
Rama langsung berlari masuk gedung tua diikuti Bima dan Bisma, di sana sudah terjadi kekacauan. Rama hanya tersenyum melihat semuanya kacau, langsung Rama menempel tangannya ke sebuah dinding yang langsung bergeser, mereka bertiga masuk.
Bisma kagum melihat kepintaran Rama, dia berpikir habis sudah harapan saat server utama di hancurkan tapi ternyata ada ruangan rahasia yang tersembunyi.
Sudah berdiri beberapa orang yang sibuk bekerja, Rama melihat layar yang lebih besar dari yang sudah hancur.
"Mana Ammar?" tanya Bima yang hilang kontak.
"Menyerahkan diri, demi menyelamatkan Sisil, sekarang Sisil berada di apartemen Reva, tanpa sepengetahuan Reva." Jawab salah satu tim yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Otaknya terbuat dari apa, bicara sambil bekerja," batin Bisma.
"Baguslah, apartemen Reva tempat paling aman, dia juga pulang ke rumah orangtuanya."
"Lacak keberadaan Ammar?" Semuanya berhenti bekerja dan melihat kearah Rama yang sudah menggerakkan tangan di layar besar.
"Ammar tidak mungkin bisa menggunakan pelacak, semuanya sudah mereka singkirkan. Yang menghancurkan server mafia yang kamu hentikan dan timnya berada dalam penjara."
"Pelacak ada di tubuh Ammar, bisa hilang jika kakinya dipotong." Semuanya menatap kaget, Rama dan Ammar menyiapkan persiapan sematang ini tanpa sepengetahuan tim."
Semuanya langsung bekerja, mereka merasa beruntung bekerja dengan Rama yang otaknya sangat cerdas.
***
Tubuh Ammar di lempar ke hadapan Viana, tubuhnya penuh luka dan penuh darah. Vi yang awalnya tersenyum manis, langsung berubah menjadi menyeramkan dan tertawa menggelegar membuat Ririn dan kemal kebingungan.
Viana berdiri sambil menatap Ririn jahat, Kemal bergerak mendekati Viana tapi langsung di banting Vi, dan cepat Viana bergerak menyerang Ririn yang mendapatkan tendangan dari Viana terlempar jauh.
Kemal langsung berteriak agar para bayaran datang, cepat dia mendekati Ririn yang sudah jatuh pingsan. Banyak senjata yang sudah diarahkan kepada Viana tapi Vi santai dan tersenyum licik menatap Kemal.
Kemal mendekati Viana dengan mengarahkan senjata ke depan jidat Vi, jarak mereka sangat dekat.
"Tembak! ayo tembak aku Kemal, apa kamu masih mencintai aku," Viana memegang tangan Kemal yang mengarahkan senjatanya di kepala Vi yang ditekan Viana kuat agar menembak kepalanya.
"Ayo tembak aku bodoh! kamu pengecut! ayo tembak, aku ingin melihat nyali kamu sejauh mana. Bunuh aku, jika kamu tidak menembak aku sekarang kemungkinan kamu akan menembak kepala kamu sendiri." Viana tertawa membuat semua yang di sana ketakutan.
"Mengapa dulu kamu menolak cintaku, aku hampir mati dan diselamatkan seorang tentara dan jadilah aku yang sekarang."
__ADS_1
"Mengapa kamu bisa mengenal Rama,"
"Dari pamannya yang di penjara, aku menyelamatkan Oma Irma dan menjadi dekat dengan keluarga Rama, dia menganggap aku kakaknya. Aku hebat Viana dengan status diriku yang sekarang, Rama membantu aku mendapatkan pangkat, menangkap mafia yang pernah berada di bawah perintah mu, padahal aku orang yang melindungi para mafia."
"Kamu mengkhianati Rama, mengkhianati para mafia, juga mengkhianati Mitha." Tawa Vi melihat kelicikan Kemal.
"Aku melakukan ini karena aku mencintai kamu Angel, aku akan singkirkan Mitha, Rama juga dan kita akan hidup bahagia."
"Angel! kamu pikir aku malaikat yang cantik, aku ini Malaikat maut Kemal," Viana menendang perut kemal dan mengambil alih senjatanya.
"Apa kamu akan membunuhku! kamu tidak akan pernah bisa melukai aku. Aku tahu kamu mencintai aku Angel."
Doorrr....
