
Keributan terdengar di ruang tamu, Ravi yang ingin berangkat bekerja cepat berlari melihat ke bawah, saat ingin menuruni tangga Ravi melihat Daddy juga berlari.
Buuukkk....
"Ravi mengapa kamu tidak menghindar?" Rama melihat wajah Ravi yang merah karena dilempar dengan sapu.
"Daddy yang menutupi jalan, Ravi mana tahu ada sapu terbang." Ravi mengusap jidatnya yang memerah.
"Daddy! urusin anak perempuan daddy, Mommy sudah hampir gila." Viana teriak kuat membuat Rama mengelus dadanya.
"Vira, apa lagi yang kamu lakukan?" Rama menggandeng tangan Putrinya yang bibirnya monyong duduk di sofa.
"Vira mau pindah sekolah!"
"Alasannya!" Rama mengelus rambut putri kesayangannya.
"Winda di skors dari sekolah, Maminya mau memindahkan Winda, jadi Vira Billa dan Bella juga harus pindah."
Rama hanya bisa mengelus dadanya, dulu dia menolak keinginan Vira yang ingin menunda untuk sekolah demi bisa satu kelas dengan gengnya sampai sakit. Dan sekarang minta pindah sekolah, setiap hari berantem, mematahkan tangan orang, menghancurkan mobil orang, ikut tawuran, mencuri di supermarket setiap satu minggu sekali Rama harus melakukan ganti rugi.
Suara teriakan terdengar di depan pintu yang berlari berhamburan masuk ke dalam, Viana memijit kepalanya menyambut ciuman tiga wanita rempong.
"Kalian tidak menggunakan seragam, tidak sekolah?" Ravi keheranan melihat tiga kurcaci yang masih menggunakan baju tidur.
"Winda di skors, karena Winda membuat kepala orang bocor." Winda nyengir kuda, sedangkan Ravi hanya mengaruk kepala.
"Terus kalian berdua," Viana menatap dua B.
"Winda tidak sekolah berarti kita juga tidak." Bil tersenyum manis.
"Bella ikut mereka saja aunty, nanti kalau menolak Bel dicoret dari kartu keluarga."
Viana menggeleng, Vira yang tadi pergi masuk ke kamarnya sudah mengganti dengan baju tidur. Viana rasanya ingin sekali membanting putri bungsunya.
"Jadi pindah sekolah Win, kita juga siap pindah." Vira tersenyum sambil merangkul pundak Winda.
"Rencana Mami! Winda diminta masuk pesantren, Winda menoleh bisa rontok ini rambut. Cukup mendengar ceramah Papi, jangan ditambah lagi."
"Kalau pindah pesantren Bil tidak mau ikut, bukan hanya rambu yang rontok, tapi otak Bil juga copot."
"Emang kamu ada otak, setiap hari ujian pasti remedial. Bella yang pintar bisa jadi bodoh karena mempunyai adik model gini." Vira tertawa nyaring.
"Daddy setuju, Vira masuk pesantren." Rama tersenyum dan ini keputusan yang paling tepat, untuk para putri.
__ADS_1
"Vira sekolah lama saja Daddy, tidak mau pindah." Vira lari masuk ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolah.
"Uncle aunty, kita berdua juga harus pulang dan pergi sekolah, permisi assalamualaikum." Bella dan Billa berlari keluar, meninggalkan Winda yang cemberut.
"Bilangnya setia kawan tapi nyatanya bohong," Winda menghentakkan kakinya.
"Winda! Papi kamu orangnya kalem banget tapi kamu mirip seperti Hulk, bocorin kepala orang, mematahkan tangan, nabrak tukang sayur." Viana menggeleng kepalanya, putrinya dan Winda sama saja, mirip Hulk yang suka menghancurkan apapun disekitarnya.
"Bukan Winda yang mematahkan jari tapi Vira, kemarin juga kalau Vira tidak jatuh mana mungkin Winda menendang sampai masuk selokan dan kepalanya bocor."
Viana dan Rama hanya bisa istighfar setiap bicara dengan Winda dan Vira, lelah berdebat Viana masuk kamar dan berbaring memijat kepalanya.
***
Ravi baru selesai meeting bersama Cinta, senyum Ravi terus mempesona melihat kecantikan Cinta yang tertutup hijab.
"Cinta, nanti makan siang bareng ya. Sekalian bahas soal rapat besok."
"Baik pak," Cinta tersenyum, dia mengakui Ravi yang tampan tapi status Ravi sangat berbeda jauh dengan keluarganya.
Sampai di dalam ruangannya, Ravi terjangkit kaget melihat Vira yang duduk di kursi kerjanya.
