
Ravi terbangun mendengar suara kedua anaknya yang sedang berdebat bersama Kasih, Raka dan Rasih sudah menginjak usia 2 tahun, memiliki karakter yang berbeda.
Raka pendiam, cuek, anaknya sangat santai, pengertian, cepat belajar, diusia 2 tahun Raka sangat lancar berbicara, sudah bisa membedakan segala hal.
Rasih tumbuh menjadi anak yang sangat cerewet, tidak bisa diam, pemarah, suka ngambek, manjanya luar biasa, hidup tidak tenang jika Rasih muncul.
Kasih berubah menjadi sosok Mommy yang sangat lembut, penuh kasih sayang, bisa mengendalikan kedua anaknya yang sangat berbeda karakter.
Ravi melangkah turun, seperti biasa pagi akan disambut oleh cicak besar yang menempel di kulkas.
"Rasih, kulkas tidak bisa lari, bisa kamu lepaskan."
"Asih hanya peluk Daddy, Asih suka peluk kulkas, Asih juga tidak makan es krim masih pagi nanti sakit perut."
"Baiklah, ayo kita sarapan Daddy harus pergi ke kantor." Ravi mengandeng Rasih menuju meja makan.
"Daddy, boleh siang nanti Asih makan satu?"
"Asih bisa tidak sehari saja kamu tidak makan es krim." Ravi mengendong putrinya, mendudukkan di kursi khusus anak-anak.
"Asih suka Daddy, kalau kita suka boleh." Bibir Rasih monyong, melipatkan kedua tangannya.
"No no no Rasih." Ravi menggelengkan kepalanya.
"Daddy tetot!" Rasih melotot, melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, matanya tajam.
Kasih datang mendudukkan Raka, melihat Rasih sudah paham pasti marah kepada Daddy-nya.
Sudah menjadi kebiasaan Kasih harus melihat pertengkaran Rasih Ravi, tapi jika tidak bertemu lebay sekali, membuat Kasih ingin muntah.
"Ayo berhenti ngambek, kita sarapan dulu. Daddy harus ke kantor, Rasih Raka hari ini sekolah sama guru khusus, ada Bening juga."
"Mommy, Asih masih kecil. Kenapa Mommy selalu minta kita sekolah, anak kecil bolehnya main, bukan sekolah, nanti tunggu besar. Asih benarkan Daddy?" Rasih menatap Mommy Daddy-nya.
"Betul sekali, Daddy juga tidak suka sekolah, lebih enak main. Main terus Asih jangan berhenti." Ravi menahan tawa, menyantap makanannya, sedangkan Kasih sudah melotot tajam.
"Baiklah Daddy, Asih makan dulu isi tenaga, langsung main, makan, bobo, main lagi." Rasih bertepuk tangan bahagia.
"Putriku tercinta, pendidikan penting sayang, agar saat kamu besar sudah memahami banyak hal, tidak ada salahnya belajar sejak kecil, Asih bisa belajar sambil bermain, hanya satu jam sayang." Kasih mengusap kepala Rasih.
"Mom, guru Asih celewet sekali, Asih pusing sekali mendengar ibu guru bicara, setiap hali, itu terus yang dia bicarakan. Asih juga tidak diberikan makan mom, nanti Asih sakit Lo, jadi Asih jangan sekolah lagi mom." Asih memasang wajah sedih.
Ravi langsung tertawa kuat, bisa saja setiap hari Rasih memberikan alasan. Dia tidak menyadari jika dirinya lebih cerewet dari siapapun.
"Baiklah, Rasih tidak perlu sekolah lagi."
Kasih langsung memanggil maid, meminta mereka menyusun mainan di ruang bermain, menyumbangkan kepada panti, semua mainan tanpa terkecuali. Semuanya langsung bergerak, Raka tersenyum melihat Mommy yang tidak pernah main-main.
"Mom, Asih harus makan cepat, terus sekolah. Guru Asih pasti sudah menunggu Asih."
"Tidak perlu Asih, Mommy akan segera menghubungi guru kamu, mengatakan jika kamu tidak sekolah lagi." Kasih langsung melangkah pergi.
"Mommy! Asih mau sekolah." Rasih meminta diturunkan, langsung berlari kecil mengejar Kasih.
__ADS_1
Ravi hanya tersenyum, Kasih memang lembut, tapi sangat tegas menghadapi Rasih yang banyak maunya, juga banyak alasan.
"Aka, sini Daddy suap."
"Aka bisa sendiri." Raka jauh lebih mandiri dari Rasih.
Ravi mengelus kepala Raka, meminta menjadi anak yang baik, rajin belajar, taat beribadah, jangan terlalu cuek seperti Wildan yang sulit memilki teman.
Raka sangat mengidolakan sosok Wildan, dia jarang berbicara lebih banyak belajar mencari tahu banyak hal. Wildan hanya memiliki teman-teman jenius, tidak ada orang dari kelas bawah yang mendekatinya, sama seperti Raka, hanya ada Bening dan Rasih yang dekat dengannya.
