
Kamar Ravi sudah direnovasi dua kali lipat lebih besar, Kasih tersenyum melihat luasnya kamar, seluruh keperluan untuk bayi juga sudah tersedia.
"Aak, lihatlah ini pasti perbuatan Mommy, Mami sama Bunda." Kasih tersenyum melihat peringatan untuk Ravi di larang menyentuh Kasih selama 5 bulan.
"Tidak sekalian saja setengah tahun, aneh." Ravi mengambil kertas langsung menyobeknya.
Kasih terus tertawa, membukakan pintu untuk Raka dan Rasih beristirahat. Ravi menatap tajam Mommynya.
"Ravi Kasih selamat bergadang." Mami Reva melangkah keluar.
Kasih sudah menyusui Raka yang mulai rewel, sedangkan Rasih masih tidur nyenyak. Ravi duduk mencium lengan Kasih.
"Ada apa Aak?" Kasih menatap Ravi yang mirip bayi.
"Sayang, Aak boleh membantu persiapan pernikahan Erik?" Ravi tidak ingin meninggalkan Kasih, tapi Erik juga penting.
"Aak jangan bercanda, Kasih sama anak-anak bisa diam di rumah, di sini banyak orang, banyak yang akan membantu Kasih. Aak fokus dulu sampai pernikahan selesai." Kasih mengusap wajah Ravi.
"Terima kasih sayang, hubungi Aak apapun yang kamu inginkan." Ravi memeluk erat Kasih.
Air mata Ravi menetes, Kasih melihat Ravi memejamkan matanya. Air matanya mengalir membasahi kedua pipiku, Kasih menghapus air mata Ravi meneteskan juga air matanya.
"Aak, kenapa sekarang selalu menangis?" Kasih menatap Ravi.
"Aak bahagia, mungkin hanya bisa diungkapkan dengan air mata. Melihat rumah tangga kita, Aak juga ingin melihat Erik bahagia, memulai rumah tangga bersama Billa." Ravi menghapus air matanya.
"Kasih yakin mereka akan bahagia, mampu melewati ujian dalam pernikahan, seperti kita yang melewati banyak rintangan. Kita akan diuji kembali dengan membesarkan anak-anak." Kasih mencium pipi Ravi, memeluknya erat.
Senyum Kasih Ravi terlihat, menatap kedua anak mereka yang tidur. Ravi langsung meminta Kasih juga beristirahat, ada 3 maid yang akan membantu Kasih selama Ravi keluar.
Ravi turun ke lantai satu menghubungi Erik, tapi tidak aktif bertanya kepada Tian yang sudah menunggu di. lantai satu.
"Di mana Erik kak?" Ravi duduk menatap Tian.
"Rav apa setiap ingin menikah ada ujiannya? kita tidak bisa ikut campur, sepertinya Erik sendiri yang harus menyelesaikannya." Tian memperlihatkan beberapa lembar foto.
Langkah kaki seseorang terdengar, Erik langsung masuk dengan wajahnya yang sedang marah, langsung berbaring di sofa sambil menarik nafas panjang.
"Apa ini Rik?" Ravi tertawa melemparkan foto, tapi melayang ke arah Billa yang baru saja datang.
"Rik bangun." Tian mengoyangkan lengan Erik.
__ADS_1
Ravi langsung berlari untuk menjauh, Tian juga melangkah menjauh. Billa menatap Erik yang sedang tengkurap.
Billa menarik baju Erik, masih tidak bergerak, lanjut lagi memukul lengannya, Erik menepis kuat, masih tetap diam.
Ravi Tian saling pandang menahan tawa, Erik terlihat seperti ABG yang sedang pacaran.
"Kak bangun!" Billa langsung berdiri di atas tubuh Erik, lompat-lompat membuat Erik teriak kesakitan.
Jum yang baru muncul bersama Wira kaget, melihat Aunty begitu enaknya main lompat-lompatan. Wira langsung berlari, naik ke atas tubuh Erik ikut melompat.
Ravi langsung mendekat, berharap anak dan istrinya tidak terganggu dengan keributan di lantai satu. Bunda meminta Billa turun, hanya sisa Wira yang masih melompat Erik langsung diam.
"Billa kamu seperti anak kecil?" Jum mencubit telinga Billa.
"Kak Erik susah dibangunkan."
"Wira sayang cukup, kasihan Uncle Erik, nanti dia bisa pingsan." Jum mengendong Wira turun dari tubuh Erik.
"Kak bangun." Billa membangunkan Erik yang tidak bergerak.
