SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TESTPACK


__ADS_3

Arrrrrgggghhhhh ... teriak kaget, bahagia Viana, Jum dan Reva serempak. Langsung saling pandang, berpelukan erat, juga menangis terharu.


"Astaghfirullah Al azim, Vi bakal jadi nenek." Viana langsung menangis.


"Iya kak Vi, semoga ya. Jum senang banget."


Erik langsung menutup telinganya, melanjutkan tidurnya.


Ravi masih menjadi patung, terdiam menatap Kasih yang juga menyentuh perutnya. Senyuman Ravi dan Kasih saling pandang.


Ravi langsung melangkah, memeluk Kasih, tangan Kasih juga memeluk erat. Air mata Kasih mulai menetes, merasakan haru.


"Sayang, kita periksa ke Dokter. Memastikan ucapan Erik." Ravi sangat bersemangat, juga menangis haru.


"Kasih hamil, tapi kenapa tidak gendut?" Kasih menyentuh perutnya yang rata, Ravi menahan tawa.


"Seharusnya kamu menantunya Bunda Jum, polos banget." Erik masih sempat mengejek Kasih.


Kasih menatap Viana, Vi menghapus air mata, mengigat harapan Daddy-nya ingin sekali bisa melihat anak Ravi, tapi Allah berkehendak lain, memilih memanggil grandpa lebih cepat.


"Mommy, maafkan Kasih, seharusnya sekarang kita sedang berduka. Abaikan saja Kasih, anggap saja Kasih tidak terlihat, maaf jika merepotkan." Kasih menundukkan kepalanya, menahan air matanya.


Rama mendekati Kasih, mengangkat wajah Kasih untuk melihatnya. Rama tersenyum, menghapus air mata Kasih.


"Kasih, kematian akhir dari perjalanan hidup kita, tapi kelahiran masa depan kita. Kamu tidak pernah merepotkan, kamu sumber kebahagiaan di dalam keluarga ini. Jika Allah menitipkan anak untuk kalian, Allah mengganti kehilangan kita dengan cerita yang baru, kisah baru, juga kebahagiaan baru." Rama mengusap kepala Kasih.


"Kasih rindu bapak, boleh peluk Daddy tidak?" Rama langsung menarik Kasih, mengusap kepalanya, tangisan Kasih sudah terdengar.


"Kamu sensitif sekali Kasih, seperti Viana saat hamil Ravi. Saat itu Daddy tidak menemani Mommy, rasa penasaran menanti kehadiran Ravi membuat Daddy mencari tahu, tumbuh kembang Ravi, saat dikandungan, saat lahir, saat menangis, saat pertama tertawa." Rama mengusap air matanya.


"Kasih tidak sensitif, Kasih tidak cengeng, Kasih juga tidak pemarah." Kasih cemberut, Rama tersenyum melihat menantunya.


"Ravi ekstra sabar." Bisma mengusap punggung Ravi.


"Kenapa Uncle?" Ravi menatap Bisma yang merinding.


"Bunda dulu saat hamil sangat suka memukuli Uncle, tidak suka dibentak, banyak maunya, cengeng. Sepertinya Kasih bukan hanya sensitif, tapi lebih parah."


Reva menyentuh perutnya, rasanya merindukan momen hamil, juga bahagianya memiliki bayi kembar, tidak terasa kedua bayinya sekarang sudah besar.

__ADS_1


Selesai perdebatan panjang dengan Kasih, akhirnya Ravi membawa Kasih pulang. Langsung pulang ke rumahnya, agar Kasih segera beristirahat, mengatur jadwal untuk periksa ke Dokter.


Viana membelikan beberapa tes pack, Kasih masih ragu untuk mengecek, Ravi setia menunggu sampai Kasih menginginkannya, daripada Kasih ngambek.


***


Acara tahlilan ketujuh sudah berlangsung lancar, Kasih semakin merasakan aneh terhadap dirinya. Keluarga memang belum meminta Kasih periksa, tapi Bunda sudah menyiapkan makanan sehat, beberapa larangan juga membuat Kasih semakin berisi.


Kasih menjauh, langsung masuk ke dalam kamar Ravi, mengeluarkan seluruh tes pack, perubahan sikap Kasih sangat dirasakan oleh Ravi, Daddy, Mommy, Bunda dan Mami, juga Erik, selain mereka belum ada yang tahu, karena sibuknya mengurus acara tahlilan.


Di dalam toilet, Kasih menyusun seluruh tes pack. Wajahnya khawatir juga sangat penasaran, Kasih mondar-mandir kesal menunggu, akhirnya langsung keluar dari kamar.


