SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 VIRA AND TWINS


__ADS_3

Segala proses sudah dilewati, Ravi mengantarkan Kakek neneknya ke tempat peristirahatan terakhir. Ravi, Tian, Erik, Wildan, secara langsung turun untuk menyelesaikan semuanya.


Hujan turun lebat, para orang tua dan wanita dipayungi, tapi Ravi dan yang lainnya memilih terkena hujan, padahal Ravi takut hujan.


Semuanya hening berdoa, hujan lebat membasahi tanah pemakaman. Taburan bunga di taburkan, Viana berusaha untuk kuat, mengikhlaskan kepergian kedua orangtuanya, mungkin lebih tepat neneknya.


Vi melihat pemakaman sebelah, tempat kak Andri yang ternyata Ayahnya, juga ada Maminya, semuanya sudah berkumpul di tempat yang tenang.


"Semuanya kita ikhlaskan kepergian grandpa juga Halmeoni, kuatkan Uncle Verrel untuk menerima kenyataan, jika Uncle tidak bisa melihat grandpa dan Halmeoni." Rama meminta semuanya berdiri.


"Daddy, Mommy." Verrel melangkah bersama keluarga kecilnya, memeluk batu nisan yang sudah bertaburan bunga.


"Daddy setidaknya tunggu Verrel, izinkan Verrel untuk mengatakan terima kasih sudah dianggap dalam keluarga Arsen. Maafkan Varrel Daddy, maafkan istri dan anak Verrel yang tidak sempat bertemu." Tangisan Verrel pecah, Viana berjongkok memeluk adik lelaki satu-satunya.


"Kita ikhlaskan Mommy dan Daddy pergi, mereka sudah bahagia Verrel, bisa bertemu Papi dan Mami. Semuanya sudah berkumpul di sini." Viana meneteskan air matanya.


"Kak Vi, sekarang hanya kita berdua. Tidak ada lagi sosok orang tua untuk kita, sekarang kita yatim piatu kak, dalam beberapa jam."


"Kita ikhlaskan, kita do'akan yang terbaik, kita semua akan dapat gilirannya, jadi kita persiapan diri sebaik mungkin."


Langkah kaki keluarga mulai meninggalkan pemakaman, masuk ke dalam mobil masing-masing, hanya doa yang bisa dikirimkan.


Sesampainya di rumah langsung bersih-bersih, lanjut sholat Magrib mendoakan grandpa dan Halmeoni, Mami Sisil, Papi Andri, Oma Flo, Oma Irma, juga kedua orang tua Rama.


Selesai sholat Vira berdiri di taman belakang, duduk sendiri melihat bintang yang bertaburan.


"Apa yang sedang kamu lihat Vira?" Wildan juga melihat ke atas langit, bintang yang sangat banyak setelah hujan.


"Halmeoni, grandpa bergabung bersama banyak bintang." Vira menunjuk ke arah bintang.


"Kak Vira, bintang hanya cerita anak-anak jika setelah meninggal ada di sana." Wildan duduk di samping Vira.


"Jangan merusak suasana Wildan, setidaknya jika kita kehilangan aku bisa berbicara dengan bintang." Vira langsung cemberut.


"Kita bisa mendoakan di setiap sujud."


"Wil, bintang memang cerita anak-anak, tapi bisa membuat kita merasakan indahnya, juga ada rasa ada yang menemani kita."


"Hantu." Wildan tertawa, Vira langsung memukuli Wildan.


Keduanya langsung diam melihat bintang, Wildan melihat Vira yang masih seperti dulu mengagumi hal yang sederhana, tidak tertarik dengan kemewahan.


"Vir, bagaimana dengan keadaan Mommy?"


"Mommy aman bersama Daddy, ada lelaki yang Mommy cintai menemaninya saat berduka."

__ADS_1


"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkan Mommy."


"Mengkhawatirkan Mommy, tapi menemui Vira." Vira tersenyum melihat Wildan.


"Aku sebaiknya pulang, kamu juga masuk ini sudah malam." Wildan langsung berdiri, melihat Vira yang tidak bergerak.


"Wil, temani aku, kak Ravi ada kak Kasih, Mommy ada Daddy. Vira sendirian, tidak ada yang menemani." Vira mengusap matanya.


Wildan kembali lagi, mendengarkan cerita Vira yang tidak masuk akal. Demi Vira senang Wildan hanya mengiyakan setiap ucapan Vira.


"Ayo Wil, kita ke hotel BB."


"Iya ...." Wildan mengerutkan keningnya, kaget ingin menuju hotel Papinya.


Vira sudah bersiap, Wildan hanya mengikuti dari belakang, masuk ke dalam mobil pergi menuju hotel. Vira masih melamun melihat ke luar jendela.


"Vira, kamu mau apa ke hotel?"


