
Kebahagiaan terbesar seorang ibu bisa melihat buah hatinya tertawa bahagia, Viana melangkahkan kakinya dengan berat karena si kecil Ravi sudah bergelantungan dikakinya menyambut kedatangan Viana. Ravi tertawa bahagia sambil memeluk kuat kaki Viana sambil kepalanya di angkat melihat wajah Mommy nya.
"Mommy! Ravi sebentar lagi ulang tahun, boleh Ravi minta sesuatu."
"Apapun yang Ravi inginkan akan Mommy belikan, tapi dalam hal wajar tidak boleh berlebihan. Paham!"
"Siap Mom," Ravi memberikan hormat kepada Viana dan langsung duduk dipangkuan Vi.
"Ravi mau apa sayang?" Viana mencium wajah putra semata wayang.
"Ravi mau ketemu Daddy!" Mata Vi dan Ravi bertemu, terpancar wajah kecewa juga sedih di mata Vi.
"Ravi tidak butuh apapun Mom, Ravi hanya butuh Mommy dan Daddy." Wajah tampan Ravi terlihat sendu.
"Ravi sayang! dari awal Mommy sudah katakan, kita tidak akan pernah bertemu Daddy, Ravi harus menerima kenyataan ini, Ravi hanya punya Mommy, dan juga ada uncle Bisma.
"Tidak mau! Ravi mau Daddy." Mata Ravi sudah berkaca-kaca, sifat keras kepala Viana turun ke Ravi.
"Baiklah, Mommy akan pertemuan Ravi dengan Daddy, Ravi juga bisa tinggal dengan Daddy! tapi Ravi kehilangan Mommy." Suara Viana langsung tinggi.
Ravi yang awalnya bahagia dan tersenyum diizinkan bertemu Daddy tapi langsung berubah. Dia tidak bisa kehilangan Mommy nya, wanita pertama yang dia lihat, wanita pertama yang memeluk dan menciumnya.
"Ravi tidak mau ketemu Daddy, Ravi hanya punya Mommy." Ravi menjawab dan langsung turun dari tempat duduknya, melewati Bisma yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Viana juga diam, dia tidak menangis tapi di hatinya yang paling dalam sudah menjerit.
"Vi, kamu sudah keterlaluan! Ravi masih kecil, kamu tidak perlu sekeras ini."
"Mau bagaimana lagi, ini kenyataan Bisma. Aku tidak akan membiarkan mereka bertemu, biarkan ini menjadi dunia aku dan Ravi, kami tidak boleh merusak kebahagiaan Rama."
"Vi, Ravi butuh kamu dan Rama, Ravi hampir berusia 3tahun, dia mulai mengerti dan pintar, jangan ego Vi."
"Jangan ikut campur, jika kamu masih ingin disini." Viana melangkah pergi meninggalkan Bisma.
"Kau keras kepala Viana, cepat atau lambat Ravi akan menemukan Rama,"
Hari semakin larut, Viana belum bisa memejamkan matanya pikirannya masih dengan permintaan Ravi yang tidak mungkin dia kabulkan.
__ADS_1
"Maafkan aku Rama Ravi , aku memisahkan kalian berdua, aku memang egois tapi aku melakukan ini demi kebaikan kalian. Aku tidak siap kehilangan kalian, Aku mohon maafkanlah Mommy."
Pintu kamar Ravi terbuka, Viana masuk dan tidur disebelah putranya sambil memeluk Ravi, air mata Viana mengalir, Ravi terbangun merasakan pipinya basah tapi tetap menutup matanya.
Paginya Ravi bangun sudah melihat kue ultah kesukaannya.
"Cake, wowwww... cake."
"Happy birthday putraku, terimakasih sudah hadir dalam hidup Mommy, Jadilah anak yang Sholeh, baik, jadi kebanggaan Mommy. Mommy akan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan kamu." Viana mencium kening Ravi.
"Mommy! mau cake coklat vanila mint,"
"Ini cake nya atas coklat dalamnya vanilla mint."
Viana meniup lilin bersama Ravi, terdengar tawa riang dari si kecil yang belepotan memakan kue coklat bercampur ice cream.
"Ravi mau pesta?"
"Tidak mau Mommy, Ravi sudah besar malu Mom."
Viana keluar kamar Ravi, kembali ke kamarnya Karena ada panggilan pekerjaan.
