SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
POSITIF


__ADS_3

Semuanya keluar dari ruangan Ammar menunggu di lobi, para girls masih sibuk mengintrogasi Septi dan Jum.


Rama bertemu dokter Indri yang menceritakan keadaan Rama yang setia pagi mual, pusing juga lemas. Berkali-kali Rama cek tapi dokter mengatakan Rama sehat.


"Ram, bukan Lo yang harus periksa tapi istri Lo." Dokter Indri tertawa meninggalkan Rama yang masih penuh tanda tanya.


Rama memandangi Bima tapi mengangkat bahunya, Ammar juga sama, Bisma tidak perlu di tanya. Para wanita keluar sambil tertawa.


"Vi kapan terakhir kamu datang bulan." Viana mengerutkan keningnya tidak biasanya Rama membicarakan hal jorok.


"Hubby aneh! jorok banget, kenapa mau lihat darah haid." Tawa Vi dan lainnya terdengar.


"Viana, ayo serius."


"Emhhh..., tidak tahu Viana tidak pernah memikirkannya dan menghitungnya." Viana melangkah ke parkiran tapi langsung ditahan Rama.


"Kalian tunggu di sini, kita mau pergi ke apartemen Ivan ada hal penting, Rama bawa Vi periksa ke dokter kandungan." Rama menarik tangan Viana masuk kembali ke dalam.


Semuanya terdiam mendengar Rama membawa Viana ke dokter kandungan, Reva ratu kepo langsung lari menyusul, Jum dan Septi juga ikutan menyusul.


***


Viana melakukan tes kehamilan dan menunggu beberapa saat, Rama menunggu dengan harapan Viana positif, tapi tidak dengan Vi yang menatap Rama kesal. Viana tidak merasakan gejala kehamilan, Vi sangat yakin jika dia tidak mungkin hamil.


"Kapan terakhir haid Viana," Dokter melihat hasilnya dan tersenyum.


"Tidak tahu," Viana mengaruk kepalanya coba berpikir.


"Sekitar satu bulanan mungkin lebih." Rama ingat beberapa minggu mereka belum libur berhubungan.


"Pak Rama lebih tahu ya, mulai sekarang berhubungan lebih pelan ya pak, usia kandungan masih muda, kita periksa lagi untuk memeriksa usiannya."


Rama langsung berdiri kaget, karena terlalu bahagia Rama lupa cara mengekspresikan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Seriusan dok, saya mau liburan dok masa iya bawa perut besar, ya Allah nak pengen banget ikut mommy jelong2."


Rama baru tersadar dari lamunannya, memeluk Viana dan mengelus rambutnya, menciumi wajah Vi. Air mata Rama juga keluar membuat Viana tersenyum menghapus airmata suaminya.


"Kenapa menangis," Viana ikut sedih melihat bahagianya Rama mendengar kehamilan Vi.


"Hari ini selalu aku nantikan Vi, aku tidak bisa dampingi kamu saat mengandung Ravi, melahirkan Ravi. Kamu tahu aku dari dulu menginginkan momen merasakan, melalui proses kehamilan kamu."


Viana memeluk Rama, dokter juga tersenyum melihat keharmonisan pasangan suami-istri, Vi di cek lebih lanjut. Usia kandungan Vi menginjak 5 minggu, Viana juga mengatakan jika tidak merasakan tanda kehamilan atau mengidam.


Rama juga menceritakan gejala yang setiap pagi dia rasakan, mual, pusing, juga lemas tapi siangnya kuat seperti semula.


Dokter menjelaskan kemungkinan Rama yang ngidam biasanya di sebut couvade atau kehamilan simpatik. Karena ayahnya merasakan empati dan ada keterikatan yang kuat dengan anak.


"Tapi tidak perlu khawatir, masa ngidam hanya terjadi di trimester pertama, bisa hilang di trimester kedua tapi bisa juga muncul kembali di trimester ketiga." Dokter menjelaskan sedetai nya.


"Terimakasih dok, saya akan menikmati masa ngidam," Rama menyalami Dokter dan memeluk Viana keluar.


"Hasilnya kak Vi." Jum tersenyum penuh harap.


"Kamu jawab dulu pertanyaan kami tadi Jum,"


"Iya! mas Bisma pergi ke kampung menemui ibu sama bapak dan meminta izin serius ke Jum. Keluarga Jum setuju, masih menunggu keputusan Jum. Baru kami akan menikah di desa."


Semuanya diam tidak menyangka langkah Bisma lebih cepat dari Bima. Viana juga mengatakan jika dia positif, Jum memeluk Vi dan mengucap selamat, Septi juga memeluk Rama yang langsung di Jambak oleh Vi, padahal Septi hanya bercanda. Reva dengan nada lemas memberikan selamat ke Rama dan Vi.


