
Seseorang masuk dan menuangkan air ke wajah Ravi, perlahan Ravi bergerak. Air mata Kasih terus menetes, berteriak memanggil nama Ravi.
Mata Ravi perlahan terbuka, melihat Kasih terikat di dekat tiang, sedangkan dirinya terikat sambil terlungkup, Kaki dan tangan Ravi terikat kencang.
Dalam hati Ravi mengumpat Wildan, tapi juga ingin tertawa melihat dirinya tidak berdaya. Ravi memejamkan matanya, mendengarkan langkah kaki seseorang yang duduk di kursi sambil tertawa melihat Ravi.
"Hai kak, kamu bodoh sekali!"
"Hai dek, kamu ceroboh sekali!" Ravi tertawa, sebenarnya Ravi ingin duduk, tapi sulit sekali untuk membalik badannya.
"Masih bisa tertawa, kamu lupa sekarang sedang tidak berdaya?"
"Kamu pikir aku sudah tua, tentu aku tahu tapi kamu yang tidak tahu siapa aku?" Ravi cengengesan, akhirnya dia berhasil bisa duduk, dan menatap bocah tengil.
"Ravi," Kasih memanggil sambil menangis, suaranya sudah hampir habis karena teriak-teriak.
"Iya sayang, jangan menangis karena pertunangan kita batal, aku akan tetap menikahi kamu." Ravi memberikan ciuman jarak jauh, Kasih langsung tertawa.
Sungguh Kasih sangat salut dengan Ravi, keadaan mereka sedang dalam bahaya tapi Ravi tidak ada rasa takut sama sekali, dia masih bisa mengalihkan ketakutan menjadi tawa.
"kalian masih bisa tertawa?"
"Daddy selalu bilang, tertawa seakan-akan besok kamu sudah tidak bisa tertawa lagi." Ravi tertawa, dia lupa dengan pepatah aslinya.
"Bodoh! hiduplah seperti engkau akan mati besok." Teriakan kuat, sampai kursi di banting. Ravi hanya tersenyum lucu.
"Kejarlah dunia seakan-akan hidup selamanya, dan kejarlah akhirat seolah-olah kita akan mati esok hari. Silahkan pilih kalian ingin yang mana?" Kasih tersenyum, Ravi terdiam coba menggigat nasehat Daddy soal pepatah yang Kasih ucapkan.
"Dunia yang kamu kejar bisa berhasil juga gagal di dunia bahkan belum tentu dapat akhirat, tapi mengejar akhirat kamu akan bahagia dunia akhirat." Ravi tersenyum menatap Kasih.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"
"Sedang menggigat ajaran ustadz."
Ravi yang dari tadi mengomel berhasil melepaskan ikatan tangannya, karena Ravi menggunakan gelang milik Wildan yang memiliki benda tajam. Ravi merasa senang dan bangga karena tidak sia-sia dia mencuri milik Wildan yang di lepas saat dia mandi.
__ADS_1
"Kenapa kamu menculik Kasih?"
"Karena aku mencintainya."
"Siapa kamu?" Ravi berdiri dan duduk di kursi yang sudah terlempar. Kasih terdiam melihat Ravi yang berhasil bebas.
Senyum bocah ABG terlihat, dia satu angkatan dengan Wildan, ingin sekali menjadi bocah jenius demi bisa bersama dengan Kasih. Tapi Wildan merampasnya, sampai dia malu, dan berhenti sekolah.
"Kamu musuh Wildan bukan musuhku."
"Tapi aku mencintai Kasih, seharusnya playboy seperti kamu berhenti mengejar wanita baik-baik."
"Aku juga pria baik."
"Tapi kamu membuat kakaku bunuh diri Ravi, dia mencintai kamu tapi di buat patah hati."
Ravi terdiam teringat kembali tentang seorang wanita yang dulu selalu mengikuti Ravi, tapi karena dia wanita baik Ravi menolak cintanya. Ravi belum ada niat untuk serius, kematiannya cukup membuat Ravi shock, bahkan darahnya menempel di tangan Ravi, dia meninggal tepat di hadapan Ravi, membuat rasa takut darah langsung muncul.
Karena kejadian itu Ravi sampai di rawat karena merasakan takut darah, tidak pernah Ravi bayangkan kejadian tanpa kesengajaan membuatnya memiliki trauma juga membuat dendam bagi seorang bocah.
