
Mobil Wildan melaju dengan santai berhenti di lampu merah melihat jalanan yang ramai orang pulang kerja.
Saat lampu berubah hijau barulah Wildan melaju untuk menemui Randu yang sudah menunggunya.
"Dewa, dari mana dia?" Wildan melihat Dewa keluar dari pusat perbelanjaan.
Panggilan dari Randu terdengar, Wildan langsung menjawab tetapi tidak menyimak apa yang Randu bicarakan.
Wildan membunyikan klakson agar Dewa menyingkir, mobil besar langsung mengarah ke Dewa mendengar bunyi klakson Dewa berhasil menghindar meskipun tubuhnya tetap terpental.
Wildan hanya bisa terdiam, belum sempat keluar mobil dari arah belakang langsung menabrak, sampai mobil terguling.
Kepala Wildan berdarah, tapi dia masih sadar melihat Diego tersenyum menatap langsung melaju dengan kecepatan tinggi menabrak mobil Wildan.
Tubuh Wildan langsung terpental, tergeletak di jalanan. Kecelakaan beruntun yang terjadi membuat banyak orang berlarian.
Wildan masih sempat mengeluarkan senjata dari balik bajunya, menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya.
Senjata diarahkan, Wildan langsung menebak membuat Diego langsung terduduk. Diego juga mengeluarkan senjata, Dewa yang masih sadar melihat dua orang saling mengarahkan senjatanya.
Dewa langsung berlari melindungi tubuh Wildan, suara tembakan terdengar menebus jantung Dewa yang langsung muntah darah.
Diego langsung dihampiri mobil, membawanya pergi sebelum kepolisian datang.
"Wildan, terima kasih sudah menyelamatkan aku, menyelamatkan Randu. Titip salam untuk Vira juga, terima kasih dia pernah meyelamatkan aku." Dewa menyentuh wajah Wildan yang berlumuran darah, matanya juga sudah terpejam.
Mata Dewa juga terpejam, langsung tersungkur di atas tubuh Wildan. Belum ada orang yang berani mendekat sebelum polisi dan ambulans datang.
Bunyi mobil polisi dan ambulans bersahutan, Wildan masih bisa mendengar, tapi kesulitan membuka matanya.
Senyuman Vira masih terbayang, ucapan Vira akan ada hari sial terngiang-giang. Air mata Vira yang menetes menolak untuk berpisah membuat air mata Wildan juga menetes.
"Aku mencintai kamu Vira, aku ingin hidup lebih lama bersama kamu. Aku ingin melihat anak-anak kita berlarian ke dalam pelukanku. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji untuk menemui kamu, maafkan aku yang terlambat mengatakan jika aku cinta kamu." Wildan tidak bisa mendengar apapun lagi kesadaran sudah hilang.
Darah mengalir di jalanan, tubuh Dewa dan Wildan langsung diangkat dilarikan ke rumah sakit.
...(Jujur aku pengen tertawa di sini, seadanya ini cerita fantastis mereka tukeran tubuh mungkin lucu kali ya. Wk wk wk, halunya diriku. Balik lagi ke topik.)...
Mobil langsung menuju rumah sakit terbesar, jalanan yang ramai kendaraan langsung menyingkir melihat mobil polisi dan ambulans kebut-kebutan membawa pasien darurat.
Di rumah sakit sudah heboh, Erik baru saja datang ke rumah sakit untuk mengecek pasiennya.
"Sore dok."
__ADS_1
"Dokter Billa ada di mana?"
"Di ruangannya dok, sebentar lagi pulang soalnya ada anak-anak."
Mobil ambulance tiba, Erik menoleh melihat pasien darurat langsung di bawa masuk ke dalam ruangan ICU.
Erik mengerutkan keningnya, langsung mengucek matanya melihat Wildan salah satu korban kecelakaan.
"Wildan." Erik langsung berlari melihat keadaan adiknya yang berlumuran darah.
"Bagaimana keadaan dia?"
Erik mendengarkan penjelasan, hanya menganggukkan kepalanya.
"Larikan dia ke ruangan operasi, minta tim aku segera bergerak." Erik langsung berlari ke ruangan untuk mengganti bajunya.
Billa kaget melihat Erik yang seharusnya menjemput mereka, tapi langsung mengganti baju operasi.
