
Di ruang tamu semua yang wanita sudah melarikan diri masih sisa Viana, Oma Irma, Oma Flo, dan mommy Vi.
Viana masih menunduk wajahnya mengarah ke badan Rama dan memelintir baju Rama membuat Rama mengulum senyum, melihat tingkah lucu Vi.
"Pergilah ke kamar lantai atas," bisik Rama.
Viana langsung berlari menaiki tangga masuk ke kamarnya mengecek matanya.
Semuanya tertawa melihat kelucuan rumah karena kehadiran Ravi.
Reva mengangkat wajahnya didepan kaca dan melotot melihat matanya dan langsung menatap kesal.
"Aisshhh... kita ditipu anak Rama, itu bocah pengen ditelan."
"Bukannya yang bodoh kita," ucap Septi tertawa.
"Iya Jum nyesel memakai eyliner sama maskara."
"Eyliner gue limited edition yang hanya digunakan oleh 5 orang, bagaimana gue bisa meragukan kosmetik yang produk gue sendiri? bodohnya Lo Reva di buat candaan oleh bocah." Semuanya tertawa ngakak melihat Reva mengomel.
Viana langsung masuk kamarnya dan melihat wajahnya di kaca, lama Viana termenung dia baru sadar jika anaknya mengerjainya.
"Ravi! syukurnya mommy sangat menyayangi kamu, jika tidak sudah mommy kunyah kamu, mulutnya yang bicara seperti tidak punya dosa." Viana geram melihat tingkah putranya.
Di ruang tamu para pria masih tertawa ngakak memegang perut, yang awalnya nangis sekarang sudah jadi seperti tempat sirkus heboh.
"Daddy mengapa sekarang semuanya tertawa," garuk-garuk kepala sok polos dan tidak berdosa.
"Tidak sayang, mereka semua tertawa karena kamu lucu."
Ravi langsung tersenyum bahagia ikut tepuk tangan dan bersorak gembira, turun dari gendongan Rama menghampiri Ivan yang sudah guling-guling, dia ikut guling-guling tertawa, membuat semuanya menjadi semakin ngakak, melihat orang ketawa ngakak Ravi juga ikut ngakak, karena lelah Ravi langsung menemui Rama.
"Daddy kenapa uncle itu tertawa seperti orang gila, Ravi capek...."
Ivan yang ditunjuk langsung berhenti dilanjut tawa oleh Romi dan Satya, yang memukuli Ivan, Bima dan Bisma yang disana juga tertawa melihat kekacauan yang dibuat Ravi.
Bisma menundukkan wajahnya dulu dia sangat takut Ravi menjadi sosok yang anti sosial dengan segala cara Bisma membangkitkan canda dan tawa agar Ravi selalu bahagia, ini pertama kalinya Ravi paling bahagia.
Bima merangkul pundak Bisma membuat Bisma menggakat kepalanya dan menepis tangan Bima.
"Ravi ayo gendong kakek,"
"Grandpa, Ravi punya grandpa."
"Iya sayang, ini grandpa dan ini grandma." mommy Vi juga mendekat mencium pipi Ravi.
"Halmeoni, yeeeeee Ravi punya banyak keluarga ya grandpa, sekarang ada daddy, Oma, grandpa, halmeoni, uncle Bisma, terus ada satu lagi grandpa haduhhh Ravi lupa siapa ya, kembaran uncle, aduiii siapa." gaya Ravi sedang berpikir.
__ADS_1
"Uncle Bima,"
"Iya uncle Bima wajahnya sama, Ravi binggung uncle Bima mana Bisma mana Ravi tidak tahu, tapi grandpa kalau uncle Bima dia mengelus kepala Ravi, beda dengan uncle Bisma suka menjentikkan jarinya di dijilat Ravi seperti ini, ehhhhh mengelus grandpa saja, kata mommy kalau sama yang lebih tua tidak boleh menjentikkan jari namanya tidak sopan benar grandpa."
"Bener sayang, cucu grandpa pintar sekali,"
"Iya, soalnya kata Uncle! Ravi harus pintar karena daddy Ravi sangat cerdas, jika Ravi tidak cerdas nanti daddy tidak percaya kalau Ravi anak daddy."
"Kamu mirip Viana sangat pintar bicara, kami beruntung memiliki kamu Ravi."
Suara dari belakang berdatangan, Reva melangkah mencari Ravi dengan wajah manyun.
