SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MEMANCING


__ADS_3

Wildan masih duduk santai, mendengarkan musik sambil melihat lautan yang luas. Erik datang mendekat memeluk Wildan, cepat Wildan memberontak.


"Pemarah, sebaiknya kita memancing, semoga saja kita mendapatkan ikan mas." Erik melepaskan pancingnya, Wildan mengerutkan keningnya.


"Kak Erik suka memancing?"


"Tidak, hanya saja sedang berharap mendapatkan ikan mas, untuk mengganti Mansion yang hilang."


Wildan tersenyum, Erik memang orang yang sabar dalam menunggu. Bahkan masih sempat mendengarkan musik.


"Kak Erik, mencintai Billa, kenapa masih menundanya. Uncle Ammar sudah meminta kak Erik menikah."


"Billa masih kecil, takutnya dia masih ingin bersenang-senang."


"Billa yang paling dewasa, pikirannya luas, sangat mirip dengan Bunda."


"Kamu hanya berpikir sampai di situ, Billa harus menyelesaikan kuliahnya, agar tidak terhambat, nanti kalau dia menikah terus hamil, pendidikan pasti tertunda, biarkan dia puas, aku juga masih muda Wil."


Wildan tersenyum, Erik memang sangat dewasa. tidak pernah memaksa, selalu positif thinking.


"Kamu tidak ingin menikahi Vira, dia sudah menunggu lama Wil."


"Gila, aku baru 18 tahun, masih jauh harapan untuk menikah."


"Kenapa?"


"Wil, ingat tidak pesan Uncle Bima. Dia ingin melihat anak-anaknya menikah, melihat cucunya. Sebaiknya kamu jangan kelamaan menunda." Erik tertawa, pesan untuk dirinya dan Tian, dipindahkan untuk Wildan.


Pancing Erik bergerak, Wildan langsung berdiri memberikan semangat. Erik langsung menarik senar pancing dengan tangannya, Wildan langsung memukul Erik, ada putaran untuk menggulung, tidak harus menarik dengan tangan.


Erik langsung tertawa, Rama Bima juga melihat Erik, semuanya berkumpul memberikan semangat. Ammar mendekati Erik memukul kepalanya, mengambil pancing, langsung menggulung senar.


Wildan menahan tawa melihat ikan tergeletak di kapal, Erik memegang buntutnya. Bisma memotret kelakuan bodoh bapak bersama anak.


"Papa yang melepaskan Ibunya." Erik menggakat ikan yang hanya sebesar jari kelingking.


"Kamu yang salah sampai lepas."


"Bukan lepas Uncle, ikan yang mengigit pancingnya memang kecil." Wildan tersenyum.


"Tarikannya kuat sekali ya Rik, tidak mungkin kecil." Ammar menatap Erik yang menganggukkan kepalanya.


"Mungkin karena terbawa arus ombak." Bima memasang pancing kembali.


"Papi, makanan sudah siap." Reva melihat Bima sedang asik memancing.


"Makan di sini saja sayang."


Ammar datang membawa pancing, Bisma juga datang membawa dua pancing, Rama membawa dua pancing.


"Ravi di mana Rik?" Rama menatap Erik.

__ADS_1


"Lagi memanaskan ranjang."


Reva pergi menyiapkan makan, Septi teriak memanggil Ammar, tapi masih tidak menjawab. Viana juga mencari Rama ternyata asik memancing.


"Ammar, Septi mencari kamu." Viana mengerutkan keningnya.


"Bilang malam saja." Ammar tertawa, Bisma tertawa melihat Ammar yang tidak berhenti menjahili istrinya.


"Tobat Mar, sudah tua."


"Biar tua, masih kuat."


Wildan menatap Erik, senyum Erik terlihat mengacak-acak rambut Wildan.


"Kamu sudah besar, tidak masalah bicara sedikit dewasa." Erik membisiki Wildan.


Reva datang membawa makanan, Bima meminta tolong disuap, dia masih fokus dengan pancingnya.


"Wildan suap Papi kamu." Reva meninggalkan makanan ditangan Wildan.


"Papi buka mulut." Lama Wildan menunggu, akhirnya masuk ke dalam mulutnya, Erik juga ikut menyendok makanan.


"Di mana Tian Rik?" Bisma melihat sekilas.


"Menangis di kamarnya, mungkin sekarang sedang banjir."


Wildan menghabiskan makanan langsung pergi meninggalkan para bapak yang sibuk mancing, Erik juga pergi menemui Tian.


"Mami, ini piringnya." Wildan memperlihatkan piring kosong, Reva tersenyum melihat makanan Bima habis.


***


Suara ketukan pintu terdengar, Tian mempersilahkan masuk. Bella datang membawa tablet untuk menunjukkan soal Jet, Tian berdiri membuka pintu kamarnya, tidak nyaman berduaan dengan Bella, karena Tian tidak menganggap sebagai adik.


"Kenapa pintunya dibuka? Bella tidak akan menerkam."


"Siapa juga yang bilang kamu menerkam, hanya agar orang tidak salah paham." Tian meminta Bella duduk


"Jadi Wildan hanya bercanda, Alhamdulillah." Tian memeluk tabletnya.


Tian membuka laci lemari, mengambil kado untuk Bella. Tian memberikan kotak kecil, Bella tersenyum langsung membukanya.


"Isinya apa kak?" Bella membuka perlahan.


Sebuah kalung cantik, inisial B. Tian tersenyum mengambil kalung, berdiri di belakang Bella langsung memasangkannya.


"Bella suka tidak?"


"Kalung ini sama dengan Billa, Winda dan Vira. Tidak ada yang spesial kak." Bella berdiri mengucapakan terima kasih, langsung melangkah ingin keluar.


Tian menahan tangan Bella, menariknya untuk masuk dalam pelukan. Bella juga memeluk Tian erat, meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Jum masuk membawakan Tian makan.


"Bunda jangan salah paham, Tian tidak bermaksud kurang ajar." Tian menjauhi Bella.


"Jika tidak tahan lagi, menikahlah jangan membuat dosa." Jum menatap putra putrinya.


"Seriusan Bunda, Bella boleh menikah dengan kak Tian." Bella memeluk Jum, menciumi kedua pipinya.


"Bella, Tian pria dewasa, pemikiran luas. Pendamping hidupnya harus wanita yang berpikir dewasa, mengerti kesibukannya. Jika kamu mencintai Tian, buktikan kepada Bunda, kamu harus selesai kuliah, tidak ambekan lagi, bisa mengendalikan emosi." Jum menatap tajam.


"Sebenarnya yang Bella nikahi kak Tian, atau Bunda." Bella mengaruk Kepalanya.


"Bella, kak Tian setuju dengan Bunda, kamu fokus kuliah, jaga jarak dengan kak Tian. Kamu dan Billa berbeda."


Bella akhirnya mengagukan kepalanya, langsung melangkah pergi meninggalkan Tian. Jum meminta Tian makan.


"Bunda, maafkan Tian, tadi tidak bermaksud."


"Bunda tahu Tian, kamu membuka pintu lebar agar bisa mengendalikan diri. Bunda hanya ingin kamu bisa menjaga Bella sampai halal untuk kamu. Bella wanita yang menginginkan sesuatu dengan memaksa."


Tian tersenyum, duduk mengambil nasinya. Jum duduk menyuapi Tian, sambil bercerita. Hubungan Tian dan Jum, sangat dekat, bahkan kehadiran Bisma bisa tergantikan.


"Bunda, di mana Ayah?" Tian menghabiskan kunyahan terakhir, mengambil minumnya.


"Astaga, tadi Ayah minta makan, tapi Bunda menyiapkan makanan kamu." Jum langsung berlari keluar, tawa Tian terdengar, kebiasaan Bunda membuat Ayah menjadi nomor terakhir.


"Tian." Buuukk ... bunyi kuat Erik terjatuh, Tian melihat Erik yang telentang di depan kamarnya.


"Erik, Erik, kamu sudah tua, tapi tingkahnya seperti anak kecil. Bisa patah pinggang kamu."


Ravi yang mendengar suara kuat langsung membuka pintu, melihat Erik telentang mematung.


'Erik kenapa kak?" Ravi masih memakai bajunya, Kasih juga keluar kaget melihat Erik..


"Biasalah, namanya juga anak nakal, kerjanya lari-larian, akhirnya terkapar." Tian menendang kaki Erik.


"Bangun Rik, makanya berhentilah kekanakan." Ravi membantu Erik berdiri, Kasih menahan tawa, Tian hanya menggelengkan kepalanya.


"Patah pinggang kakek cu." Erik memegang pinggangnya.


"Lagian sudah tua, punya gelar, tapi bobrok." Kasih menutup pintu.


"Rav, pijitin gue."


"Ogah, lagi sibuk bikin anak." Ravi langsung melangkah masuk, menutup pintu kamarnya.


"Kak Tian."


"Maaf Rik, aku dipanggil Bunda." Tian melangkah keluar.


"Katanya sahabat, tapi meninggalkan saat sahabatnya terluka." Erik menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


HARI INI AUTHOR BIRTHDAY boleh tinggalkan COMENT, yang ingin memberikan kado, boleh VOTE atau HADIAHNYA 🤭🤭🎉🎂🎂🎂🎂


__ADS_2