"Terjun, ya mau teriak kuat." Vira tidak melihat Wildan sama sekali.


Di dalam hati Wildan hanya akan mengantar sampai depan kamar, sisinya terserah Vira, cukup mengawasi saja.


Sesampainya di hotel Vira menolak berada di parkiran, meminta Wildan menuju parkir khusus. Wildan binggung memangnya hotel Papinya ada parkir khusus.


Wildan tidak ingin berdebat, meminta satpam mengatakan parkiran khusus, tapi tidak ada yang mengetahuinya. Wildan menghubungi Papinya, barulah tahu ada parkir ruangan khusus di hotel BB.


"Vira kamu tahu dari mana di sini ada ruangan khusus?"


"Bukan ruangan khusus, hanya tempat pacaran Papi sama Mami, pernah pergi ke sini bersama Winda."


Wildan mengagukan kepalanya, sekarang bingung cara masuk. Vira membuka lift, baru Wildan ikut masuk, Wildan tersenyum, ternyata Papinya romantis juga.


Sampai di atas, Vira langsung berlari memeluk Winda yang sudah menunggu, Bella Billa juga di sana. Keempatnya berpelukan, menghibur Vira yang sedang bersedih.


Wildan kagum melihat indahnya tempat hotel yang khusus tempat Mami Papi bermesraan. Winda sudah menghidupkan kembang api, Billa sudah memasak makanan favorit Vira.


"Vira, sedihnya kamu kita juga sedih, bahagianya kamu kita juga bahagia. Kita bisa mendoakan Halmeoni juga grandpa bersama, karena Vira tidak pernah sendiri, ada twin B dam twin W." Winda memeluk Vira, tangisan haru terasa, Wildan tersenyum melihat adik bungsunya bisa berpikir jernih.


"Obat kesedihan harus makan, karena sehat itu mahal."


Wildan memotret kegiatan di atas hotel, mengabari Ravi keadaan Vira yang sudah tertawa. Wildan ikut bergabung bersama, makan di tengah malam.


"Winda sejak kapan kamu tahu tempat ini?"


"Sejak kita kecil, Papi sering membicarakan tempat ini."

__ADS_1


Wildan coba mengigat, tapi tetap tidak bisa berpikir. Melihat Winda yang sudah bisa tersenyum, makan dengan lahap, tidak terlihat lagi ada beban. Wildan bersyukur, juga menerima keputusan Vira untuk membuat nama geng, Wildan dipaksa untuk bergabung.


"Vira and twins, tidak ada nama yang lebih bagus lagi." Gumam Wildan pelan.


***


Di kamar Ravi lega, Vira akhirnya bisa tertawa. Jika Mommy ada Daddy yang menemani, tapi Vira yang sangat dekat dengan kakek neneknya tidak bisa Ravi abaikan.


Karena lelah Ravi memutuskan untuk tidur, memeluk Kasih yang selalu mendampinginya. Kasih juga berusaha untuk tidur, tapi sangat sulit badannya sakit semua, sampai pelukan Ravi di lepaskan.


Kasih merasakan ingin demam, keluar masuk kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Kasih tidak tega membangunkan Ravi, Kasih duduk di sofa memijit tubuhnya, sesekali air matanya menetes tidak kuat merasakan tubuhnya yang sakit semua.


"Awwwwww sakit." Kasih merasakan tubuhnya remuk, menangis dalam diam, sambil kedua tangannya bergantian memijit kaki, tangan keduanya pundaknya.


Kasih mencari obat oles, berharap tubuhnya mendingan, Kasih memeluk tubuhnya erat, menatap Ravi yang tidur dengan tenang.


"Aak, tubun Kasih sakit semua." Kasih bergumam pelan, air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Kasih tidak boleh cengeng, Aak sedang berduka, tidak boleh manja, harus strong, Kasih kuat." Kasih berusaha untuk memejamkan matanya, tidur di sofa.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


Coment reader penyemangat bagi author, hal yang selalu ditunggu komentarnya para pembaca.


Author siap menerima kritikan, masukan untuk memperbaiki tulisan, tapi jika ada kritik tulis dengan sopan, terkadang tulisan bisa membuat mut hilang.


Memikirkan alur butuh waktu berjam-jam, jika ada Kesalahan harap maklum. Kalian suka suatu kebahagiaan untuk author, jika tidak suka jangan dihina, tinggalkan saja.


Maaf ya sedikit curhat, author masih menunggu komentar penyemangat kalian.


* Alur tidak jelas.


*Author aneh, cerita tidak sesuai judul.


*Banyak typo author! bla bla bla bla 😂


Iya iya maaf, aku salah, mungkin ngetiknya sambil tidur.


Udah ngomelnya segitu aja, suka baca coment, tapi takut baperan. Di tunggu coment kalian di setiap episode 💛💛

__ADS_1


***


__ADS_2