
Twins V berjalan dengan lemas untuk latihan bela diri, saudaranya yang lain sudah berkumpul dan mulai lebih dulu tanpa mereka.
Vio dan Vani bukan tidak suka bela diri hanya saja malas jika berada di belakang kolam, tubuh mereka langsung ingin lompat ke kolam, tapi sudah mandi.
Suara latihan terdengar, anak-anak sudah latihan mandiri tanpa pengawasan ketat, hanya dipantau dari jauh jangan sampai saling menyerang.
Suara dentuman terdengar, semuanya langsung menatap ke arah kolam dan melihat Vio sudah tercebur.
"Vani yang dorong aku kak." Vio menatap Asih yang menghela nafasnya.
"Kita lanjutkan."
Satu jam berlalu yang latihan bela diri hanya Asih dan Embun, sedangkan empat anak lainnya sudah mandi di kolam.
"Setengah jam lagi pesawat akan landing, kak Lin pulang bersama Daddy dan Mommy." Em langsung melangkah pulang, memperingati adik-adiknya jika dalam sepuluh menit tidak kumpul mereka ditinggal.
Empat anak yang ada di kolam berenang langsung naik semua, membuka baju dan berlari ke rumah masing-masing untuk segera siap-siap pergi ke bandara.
Seluruh orang sudah menunggu di bandara, suara teriakan Lin terdengar melambaikan tangannya langsung berlari.
"Kak Lin." Enam wanita berlari ke arah Lin.
"Halo, kak Lin kangen kalian. Adik-adikku tersayang." Ciuman Lin mendarat, mengusap kepala adik laki-lakinya.
Satu persatu orang tua langsung Lin peluk, dirinya senang sekali sudah kembali setelah perjuangan panjang pendidikannya.
"Ayo kita ke restoran untuk makan malam bersama, di sana juga sudah ramai menunggu." Vira langsung menggandeng tangan Lin untuk segera ke restoran.
Dari luar sudah terdengar suara rusuh Wira, langsung berlari keluar saat melihat kakaknya, Daddy Mommynya akhirnya tiba.
"Stev, kenapa kamu mempercayai Wira pergi sendiri?" Bima meminta menantunya untuk duduk.
"Tidak sendiri Pi, ada tiga pengawal yang menemani dia." Steven memang sudah membiasakan Wira hidup bebas ke mana dia inginkan selama tidak keluar jalur.
Mata Lin berkeliling melihat seluruh keluarga berkumpul, hanya satu orang yang tidak dia lihat kehadirannya bahkan Mama Septi dan papa Ammar juga hadir.
"Di mana Erwin?" Windy mewakili putrinya yang sedari tadi celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Emh, biasalah kak Windy anak muda. Dia pergi dengan pacarnya." Erik hanya tersenyum kecil.
"Tidak, mungkin ada di rumah sakit." Billa meyakinkan Windy jika Erwin tidak bersama wanita lain.
Wira membenarkan ucapan Erik, dia melihat langsung jika Erwin bersama wanita sedang berada di hotel, tepat di depan restoran.
Mobil Erwin juga masih terparkir, wanita yang bersama Erwin juga sangat cantik dan seksi.
__ADS_1
Septi langsung berdiri, Billa juga berdiri mengejar ibu mertuanya. Lin juga langsung mengejar untuk pergi ke hotel.
Makan malam yang diharapkan tenang langsung rusuh pergi ke hotel semua untuk memergoki Erwin bersama wanita.
Anak-anak dilarang ikut, karena tidak pantas melihat sikap pria dewasa yang kekanakan. Tidak menanamkan nilai agama yang diajarkan.
Di hotel Septi sudah marah, memaksa meminta kunci kamar yang Erwin pesan. Septi ingin sekali mencabik-cabik putranya yang sangat nakal.
Pintu kamar terbuka, suara teriakan terdengar. Septi langsung masuk melihat seorang wanita tanpa busana.
"Di mana Erwin?"
"Erwin, tidak ada di sini."
"Bohong." Reva langsung mendorong pintu kamar mandi, melihat seorang pria yang sedang menggunakan handuk.
Septi dan yang lainnya keluar, menghubungi Erwin yang langsung menjawab panggilan Mamanya.
[Di mana kamu?]
[Hotel, sebentar lagi Erwin akan turun ke restoran.]
