
Suara teriakan Bella dan Vira sudah tidak terdengar lagi, Tian menghela napasnya langsung memeluk Bella kembali.
"Bel, jangan tidur dulu sayang." Tian mengusap wajah Bella yang sudah menutup matanya tertidur.
Tangan Tian menggelitik perut Bella yang tidak tertutup, suara tawa akhirnya terdengar langsung menghentikan.
"Ampun kak geli, Bella tidak kuat." Suara teriakan Bella berubah menjadi suara yang sangat menggoda, Tian sudah ada di atas Bella.
Tangan Bel menutup mulutnya, meremas rambut Tian yang mulutnya memainkan dada. Remasan Tian juga terasa menyakitkan, rasa yang tidak bisa keduanya ucapkan dengan kata-kata.
Sekuat tenaga Bella menahan suaranya tetap keluar, mulutnya tertutup saat bibir Tian menutupnya tidak memberikan kesempatan Bella untuk melepaskan diri.
"Bella kak Tian tidak kuat lagi, sekarang ya?" Tian tersenyum mengecup kening, menyatukan hidung mereka.
Bella bisa mendengar ucapan di telinganya, tiupan napas juga terasa menghangatkan. Sentuhan lembut di lehernya juga hangat.
Kedua tangan Bella meremas kuat seprai, kepalanya terangkat ke atas merasakan ada yang menerobos masuk ke bagian bawahnya.
Rasa sakit perih terasa, suara rintihan terdengar. Bella merasakan semakin dalam semakin sakit.
"Kak perih." Bella memejamkan matanya, pelukan erat dari tubuh kekar suaminya terasa menenangkan.
"Maafkan kak Tian jika menyakiti Bella, aku sangat mencintai kamu Bel, tidak ingin kehilangan kamu lagi." Tian memejamkan matanya.
Kedua tangan Bella juga memeluk erat, mengusap punggung Tian yang tidak tertutup apapun.
Tubuh Bella diangkat didudukan di atas Tian, kedua mata bertemu saling mengecup sampai ciuman panjang.
Satu tangan Tian menahan tekuk belakang Bella, satu tangan lagi menggerakkan pinggulnya membuat Bella meringis minta dilepaskan.
Satu jam membuat Bella dan Tian mandi keringat, tubuh Bella terasa remuk sangat lelah. Tian memejamkan matanya memeluk Bella yang napasnya naik turun kelelahan.
"Kak Tian sejak kapan tidak menganggap aku adik lagi?" Bella mengangkat kepalanya, Tian tidak memiliki keraguan sama sekali untuk terus bercinta.
"Sajak tahu cinta, kak Tian tidak berani memeluk kamu lebih lama, tidak mengizinkan kamu mencium lagi secara berlebihan, takut dosa karena membayangkan adik sendiri. Melihat kamu semakin besar, rasanya semakin berat." Tian menarik Bella ke dalam pelukannya.
"Pantas saja, kak Tian memuaskan diri tidak ingin berhenti." Bella memukul dada Tian karena membuat tubuhnya sakit semua.
"Kak Tian normal Bella, lagian aku pria dewasa yang sudah membutuhkan kepuasan." Tian langsung tertawa.
__ADS_1
"Ihh, sejak kapan kak Tian bicara hal dewasa?" tangan Bella mulai mencubit Tian.
"Bagus jika kita membahasnya, agar diperut ini segera ada Tian junior. Aku hanya minta kepuasan dari kamu sebagai istri, sesekali." Suara Tian tertawa, membuat Bella tersenyum langsung memukul.
"Terima kasih Bella, sekarang tidurlah kamu lelah." Tian menepuk pelan pundak adik yang sekarang menjadi istrinya.
Masih teringat jelas saat Tian menatap wajah Bella, meskipun Bella dan Billa kembar, bahkan kembar identik sekali pandang Tian bisa membedakan keduanya.
Mata kecil Bella terlalu indah sehingga sangat melekat diingatkan Tian, waktu sangat cepat berlalu sekarang Bella kecil sudah besar.
Perlahan Tian juga mulai terlelap, malam yang indah juga sangat panjang untuk pergi pengantin baru yang saling mencintai.
***
Suara keributan di rumah Jum sudah terdengar, meskipun sudah diusir Vira dan Winda menumpang makan dari pagi.
Bisma tidak berhenti tertawa, Vira Winda memang jiplakan Viana Reva yang aneh. Jiwa kepo mereka sangat tinggi.