Ravi langsung membalik tubuh Erik, matanya terpejam, wajahnya pucat. Semuanya langsung panik melihat Erik jatuh pingsan, Wira langsung menangis merasa bersalah mencari Daddy-nya.
"Wira sayang, maafkan Uncle." Erik langsung menggendong memeluk erat Wira.
"Daddy, Wira nakal. Uncle pingsan, Wira lompat-lompat mengikuti Aunty." Tangisan Wira kuat, tawa Daddy Wira terdengar menghapus air mata Wira.
"Maafkan Erik kak, niatnya mengerjai Billa, tapi Wira ternyata ikut-ikutan." Erik tersenyum memberikan Wira kepada Daddy-nya.
"Santai saja Rik, kakak juga ingin bicara soal masalah yang kamu ceritakan." Steven menepuk pundak Erik.
Erik masuk bersama Steven, sedangkan Wira memeluk erat Daddy-nya.
Billa langsung memukuli Erik yang bercandanya tidak lucu, Jum menarik nafas lega. Viana keluar membawakan makanan untuk anak-anak.
"Maafkan kakak Billa, tidak tahu jika Wira akan sangat panik." Erik tersenyum meminta maaf kepada Bunda.
"Erik jika ada masalah cerita, jangan diam sayang." Jum mengusap kepala Erik.
"Iya Bunda, Erik sudah membahasnya dengan kak Stev. Dia ahlinya dalam masalah hukum." Erik tersenyum melihat Bunda, langsung mendekati Wira terus meminta maaf.
"Uncle tidak boleh nakal lagi, Wira jadinya takut. Kata Daddy orang jahat harus dihukum, tidak perduli siapapun. Berarti Wira juga bisa dihukum." Wira terus mengomeli Erik.
__ADS_1
"Kalau cerewet seperti Wira bisa dapat hukuman tidak?" Erik menggoda Wira.
"Ohhh dapat dari Mommy." Wira menutup mulutnya tertawa.
"Mommy sering dihukum tidak?"
"Sering, Mommy sering nakal. Iyakan Daddy?" Wira meminta dukungan Daddy-nya, Stev hanya mengagukan kepalanya.
"Kesalahan Mommy Wira biasanya apa?" Erik memancing Wira.
"Begini Uncle, Daddy selalu bicara tegas kepada Mommy. Windy, jaga sikap kamu di sini ada Wira. Mommy pasti menjawab, kenapa Win hanya ingin cium, dasar pelit satu bulan tidak dapat jatah." Wira menunjukkan wajah Mommy, Steven tertawa.
"kamu salah Wira, berarti yang mendapatkan hukuman Daddy bukan Mommy."
"Mommy Uncle, Wira belum selesai cerita yang tinggal sama Mommy dan Daddy Wira bukan Uncle." Wira menatap marah.
"Oke baiklah, maafkan Uncle. Lanjutkan." Erik masih setia menunggu cerita Wira.
"Mommy tidak bisa tidur tanpa Daddy, kalau Mommy ngambek Daddy tidur bersama Wira. Tengah malam Mommy masuk Wira dipindahkan ke kamar Mommy, terus Mommy tidur bersama Daddy di kamar Wira ...." Wira langsung terdiam, Windy datang menutup mulutnya yang bocor.
Suara tawa semua orang terdengar, Steven memeluk Wira sedangkan Windy bertolak pinggang menatap bapak sama anak.
"Windy memang putrinya Reva, dengan anaknya sendiri cemburuan." Jum menggelengkan kepalanya.
"Ayah juga cemburuan Bunda." Billa tertawa melihat Bundanya.
Kasih ternyata juga berada di lantai satu tertawa, anaknya dijaga oleh babysister. Ravi memeluk pundak Kasih.
"Kamu tidak bisa beristirahat karena berisik ya Sayang?"
"Tidak Aak, Kasih juga ingin tertawa bersama semua orang."
Windy langsung duduk melepaskan foto seorang wanita bersama Erik, Steven melihat sekilas, meminta Wira bermain di luar bersama babysister.
Steven menunjukkan perbedaan dua foto Erik, Billa menatap tajam. Syukurnya dia belum sempat terpancing, jika tidak pasti bertengkar.
***
AUTHOR AKAN MENCERITAKAN KISAH ERIK BILLA SEDIKIT YA, JANGAN TANYA WILDAN VIRA, BAKAL UP DI AWAL BULAN DEPAN.
BACA NOVEL WINDY STEVEN DI MENGEJAR CINTA OM BULE, SATU LAPAK DENGAN MENGEJAR CINTA OM DUREN.
__ADS_1