"Ravi mengapa tidak bahagia, apa mau Ravi nanti uncle kabulkan "
"Ravi ingin meniup lilin bersama Mommy dan Daddy, Ravi ingin seperti teman Ravi kemarin tiup lilin bersama ayah ibunya, tapi Ravi tidak bisa. Kalau bilang ke Mommy pasti marah terus Mommy sedih, Ravi tidak mau." Air mata Ravi mengalir, dia berusaha menghapus air matanya yang terus keluar.
"Aduhh..., mengapa air keluar terus dari mata?" Ravi menutup matanya dengan kedua tangannya.
Bisma membuka tangan Ravi dan menghapus air mata si kecil dengan tersenyum.
"Ravi uncle janji, akan membantu Ravi bertemu Daddy, tapi kita rahasiakan dari Mommy, Ravi bisa meniup lilin bersama Daddy dan Mommy. Tapi Ravi harus sabar, akan ada saatnya untuk sekarang belajarlah dengan giat, biar nanti saat bertemu Daddy Ravi sudah kuat dan jadi kebanggaan Daddy."
"Benar ya uncel! Ravi tertawa langsung memeluk Bisma, air mata Bisma keluar. Teringat saat mereka pergi dan stres nya Viana mengetahui kehamilannya tapi dia bertahan dan kuat demi buah hatinya.
***
Rama baru kembali dari luar negeri, saat melangkah masuk rumah dia melihat Ririn yang sedang melihat-lihat foto di dinding, Rama mengikuti pandangan Ririn yang melihat foto pernikahan Rama dan Viana. Wajah Ririn yang sangat teduh memberikan kenyamanan bagi Rama, Ririn tidak bertanya masa lalu Rama tapi dia tetap setia di sisi Rama.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin tahu, Siapa wanita difoto ini."
"Tidak, Karena dia masalalu kamu. Aku ingin jadi masa depan kamu, aku akan menunggu sampai kamu bisa melihatku dan menerima diriku, karena aku percaya jodoh di tangan Allah."
Rama hanya tersenyum melihat Ririn yang sangat dewasa dan juga sangat baik.
Ririn sudah sering datang ke rumah Rama bukan hanya menemui Rama tapi juga Oma Irma.
"Oma...."
"Ririn, sini sayang."
"Oma lihat apa,"
"Taman ini milik Vi, Rama tidak mengizinkan diubah, semuanya yang bersangkutan dengan Vi sama."
"Sosok Vi pasti sangat istimewa dirumah ini, tidak heran Rama sangat mencintainya."
"Semua orang dirumah ini menantinya kembali, rumah ini sepi tidak ada lagi tawa dia, canda dia, semuanya merindukannya, tidak mudah kamu bisa menggantikannya Ririn."
"Ririn mengerti Oma, tapi Ririn tidak akan menyerah, karena Ririn mencintai Rama Karena Allah."
Oma tersenyum melihat semangat Ririn, yang tidak memaksa menggantikan sosok Vi.
"Oma, jika Ririn boleh bertanya, tapi tidak perlu dijawab jika menyinggung Oma."
"Kamu ingin tahu mengapa Vi pergi, semua terjadi karena Oma, Oma menyudutkan Vi tanpa mendengarkan penjelasan, tanpa ada bukti. Akhirnya akulah yang menghancurkan kebahagiaan cucuku."
"Vi pasti melakukan ini demi kebaikan semuanya Oma,"
"Tidak Ririn, luka Vi dan Rama Karena Oma, Vi tidak mungkin pergi jika Oma tidak mengatakannya seorang pembunuh, jika Oma tidak bilang kehadiran Vi akan menyebabkan kehancuran." Air mata Oma mengalir keluar mengigat kejadian yang merenggut kebahagian Rama.
Selesai bicara dengan Oma, Ririn kembali ke ruang tamu dan melihat foto Viana yang sangat cantik, entah mengapa wajah Vi tidak asing baginya.
"Vi, izinkan aku untuk mengantikan kamu mendampingi Rama."
"Mimpi! maaf ya mba, Kak Vi pasti kembali dia nyonya dirumah ini untuk selamanya." Ucap Jum.
__ADS_1
Ririn hanya membalas Jum dengan tersenyum, dia sangat kagum dengan sosok Vi yang menjadikan semua orang disini seperti Keluarganya.