"Dia bukan bunuh diri, tapi kecelakaan. Aku tidak terlibat sama sekali."
"Aisshhh, tapi aku juga mencintai Kasih, sekalipun kamu menangis darah, aku tidak akan melepaskan Kasih."
"Kalau begitu salah satu dari kita harus mati,"
"Cinta bisa membuat bahagia, tapi cinta juga bisa membuat terluka."
"Gemal, kamu bisa bahagia karena kamu pemuda cerdas, aku juga gagal dalam mengejar mimpi, tapi kak Kasih tidak pernah kehilangan semangat. Bisakah kamu bahagia melihat kakak bahagia."Kasih bicara lembut, Ravi berjalan membukakan ikatan Kasih.
Orang suruhan Gemal ingin menyerang tapi di tahannya. Kasih masuk ke dalam pelukan Ravi, seakan Kasih takut berpisah. Ravi juga mengeratkan pelukannya, membelai rambut Kasih.
"Kak, Gemal cinta kak Kasih tapi mengapa cinta Kaka harus dengan seorang playboy?"
"Cinta tidak memandang usia Gemal, cinta juga tidak memandang status, cinta juga tidak memandang masalalu, jika kamu ingin bahagia, maka harus siap menerima baik dan buruknya pasangan."
__ADS_1
"Kak Kasih!"
"Aku menerima Ravi dengan masalalu dirinya yang playboy, aku mencintainya Gemal, aku yakin Ravi bisa membuat aku bahagia."
"Dia akan berpaling suatu hari nanti kak, hanya aku yang mencintai kamu setulus hati."
"Mommy Viana dan Daddy menikah tanpa cinta, usia mereka terpaut 13tahun tapi mereka bahagia. Mami Reva menikahi seorang duda beranak satu tapi mereka bahagia, Bunda Jum juga menikahi mantan playboy, seorang penjahat tapi mereka juga bahagia."
Gemal duduk di lantai, memeluk lututnya. Ravi menghela nafas, ada rasa kasihan melihat Gemal yang masih muda tapi sudah ingin menjadi seorang penjahat.
"Gemal kamu bisa menjadi lelaki kuat, masalalu biarkan menjadi pelajaran terbaik untuk meniti masa depan."
"Bicara enak, tapi melakukanya sangat sulit."
"Sulit karena kamu tidak ingin mencobanya."
"Tapi aku ingin bunuh diri bersama kalian," Gemal tertawa terbahak-bahak.
Ravi mencium bau tubuhnya yang ternyata bukan bau air tapi minyak, Kasih langsung memeluk Ravi kuat, membiarkan tubuhnya juga terkena minyak yang menempel di baju Ravi.
Gemal mengambil bahan bakar menyiram tubuhnya, ruangan juga sudah tertutup rapat. Ravi menggelengkan kepalanya, Gemal tidak bisa dihentikan lagi. Ravi melihat kearah jendela, menggenggam tangan Kasih menatap Gemal yang terduduk.
"Gemal, ayo kita keluar...." Belum selesai Ravi bicara dari arah pintu sudah mengeluarkan asap, di luar jendela juga sudah ada api. Kasih gemetaran, menarik tangan Ravi agar tersadar, jika mereka sudah berada di dalam api.
"Ravi, apa yang harus kita lakukan?"
"Lompat dari jendela Kasih." Ravi mengambil kain kotor, menutupi tubuh Kasih membuka jendela memintanya untuk keluar.
Kasih terus menangis karena menolak, di luar bangunan juga sudah ada api. Ravi sampai memohon agar Kasih keluar. Ravi sampai harus mendorong Kasih agar cepat melarikan diri, Kasih melihat senyuman Ravi yang dipaksakan.
"Cepat lari sayang, jangan khawatirkan aku, jika kamu terluka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
"Cepat keluar, jangan terluka." Kasih berlari meninggalkan Ravi, dengan air mata Kasih melihat Ravi menutup jendela.
Bangunan berubah merah, Kasih hanya bisa melihat kobaran api, tidak ada yang bisa Kasih lakukan selain menangis.
__ADS_1
"Ravi, jangan tinggalkan Kasih, kamu berbohong mengatakan akan menikahi aku, memiliki anak, berkeliling dunia saat bulan madu, kamu bohong Rav, kamu punya hutang janji."
***