"Reva! menikah bukan karena siapa yang cepat! Allah sudah menentukan semuanya. Sabar menunggu kak Bima, dia juga sudah bicara ke orangtua kamu. Kak Bima juga Resign karena mau fokus ke bisnisnya dan berumahtangga."


Reva langsung tersenyum, dia tahu Rama tidak pernah bohong berarti dia juga akan segera menikah dengan om duren.


Rama dan lainnya melanjutkan perjalanan ke apartemen Ivan yang sangat mewah, saat masuk ke sana Viana menyukai desain apartemen. Reva juga berkeliling melihat isi kamar dan seluruh ruangan apartemen mewah Ivan.


Septi masuk ke dapur dan terdiam saat melihat seorang wanita, yang sangat dia kenal sedang memasak. Mata Septi memancarkan kemarahan ditariknya tangan dan didorong ke luar apartemen, Rama dan lainnya kaget. Ivan datang langsung menangkap tubuh wanita yang Septi dorong keluar sambil teriak.

__ADS_1


Reva berlari mendekati pintu melihat tatapan Kemarahan Ivan, dan melihat Chintya berada dalam pelukan Ivan.


"Jangan sakiti istriku Sep,"


Septi terdiam dan menahan air matanya, mendengar ucapan Ivan yang pertama kalinya bicara kasar padanya. Septi melangkah masuk mengambil tasnya, Ivan membawa Tia masuk dan menutup pintu.


Melihat Septi yang siap keluar lagi, Ivan menahan tangan Septi, dia meminta maaf karena berteriak. Reva sama marahnya melihat Tia, apalagi menjadi istri Ivan.


"Septi maaf, aku tahu kamu benci Tia tapi sekarang dia sudah berubah, tidak salah kita mengubah seseorang menjadi lebih baikkan."


"Iya tidak salah, tapi Lo jangan lupa Septi hampir di perkosa oleh temannya Tya, jika hari itu Rama tidak datang mungkin hidup Septi hancur." Reva bicara dengan berteriak.


"Hentikan! aku yang menyelamatkan Tya, aku mengobati Tya sampai ke luar negeri agar kembali normal, karena Tya tidak punya keluarga dan tempat pulang, Ivan mengambil tanggung jawab menikahi Tya atas izin orang tua Ivan."


"Bagus Rama, Lo baik banget. Orang yang membuat Lo kehilangan waktu 5tahun Lo selamatkan dan pulih sepenuhnya. Aku sangat berharap dia menjadi wanita cacat dan gila,"


"Reva! jaga ucapan kamu. Setiap orang punya kesempatan kedua, dan berikan Tya kesempatan itu. Kita semua hidup bahagia tanpa rasa dendam."


Reva hanya tersenyum, mengambil tasnya melangkah pergi, Ivan menahan Septi dan Reva memohon jangan pergi.


"Lo benar Ivan nikahi dia agar memiliki keluarga, Rama juga benar dengan menyelamatkan Tya, mas Bima juga benar semua orang punya kesempatan. Semoga Lo bahagia dengan Pernikahan Lo, tapi maaf gue belum bisa memaafkan Tya. Maaf Ivan gue harap kita tidak pernah bertemu." Reva langsung keluar.


"Gue juga pergi, semoga bahagia Ivan, biarkan waktu yang menjawab tapi gue masih sakit" Septi juga melangkah pergi.


Chintya menudukan gemetaran menahan tangisannya, Viana memperhatikan perubahan tubuh Tya yang jauh berbeda, dia terluka juga karena Vi.


"Tya, fokuslah ke kesehatan kamu, biarkan Reva dan Septi coba memahaminya, aku sependapat dengan mereka tapi aku juga setuju dengan para pria. Kamu harus mengerti bedanya hati perempuan dan lelaki."


"Tya, mbak Reva bukan wanita keras dia wanita manja dan lucu, tapi dia akan menjadi jahat untuk bertahan dan agar terlihat kuat. Mbak Septi juga, hatinya sangat baik setiap akhir pekan dia memasak banyak makanan, dan main ke jalanan membagikan makanan. Di mata Jum mereka wanita istimewa, tapi Tya juga istimewa karena mendapatkan kesempatan kedua, jangan di sia-siakan. Buktikan jika kamu memang pantas untuk Ivan."


Jum dan Viana tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan semuanya mengejar Reva dan Septi. Rama juga memperingatkan Viana soal kandungannya.


***

__ADS_1


__ADS_2