
Di sekolah Bulan hanya berdiam diri tidak ada yang berbicara dengannya, anak-anak seumuran Bulan asik dengan teman-teman lain.
Setiap Bulan mendekat anak lain menjauh dan tidak ingin berteman dengan anak nakal seperti Bulan, mendapatkan penolakan terpaksa Lan hanya sendirian.
Tatapan matanya hanya melihat keluar, suara tawa terdengar dan bahkan ada yang mengejeknya.
"Tidak ada yang akan menerima kehadiran aku, terlahir sebagai putri orang kaya membuat aku diasingkan, bukan tidak bersyukur namun semua mengaggap Bulan anak yang mengerikan, salah aku di mana?" air mata Bulan menetes, dia sudah berusaha untuk menahan diri dari ejekan.
Sebuah bola mengenai kepala Bulan, dia hanya diam saja menoleh juga tidak dan mengabaikan siapa pelakunya.
Menutup mata lebih baik, daripada melihat dan menyakiti orang lain.
Bulan mengambil tasnya langsung melangkah pergi, suara ejekan kembali terdengar. Semua anak sama saja tidak bisa mengenal dirinya dari dalam, baik kaya dan miskin, apalagi yang memiliki status tinggi.
Hadirnya Bulan hanya akan menjadi permainan banyak orang, melawan salah tidak dilawan semakin jadi.
Akhirnya Bulan memutuskan untuk pulang, dia tidak ingin berlama-lama di sekolah, belajar tidak, pintar tidak, hanya menambah emosi.
Langkah terhenti, lemparan bola mengenai si kecil yang belum genap berusia lima tahun. Senyuman Bulan terlihat menatap lima anak laki-laki yang menatapnya tajam.
Kening Bulan berkerut, dia tidak mengingat anak-anak yang mengatakan jika mereka dikeluarkan dari sekolah ulah keluarga Bulan.
"Maafkan jika kami pernah salah, aku tidak ingin membuat masalah." Bulan langsung melangkah pergi.
"Maaf kamu bilang, bukannya kamu sangat kuat. Kenapa mendadak takut?" tubuh Bulan didorong kuat.
Keadaan yang sepi, karena seluruh siswa ada di kelas dan guru juga sibuk mengajar sehingga tidak menyadari jika ada perkelahian.
Tubuh kecil Bulan ditendang kuat, dia tidak melawan sama sekali. Seorang anak yang sudah besar menarik rambut dan memukuli.
Darah keluar dari hidung Bulan, tiga anak laki-laki hanya tertawa melihat Bulan berantakan.
"Panggil saudara-saudara kamu, beraninya main keroyok."
Arum yang berada di kelas lain melihat ke arah luar, dia sama saja seperti Bulan yang tidak diterima di kelasnya.
Orang-orang menganggap dirinya pengacau, karena lahir dari keluarga berada dianggap anak yang sombong.
Sejujurnya Arum ingin bergaul, tetapi tidak ada yang mengerti dirinya.
Berjam-jam di kelas tanpa bicara seperti orang bodoh, sudah hampir satu minggu tidak ada perubahan membuat Arum kesal.
Tatapan matanya melihat ke arah bawah, mata Arum melotot melihat Bulan dipukuli.
__ADS_1
"Kak Bulan." Arum langsung berlari kencang keluar, seorang guru juga Arum tabrak.
Suara langkah kaki Arum terdengar menuruni tangga, langsung keluar dari gedung sekolah dan melihat kakaknya tidak melawan sama sekali.
Bulan hanya menahan pukulan dengan tangannya, menerima tendangan. Arum langsung berlari memeluk Bulan erat.
Kepala Arum ditendang kuat, diinjak-injak. Air mata Bulan menetes melihat wajah Arum yang juga meneteskan air matanya.
"Kakak baik-baik saja."
"Mana mungkin aku baik, tidak kamu lihat ini memalukan." Bulan menatap tajam.
Sebuah tendangan ingin melayang, Arum menahan kaki kuat dan Bulan meminta untuk mengalah agar orang tahu jika semakin kita diam, maka akan semakin disakiti.
Arum melepaskan, dan mendapatkan pukulan beberapa kali. Suara teriakan guru terdengar, anak-anak yang memukul mulai berlarian.
Bulan langsung tergeletak melihat langit, Arum juga tergeletak melihat darah dari bibirnya dan menatap langit biru.