Kasih duduk di deretan bersama Vira, wajah kesal Kasih terlihat, Vira mencoba menyapa, tapi masih diabaikan.


"Kak, ada masalah apa?"


Kasih hanya menggelengkan kepalanya, Vira tersenyum langsung menemui Bella yang asik di duduk di bawah tangga memainkan ponselnya.


"Bel, Kak Kasih semakin hari semakin aneh?"


"Emmhhh, iya juga." Bella menatap Billa yang lari-larian naik ke lantai atas.


"Kenapa Billa lama sekali?" Bella mengintip pintu yang tidak tertutup rapat.


Vira melihat Billa menyentuh benda pipih yang berbaris, pintu langsung terbuka kuat. Billa kaget langsung menghamburkan tes pack yang dia pegang.


Bella mengambil semuanya, menatap tajam Billa, Vira menutup mulutnya. Billa tidak mengerti arti pandangan keduanya, langsung menarik Billa keluar kamar.


Rumah sudah mulai sepi, acara sudah lama selesai hanya saja masih mengobrol. Keluarga juga masih berkumpul, Bella melemparkan Billa di depan keluarga.


"Bella, kak Tian selalu mengatakan jangan kasar." Tian membantu Billa berdiri.


Bella menghamburkan tes pack, Tian mengambil sangat kaget melihat hasil testpack, Bisma melangkah mendekat melihat garis dua.


"Ayah, kak Tian bukan punya Billa." Billa langsung menangis ketakutan.


Erik juga mendekat, mengambil hasil testpack sambil tersenyum. Mendekati keluarga yang sedang tegang.


"Hasilnya positif, bukannya seharusnya kita menyambut bahagia."

__ADS_1


Semuanya menatap Erik dan Billa, Rama meminta Bisma tenang, meminta cerita Erik dan Billa, Ammar menggelengkan kepalanya.


Sebuah pukulan melayang menghantam wajah Erik, tubuhnya terlempar. Ravi langsung berlari, menarik seseorang yang memukul Erik, melindunginya yang hanya diam saja.


"Ibu sama anak sama saja, kamu terlahir dari wanita kotor, perbuatan kamu juga kotor, menghamili keluarga Bramasta."


"Siapa kamu yang punya hak memukul Erik? menghina dia, aku sangat mempercayai putriku, aku juga sangat mempercayai Erik. Kalian orang luar tidak mengenal kami." Bisma menatap tajam.


"Paman, Hariz korban broken home karena Ibunya. Dia hanya bersembunyi dari balik gelar Dokter, aslinya dia perusak wanita."


Ravi tersenyum sinis ingin memukul, Erik menahan tangan Ravi, tidak ingin memperpanjang masalah dengan rekan kerja Tian.


"Iya aku memang kotor, aku sama seperti ibuku."


"Erik!" Ravi teriak kuat.


Septi yang melangkah dari dapur terdiam, menundukan kepalanya menangis gemetaran. Septi lelah melihat Erik yang selalu disalahkan akan masa lalunya.


"Apa salah putraku lahir ke dunia ini? kenapa kalian selalu menghina, merendahkannya. Erik aku besarkan dengan didikan agama, aku yang membesarkan dia. Kenapa tidak kalian hina Mama nya saja? Sejak dia memanggil aku Mama, buruknya Erik kesalahan aku dan Papanya." Septi menangis sesenggukan, Reva merangkul Septi menenangkannya.


"Aku capek Reva, membesarkan dia, melawan keluarga aku, mengajari Erik untuk berbaur sampai akhirnya dia dan Ammar diterima, Papa Mama sangat menyayangi Erik, tapi beraninya orang luar terus menghina anakku."


Septi melangkah mendekati Erik, melihat bibirnya yang terluka. Bahkan Septi tidak pernah berbicara keras, tapi di depan matanya putranya dipukul.


"Mama, Erik baik-baik saja, jangan diambil hati. Erik sudah biasa."


"Bicara baik-baik saja sekali lagi, Mama tampar kamu." Septi menatap tajam, Erik langsung menundukkan kepalanya, tatapan Mama baru kedua kalinya Erik melihat, saat dia hadir di pernikahan Mamanya, sebagai seorang benalu.


"Tante Septi, Mama teman bisnis Tante ...." Haris kaget, mendapatkan tamparan kuat, wanita yang terkenal koki terbaik, bisa main tangan.


"Aku akan melaporkan masalah ini dengan Mama, akan aku hancurkan keluarga Tante."


"Jaga ucapan kamu bocah, kamu tidak mengenal siapa lawan kamu, satu langkah kalian maju, aku pastikan kalian jatuh miskin." Reva menatap tajam, senyum licik terlihat.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***-


__ADS_2