[Di mana posisi kamu? Jangan main-main kamu Win.]
[Ada apa? Erwin di kamar 103.] Panggilan langsung mati.
"Di mana Erwin?"
"Silahkan masuk."
Septi, Reva, Billa terkejut melihat Erik masih menggunakan baju kerjanya. Baru selesai memeriksa seorang anak kecil yang mengalami panas tinggi.
"Jika panas belum juga turun, kalian harus ke rumah sakit." Erwin langsung pamit keluar.
Tatapan Erwin tajam, mempertanyakan apa yang terjadi. Septi langsung menarik telinga putranya yang membawa wanita ke hotel.
"Ada apa kalian ini? tidak mungkin Erwin membawa perempuan ke hotel yang berdekatan dengan restoran untuk keluarga berkumpul. Kalian pikir Erwin sudah siap mati." Suara tawa Erwin terdengar, wanita yang bersamanya istri sahabatnya.
Billa menunjukkan kunci hotel atas nama Erwin, ada pria dan wanita di sana sedang berhubungan.
"Kak Billa, nama Erwin itu banyak. Lagian sejak kapan Erwin tidur di hotel menggunakan nama Erwin, aku selalu menggunakan nama Ernando bukan Erwin." Kepala Erwin menggeleng, langsung melangkah ingin pergi tetapi melihat Lin yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Lin, kamu kembali." Senyuman Erwin terlihat mengagumi Lin yang semakin cantik.
Senyuman Lin terlihat, langsung melangkah keluar bersama untuk kembali ke restoran.
__ADS_1
"Bagaimana kuliah kamu? kak Stev masih posesif?"
Kepala Lin mengangguk, tidak ada lelaki yang bisa mendekati Lin bahkan di kampus dia memiliki tiga bodyguard wanita yang berpenampilan seperti sahabatnya, padahal mereka semua bodyguard.
Erwin sangat percaya dengan ketatnya penjagaan Steven, dia orang yang paling sensitif jika wanita dalam keluarga di dekati lelaki.
Erik tertawa melihat Erwin yang di marah, tatapan mata adiknya tajam berjanji akan membalas kakaknya.
"Uncle kenapa di hotel?" Vio sudah makan cake sambil mengoceh.
"Biasalah, mengintip orang pengantin baru."
"Lain kali harus mengajak Vio ya Uncle, kita mengintip bersama." Suara tawa Vio terdengar melihat ekspresi wajah Erwin.
Wildan menatap Erwin tajam, seharusnya Erwin paham jika banyak anak-anak jangan asal bicara.
Mereka jauh lebih pintar, juga tingkat ingin tahunya sangat tinggi. Wildan juga kewalahan jika bicara dengan Twins, bertanya A dijawab b penjelasan bisa sampai Z tidak pernah kehabisan kata.
"Apa kabar kak Stev?"
"Baik Win."
"Kak sudah siap punya mantu belum, Erwin sudah menunggu tiga tahun. Kak Stev tidak kasihan sama Erwin." Wajah memelas terlihat, suara Erwin sangat pelan agar hanya Steven yang mendengar.
"Jangan bermimpi Erwin, aku tidak akan membiarkan playboy seperti kamu mendekati putriku." Tatapan mata Steven tajam, menepuk punggung Erwin pelan.
Senyuman Erwin terlihat, Steven memang keras tapi jika dibicarakan dengan Windy seorang Steven bisa apa.
"Apa yang kalian bisikin?" Windy menatap Erwin dan suaminya.
"Biasalah sayang, Erwin ingin menikah dan meminta aku membantu dia untuk melamar kekasihnya. Erik akan segera punya adik ipar, dokter spesialis jantung." Senyuman Steven terlihat.
"Wow, kita akan segera pesta lagi. Hore." Vio lompat-lompat kesenangan diikuti oleh Vani dan Bulan.
Arum, Embun dan Asih bertepuk tangan memberikan selamat kepada Uncle terakhir mereka untuk segera menikah.
Lin menatap Erwin yang menepuk jidatnya, Wira menyentuh tangan kakaknya untuk tenang dan berpikir positif.
***
AKU KASIH BONUS SEPULUH LAGI.
Jangan lupa baca juga
Mengejar cinta Om duren ( TAMAT) kisah Reva Bima.
__ADS_1
ISTRI MUDA PAK POLISI ( MASIH UPDATE)