"Kamu bolos lagi, sampai kapan kamu terus seperti ini. Kamu bukan anak kecil lagi Vira, berhentilah membuat masalah." Ravi menurunkan kaki Vira yang berada di meja.
Ravi melihat ponselnya, dan sebuah amplop. Ravi membuka amplop ada uang senilai 10juta.
"Kakak ada hubungan apa dengan kak Kasih?" Vira balik bertanya dengan menatap tajam Ravi.
"Siapa kasih?" Ravi binggung dengan pertanyaan Vira.
"Uang biaya operasi 10juta, sosok lima ribu. Jangan lupa kembaliannya kata kak Kasih." Vira melangkah keluar meninggalkan Ravi yang masih kebinggungan.
Ravi diam memainkan ponselnya, Ravi langsung tersenyum mengingat wajah supir taksi yang membuatnya mabuk mobil.
"Jadi namanya Kasih, nama yang cantik tapi orangnya tidak mencerminkan dirinya yang cantik."
Selesai makan siang dengan canda dan tawa, Cinta dan Ravi ingin kembali ke kantor tapi di perjalanan mereka kehujanan, Ravi langsung menghentikan motornya di emperan toko untuk berteduh.
"Maaf ya Cin, aku tidak suka pakai mobil tapi sekarang kamu kehujanan." Ravi membuka jaketnya dan menutupi tubuh Cinta, mata mereka bertemu Ravi hanya tersenyum.
"Santai saja pak, tapi sepertinya kita akan terlambat ke kantor." Cinta melihat jam tangannya.
"Tenang saja kita berdua tidak akan di pecat." Ravi tersenyum.
__ADS_1
Cinta tertawa melihat kelucuan Ravi, tentu mereka tidak akan di pecat, karena bos nya yang telat. Lama mereka berdua berteduh sampai hujan berhenti.
"Akhirnya kita bisa pulang, aku antar kamu pulang ya. Ini sudah jam pulang kerja." Ravi mengambil jaket dan memasangkan helm.
Motor melaju masuk pekarangan rumah yang sederhana, Cinta meminta Ravi untuk mampir dan menyapa orang tuanya, dengan senang hati Ravi mengikuti Cinta. Ravi kaget, supir taksi yang pernah menolongnya ternyata bapak cinta.
"Bapak masih ingat Ravi, anak kecil umur lima tahun yang membayar dengan uang dolar."
"Kamu anak kecil itu, putranya pak Rama."
Ravi menggagukan kepalanya, bapak dan ibu juga mengucapkan terimakasih atas bantuan Ravi. Mereka tidak menyangka jika Ravi dan Cinta saling mengenal.
Selesai bicara Ravi pamit pulang, satu orang yang tidak Ravi lihat, wanita gila. Ravi melangkah mendekati motornya dan melihat Kasih yang duduk di bawah pohon rindang di dekat motornya.
"Ternyata kamu adiknya Cinta, dunia cukup sempit." Ravi menaiki motornya.
"Kembaliannya!" Kasih menadahkan tangannya.
"Aku tidak punya uang lima ribu, lagian aku ikhlas menolong bapak kamu, dulu dia juga pernah menolong, jadi aku membayar hutang lama."
"Terserah, yang penting aku tidak punya hutang, aku tidak perduli urusan kamu dan Cinta, juga dengan bapak. Cepat kembaliannya." Kasih memaksa Ravi.
Dengan terpaksa Ravi mengeluarkan uang lima puluh ribu, dan Kasih mengembalikan empat puluh lima ribu. Ravi tidak pernah berpikir akan berurusan dengan wanita aneh seperti Kasih, semua wanita mengagumi dirinya tapi di mata Kasih Ravi tidak melihat rasa kagum.
"Oke masalah kita selesai, playboy cap kapang." Kasih melangkah pergi, Ravi tidak terima dengan julukan Kasih.
Ravi turun dari motor menarik lengan Kasih menghadapnya. Tatapan mata mereka bertemu.
"Aku akui memang playboy tapi aku playboy terhormat." Ravi menantang mata Kasih.
"Terhormat, lelaki seperti kamu hanya benalu. Merugikan!" Kasih tersenyum sinis.
Ravi semakin marah, menarik tubuh Kasih sampai tidak ada jarak dengan tubuhnya. Ravi menahan tekuk leher Kasih yang menjengkelkan, hidung mereka sudah menyatu, bahkan nafas sudah terdengar, banyak mata yang memperhatikan mereka.
"Kamu Ravi putranya pak Rama, daripada kalian pacaran dan ciuman di tempat umum, mendingan kalian menikah."
Suara teguran tidak mereka berdua dengarkan, mereka berdua berperang dengan tatapan mata.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT
***