Kemal langsung berlutut mendapatkan tembakan di kakinya dan menatap Viana gelap.
"Bunuh wanita ini, bawa mayatnya padaku." Kemal langsung mundur di dekat Mitha yang mulai sadar.
Ammar bangkit berdiri di samping Viana dengan masih menahan sakit, Viana hanya tersenyum membantu Ammar berdiri.
"Mar, mana Rama! mati konyol kita berdua." Viana bicara pelan.
"Baguslah, kita bertarung sebentar saja, aku mau pura-pura pingsan. Biar di gendong hubby seperti di film superhero."
"Bos Vi! masih sempat membayangkan hal konyol di saat kita di keroyok begini."
Seluruh senjata di arahkan ke Viana dan Ammar, Viana hanya tertawa melihat tingkah konyol para bayaran.
"Kalian ini para preman pasar ya, bertarung tangan kosong bro, masa iya tembak langsung KOIT, tidak seru!"
Ammar yang melihat Viana santai sangat berbeda dengan Viana dulu yang penuh rasa takut, tapi Ammar yakin dalam hatinya Vi pasti ketakutan apalagi harus berpisah dari putranya.
Para bayaran merasa terhina dan menyembunyikan senjatanya, langsung bergerak maju menyerang Viana dan Ammar, Viana tersenyum langsung maju menyerang, beberapa kali dia mendapatkan pukulan tapi lawan langsung jatuh. Ammar terlempar tidak mampu melawan karena tubuhnya yang sudah lemah. Viana melihat Ammar yang tersudut langsung mengambil pisau yang ada di balik bajunya dan melumpuhkan lawan Ammar.
Ammar geleng kepala melihat kecepatan Viana yang sama seperti Bisma yang ahli bela diri.
***
__ADS_1
Bangunan tua di dekat perkebunan sudah di kepung dari luar sudah terdengar pertarungan, Rama menggerakkan banyak orang. Beberapa kepolisian bawahan Ammar juga bergerak.
Viana yang menyadari banyak orang masuk dan menodongkan senjata bernafas lega, dia sudah kewalahan faktor umur, puluhan orang melarikan diri salah satunya Kemal yang meninggalkan Mitha yang sudah di todong dengan senjata.
Rama masuk dan melihat Ammar terduduk dengan penuh luka, Viana juga mengalami banyak luka dan nafasnya yang tidak beraturan.
"Viana!" Rama menarik Vi ke dalam pelukannya, Vi membalas pelukan Rama kuat. Dia berpikir mungkin tidak bisa bertemu Rama dan Ravi lagi. Vi sungguh ketakutan jika harus meninggalkan kedua lelakinya.
Mitha menggakat tangannya meneteskan air matanya menerima kekalahan kesekian kalinya, Mitha menarik senjata salah satu polisi dan mengarahkan ke Rama.
Doooorr...
Mata Viana yang terpejam melihat sosok Ammar berdiri di belakang Rama menerima tembakan, Vi melihat senyum di wajah Ammar. Viana langsung teriak saat Ammar ambruk.
"Kak Ammar!" Rama dan Viana mendekati Ammar yang tertembak di dadanya.
"Tolong! Viana mohon jangan terluka. Kak Ammar!"
"Vi terimakasih ya, jangan menangis aku bersyukur mengenal kamu, aku bisa keluar dari masa sulit. Aku bisa menjadi seorang Perwira semua berkat dukungan kamu."
"Kakak bayar kebaikan kamu dengan nyawa!"
"Jangan katakan apapun lagi, Viana mohon jangan tutup mata kakak. Viana tidak akan sekuat ini jika tidak ada orang hebat seperti kalian."
Rama menggendong tubuh Ammar, keluar melarikan ke ruang sakit, Ammar menggenggam tangan Viana yang ikut berlari ke mobil, Viana terhenti karena genggaman lepas.
"Arrrrrgggghhhhh tidak! jangan!" Viana menangis dan langsung di rangkul Bisma.
"Ammar kak, dia melepaskan tangan Viana," Bisma memeluk Viana yang tubuhnya bergetar karena menangis.
***
Kalian buli Ammar bilang dia jahat, padahal masih ngantung๐ญ author langsung Sensi ๐คญ
Langsung author kasih up, sebelum peran Ammar di hujat netizen ๐๐๐
Haruskah kita hilangkan Ammar?"
__ADS_1
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE YA