"Kamu bocil, maskara eyliner yang tante, ehh salah! kakak pakai ini limited edition, kamu tahu artinya barang kosmetik yang kakak gunakan semuanya barang terbatas."
"Aunty, lipstik aunty belepotan karena Iler."
Reva langsung melotot dan menutup mulutnya langsung berlari lagi kebelakang, Ravi melihat Reva geleng-geleng kepala.
"Daddy perempuan sangat aneh, tadi Ravi hanya menegur mommy tapi semuanya tersinggung, soalnya Ravi pernah lihat mommy bangun tidur matanya hitam, menakutkan sekali jadi Ravi pikir jika terkena air pasti luntur, mana Ravi tahu limited edition."
"Iya nak kamu tidak salah aunty yang aneh,"
"Perempuan selalu seperti itu Daddy, kita jujur tidak percaya tapi kita bohongin dia percaya. Dasar aneh!"
Rama tertawa melihat Ravi mengomel memang mirip Viana, tidak pernah mau kalah sok dewasa padahal polos.
***
Rama membuka pintu dan masuk ke dalam melihat Viana menangis melihat cake yang sudah 5 tahun masih disana. Kue juga sudah jamuran dan apek, bentuk dan ukiran sudah hancur.
"Hubby cake nya," Viana menatap Rama dengan derai airmata.
"Lama Vi aku tidak mendengar kamu memanggilku hubby, sakit Viana bertahan tanpa kamu. Aku tidak punya rumah untuk pulang, aku juga tidak punya tujuan. Aku hanya punya harapan kamu untuk kembali."
"Bagaimana kamu bisa bertahan mengandung, melahirkan, bahkan membesarkan anak sendiri. Aku juga hancur apalagi kamu."
"Aku tidak tahu jika aku sedang mengandung, aku pergi membawa luka hubby. Aku tidak perduli hidup dan matiku, tapi saat tahu ada anak kita aku ingin hidup, setidaknya aku memiliki satu harta yang paling berharga."
"Kenapa tidak datang padaku, aku tidak peduli kamu pembunuh, gila, psikopat yang aku tahu kita saling mencintai, aku sangat mencintai kamu Viana."
"Maaf, maafkan aku hubby, Viana egois Vi hanya takut kehilangan hubby seperti Viana kehilangan kak Andri."
"Aku yang minta maaf karena gagal menjaga kamu, gagal melindungi kamu, gagal menjaga rumah tangga kita, aku gagal menjadi laki-laki yang bisa kamu andalkan."
Tangisan Viana dan Rama buyar karena suara tangis si kecil yang dari tadi memandangi mereka, Ravi menangis melihat daddy dan mommy nya bersedih.
Ravi melangkah keluar menuruni tangga dengan cepat, Viana langsung lari keluar mengejar Ravi diikuti Rama yang juga panik karena belum mengerti sifat Ravi.
__ADS_1
"Ravi berhenti!" teriakan Viana membuat langkah Ravi berhenti dan yang lainnya terkejut.
Ravi melihat kearah Viana dengan air matanya yang masih mengalir.
"Daddy dan mommy tidak menginginkan Ravi ya,"
Rama kaget mendengar ucapan Ravi, Rama mengerti banyak tanda tanya di kepala Ravi mengapa mereka terpisah, Ravi korban dari kegagalan Rama dan Viana.
Langkah Rama santai langsung menggendong Ravi tapi dia langsung membuang wajahnya.
"Ravi lihat daddy, dengarkan daddy. kamu harta yang paling berharga, kamu juga tali yang mempererat mommy dan daddy, kamu pelengkap hidup kami, jika kebahagiaan kamu bisa ditukar dengan nyawa, daddy siap memberikannya."
"Tapi Ravi tidak mau nyawa daddy, nanti Ravi tidak punya daddy lagi."
"Terimakasih Ravi sudah jagain mommy mengantikan posisi daddy." Rama menarik
Viana mendekat dan memeluknya juga Ravi.
"Jadi mommy dan daddy menginginkan Ravi, mengapa Ravi mudah sekali salah paham, ini sifat mommy turun ke Ravi."
Rama tersenyum Viana melotot sedangkan Ravi hanya tertawa.
"Kalau yang jelek turunan mommy," kesal Viana.
***
Ravi Prasetya
visual: Coober lunde
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA..
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE...