagaimana bisa memiliki anak juga cucu jika keluarnya di luar?" kepala Bisma menggeleng langsung pulang.


"Astaghfirullah Al azim, aku pulang duluan Reva." Bima juga melangkah pergi.


Rama sudah melangkah pergi, sungguh memalukan pertanyaan yang membuatnya terlihat bodoh.


"Bagaimana Ar sudah mengerti belum? apa keluarga, anak istri kamu masukan ke dalam rahim?" Viana tersenyum melihat wajah Ar memerahkan langsung pamit pulang mengejar mertuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2