"Rum, kamu tahu kenapa kita tidak memiliki teman?"
"Karena mereka tidak ingin mengenal kita, status dipandang dari apa yang orang tuanya miliki." Air mata Arum menetes, hatinya sedih melihat penolakan banyak orang soal keberadaan kita.
"Keluarga kita bukan orang jahat, kita selalu melakukan kebaikan, tapi kenapa kita dianggap jahat?" Bulan menangis sambil menutup matanya dengan satu tangannya.
Tatapan Arum khawatir melihat tangan Bulan yang tidak bisa digerakkan, dia terlalu banyak menangkis.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung membawa keduanya ke dalam ruang rawat.
"Dok, bisa kita bertemu dokter Erwin." Arum menatap gurunya yang takut melihat keadaan Bulan.
Pihak rumah sakit langsung menghubungi Erwin, dan akan segera menangani Bulan.
"Siang dok, sepertinya salah satu keponakan dokter patah tangan."
Erwin langsung berlari, membuka pintu dan melihat Arum dan Bulan yang tersenyum. Wajah Erwin terlihat sekali khawatirnya, langsung menatap Bulan yang babak belur.
"Apa ini? kenapa wajah cantik kamu?" Erwin menatap tajam guru yang menemani anak-anak ke rumah sakit.
"Uncle, tangan Bulan kenapa?" Arum menunjuk ke arah tangan.
Erwin menghela nafasnya, mengangkat tangan Bulan yang patah, membuka baju sekolahnya yang penuh jejak sepatu.
"Katakan di mana yang sakit?" Erwin menyentuh tulang rusuk, menekan bagian perut.
__ADS_1
Suara tawa Bulan terdengar, dia merasa geli dan merasa lucu melihat dirinya akhirnya masuk rumah sakit.
"Pakai baju sayang, bagaimana kepala kamu?" Erwin melihat rambut Bulan yang berantakan.
"Kepala Arum mungkin terluka Uncle, soalnya dia melindungi Bulan."
"Kenapa kalian tidak membela diri?"
"Kita dilarang berkelahi, akhirnya seperti ini." Suara Bulan masih terdengar santai.
Erwin meminta satu dokter mengecek Arum, dan langsung mengobati tangan Bulan yang sudah dipastikan patah.
"Lan ini menyakitkan, kamu tahan ya sayang." Erwin tidak tega melihat wajah si kecil yang meringis menahan sakit.
Selesai diobati Bulan tertidur, Erwin langsung menggendong Arum untuk Rontgen kepalanya yang mengeluh sakit.
"Arum sayang, kamu ingat saat dulu sakit dan dirawat di rumah sakit cukup lama. Uncle selalu menemani Arum, jangan pernah takut karena ada uncle di sini." Senyuman Erwin terlihat menatap si kecil yang tersenyum.
"Arum dulu hanya demam ya Uncle, tapi kenapa membuat semua orang khawatir?"
"Em, karena Arum jika sakit menular ke dua orang lainnya. Jangan pernah sakit lagi, Uncle sedih jika Arum sakit."
"Siap Uncle, Arum tidak akan sakit lagi dan akan selalu sehat." Suara tawa Arum terdengar.
Erwin cukup cemas, langsung cepat melihat hasilnya menatap Arum yang tidur dalam pelukannya.
"Syukurlah baik-baik saja, jika tidak anak-anak yang memukuli kalian akan putus kakinya." Senyuman Erwin terlihat, mencium kening Arum langsung membawanya keluar.
Suara langkah kaki terdengar, Bulan belum boleh diganggu, karena baru beristirahat.
"Erwin."
"Diam, Arum baru tidur. Jangan terlalu khawatir Bulan baik-baik saja, dia anak yang kuat. Awasi Asih dan Em sebelum ada aksi balas dendam." Erwin membawa Arum ke kamar Bulan menidurkannya perlahan.
Bella mencengkram kuat lengan Tian, langsung melangkah pergi sambil bercucur air mata.
Tian juga meneteskan air mata melihat putrinya.
"Kak Tian, lebih baik jangan semuanya tahu soal ini takutnya akan ada ribut besar." Tangan Erwin menepuk pelan, memastikan Bulan baik-baik saja.
"Tangan dia patah Win?"
"Iya kak, tapi sudah ditangani hanya kita tunggu proses penyembuhannya."
__ADS_1
***