SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KASIH KU


__ADS_3

Di kantor polisi Bisma dan Jum kaget melihat Billa di tahan, mobil yang di gunakan juga milik Ravi, Rama dan Viana datang membawa surat menyurat kendaraan untuk mengurus kasus menantunya.


"Kasih kamu kenapa bisa terluka sayang?" Viana memeluk Kasih yang masih menunduk.


"Sudahlah, kita bicara di rumah saja atau Kasih ingin ke rumah sakit dulu."


"Kita sudah pulang dari rumah sakit uncle, jadi langsung pulang."


"Panggil Daddy sayang bukan Uncle." Viana tertawa, merangkul Kasih untuk keluar.


Bisma menatap Billa yang masih diam, dia bertanya soal keberadaan Bella tapi Billa mengatakan tidak tahu. Jum melarang Bisma memaksa Billa, jika dia ingin dia bisa mengatakannya.


Viana membawa Kasih pulang ke rumah mereka untuk beristirahat, karena Ravi belum bisa di hubungi. Kasih masuk kamar Ravi tergantung foto pernikahan bersama keluarga.


Karin merasakan kesedihan karena seharusnya dirinya yang menikah, Karin tidak bisa bohong jika dia sangat mencintai Ravi.


***


Keadaan di lapangan masih hening, Cinta melangkah pergi sambil meletakkan senjata di kepala Tama. Kasih bergerak maju mengikuti mereka, Erik berusaha menghubungi Ravi tapi belum ada jawaban, setelah Cinta masuk ke dalam mobil barulah Tama di lepaskan.


Semuanya tertunduk diam, Erik yang belum tahu soal Kasih ada dua tenang saja, tapi Tian yang mengetahuinya cukup merasakan khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" Tama menepuk kedua bahu Kasih.


"Iya kak,"


"Aku kembali dulu ke kantor, kalian juga kembali. Masalah Cinta nanti kita bicara lagi, dia pasti untuk sementara melarikan diri."


Tama pergi diikuti oleh Tian, sedangkan Bella yang mengalami luka tangannya di bawa Erik untuk ke rumah sakit, karena lukanya cukup dalam. Kasih masih terdiam menatap kepergian Tama, Winda dan Vira merangkul Kasih untuk kembali.


Winda berlari mengambil mobilnya, Vira juga diam melihat kesedihan Kasih. Pasti pikiran Kasih soal Tama yang mengetahui tentang dirinya berbohong, Kasih juga cukup kaget karena orang yang menyebabkan Tama menghilang dalam pelatihan ternyata Cinta.


"Vira tahu kakak ingin menangis, Vira juga mengerti tidak mudah kakak menerima kenyataan ini."


"Aku harus bagaimana Vira? Cinta kak Tama dan Ibu semuanya pasti terluka, kenapa hidup kami tidak bisa tenang Vir?"


"Akan ada waktunya kak, tidak hari ini mungkin esok."


Kasih meneteskan air matanya, langsung cepat di tepis. Mobil Winda tiba, Vira langsung melangkah masuk tapi Kasih menolak, dia ingin sendiri dan menenangkan diri.


"Kak jangan seperti ini? semuanya pasti akan baik-baik saja."


"Kak Kasih boleh menumpang sebentar di apartemen Vira, hanya ingin menenangkan diri."

__ADS_1


Vira menggagukan kepalanya, mengantarkan Kasih ke apartemen. Setelahnya Vira langsung pulang karena Mommy tidak berhenti menghubunginya.


Kasih berbaring membuka bajunya, punggungnya tergores peluru Kasih langsung berbaring sambil menangis, memejamkan matanya.


Di dalam rumah Rama sudah heboh, Bella datang dalam keadaan terluka, Winda dan Vira juga terluka tapi tidak separah Bella. Viana mengamuk karena Ravi sulit di hubungi, di sisi lain Reva juga mengkhawatirkan Wildan yang sudah kabur dari rumah sejak tengah malam.


Kasih keluar dari kamar, melihat Vira geng di marahi. Vira menatap Kasih sambil tersenyum, Winda juga masih menunduk, Bella tangannya sudah terbungkus.


"Bagaimana keadaan Kasih?"


"Sayang, mereka berempat baik-baik saja," Viana merasa aneh dengan pertanyaan Kasih.


Teriakan Reva membuat semuanya kaget, Reva memarahi Wildan dan memintanya kembali. Ravi akhirnya menyetujui untuk menemui keluarga terlebih dahulu karena adik-adiknya terluka.