"Papa, katanya kita ingin pergi bermain." Em menatap Erik yang tersenyum.
"Maafkan Papa ya Em, kita tertimpa musibah, Papa masuk ruangan operasi dulu. Billa kabari keluarga jika Wildan kecelakaan, jangan membuat suasana panik." Erik mencium kening putrinya juga istrinya lalu mengusap kepala Elang.
"Papa semangat, El bantu doa." Elang menatap punggung Papanya yang berlalu pergi.
[Kak Bella di mana?] Billa menangis sesenggukan, sangat mengkhawatirkan keadaan Wildan.
[Kenapa Billa? kak Bel ada di rumah.]
[Kak, tolong kabarin keluarga kita jika Wildan kecelakaan. Sekarang sedang di ruangan operasi.] Billa menutupi mulutnya, El mengusap punggung Mamanya agar tenang.
[Innalilahi wa innailaihi rojiun, astaghfirullah Al azim.] Bella langsung mematikan panggilan melangkah menemui Bundanya yang sedang berbicara dengan Tiar.
"Bunda, kita ke rumah sakit sekarang."
"Kenapa Bel? perut kamu ada yang tidak nyaman." Jum menatap putrinya yang terlihat gelisah.
Jum langsung menyerahkan Tiar kepada Binar, langsung melangkah ke kamar untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
"Ada apa Bel? kamu baik-baik saja." Binar menggenggam tangan Bella.
"Iya kak, Wildan terkena musibah. Bella ke rumah Mami dulu." Bella langsung melangkah pergi untuk menemui Mami yang sedang mengobrol bersama Wira.
Bella langsung memeluk Reva erat, mengusap punggung Mami agar lebih tenang. Tatapan Reva terlihat aneh.
__ADS_1
"Ada apa Bel?"
"Mami ayo kita ke rumah sakit sekarang, Wildan terkena musibah mam." Bella mengusap air matanya.
"Bagaimana keadaan dia Bel?"
"Sedang di operasi mam, kita ke sana sekarang." Bella tidak bisa menahan kesedihannya.
"Sudah jangan khawatir, kamu kabari Mommy sama Vira. Mami yang mengabari Papi." Reva menatap Bella yang melangkah pergi.
Reva langsung berdiri, tapi terduduk lagi. Wira langsung membantu nekmut untuk berdiri berjalan ke dalam rumah.
Vira menatap tajam foto pernikahannya yang terjatuh, mommy langsung memukul kepala Vira, karena tidak berhati-hati sampai menjatuhkan foto.
"Mom, perasaan Vira tidak enak." Vira langsung mengambil ponselnya menghubungi Wildan, tapi nomornya tidak aktif.
Bella datang membisikan sesuatu kepada mommy yang langsung terduduk lemas, Vira masih mondar-mandir menghubungi Wildan.
"Vira ayo ikut mommy." Viana langsung menghubungi Rama untuk ke rumah sakit.
Vira menolak dia ingin menghubungi Wildan, tapi Viana tetap memaksa sampai akhirnya Vira setuju untuk pergi.
Beberapa mobil mulai berangkat ke arah rumah sakit, dada Vira semakin sesak. Air matanya mendadak menetes sudah bisa menduga jika terjadi sesuatu.
Mobil keluarga melewati tempat kecelakaan Wildan, Vira melihat mobil suaminya hancur di pinggir jalan.
Tangisan Vira langsung pecah, Viana memeluk putrinya yang teriak-teriak histeris melihat darah di jalanan.
"Mommy, Vira sudah katakan jangan pergi." Vira menangis meminta sopir cepat.
Sesampainya di rumah sakit, Vira langsung berlari kencang sambil teriak. Viana juga menangis melihat Vira yang kacau.
"Vira." Viana tidak bisa menghentikan Vira yang memukul lift.
Reva juga langsung menangis melihat keadaan Vira, siapa yang tidak panik jika mendengar suami kecelakaan.
"Wildan." Vira berlari ke arah Billa yang menahan Vira untuk mendekat.
Lampu operasi mati, dokter keluar mengatakan jika korban tidak bisa diselamatkan. Vira langsung jatuh pingsan, Billa berteriak meminta bantuan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA