SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MELEPASKAN


__ADS_3

Vira melihat kepergian manusia es dari balkon atas, Vira melambaikan tangannya saat Widlan melihatnya. Senyuman Vira terlihat, Widlan tidak membalas langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Vir, kamu menyerah mengejar cinta Wildan." Bella berdiri di samping Vira.


"Iya, aku tidak ingin fokus untuk mengejar Wildan lagi, sudah saatnya Vira melihat ke depan untuk bahagia." Vira tersenyum, melepaskan cintanya untuk pergi.


"Apa yang Wildan katakan? kamu selalu positif thinking, tidak biasanya menyerah."


"Vira tidak menyerah, hanya saja membuka mata sudah waktunya Vira mengunakan waktu untuk dirinya sendiri bukan mengejar cinta." Vira melangkah masuk meninggalkan Bella.


Winda mendekati Bella yang masih berpikir, merasa sedih melihat Vira akhirnya menyerah.


"Win apa yang Wildan katakan bisa membuat Vira menyerah."


Winda menghela nafasnya, Wildan mengatakan jika dia belum memiliki tujuan untuk jatuh cinta, Wildan meminta Vira menemukan cinta lain, Wildan tidak bisa bersama Vira, karena mereka tidak mungkin bersama, selain berbedanya karakter juga bedanya cara berpikir.


Vira mengerti Wildan sangat tegas dengan pendirinya, keputusan Vira untuk menikmati hidupnya daripada harus mengejar sesuatu yang tidak pasti.


"Kita bisa apa?"


"Semuanya sudah waktunya kembali ke awal, tujuan kita bukan soal cinta, tapi ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menemukan jati diri, kepuasan juga."


"Bella tidak pernah berubah, akan tetap mencintai kak Tian."


"Kamu enak Bel, kak Tian juga mencintai kamu. Berbeda dengan Winda tidak ada yang suka, juga tidak suka siapa pun."


"Abang Yusuf, dia ganteng win, putih, tinggi, senyumannya juga menenangkan. Suara merdu dia subhanallah indahnya." Bella merangkul Winda yang menatap sinis.


Di kamar Vira sudah mengejek Billa yang akan mendengarkan keputusan keluarga, senyuman bahagia Billa terlihat.


***


Di ruang tamu seluruh keluarga kumpul Ibu Erik juga ikut bergabung, Billa duduk di samping Bisma memegang pergelangan tangan Bisma.


Wajah Tian masih belum santai, Ravi meminta Kasih jangan berbicara apapun. Erik jantungnya berdegup, menggenggam tangan Septi.

__ADS_1


"Bisma, kita sudah kenal lama, kamu tahu perjalanan hidup aku, begitupun sebaliknya. Aku bahagia sampai detik ini kita masih bersahabat, hingga kita setua ini."


"Kamu yang tua, aku masih muda, kuat dan tampan."


"Emmhhh terserah kamu, sudah tua tidak tahu diri."


"Kalian berdua ingin bertarung ya, ingat umur sudah tua." Septi menatap Bisma.


"Sayang mata kamu jangan melotot, nanti kalau tidak balik lagi jadinya serem." Ammar tertawa melihat Septi.


Tawa terdengar, menghilang ketegangan juga rasa canggung. Kasih menguap melihat semua orang.


"Aak, boleh minta es krim." Kasih memelas.


"Rav, mendingan bawa istri kamu pergi. Aak es krim, boleh ya Aak, hanya satu Aak. Bosan mendengarnya, 30 menit sekali, Aak boleh ya." Erik mengejek Kasih, wajah kesal Kasih melihat Erik dengan tatapan marah.


Ravi memberikan Kasih es krim, agar mulutnya diam. Ravi ingin mendengarkan keputusan keluarga. Kasih melangkah pergi duduk bersama Vira, Bella dan Billa di tangga menjauhi orang tua.


Kasih duduk manis, memakan es krimnya. Vira tersenyum, sangat yakin keponakan perempuan. Vira minta di suap langsung Kasih menyuapinya, Bella dan Winda juga.


"Maaf aku menyela, boleh memberikan pendapat sebagai Papi dari pihak perempuan." Bima menatap Erik, Ammar juga keluarga Erik lainnya.