Semuanya diam menunggu kepulangan Wildan dan Ravi, Tian juga kembali mendapatkan kemarahan Bunda karena menghilang bukannya cepat pulang, Tian hanya duduk berbaris dengan yang lainnya.


"Dia Kasih atau Karin?" Tian menatap Erik.


"Karin siapa?" Erik balik bertanya.


Tian menghela nafas, tidak punya niat menjelaskan. Vira menatap Kasih 2 yang melihat foto pernikahan yang terpajang besar.


"Aku hanya ingin tahu kak Ravi mengenali istrinya tidak." Vira menatap Winda yang juga setuju untuk mengetes Ravi.


Suara mobil tiba terdengar, Ravi dan Wildan berlari masuk ke dalam rumah. Wildan melihat bibir Vira yang bengkak, Winda matanya biru, Bella tangannya sudah terbalut. Wildan juga melihat Kasih yang lukanya banyak lebam.


Ravi juga masuk mengabaikan kemarahan Viana, menatap Kasih yang langsung memeluknya, Ravi tidak membalas pelukan Kasih.


Matanya menatap adik-adiknya yang masih menunduk, Tian juga menunduk hanya Erik yang tersenyum.


"Kamu baik-baik saja." Ravi melepaskan pelukannya Kasih.


"Iya aku baik-baik saja."


"Syukurlah."


Ravi menatap Tian yang menatapnya juga, melihat Wildan yang juga menatapnya.


"Kasih di mana?".


"Ravi kamu belum buta, yang memeluk kamu tadi istri kamu." Erik menahan tawanya.


"Vira di mana kak Kasih?" Ravi menatap Vira yang mengangkat kepalanya, tangan Vira menunjuk ke arah Kasih.

__ADS_1


"Tolong jangan bercanda! Bella Billa Winda Vira!" Ravi teriak kuat, semuanya langsung diam, Rama menarik Ravi yang tiba-tiba marah.


"Kamu kenapa Ravi?" Rama menatap Ravi yang matanya melotot melihat adik-adiknya.


"Vira sudah bilang dia kak Kasih, kenapa marah sama Vira?" Vira langsung menangis, Bella dan Billa juga menangis karena Ravi tidak pernah membentak kasar.


"Winda di mana kak Kasih?" Winda menunjuk ke arah Kasih yang sudah menangis.


"Kalian ingin membuat aku gila." Ravi langsung melangkah pergi, Viana sudah menahan tapi di abaikan.


Ravi langsung pulang ke rumahnya, berteriak mencari Kasih, semua pintu dia buka, langsung berlari lagi ke rumah orangtuanya. Semuanya binggung melihat Ravi yang mirip orang gila.


Tangan Ravi memegang lengan Kasih matanya mengeluarkan air mata, Kasih juga menangis melihat Ravi menangis.


"Karin, katakan di mana Kasih? aku bisa gila kalau dia menghilang, aku tidak marah sama kamu, aku juga ingin minta maaf tapi aku mencintai Kasih." Ravi meneteskan air matanya.


"Tapi selama ini kita bersama Ravi, kamu selalu mengatakan cinta. Aku wanita yang kamu cintai."


"Kenapa tidak jujur, seandainya kamu jujur mungkin kamu wanita yang aku cintai, kamu tidak mempercayai aku bisa melindungi kamu, kamu meragukan aku sampai akhirnya semua ini terjadi."


"Ravi aku sangat mencintai kamu."


"Aku sangat mencintai Kasih, aku akan menunggu sampai Kasih mencintai aku."


Tangisan sesegukan terdengar, semuanya meneteskan air mata, Erik yang kebinggungan juga meneteskan air matanya. Viana bahkan ikut menangis melihat Ravi menangis.


"Di mana Kasih ku?" Ravi langsung berlutut menangis sesenggukan.


"Aku di sini." Kasih melangkah masuk, Ravi langsung menoleh dan berjalan langsung berlari, memeluk erat tubuh Kasih yang juga menangis.


"Kamu dari mana? aku takut kamu meninggalkan aku."


"Aku ingin hidup Ravi, aku ingin berkumpul dengan keluarga, bebaskan aku." Kasih menangis memeluk Ravi.


"Iya sayang, tidak akan aku biarkan ada orang yang menyakiti kamu, mereka harus melangkahi mayat aku terlebih dahulu." Ravi mencium kening Kasih menghapus air matanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


SEMOGA SAJA BESOK ADA VISUAL, SOALNYA BELUM KETEMU YANG COCOK.


__ADS_2