Suara tangisan Rasih kuat, Ravi langsung melangkah mencari Rasih, Kasih tidak bercanda, semua mainan Rasih dikeluarkan.
Rasih berlari langsung memeluk kaki Ravi, menangis sesenggukan membuat Ravi tidak tega, jika putri lucunya menangis.
"Daddy."
"Iya sayang, jangan menangis, nanti beli baru lagi." Ravi menggendong Rasih, menghapus air matanya.
"Mommy tetot, nakal." Asih mengusap matanya.
"Kamu tetot, banyak alasan, kamu terus membantah Mami, es krim, mainan, baju princess kamu, Snack kamu. Mommy keluarkan semua."
"Enggak lagi, Asih yang tetot, jangan buang es krim snack Asih, nanti Asih lapar mom. Asih mau peluk Mommy." Tangan Rasih minta di sambut, Kasih langsung menggendongnya.
Tangisan Rasih kembali terdengar, memeluk erat Kasih yang mengusap punggungnya, memintanya untuk diam.
Kasih meminta mainan baru Rasih dikembalikan, hanya mainan yang tidak dia gunakan lagi, baru diberikan kepada panti asuhan.
***
Ravi tiba di kantornya, disambut oleh dokter tampan yang sudah cuti dari rumah sakit sesuka hatinya.
Pertemuan para pemegang saham besar-besaran, seluruh pemimpin perusahaan hadir.
"Di mana Billa?"
"Masih di rumah sakit."
"Rik, di depan sekretaris kamu, cantik seksi juga."
"Berhentilah Ravi, anak sudah dua." Erik mengambil jasnya langsung melangkah keluar.
Ravi tertawa, kehidupan mereka sekarang sudah berubah. Tidak ada lagi wanita cantik, hanya fokus kerja dan keluarga.
Di dalam ruang rapat, sudah berkumpul Tian, Ravi, Erik, Wildan, Vira, Winda, Bella dan Billa, seluruh pemegang saham perusahaan besar turut hadir.
Bella berdiri menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada seluruh pemegang saham, mungkin ini terakhir kalinya dia hadir, karena Bella akan pergi ke negara yang cukup jauh, mengejar mimpinya.
Keputusan Bella sudah disetujui kedua orangtuanya, pertemuan terakhir sebagai pemimpin perusahaan yang Bella bangun, Bella menyerahkan bisnisnya kepada orang kepercayaan yang akan mengolah selama dirinya pergi.
Semua orang mendoakan yang terbaik untuk Bella, senyum Bella juga terlihat menatap seluruh keluarga intinya.
Rapat selesai, semuanya kembali ke rumah utama. Seluruh keluarga kumpul di sana, menyambut hari kelulusan Vira, Bella dan Winda, juga perpisahan dengan Bella.
__ADS_1
Vira dan Winda juga memilih pergi berkelana, memajukan bisnis mereka sampai keliling dunia, ketiga memutuskan fokus karir, menghabiskan masa muda sampai puas.
"Bunda, doakan Bella. Ayah terima kasih sudah selalu menjaga Bella, kak Tian maafkan Bella yang banyak menuntut, kak Tian juga bahagia selalu dengan kak cinta, Billa jadi ibu yang baik." Bella memeluk keluarganya.
Senyum Bella terlihat, menatap Bening yang berlari memeluk, menciumnya juga tidak ingin berpisah.
Kasih melangkah menjauh, Ravi mengejarnya memeluk Kasih dari belakang.
"Aak kita semua bahagia, semoga adik-adik kita juga menemukan kebahagiaan."
"Pasti sayang, hidup tidak ada yang bisa ditebak, sama seperti Aak yang tidak menyangka bisa menikahi seorang Kasih."
"Kak Ravi, ayo foto bersama." Vira tersenyum memeluk Ravi.
Ravi merangkul Kasih dan Vira berjalan masuk, Ravi mencium pipi Vira yang sekarang semakin dewasa.
Seluruh keluarga besar berkumpul foto bersama, semuanya tersenyum, tidak ada yang bersedih. Makan malam bersama, bercerita banyak hal.
"Kisah kita berakhir sampai disini, karena kita sudah bahagia." Ravi teriak kuat.
"Sangat, sangat bahagia." Erik tersenyum mencium pipi istrinya.
"Jadi cerita Cinta kita happy ending." Kasih menatap Ravi.
Suara tangisan Rasih membuat Kasih berlari meninggalkan Ravi, Billa juga pergi putranya Elang ingin menyusu.
"Ya sudah walaupun kita jadi nomor dua tetap happy ending."
***
...TAMAT...
...RAVI KASIH...
...ERIK BILLA...
...BASTIAN CINTA...
...ADITAMA BINAR...
Sebenarnya masih berat meninggalkan novel ini, ceritanya juga masih panjang, tapi sepertinya sudah banyak yang bosan.
Kita lanjut kisah yang lain, mohon tunggu nanti aku infokan up Nya dimana.
***
RAVI PRASETYA
KASIH AMORA RAHMAT
__ADS_1