"Billa, kamu sudah siap menikah, sudah siap menjadi seorang istri, seorang Ibu. Papi tahu kamu sangat pintar, dewasa, juga sangat lembut. Jika kamu memutuskan menikah karena takut kehilangan, batalkan niat kamu. Berikan Papi alasan dari hati kamu." Bima menatap Billa yang menatapnya balik.


"Billa yakin Papi, Billa siap berganti status. Awalnya Billa berpikir takut kehilangan, tapi Wildan mengatakan ini sebelum pergi meminta Billa berpikir lagi untuk maju atau mundur. Kata Wildan, Billa akan kehilangan masa muda, waktu bermain, Billa akan merasakan lelahnya mengurus rumah, bosannya menjadi istri."


"Papi setuju dengan ucapan Widlan."


"Billa tidak setuju Papi, jika menikah sebuah beban, tidak ada Billa di dunia ini. Jika Billa takut memulai, sampai kapanpun kita tidak maju, terkadang rasa takut harus kita rasakan, agar kita tahu akhirnya. Pernikahan menggabungkan dua orang, ada yang harus mengalah, bukan saling mengalahkan." Billa menatap Jum yang meneteskan air matanya.


Jum bersyukur jika putrinya mengambil sisi baik dari hubungannya dengan Bisma, melihat pertengkaran kecil, melihat Bisma yang suka mengalah.


"Erik bukan Ayah Billa, dia bisa saja memukul kamu saat marah, dia bisa berpaling saat kamu tidak cantik lagi. Dia bukan Ayah."


"Billa tahu Ayah, sosok Ayah hanya satu di dunia ini. Billa tidak meminta lelaki lebih baik dari Ayah, Ayah lelaki terbaik." Billa memeluk Bisma.

__ADS_1


Erik tersenyum, awalnya dia takut bukan karena menyakiti Billa, tapi ingin Billa menikmati masa mudanya, tidak pernah Erik bayangkan Billa berpikir jauh. Rumah tangga yang Erik impikan, hidup sederhana, selalu penuh canda dan tawa, membesarkan anak-anak. Mungkin ada masalah, tapi untuk membuat saling mencintai bukan meninggalkan.


"Erik tidak bisa menjadi seperti Ayah, tapi Erik akan berusaha membahagiakan Billa, membimbing Billa. Erik akan terus belajar untuk mengimbanginya, juga memberikan kebebasan untuk Billa mengejar mimpinya."


"Mimpi Billa menjadi seorang Ibu kak Erik." Winda menimpali dari tangga sambil nyemil.


"Ayah, Erik tahu Billa sangat penting untuk Ayah, dia putri bungsu yang sangat Ayah, Bunda, kak Tian sayangi. Rasa sayang kalian jauh lebih besar dari kasih sayang Erik, izinkan Erik mengantikan peran Ayah untuk menjaga Billa."


"Rik, Ayah sayang kamu, seperti anak Ayah sendiri, kamu pasti tahu, tidak ada bedanya antara kamu, Tian, Ravi, Wildan. Sedikit saja kamu menyakiti putri Ayah, tidak ada ampun untuk kamu, jangan kamu rusak kepercayaan Ayah."


"Erik berjanji Ayah, tidak akan mengangkat tangan Erik untuk menyakitinya."


"Sedikit saja kamu menyakiti adikku, bukan hanya rambut kamu yang rontok, tapi otak kamu juga aku keluarkan."


"Serem banget, kemarin Lo mencium Bella aku diam saja, saat aku mencium Billa kamu marah."


Semua mata melihat Tian, Bella langsung berlari mendekat untuk melihat Tian.


"kapan kak? di mana? kenapa Bella tidak merasakan?" Bella menyentuh bibirnya.


Tian menghela nafas, Erik langsung tertawa, Ravi juga tertawa lucu melihat Tian yang anti perempuan, status saja seorang playboy, tapi takut wanita. Harta punya, wajah tampan tapi tidak tersentuh.


"Kapan giliran kamu Tian, Ravi sudah siap menjadi Ayah, Erik siap menjadi suami, kamu kapan?" Ammar menatap Tian.


"Emmhhh, 2 tahun lagi. Saat waktunya tepat." Tian langsung melangkah pergi, Bella menatap sinis.


"Bella tidak sampai satu tahun lagi sudah lulus."


Tian berlari membawa kado yang dia temukan di depan rumah, kado untuk Billa dan keluarga besar dari Wildan.


Jantung Billa langsung berdegup kencang, tidak mungkin Wildan membongkar rahasianya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2