"Selamat makan Bunda, terimakasih sarapannya." Vira tersenyum menatap Jum yang menghela napasnya.
"Kenapa Bella belum bangun ya? tidak biasanya dia bangun kesiangan." Winda celingak-celinguk melihat ke arah depan.
Bisma hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendengarkan cerita Vira dan Winda yang ingin bersenang-senang sebelum menikah.
Bisma hanya tertawa saat Vira ingin memancing, tidak ada sejarahnya Viana pergi memancing.
Jika sampai pergi ke tempat pemancingan, pastinya membuat rusuh.
"Kalian pergi saja berdua, Bella mungkin sedang kelelahan. Jangan tanya kenapa dia lelah, nanti setelah kalian menikah akan tahu sendiri rasanya." Bisma menuangkan jus untuk dua anak nakal.
Vira menatap Winda, mereka setelah menikah akan membuat dunia hening Wildan dan Yusuf mulai hancur dan penuh kehebohan.
"Sudahlah kita pergi saja ingin pergi memancing." Winda langsung mencium tangan Jum dan Bisma langsung melangkah pergi bersama Vira.
Bisma menatap Jum yang memikirkan nasib Wildan jika menikah Vira yang kekanakan, sedangkan Wildan lebih muda. Masih mending Winda, karena menikah dengan pria dewasa.
"Sayang, Rama jauh lebih muda dari Wildan saat menikah. Alhamdulillah sekarang anak dua cucu dua, mereka bahagia juga sangat harmonis." Bisma merangkul Jum.
"Iya mas, Wildan jauh lebih dewasa dari Ravi. Semoga saja dia bisa mengubah Vira menjadi sosok ibu yang luar biasa." Jum tersenyum bahagia menyambut kabar baik penikahan keduanya.
__ADS_1
***
Tian terbangun langsung ke kamar mandi, mereka bangun kesiangan tidak menyadari apapun.
Selesai mandi Tian membangunkan Bella yang belum juga ingin bangkit, tubuh Bella rasanya sakit semua seperti dipukuli banyak orang.
"Sayang bangun, kita bangun kesiangan." Tian mencium kening Bella yang menarik selimut.
"Rasanya Bella sakit kak, seluruh tubuh kram." Bella menatap Tian yang tersenyum.
Perlahan Tian menggendong Bella ke kamar mandi, meletakkannya di dalam bathtub.
"Mandi air hangat biar segar." Tian menyalakan air.
Selesai mandi Bella tidak melihat Tian lagi, ternyata sudah keluar kamar bertemu dengan Vira dan Winda yang menunggu di depan pintu.
Tatapan Vira dan Winda tajam, melihat cara jalan Bella yang terlihat aneh. Bagian leher Bella juga banyak bekas merah.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Bella tersenyum langsung duduk.
"Bosan, kita bosan. Penikahan tiga bulan lagi, kami menikah tanpa cinta, lalu bagaimana nasib kami?" Winda menundukkan kepalanya.
"Winda, jalani saja. Pria baik dia yang akan terus bertahan, kita lahir bersama, jadi kita lahirkan juga anak di hari yang sama. Kak Windy sudah ada Wira, kak Ravi ada dua R kak Tama ada Bening dan calon baby, Billa dan Erik sudah mempunyai dua E. Sekarang waktunya kita bertiga membuat twin B, twin V dan kamu apa Winda?" Bella menggenggam tangan Vira dan Winda.
"Keluarga W milik Windy, keluarga R milik kak Ravi, keluarga E milik Kak Erik, keluarga B milik Bella, keluarga V milik Vira, jadi kamu apa Winda?" Vira menggoyangkan lengan Winda yang masih binggung.
"Nama Yusuf saja aku tidak tahu." Winda mengaruk kepalanya.
"Kak Yusuf namanya Armand, jadi kita beri inisial twins A. Nanti namanya Alexa dan Alexi panggilannya Lexa Lexi." Bella dan Vira setuju.
"Tidak mau, le le memangnya anak Winda lele." Wajah Winda terlihat kesal langsung melangkah pulang.
"Lele marah." Vira langsung pamit pulang mengejar Winda yang ngambek.
***
Author lupa upload visual, soalnya gak ada yang bahas visual padahal kisah Bella Tian sudah selesai.
Ditunggu visual Bastian dan Bella Bramasta.
__ADS_1